Oleh : Nureza Dwi Anggraeni
Dosen Universitas Riau Kepulauan

Perempuan-perempuan golongan tertentu aktif dalam reformasi moral dan adat internal pada awal abad kesembilan belas. Inilah yang dilakukan Kartini dan Aisyah Sulaiman. Mereka adalah jelmaan perempuan yang menentang prerogatives sexual pria bangsawan. Perempuan melawan kembali hak prerogatif laki-laki melalui gerakan kesederhanaan dari akhir abad kesembilan belas.

Meski hidup sezaman, nama Aisyah Sulaiman kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Kartini. Nama Kartini tak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di negara-negara besar lainnya karena kepiawaian dalam menuangkan gagasan dalam tulisan. Yang pada masanya, tak banyak perempuan Indonesia bisa melakukan baca-tulis.

Fenomena ini menarik untuk dibahas dalam momentum Kartini yang dinobatkan menjadi simbol emansipasi perempuan Indonesia. Untuk masyarakat Melayu Riau Lingga, Aisyah Sulaiman juga sosok perempuan yang bisa disandingkan sejajar dengan tokoh besar Kartini.

Aisyah Sulaiman juga memperjuangkan hal yang sama. Ia  telah memperjuangkan harkat, martabat, dan muruah kaum perempuan melalui karya-karyanya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dengan demikian, Aisyah Sulaiman menjadikan dirinya beserta karyanya sebagai pejuang emansipasi bagi kaum perempuan.

Karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan dengan pengalaman pengarang. Aisyah Sulaiman dan Kartini yang hidup di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 membuat mereka tumbuh sebagai pengarang di zaman peralihan. Fase kepenulisan Aisyah Sulaiman dan Kartini dalam perspektif Gino kritik termasuk dalam fase feminist (Showalter, 1979). Kategori fase feminist cocok untuk mereka karena pemikiran dalam karya-karyanya bersifat radikal di zamannya.

Jika Kartini memilih surat sebagai medium mengungkap kangagasan, Aisyah Sulaiman memilih sastra sebagai cara untuk mengekspresikan diri dengan tema feminis. Fase feminist dalam tulisan Aisyah Sulaiman dan Kartini memprotes standar dan nilai laki-laki di lingkungannya. Karya-karya mereka juga menganjurkan hak-hak dan nilai untuk perempuan berotonomi. Pengalaman sebagai perempuan diceritakan melalui teks karena dianggap sebagai media yang tepat untuk menyampaikan pendapat terkait perlakuan masyarakat patriarkat terhadap perempuan.

Dalam sastra, cerminan feminisme terjadi ketika tokoh cerita perempuan mengalami pergerakan untuk berubah dan berjuang guna pembebasan diri dari ketertindasan laki-laki. Gagasan inilah yang ditemukan dalam Syair Khadamuddin karya Aisyah Sulaiman.

Hal yang menarik dari Syair Khadamuddin bukan hanya karena isi yang mendeskripsikan perempuan, tetapi terlihat adanya beberapa kemiripan antara syair dengan pengalaman hidup Aisyah Sulaiman. Perempuan yang tidak suka menonjolkan diri secara langsung dan tidak akan menulis tentang dirinya sehingga menjadi omongan masyarakat. Hal tersebut ditemui dalam Syair Khaddamudin. Dalam menceritakan sebagian kisah hidupnya, Aisyah Sulaiman menulis Syair Khadamuddin dengan memosisikan diri melalui watak simbolik yaitu Sabariah.

Dalam  proses kreatif Aisyah Sulaiman ketika menulis Syair Khadamuddin,  Aisyah Sulaiman dan keluarganya pindah ke Singapura karena tak ingin hidup dalam kondisi dijajah. Pada 11 Maret tahun 1914 suami Aisyah Sulaiman, Khalid Hitam meninggal dunia. Sehingga, Syair Khadamuddin ditulis setelah kematian suaminya. Pada tahap ini Aisyah Sulaiman mengumpulkan informasi untuk penulisan Syair Khadamuddin berdasarkan pengalaman kehidupan yang dimiliki.

