SAYANGILAH bawahan dan atau orang-orang di bawah kepemimpinan Anda setulus-tulusnya. Sebagai balasannya, mereka pun akan menyayangi dan mencintai Anda, yang diimplementasikan dengan melaksanakan tugas dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya. Dan lebih daripada itu, kasih sayang pemimpin kepada orang-orang yang dipimpinnya tak hanya sebatas kata-kata tanpa makna, tetapi benar-benar ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan nyata. Satunya kata dan perbuatan itulah yang membuat mereka berasa nyaman dan bahagia di bawah kepemimpinan Anda. Dalam keadaan itu, mereka akan bersedia membela Anda, di kala suka ataupun duka. Keyakinan itulah yang tertanam kuat di dalam diri Sultan Abdul Muluk, pemimpin Kerajaan Barbari, dan diterapkannya dalam menerajui negeri yang diamanahkan kepadanya.

            Suatu hari Sultan Abdul Muluk dan beberapa orang besar-besar kerajaannya bermusyawarah, bukan di negeri mereka, melainkan di Negeri Ban, tempat yang sedang mereka kunjungi. Di dalam musyawarah itu terungkaplah kegundahan para pembesar Negeri Barbari. Baik sultan maupun para menteri yang menyertai perjalanan itu, mereka sama-sama berasa gundah karena telah cukup lama meninggalkan negeri dan rakyat sekaliannya. Seorang menteri berida (senior) menyampaikan usul kepada Sang Sultan agar mereka segera kembali ke negeri tercinta.

            Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya sulung beliau Syair Abdul Muluk (1846), bait 451, menuturkan kisahnya. Mendengar usul Mamanda Menteri, Sultan Abdul Muluk bertitah dengan durja yang berseri. 

Tersenyum bertitah duli mahkota
Mamanda jangan bergundah cita
Siapkan segera kapal kita
Tujuh hari lagi berlayarlah beta

Begitulah watak dan sifat sejati Sultan Abdul Muluk terhadap bawahan dan rakyat sekaliannya. Dia selalu dan senantiasa menampilkan karakter aslinya, penuh perhatian dan konsisten menebarkan keharuman kasih-sayang dalam bahasa yang lemah-lembut yang menyenangkan semua orang. Kelebihan lainnya, dia senantiasa tersenyum ketika berbicara dengan bawahan dan rakyatnya.

            Ajaran kasih-sayang pemimpin yang ditampilkan dalam watak Sultan Abdul Muluk, ditegaskan lagi di dalam Gurindam Dua Belas (Haji 1847), Pasal yang Keempat, bait 8. Karya kedua Raja Ali Haji itu menuturkan hikmah, yang tak hanya indah, tetapi tentu sangat berfaedah.

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Menjadi orang besar, pemimpin besar, dan memiliki kekuasaan besar dalam memimpin negeri memang baik, bahkan menjadi prestasi besar dalam kehidupan di dunia, yang patut disyukuri. Akan tetapi, kesemuanya menjadi tak berguna ketika kebesaran itu ditunggangi oleh watak dan perilaku kasar. Sebaliknya pula, cahaya kebesaran kepemimpinan akan bersinar cemerlang jika ianya bersimbah keharuman kasih-sayang kepada bawahan dan rakyat sekalian. Kasih-sayang membuat pemimpin terus diingat oleh para bawahan dan rakyat, tak kira malam ataupun siang. Durja eloknya dan perilaku baiknya membuat semua orang terbayang-bayang.

            Mengapakah begitu besarnya energi yang dibangkitkan oleh kasih-sayang dalam kepemimpinan? Ternyata, jawab dari pertanyaan itu telah disediakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Mudah-mudahan, Allah menimbulkan kasih-sayang di antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan, Allah adalah Mahakuasa dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Q.S. Al-Mumthahanah, 7).

Allah-lah yang memerintahkan manusia, apatah lagi pemimpin, untuk senantiasa menebarkan keharuman kasih-sayang. Hal itu bermakna bahwa orang-orang yang mampu mengembangkan watak dan perilaku kasih-sayang di antara sesama telah menerima anugerah nikmat Allah Yang Maha Penyayang. Oleh sebab itu, pemimpin yang melengkapkan kepemimpinannya dengan wanginya kasih-sayang akan beroleh pertolongan Allah dalam kepemimpinannya. Betapa tidak? Dengan kasih-sayang yang diimplementasikan dalam kepemimpinannya, pemimpin seperti tokoh Abdul Muluk dalam Syair Abdul Muluk yakin akan ke-Mahakuasa-an Allah sehingga dia tunduk dan patuh terhadap perintah Ilahi.

Kenyataan itu juga mengindikasikan bahwa dia memang menjadi pemimpin pilihan Allah. Tak ada sesuatu pihak pun yang mampu menjatuhkan pemimpin yang berjaya meraih Kasih-Sayang Allah. Tanda-tanda duniawinya dapat dilihat dari kasih-sayang bawahan dan seluruh rakyat kepada pemimpin pilihan itu. Namun, jika tanda-tanda itu semakin kabur dan samar-samar, bermakna tak banyak, bahkan mungkin tak ada, lagi baki (sisa) daya kepemimpinan yang dapat diharapkan pada seseorang pemimpin. Ringkasnya, dia mungkin telah sampai di ujung batas pinjaman kuasa kepemimpinan.    

            Begitu mustahaknya peran kasih-sayang dalam kepemimpinan sehingga Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 91-92) mewajibkannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari persetiaan (janji) kepemimpinan. Dalam hal ini,   raja (baca: pemimpin) seyogianya berjanji kepada bawahan dan rakyatnya sebagai berikut.

Pertama, bahwa kami (maksudnya raja atau pemimpin, HAM) tiada memperbuat pekerjaan zalim di atas kamu (maksudnya bawahan atau rakyat, HAM), sama ada pada nyawa kamu atau badan kamu atau harta kamu, In Syaa Allah Taala, intaha. Kedua, bersungguh-sungguh kami memeliharakan nama kamu dan memeliharakan marwah kamu dan memeliharakan segala sesuatu yang memalukan kamu (frase yang dicetak miring sengaja diubah oleh HAM karena teks aslinya menggunakan kata yang berbeda maknanya dengan bahasa Indonesia sekarang), sama ada pada diri kamu atau pada ahli (anggota keluarga, HAM) kamu, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 91-92).

Pemimpin yang bersetia atau berjanji tak berlaku zalim, memelihara nama baik, menjaga marwah, dan tak mempermalukan bawahan dan atau rakyatnya bermakna dia memimpin dengan menerapkan watak dan perilaku cinta-kasih atau kasih-sayang dalam kepemimpinannya. Dengan watak mulianya itu, tak akan tergamak dia menzalimi, mempermalukan, menjelekkan, dan menjatuhkan marwah bawahan dan rakyatnya. Pemimpin seperti itulah yang pandai menjaga marwah kepemimpinannya sehingga tak terjejas oleh sebarang anasir yang berpotensi menurunkan kualitas kepemimpinannya.

Sebaliknya pula, pemimpin yang berlaku zalim dan atau mempermalukan bawahan atau rakyatnya, sama ada secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, hanya tinggal menunggu waktu datangnya padah kepemimpinan yang akan menimpa. Pemimpin seperti itu tergolong takabur, menafikan hukum Allah. “Pekerjaan takbur jangan direpih, sebelum mati didapat juga sepih,” (Haji 1847), Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keempat, bait 11.

Pemimpin yang menerapkan kepemimpinan berwatak kasih-sayang akan senantiasa memperhatikan kehidupan rakyatnya. Dia, dengan amanah yang disandangkan dan segala kemampuan yang dimilikinya, akan berusaha menyejahterakan rakyat dan memakmurkan negerinya. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa itulah tugas utamanya sebagai pemimpin. Semua bangsa beradab mendirikan negeri dan atau negara dengan matlamat kemakmuran dan kesejahteraan zahir dan batin. Itulah indikator utama kejayaan setiap bangsa. Berhubung dengan itu, syair nasihat bait 41 di dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.) 2013) memberikan pegangan berharga kepada para pemimpin agar dibawa ke mana-mana pun dia pergi dan bila-bila masa pun dia memimpin.     

Kehidupan rakyat janganlah lupa
Fakir miskin hina dan papa
Jangan sekali tuan nan alpa
Akhirnya bala datang menerpa

Itulah nasihatnya. Jangan lupakan kehidupan rakyat, terutama mereka yang miskin karena kejamnya kehidupan, yang hina karena karenah dunia, dan yang papa karena ketakadilan semesta. Merekalah seyogianya yang menjadi prioritas utama untuk disejahterakan dan dibahagiakan sebagai indikator keberhasilan kepemimpinan. Bukan sebaliknya, orang-orang yang sepanjang hidupnya telah bergelimang harta dunia, yang tak pernah puas akan penguasaan atas manusia demi memuaskan nafsu duniawinya. Akhirnya, syair itu memberi isyarat bahwa pemimpin yang tak memedulikan kehidupan rakyatnya pasti akan diterpa oleh bala sebagai balasan dari perilaku alpanya.

            Suatu hari Raja Haji (setelah mangkat di belakang namanya diberi gelar Fisabilillah) dan rombongan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang berkunjung ke Negeri Kedah (bagian Malaysia sekarang). Karena kala itu Kerajaan Kedah telah agak sejahtera, Raja Haji bermaksud untuk bermusyawarah dengan Sultan Kedah agar membayar utang negeri itu kepada Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Malangnya, bukannya sambutan baik yang diterima oleh tamu ketika sampai ke Negeri Kedah, malah Sultan Kedah menyambut tamunya itu dengan perang. Maka, berkobarlah perang yang tak terduga itu. Diringkaskan kisahnya, Kerajaan Kedah kalah dalam perang itu sehingga negeri itu dikuasai oleh pasukan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di bawah pimpinan Raja Haji. Dalam pada itu, Sultan Kedah melarikan diri agar tak ditawan. Sultan Selangor yang berencana membantu Raja Haji ternyata datang juga kemudian ke Kedah. Akan tetapi, ketika Baginda sampai di Kedah, perang telah berakhir.

“… Maka Yang Dipertuan Selangor (Sultan Salihul Din, kakanda Raja Haji, HAM) pun berjumpalah dengan paduka adinda-adinda itu maka musyawarah dengan adinda-adinda sekalian serta anak raja-raja Kedah, serta orang tuanya menyuruh menyilakan Yang Dipertuan Kedah itu balik ke negerinya, kerana pekerjaan sudah habis (perang telah selesai, HAM), tinggal lagi pula pekerjaan muafakat sahaja sama-sama Islam. Maka baliklah Yang Dipertuan Kedah itu ke dalam Kedah semula. Maka diserahkan oleh Raja Haji negeri Kedah itu semula kepada Raja Kedah serta dibuat perjanjian sebagaimana jalan orang bersaudara sahaja. Kemudian duduklah Raja Haji di dalam negeri Kedah makan minum bersuka-sukaan. Syahadan tiada berapa lamanya maka Raja Haji pun keluar dari Kedah bersama-sama paduka kekanda serta Suliwatang. Maka singgahlah ke Merbuk, serta paduka kekanda Yang Dipertuan Selangor. Maka tiada berapa hari berlayar pula balik ke Selangor sekaliannya. Maka tetaplah Raja Haji itu di dalam negeri Selangor,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 187-188).

Nukilan Tuhfat al-Nafis di atas berkisah tentang kenegarawanan seorang Raja Haji. Baginda telah mengalahkan pasukan Negeri Kedah, yang menyambut kedatangan Baginda dan rombongan dengan perang, sehingga seyogianya Kerajaan Kedah takluk di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Akan tetapi, Baginda tak memperlakukan cara itu, bahkan Kerajaan Kedah dikembalikannya semula kepada Sultan Kedah setelah Yang Dipertuan Kedah itu kembali dari pelariannya karena dibujuk secara baik-baik oleh Raja Haji dan Sultan Selangor (saudara kandung Raja Haji). Bahkan, Sultan Kedah, yang menantang Baginda berperang untuk mengelakkan membayar utang, dan putra-putra Raja Kedah dijaga oleh Baginda dengan baik,  dipermuliakan marwahnya sebagaimana layaknya seorang raja yang berdaulat, dan diperlakukan  dengan penuh kasih-sayang sebagaimana halnya orang bersaudara. Raja Haji Fisabilillah merupakan salah satu pemimpin tauladan yang menerapkan kepemimpinan dengan kemuliaan cahaya kasih-sayang.    

            Selain firman Allah yang telah disebutkan di atas, para pemimpin kelas utama menempatkan kasih-sayang, baik kepada bawahan maupun kepada rakyat, sebagai sumber energi utama kepemimpinan mereka dengan merujuk ajaran pemimpin terbilang, Rasulullah SAW. Di dalam salah satu hadits Baginda Rasul bersabda:

“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayangi oleh Ar-Rahman. Rahmatilah yang ada di bumi, nescaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit,” (H.R. Abu Dawud dan Ath-Thirmidzi).

            Pemimpin yang menerapkan nilai-nilai kasih-sayang dalam kepemimpinannya dipastikan beroleh rahmat yang berlimpah. Bahkan, kasih-sayangnya tak semata-mata kepada manusia, tetapi meliputi semua makhluk ciptaan Allah. Karena bercucuran rahmat, dia tak akan pernah berubah menjadi pemimpin yang pongah. Kenyataan itu tak terbantahkan karena penuturannya langsung dari pemimpin besar utama pilihan Allah, Baginda Rasulullah. Sebaliknya, pemimpin yang “pilih kasih” dalam kepemimpinannya tinggal menanti hari datangnya padah, yang pasti mengundang musibah.***

Tinggalkan Balasan