oleh: Dedi Arman (Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri)

Membaca buku O.W Wolters berjudul Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII terbitan Komunitas Bambu 2017, ada sesuatu yang menarik. Tak hanya studi yang mendalam tentang Sriwijaya yang mengalami kejayaan ekonomi niaga maritim, tapi juga mengupas berbagai sisi lain. Kejayaaan Sriwijaya dibidang ekonomi bukan karena perdagangan rempah-rempah melainkan karena berbagai jenis getah pohon yang memiliki kegunaan unik dalam perdagangan. Pedagang-pedagang Cina datang ke nusantara, salahsatunya karena daya tari ini.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke nusantara, para pengembara Cina telah duluan menapak ke Kepulauan Riau.
Kisah pengembara Cina mengunjungi daerah yang bernama Po-lo-la yang berkemungkinan besar adalah daerah Kepulauan Anambas dan Natuna menarik untuk disimak. Kunjungan ini tak terlepas dari potensi alam Anambas dan Natuna.

Pada 607 Masehi, Pengembara Cina bernama Ch’ang Chun, seorang utusan Raja Yang Ti atas nama dinasti melakukan kunjungan. Pelabuhan pertama yang dikunjunginya adalah Ch’ih bT’u. Pelabuhan ini terleta di selatan Patani, di Pantai Tenggara Semenanjung Melayu atau lebih tepatnya di Kelantan. (AW Wolters:2017,207). Ch’ang Chun menuliskan kunjungannya e Ch’ih T’u. Kutipan tulisannya adalah: Di timur (Ch’ih T’u) adalah negeri Po-lo-la, di barat negeri Po-lo-so dan di selatan negeri Ho-lo-tan. Di utara negeri itu berbatasan dengan laut.

Perjalanan Ch’ang Chun ke semenanjung telah dibadikan. Ia berlayar menyusuri Pantai Annam, dan melihat daratan terakhir di Ling-Ch’ieh po-pa-to yang menghadap ke arah, Caampa. Nama tersebut dianggap sebagai transkripsi Pulau Lingaparvata. Menurut Wolters, Po-lo-la yang dimaksud ditulis pengembara Cina itu adalah Kepulauan Anambas dan Natuna, Pantai Barat Borneo (Kalimantan). Tak hanya mengunjungi Po-lo-la, Ch’ang Chun juga mengunjungi Chin-li-p’ishih yang diyakini berarti Sriwijaya. Nama ini sebelum dikenal transkripsi Sriwijaya yang lebih dikenal dan sering digunakan, yakni Shih-li-f-shih. Tak ada catatan lain aktivitas Ch’ang Chun selama berada di Po-lo-la.

Beberapa abad setelahnya, Tome Pires juga mencatat keberadaan daerah bernama Jumaia. Sekitar tahun 1515 ada aktivitas bajak laut di pulau itu. Jumaia yang disebut Tome Pires itu diyakini adalah daerah Jemaja yang saat ini masuk Kabupaten Kepulauan Anambas. Jemaja dan Siantan menjadi dua daerah pusat bajak laut (lanun). Dalam Hikayat Hang Tuah, nama Jemaja ditemukan bersama Siantan yang mengadakan perompaan, khususnya di Perairan Palembang.

“Ada pun kami sakalian ini musoh Siantan sapuloh buah. Nama Penghulu kami Aria Negara namanya, dan dari Jemaja pon sapuloh buah hendak merompak ke tanah Palembang. (AB Lapian,2011).

Kisah perjalanan ke Anambas-Natuna yang masuk dalam gugusan Pulau Tujuh yang paling populer adalah perjalanan Raja Ali Kelana Bin Raja Muhammad
Yusuf Al Ahmadi. Kisah perjalanan terhimpun dalam Naskah Pohon Perhimpunan Peri Perjalanan yang ditulis tahun 1896 Masehi. Secara fisik naskah ini ditulis diatas kertas yang berjumlah 46 halaman. Pemegang terakhir naskah ini adalah Mohd Thaib di daerah Pulau Tujuh dan kondisinya masih baik.
Laporan perjalanan diterbitkan Mathaba’at Al Riauwiyah di Penyengat. (Wiwik,2017).

Raja Ali Kelana memulai perjalanannya tanggal 19 Februari 1896 M, didampingi Schwart, pegawai Belanda yang bertugas sebagai
kontroleur Afdeling Tanjungpinang. Perjalanan menggunakan kapal laut bernama Flamenggo. Kapal yang dinahkodai Pesir berangkat dari
Pelabuhan Tanjungpinang dan sampai di Pelabuhan Jemaja 20 Februari 1896 M.

Pulau Tujuh memiliki berbagai potensi ekonomi. Selain kelapa dan sagu, tanaman kopi juga dibudidayakan. Salahsatunya di daerah di Sedanau dan
Bunguran. Tak hanya itu, kekayaan hasil hutan juga ditemui di Sedanau, seperti berbagai jenis getah, damar batu kucing, damar daging. Juga ada
berbagai jenis rotan, kayu balau, mengkuang, kayu merbau, berlian, tembesu, kayu seraya, kayu mentangur dan kayu tempinis.

Di Siantan, masyarakatnya menanam kelapa, kopra, bertenun kain, membuat anyam anyaman dan mengambil hasil laut. Hasil laut yang utama selain ikan
adalah kulit sepindang, siput gulai, gamat, siput rapak, sisik dan telur penyu. Beberapa kampung mengerjakan hasil laut berupa gamat. Ada tujuh
jenis gamat atau sejenis makanan laut ini, yaitu gamat belah, batang pandan, gulung, suluh, teripangt, suluh keras dan siring limau.
Di Pulau Jemaja, masyarakatnya hidup dari menanam kelapa, mengolah rumbia selain hasil ikan.

Naskah Pohon Perhimpunan Peri Perjalanan karya Raja Ali Kelana ini setidaknya dapat mengambarkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat
Pulau Tujuh secara detail. Naskah ini dapat menjadi sumber sejarah yang sangat berguna dalam penulisan sejarah yang berkaitan dengan
Pulau Tujuh. **

(Dikutip dari : kebudayaan.kemdikbud.go.id )

Tinggalkan Balasan