LAKSEMANA Megat Seri Rama baru saja menghadap Sultan Mahmud Syah II sekembalinya dari menunaikan baktinya di lautan, Agustus 1699. Beliau disambut di istana Sultan Johor-Riau di Kota Tinggi dengan upacara kebesaran. Pasalnya, laksemana yang gagah-perkasa itu telah berhasil mengalahkan perompak lanun, yang beberapa bulan terakhir mengganas di perairan Kesultanan Johor-Riau, terutama di kawasan Kepulauan Riau.

Karena perbuatan para lanun itu, kapal-kapal niaga dari pelbagai negeri tak berani memasuki wilayah Kesultanan Johor-Riau. Akibatnya, perniagaan kerajaan sangat terganggu dan merosot tajam. Bahkan, nelayan tempatan pun tak berani melaut. Wajarlah keberhasilan Megat Seri Rama mengalahkan lanun itu disambut dengan suka-cita oleh sultan, orang besar-besar kerajaan, dan rakyat sekalian. Laksemana dan pasukannya disambut layaknya menyambut para pahlawan yang kembali dari medan perang karena mereka memang memerangi para lanun.  

Ketika melaksanakan tugasnya di lautan, Laksemana Megat Seri Rama—dikenal juga dengan panggilan Laksemana Bentan, sesuai dengan nama tempat asalnya—meninggalkan istrinya, Dang Anum (Wan Anum). Dalam hal ini, Dang Anum dititipkan oleh suaminya di  bawah penjagaan sahabatnya, Tun Aman dan kakaknya Tun Khatijah. Kala ditinggalkan itu, istrinya sedang hamil tua, mengandung anak pertama mereka.

Ketika itu pusat Kesultanan Johor-Riau atau Johor-Pahang-Riau-Lingga belum berapa lama dipindahkan ke Kota Tinggi, Johor Lama (wilayah Kerajaan Johor, Malaysia,  sekarang). Oleh sebab itu, sultan dan para pembesar kerajaan bermastautin (bertempat tinggal) di Kota Tinggi, termasuk Laksemana Megat Seri Rama dan Dang Anum, istrinya. Sebelum itu, sejak 1678 kerajaan berpusat di Hulu Riau, Sungai Carang (wilayah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sekarang) setelah dipindahkan dari Batu Sawar, Johor Lama.

Pemindahan pusat kesultanan itu karena Batu Sawar di Johor Lama porak-poranda diserang oleh Kerajaan Jambi pada 1673 setelah lebih kurang 145 tahun Kesultanan Johor-Riau berdiri. Dengan demikian, pemindahan pusat kesultanan ke Hulu Riau pada 1678 bertepatan dengan 150 tahun berdirinya Kesultanan Johor-Riau. Hulu Riau di Sungai Carang mulai dibangun sebagai pusat Kesultanan Johor-Riau atau Riau-Johor atau Riau-Lingga-Johor-Pahang pada 1673 oleh Laksemana Tun Abdul Jamil berdasarkan titah Sultan Abdul Jalil Syah III.

Pada 1679, setahun setelah pusat pemerintahan di Hulu Riau, Tanjungpinang, Sultan Ibrahim Syah—raja yang berkuasa kala itu—memerintahkan Laksemana Tun Abdul Jamil menyerang Jambi untuk menghentikan permusuhan kerajaan itu. Laksemana hebat itu melaksanakan titah sultan, Kerajaan Jambi dapat dikalahkan dan mengaku takluk di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Kembali kepada Laksemana Megat Seri Rama. Setelah acara penyambutan di istana, beliau pun kembali ke rumah untuk menemui istrinya tercinta dan tentu anak sulung mereka. Setelah ditinggalkan lebih dari dua bulan, seharusnya anaknya memang telah lahir. Dalam perjalanan menuju ke rumahnya hati Laksemana berbunga-bunga. Akan tetapi, apakah yang dijumpainya di rumahnya? Istrinya tak ada di rumah.

Betapa hancurnya hati Laksemana Bentan setelah mengetahui dari jirannya bahwa istrinya telah meninggal dunia. Hatinya yang hancur itu menjadi semakin hancur sehancur-hancurnya setelah diberi tahu bahwa istri dan anak sulungnya yang masih di dalam kandungan meninggal karena dibunuh oleh Sultan Mahmud Syah II. Dosa besar apakah yang dilakukan istrinya sehingga sultan tega membunuhnya dengan cara membelah perutnya? Apatah lagi, beliau sendiri bersama pasukannya sedang menyabung nyawa untuk menumpas para lanun yang mengacaukan keamanan dan perekonomian negara. Tidakkah kesemuanya itu menjadi pertimbangan sultan sebelum menjatuhkan sanksi hukuman mati kepada istrinya? Dendam Laksemana Megat Seri Rama kepada Sultan Mahmud dengan cepat mencapai kemuncaknya. “Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. Tunggulah pembalasan dari anak Bentan ini wahai raja yang tak berperi kemanusiaan!” 

 Semasa hamil, istri laksemana terkenal Kesultanan Johor-Riau itu mengidam hendak makan nangka, yang dipercayai sebagai bawaan kehamilannya. Malangnya, kala itu nangka sangat langka, tak berbuah. Tibalah suatu hari, penghulu kebun lewat di depan rumah Dang Anum membawa nangka masak untuk dipersembahkan kepada sultan. Melihat itu, Dang Anum semakin kecur dan tanpa segan meminta nangka itu barang seulas sahaja. Karena kasihan kepada istri laksemana, penghulu kebun memberikan seulas nangka milik raja itu kepada Dang Anum dengan pesan agar dirahasiakan. Pasalnya, kalau diketahui oleh sultan, pastilah baginda murka bangat karena pantang raja makan sisa orang lain.

Malang memang tak berbau. Walau telah dirahasiakan, Sultan Mahmud ternyata mengetahui juga bahwa nangkanya telah dicicipi oleh orang lain terlebih dahulu. Murka Baginda semakin meninggi ketika Tun Bija Ali, saingan Megat Seri Rama untuk memperebutkan Dang Anum dan jabatan di pemerintahan, menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendamnya. Dihasutnya Sultan Mahmud bahwa Dang Anum bersama suaminya telah berencana jahat hendak mendurhaka kepada Baginda. Tun Bija Ali memang berupaya untuk membunuh Dang Anum agar rahasia kejinya hendak memperkosa istri Megat Seri Rama itu pada suatu malam ketika suaminya sedang bertugas di lautan tak terbongkar. Perbuatan bejat Tun Bija Ali itu dapat dielakkan oleh Dang Anum. Dia dapat melepaskan diri dari lelaki hidung belang yang telah beristri empat itu dengan melarikan diri dari rumahnya yang telah dimasuki pesaing suaminya pada malam buta.

Hari itu Jumat, Agustus 1699. Azan pertama memanggil orang untuk melaksanakan shalat Jumat baru saja berkumandang. Sultan Mahmud telah sampai di halaman masjid dengan dijulang (ditandu) oleh para hulubalang. Tiba-tiba secepat kilat Laksemana Megat Seri Rama menghadang di hadapan Baginda seraya dengan tangkas menikamkan kerisnya ke rusuk kiri Sultan yang sedang dijulang, tanpa didahului sepatah kata pun. Sultan Johor-Riau itu merintih kesakitan dan segera akan jatuh dari julangannya. Orang-orang melihat kejadian itu hanya terkejut dan terpana, termasuk para hulubalang pemikul tandu.

