Penemuan kembali khazanah buku Melayu cetakan lama (early Malay printed books) ini melengkapi tujuh karya yang sebelumnya telah dikenal pasti sebagai buah pena Raja Ali Kelana dari Pulau Penyengat.

***

            Keluasan khazanah karya pengarang-pengarang Riau-Lingga pada abad-abad yang lalu adalah hamparan saujana karya yang belum diterokai secara menyeluruh. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah karya tulis yang telah dihasilkan sejak abad 19 hingga dekade pertama abad ke-20. Senarai dalam katalogus dan informasi bibliografis yang ada saat ini belumlah menggambar secara lengkap khazanah karya yang telah dihasilkan oleh pengarang  yang ada tentang jumlah karya-karya yang dihasil oleh pengarang-pengarang zaman kerejaan Riau-Lingga.

            Hingga kini, jumlah karya Raja Ali Haji yang telah ditemukan dan dikenal pasti, umpamanya, belumlah menggambarkan semua karya yang telah dihasilkan oleh pujangga besar Alam Melayu itu. Sebagai ilustrasi, dalam penelitian kepustakaan yang saya lakukan di Perpustakaan Universitas Leiden pada akhir 2010, dan selama kegiatan digitalisasi manuskrip dan bahan pustaka yang ada di Daik-Lingga sempena proyek Endangered Archives Programme (Program Penyelamatan Bahan Arsip dan Naskah Yang Berada Dalam Ancaman) yang disponsori oleh British Library London (2007-2008), masih ditemukan beberapa karya Raja Ali Haji yang belum tercatat dalam katalogus manapun.


Sampul buku Perangai Bahgia Bagi Manusia karya Raja Ali Kelana cetekan tahun 1925. (foto: dok. aswandi syahri)

Gambaran yang serupa juga berlaku untuk karya-karya penulis Riau-Lingga  setelah Raja Ali Haji, seperti karya-karya yang dihasilkan oleh Raja Ali Kelana. Ketika menulis sebuah buku tentang Raja Ali Kelana delapan tahun yang lalu (Raja Ali Kelena dan Fondasi Historis Industri Pulau Batam, 2006) saya mencatat ada tujuh buah khazanah buku Melayu cetakan lama yang dikenal pasti sebagai karya Raja Ali Kelana,  dan diterbitkan antara tahun 1898 hingga 1913.

            Ketujuhnya adalah khazanah bahan pustaka langka (rare books) yang hanya dapat ditemuka dalam simpanan National Library di Singapura, dan dalam koleksi Balai Maklumat Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat.

            Tahun 2014, tepat delapan tahun kemudian, tujuh bahan pustaka langka itu ternyata belum lah representasi dari semua karya yang telah dihasilkan oleh  Raja Ali Kelana dalam perjalanan kepengarangannya. Mengapa?.

Tanpa diduga, saya menemukan satu lagi karya yang dapat dikenal pasti sebagai buah pena Raja Ali Kelana diantara bahan pameran yang dipajang oleh galeri Pemeran Kabupaten Lingga di arena Pameren Tamadun Islam sempena MTQ Nasioal 2014 di Kota Batam.

***

Karya Raja Ali Kelana yang  dipamarekan oleh galeri Kabupaten Lingga sempena MTQ Nasional di Batam tahun 2014 itu adalah koleksi Museum Linggam Cahaya di Daik-Lingga. Ukurannya mungil. Hanya sekitar 18 x 12 cm dengan tebal 14 halaman saja. Judulnya adalah Perangai Bahgia Bagi Manusia. Judul ini sangat pendek dan ringkas jika dibandingkan dengan kebanyakan karya Raja Ali yang biasanya dibubuhi dengan ‘judul imbuhan’ cukup panjang.

 Pada sampulnya yang berbawarna oranye muda dan pada kolofonnya, tertulis bahwa buku ini diperbuat (ditulis atau dikarang) oleh Fakir Ilallah Ta’ala Ali bin Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Tak dapat dipungkiri lagi, dan cukup banyak bukti, bahwa Ali bin Muhammad Yusuf a-Ahmadi adalah salah satu nama pena yang perna digunakan oleh Raja Ali Kelana.

Mengacu kepada kolofon pada halaman terakhirnya, dapat dipastikan bahwa Perangai Bahgia Bagi Manusia selesai ditulis pada 18 Zulkaidah Hijrat 1343, bersamaan pada 10 Juni 1925. Denga kata lain, Perangai Bahgia Bagi Manusia adalah salah satu karya yang dihasilkan dan diterbitkan ketika Raja Ali Kelana telah “membawa” diri dan bermastautin di Bukit Kenangan Johor Baharu, menyusul pemakzulan Sultan dan Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga pada bulan Februari 1911. Tampaknya, Perangai Bahgia Bagi Manusia juga menjadi salah satu dari beberapa karya terakhir yang ditulis dan diterbit ketikan ia telah bermastautin di Johor Baharu. Alasannya adalah karena  sekitar dua tahu kemudian, tepatnya 4 Desember 1927, beliau mangkat di rumahnya yang terletak di Jalan Teberab, di Johor Baharu, Tanah Semenanjung.