Syair Khadamuddin merupakan syair yang ditulis setelah Aisyah Sulaiman pindah ke Singapura dan diterbitkan pada tahun 1926. Kepenulisan Aisyah Sulaiman menceritakan kondisi sosial dan budaya pada masanya. Selain Syair Khadamuddin, Aisyah Sulaiman menghasilkan Hikayat Syamsul Anuar yang ditulis dan diterbitkan lebih dulu pada tahun 1890 di Pulau Penyengat dengan tema yang sama, yakni menyuarakan semangat emansipasi perempuan yang belum banyak dipikirkan kaum perempuan pada masa itu. Kedua karyanya menceritakan kisah hidup Aisyah Sulaiman, namun disamarkan dengan tokoh-tokoh fiktif. Penyamaran dilakukan dengan tujuan agar pengarang dapat leluasa menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan terkait usaha Aisyah Sulaiman.

Syair Khadamuddin disajikan dalam bentuk syair otobiografi. Syair ini diawali dengan kisah tentang penulisnya. Diceritakan bahwa Aisyah Sulaiman yang ditokohkan oleh Sabariah terpaksa meninggalkan kampung halaman Pulau Penyengat menuju Singapura bersama suaminya. Sebagian perjalanan hidup Aisyah Sulaiman dikisahkan seperti penjodohan dengan saudara sepupu, kemudian harus berduka menjadi janda karena ditinggal mati suaminya sehingga harus menjaga diri dari stigma sosial “janda”. Kisah ini memberikan gambaran tentang perempuan yang bermartabat melalui cerita yang terkandung dalam syair.

Syair Khadamuddin berkaitan dengan kisah Kerajaan Melayu Riau Lingga hingga berlanjut dengan kisah sedih seorang istri yang mengalami perjuangan batin karena sikap dan pandangan hidup terhadap kesetiaan tunggal pada suami, kerinduan terhadap tanah air yang ditinggalkan, dan pandangan tentang kehidupan berkeluarga dan berbangsa. Aisyah Sulaiman memanifestasikan gagasan-gagasan pribadinya melalui Syair Khadamuddin.

Esensi karya sastra yang dibuat tidak hanya sekadar bersifat hiburan, akan tetapi sarat dengan contoh teladan, pesan dan nasehat yang berguna di kehidupan. Penciptaan karya sastra bertujuan untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kepercayaan mereka. Artinya, karya sastra yang dihasilkan mencerminkan segala perkembangan pemikiran dan nilai hidup yang dipentingkan oleh masyarakat pada masa tertentu.

Proses perwujudan karya sastra diawali dengan konsep penciptaan. Untuk mencapai suatu penciptaankarya sastra, aktivitaskerjapolapikir yang diterima oleh panca indra akan menimbulkan suatu interpretasi baru. Berkarya merupakan upaya melahirkan kembali ide gagasan yang didukung oleh unsur konsep, rupa, dan peranan. Untuk mencapai suatu tujuan berkarya, gagasan atau ide pikiran dan berbagai pengaruh lingkungan dapat mendorong terjadinya proses penciptaan. Gagasan yang didapatkan dari data-data informasi disusun kembali guna mencapai gagasan yang baru, maupun dari fenomena yang terjadi di lingkungan pengarang.

Pengarang menerima rangsangan dari lingkungan sekitar sebagai proses penciptaan karya sastra. Rangsangan tersebut diolah sesuai dengan pemikiran hingga diperoleh suatu pemahaman yang disebut dengan ide. Perlunya wacana pengetahuan yang dimiliki oleh pengarang agar mampu mengkritisi fenomena yang terjadi.

Fenomena penciptaan karya oleh perempuan hingga kini belum dipandang sebagai karya yang utuh dan otonom. Karya-karya yang dibuat oleh perempuan bahkan dianggap seperti perusakan tubuh perempuan. Bentuk ekspresi diri untuk perempuan, dianggap sebagai suatu kreasi pelanggaran. Dalam hal ini kreativitas dapat terhambat saat karya tidak diterima dengan baik. Kreativitas mengacu pada kapasitas manusia tunggal yang kompleks untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi baru, dan mengekspresikan diri dalam cara yang unik.

Mengingat hari ini adalah momentum pejuang emansipasi, maka untuk perempuan-perempuan masa kini yang sedang diuji, mari kita ikuti jejak Aisyah Sulaiman dan Kartini yang mengikuti kata hati. Kenapa? Karena untuk hidup sesuai dengan kata hati sangat membutuhkan nyali. Meski yang lain berlomba-lomba membungkam, membisukan, menenggelamkan, bahkan lari. Selamat hari Kartini.***

Tinggalkan Balasan