Ketika akan jatuh, Sultan Mahmud masih sempat mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Dilemparkannya keris itu ke Megat Seri Rama dan mengenai jari kaki Laksemana. Menjelang nazaknya, Baginda bersumpah, “Tujuh keturunan Laksemana Megat Seri Rama jika menjejakkan kaki di Kota Tinggi akan muntah darah!” Setelah bersumpah itu, Baginda pun mangkat. Setelah kembali ke rahmatullah, Baginda biasa dipanggil dengan gelar Marhum Mangkat Dijulang.

Dalam pada itu, Laksemana pun mencabut keris yang menancap di jari kakinya. Begitu tercabut, beliau pun muntah darah dan meninggal dunia seketika itu juga di tangga masjid. Kesultanan Johor-Riau berduka-cita. Rakyat berkabung karena kehilangan pemimpin mereka.

Sultan Mahmud Syah II dimakamkan di Kampung Makam. Laksemana Megat Seri Rama pula dimakamkan di Kampung Kelantan, di samping makam istrinya, Dang Anum. Kesemua makam itu berada di Kota Tinggi di Sungai Johor, Kerajaan Negeri Johor Darul Ta’zim, Malaysia, sekarang.

Kemangkatan Sultan Mahmud Syah II hendak dimanfaatkan oleh seseorang yang menginginkan kerajaannya. Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah menuturkan perkara itu di dalam Tuhfat al-Nafis.   

“Syahadan adapun Raja Kecik setelah mustaid kelengkapannya, maka ia pun menyuruh ke Kuala Johor, dan ke Singapura, akan seorang menterinya yang pandai memujuk dan menipu-nipu memasukkan kepada hati rakyat dengan perkataan mengatakan ini sebenar-benarnya anak Marhum Mangkat Dijulang. Sekarang ini adalah ia hendak ke Johor, hendak mengambil pesakanya menjadi raja. Maka barangsiapa rakyat yang tiada mau mengikut, nanti ditimpa daulat Marhum Mangkat Dijulang, tiada selamat sampai ke anak cucunya. Syahadan barangsiapa yang menyertai anak Marhum Mangkat Dijulang itu, mendapatlah kurnia daripada Raja Kecik dan Raja Kecik sudah sedia dengan beberapa kayu kain yang baik akan persalinan jenang batin itu, apalagi raja negara,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 56—57).

Ternyata, dia adalah orang yang menyebut dirinya Raja Kecik, yang mengaku anak Marhum Mangkat Dijulang bersama istrinya Cik Pong. Padahal, Sultan Mahmud Syah II tak beristrikan manusia biasa. Baginda disebutkan beristrikan orang bunian dan memang tak tertarik kepada perempuan dari jenis manusia. Ketaklaziman Sultan Mahmud itu disebutkan oleh sumber lokal dan asing. Dengan demikian, orang yang mengaku sebagai anak Marhum Mangkat Dijulang itu, sesuai dengan Tuhfat al-Nafis, telah melakukan kebohongan atau tak berlaku jujur. Untuk mencapai matlamat itu, pelbagai upaya dilakukannya, termasuk mengintimidasi rakyat, padahal cara yang ditempuhnya itu salah. Kualitas jujur sangat mustahak dimiliki oleh setiap pemimpin. 

Kepada dirinya ia aniaya

Orang itu jangan engkau percaya

Orang yang tak jujur, sesuai dengan Gurindam Dua Belas (Haji 1847), Pasal yang Kedelapan, bait 2, di atas tergolong manusia yang aniaya terhadap dirinya. Pasalnya, sifat dan perilaku tak jujur akan merusaki diri sendiri. Oleh sebab itu, orang yang tak jujur tak boleh dijadikan pemimpin. Kepada dirinya saja dia aniaya, apatah lagi kepada orang lain, orang-orang yang dipimpinnya jika dia telanjur mendapatkan jabatan kepemimpinan dengan pelbagai cara yang diupayakannya sesuai dengan karenah dunia.

“Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui(nya),” (Q.S. Al-Anfaal, 27).

Perilaku tak jujur, jika dilakukan oleh pemimpin, merupakan perbuatan mengkhianati amanah yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. Hal itu juga bermakna orang yang tak jujur tak memenuhi standar Allah untuk menjadi pemimpin.