Penemuan kembali buku Perangai Bahgia Bagi Manusia ini telah melengkapi tujuh karya Raja Ali Kelana yang telah lebih dahulu diketahui: Pohon Perhimpunan (dicetak 1898), Perhimpunan Plakat (1890), Kumpulan Ringkas (1910), Bughyat al-‘Ani (1922), Rencana Madah (1925), Kesempurnaan Yang Lima (1926), dan sebuah ‘artikel protes’ (1913).

Berbeda dengan tujuh karya lainnya yang dicetak di Pulau Penyengat, Singapura, dan Jepang, maka Perangai Bahgia Bagi Manusia dicetak dan diterbitkan  oleh C.H. Dabab Ain Kompeni yang beralamat di 17 Bishop Street, Pulau Pinang: Perangai Bahgia Bagi Manusia yang kini berada dalam simpanan Museum Linggam Cahaya di Daik-Lingga ini sangat langka dan mungkin eksemplaar satu-satunya yang tersisa. Mengapa?


Bagian pendahuluan buku  Perangai Bahgia Bagi Manusia karya Raja Ali Kelana cetekan tahun 1925. (foto: dok. aswandi syahri)

Buku Melayu cetakan lama ini tidak tercantum dalam katalog perpustakaan manapun, dan tidak tercantum dalam katalog buku-buku Melayu cetakan lama karya Ian Prodfoot yang sangat terkenal, Early Malay Pronted Books (1992): artinya Ian Prodfoot tak menemukan sebarang informasi tentang Perangai Bahgia Bagi Manusia ketika menyusun buku Early Malay Printed Books.

***

Perangai Bahgia Bagi Manusia adalah sebuah buku panduan tentang bagaimana membina akhlak manusia yang mulia dan kait kelindannya dengan  esensi manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Didalamnya terkandung panduan ringkas-pantas-dan lekas, yang menjadi ciri khas penjabaran dalam kebanyakan karya Raja Ali Kelana, tentang manusia dan tingkah laku yang semestinya sebagai makluk ciptaan Allah yang paling mulia dan sempurna.

Secara garis besar, gambaran isinya dapat lah diringkaskan sebegai berikut: Setelah sebuah kalimat selawat dan puji-pujian yang panjang kepada Nabi Muhammad S.A.W, isi ini dubuka dengan sebuah Pendahuluan; sebuah penjabaran tentang esensi manusia menggunakan perbandingan-perbandingan; sebuah peringatan yang menjelaskan esensi manusia sebagai ciptaan Allah; dan penjelasan tentang perangai-perangai manusia yang baik. Keseluruhan kandungan isinya ini disudahi dengan sebuah tanya jawab tentang esensi manusia oleh dua subyek yang diperlambangkan dengan huruf Lam (L) dan huruf Mim (M). Tanya jawab ini dimulai dengan sebuah pertanyaan tentang makna insan oleh huruf Lam, dan berakhir dengan dalil naqli tentang esensi kewajiban insan atau manusia yang bernyawa selama di dunia.

Dalam Perangai Bahgia Bagi Manusia, Raja Ali Kelana ingin menunjukkan bagaimana seharusnya manusia berprilaku sebagai mahluk ciptaan Allah yang kesempurnaannya melebihi mahluk lainnya. Manusia diberi akal yang membuatnya cerdik, dapat berfikir, dan dapat berikhtiar. Apabila kelebihan ini dapat dipergunakan dalam memainkan lakonnya di dunia dan bermanfaat bagi orang banyak, “maka ialah manuasia yang sempurna”.

Raja Ali Kelana menjelaslaskan bahwa esensi manusia hidup di dunia adalah sebagai berikut:

“…Kerena itu tiada dapat tiada atas tiap-tiap seorang yang tiada gemar akan dirinya keluar daripada makna (manusia) itu, bahwa hendakblah mengetahui ia akan kehendak ilmu:- pengetahuan, cerdik. Arif:- mengenal. Amal:- bekerja. Artinya mengetahui dengan cerdik bagi pengenalan amal yang dikerjakan itu pada tiap-tiap jenis suruh, tegah, daripada perintah Tuhan yang amat murah lagi mengasihani itu.

Maka tatkala itu bernamalah ia nyawa yang suci, pengetahuan yang baik, cerdik yang benar, pengenalan yang tulus, selera yang elok, perangai yang bersih, daripada segala daki-daki yang membawa kepada tujuan yang sesat.

Bermula adalah manusia itu didalam pangkat yang lebih lagi bahgia. Berhimpun segala kelebihan dan kebahgian itu baginya. Sebab itu dipilih dijadikan segala anbiya itu daripada bangsa manusia, tiada lain daripada itu.”

Sebelum mengakhirinya  dengan sebuah tanya jawab, dalam Perangai Bahgia Bagi Manusia ini, Raja Ali Kelana juga menjabarkan 13 perangai manusia yang baik, yang salah satu diantaranya sangat menarik, penting, dan mirip dengan esensi salah satu bait dalam pasal keenam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji:

Bahwa [seorang manusia yang sempurna itu] kasih akan pengetahuan dan ahlinya, dan berlajar dengan dia menuntut pergunaan yang terbit daripadanya, padahal menyerahkan diri bagi ketentuan guru yang kepercayaan, yang mudah mengerti daripada pengajarannya dengan tiada menghiraukan oleh kendala,  penat perlajaran itu”.***

Artikel SebelumKarena Allah Tiada Bercura
Artikel BerikutHendaklah Jaga Ingatkan Negeri
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan