Foto : Reizki Habibullah

PORTUGAL– Kisah kedurhakaan yang ditenun dengan bebunyian deru arus dan gelombang pasang dari berbagai instrumen musik mengawali konser Riau Rhythm di b’Balai Academia Almadense Almada, Lisbon Portugal, Ahad malam (24/3/2019), pukul 19.10 waktu setempat (pukul 02.10 WIB). Lagu berdurasi lebih enam menit itu berjudul “Bono-Pencalang”, semacam penjelajahan atas fenomena alam bono Sungai Kampar dan cerita di baliknya.

Hadirin yang menyaksikan konser itu berjumlah sekitar 150 orang. Memang, tidak banyak dari mereka yang tahu tentang fenomena alam yang muncul pada masa bulan purnama itu. Namun musik adalah bahasa universal. Terlepas dari konteks peristiwa alam dan kultural yang melahirkan lagu itu, penonton yang sebagian besar adalah masyarakat Portugis tetap menikmatinya, sebagai perpaduan bunyi-bunyi dari instrumen yang dimainkan pemusik. Terjemahan Bahasa Inggris atas lirik yang didendangkan secara koor oleh para pemain, yang ditampilkan di layar panggung, cukup membantu penonton memahami apa yang mereka ucapkan.

Konser Riau Rhythm malam itu merupakan puncak dari program dialog budaya Riau (Indonesia) – Portugis yang didukung penuh oleh Gubernur Riau, Drs. H. Syamsuar, MSi., Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kedutaan Besar RI untuk Portugal, Bank Riau Kepri, dan APRIL Group.

Meningkatkan hubungan kebudayaan

Mengantarkan konser, Direktur Academia Almadense (Akademi Seni Almada), Tuan Vitor Pinto Claro, menyampaikan terima kasih kepada kelompok Riau Rhythm yang berkenan tampil di tempatnya. Menurut beliau, Riau Rhythm merupakan kelompok seni ketiga dari Indonesia yang tampil di akademi tersebut, setelah beberapa waktu sebelumnya ditampilkan seni gamelan.

“Konser Riau Rhythm malam ini istimewa, karena kami sedang merayakan hari jadi akademi kami yang ke-124,” katanya.

Kemudian, tampil Duta Besar RI untuk Portugal, Ibnu W. Wahyutomo. Dalam sambutan singkatnya, beliau juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada rombongan Riau Rhythm dan semua pihak yang memungkinkan delegasi dialog budaya ini tampil di Portugal. Ke depan, beliau berharap dan berusaha merangsang agar lebih banyak lagi delegasi sejenis datang ke Portugal, untuk meningkatkan hubungan baik antara kedua negara.

“Awang menunggang gelombang”
Setelah “Bono-Pengalangan”, malam itu Riau Rhythm berturut-turut menampilkan tujuh repertoar lagi, yaitu “Puti Indira Dunia”, “Svara Jiva”, “Awang Menunggang Gelombang”, “Pantun Atui”, “Lukah Gile”, “The Sound of Svarnadvipa”, dan ditutup dengan “Dentang Denting Dentum”. Beberapa dari repertoar itu, sebagaimana halnya “Bono – Pencalang”, merupakan respon kreatif Riau Rhythm terhadap folklore Melayu Riau.

“Kami mengumpulkan folklore dari kampung-kampung Melayu di Riau, kemudian menafsirkan sebagian atau keseluruhannya menjadi karya-karya musikal,” kata Rino Dezapati, pimpinan sekaligus komposer Riau Rhythm, kepada khalayak sewaktu konser jeda sejenak.

Khusus lagu keempat, “Awang Menunggang Gelombang” Rino menyatakan repertoar itu pertama kali ditampilkan di panggung Almada Portugal.

“Repertoar ini dipersembahkan sebagai penghormatan terhadap Panglima Awang, anak Melayu yang menjadi navigator Magellan, orang Portugis, dalam ekspedisi mengelilingi dunia pada tahun 1519-1521,” lanjut Rino.

Menegaskan pengembaraan
Pernyataan Rino tersebut sekaligus merayakan tema pengembaraan yang dibentangkan dalam dialog budaya di tempat yang sama. Dalam dialog yang berlangsung sebelum konser dimulai, para pembicara menekankan bahwa penjelajahan manusia untuk menemukan wilayah baru bukan hanya dirangsang oleh hasrat kekuasaan dan kejayaan, tapi juga oleh rasa penasaran untuk mengungkap yang belum diketahui. Misalnya, dalam penjelajahan Magellan, seorang anak Melayu, Panglima Awang, adalah sosok utama karena berperan sebagai navigator dalam keberhasilan ekspedisi mengelilingi dunia tersebut.

Riau Rhythm mengembara dengan cara yang lain dalam memahami kemelayuan, yaitu menjelajahi dan mengumpulkan kepingan-kepingan kemelayuan dari narasi-narasi lisan, lalu merangkainya sebagai bumi tempat berpijak dan berakar, kampung dan rumah untuk dirindukan, sebagaimana diperlihatkan dalam repertoar-repertoar mereka. (*)

(Dikutip dari : riaukepri.com)

Tinggalkan Balasan