Berhubung dengan sifat, sikap, dan perilaku jujur yang seyogianya dimiliki oleh pemimpin, Raja Ali Haji bertutur di dalam Tsamarat al-Muhimmah. Dalam hal ini, beliau menekankan mustahaknya orang yang amanah dan benar lidahnya (tak berbohong, jujur) jika hendak menjadi pemimpin yang baik, yang diridai oleh Allah.

“Bermula menjadikan wazir-wazir (menteri, HAM) atau kepala-kepala negeri, maka seyogianya hendaklah dipilih akan orang … yang amanah dan benar lidahnya (huruf miring oleh saya, HAM) …,” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 46).

Ajaran itu dilanjutkan beliau dengan syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 (Haji dalam Malik (Ed.) 2013). Nasihat itu seyogianya memang harus diikuti oleh para pemimpin jika hendak berjaya dalam kepemimpinannya.

Inilah nasihat ayahanda tuan

Kepada anakanda muda bangsawan

Nafsu yang jahat hendaklah lawan

Supaya anakanda jangan tertawan

            Tak jujur tergolong nafsu jahat yang tak berfaedah. Sesiapa pun yang tertipu oleh nafsu jahat, dalam arti dia tak berlaku jujur dalam kepemimpinannya, cepat atau lambat, kepemimpinannya akan menuai padah atau musibah. Kalau tak di dunia, di akhirat nanti pertanggungjawabannya tak dapat dibantah.

            Atas pemahaman itulah, dalam perjuangannya untuk merebut kembali negerinya yang terjajah, Duri (nama samaran sebagai laki-laki dari Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk) menempatkan standar kejujuran sebagai kualitas utama kepemimpinan. Dalam pengembaraannya dia tiba di Negeri Berham. Di tempat itu dia menyamar sebagai hulubalang.

Di Negeri Berham dia mendapat orang tua angkat yang sangat menyayanginya. Dia juga di negeri itu menemukan gejala rakyatnya terpecah atas dua golongan. Pertama, golongan yang berpihak kepada Bahsan, yang paling banyak pengikutnya. Kedua, golongan yang berpihak kepada Jamaluddin, yang semakin berkurang pengikutnya (lih. Syair Abdul Muluk, Haji 1846, bait 967—968).

Jikalau anakku hendak berjalan

Hendak mencari sahabat dan taulan

Pergilah ke sebelah kaum Bahsan

Senanglah Tuan mencari kehidupan

Duri tersenyum mendengarkan madah

Sambil berkata terlalu petah

Hamba tak mau kepada yang salah

Jamaluddin itu asalnya khalifah

            Orang tua angkatnya menyarankan Duri untuk berteman dengan kelompok Bahsan agar memperoleh kesenangan hidup. Akan tetapi, Duri (Siti Rafiah) menolak anjuran itu karena dia tahu duduk perkara sebenarnya. Bahsan itu paman Sultan Jamaluddin. Bahsan merebut tahta dari keponakannya sendiri dengan pelbagai cara, termasuk rasuah, menyogok rakyat, untuk memenuhi ambisinya menjadi Raja Negeri Berham. Karena mengetahui latar itu, Duri lebih memihak dan membantu Sultan Jamaluddin, pemimpin sah Negeri Berham. Pasalnya, Jamaluddin jujur, sedangkan Bahsan  penipu yang tak berbudi pekerti.

Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dusta karena dusta akan membawamu kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan kebajikan membawamu ke surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hanya kejujuran yang akan mendatangkan berkah kepemimpinan. Sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan malapetaka yang tiada berkesudahan. Oleh sebab itu, nafsu jahat ketakjujuran hendaklah dilawan. Marilah berpihak pada kejujuran. Pasalnya, pedoman dan perintah itu memang berasal dari Tuhan.***

Tinggalkan Balasan