Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1528—1824) merupakan kelanjutan Kesultanan Melayu Melaka. Berhubung dengan itu, kemajuan yang signifikan dalam bidang ekonomi dan perdagangan harus diperjuangkan untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih semasa Kesultanan Melaka.

Dalam hal ini, kemakmuran rakyat, kejayaan kerajaan, dan marwah bangsa mesti dijaga agar dapat bersaing secara sehat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Untuk mencapai matlamat besar itu, Selat dan Kota Melaka harus dikuasai kembali. Oleh sebab itu, antara Kesultanan Melayu itu dan Kompeni Belanda tak pernah terjadi kesepakatan kerja sama yang sesungguhnya, kecuali hanya di atas kertas, dan itu pun tak pernah bertahan lama. “Bukankah ini negeri Beta? Tak eloklah Beta mesti mengikuti perintah Tuan!”   

Sesuai dengan matlamat itu, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang memang harus menggunakan strategi yang tepat agar tetap berperan dalam bidang ekonomi dan perdagangan di Selat Melaka, termasuk harus mampu bersaing dengan Belanda. Strategi perdagangan dan perlawanan itu sangat meresahkan Belanda yang berkedudukan di Melaka sehingga penjajah itu sangat bernafsu hendak melenyapkan Sultan Mahmud Riayat Syah (Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang, 1761—1812) dan Raja Haji (Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, 1777—1884) agar kawasan kerajaan besar Melayu itu dapat dikuasai mereka. Akan tetapi, Belanda tak berhasil mewujudkan ambisinya karena terus saja mendapat perlawanan.

Pembangunan ekonomi dan perdagangan terus dilaksanakan di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Setelah Raja Haji Fisabilillah gugur sebagai syuhada di Teluk Ketapang pada 18 Juni 1784, Belanda mengira selesai jugalah riwayat perlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah dan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Ternyata, hal yang sebaliknyalah yang terjadi. Kesultanan Melayu itu semakin kukuh. Perlawanan terhadap Belanda terus berkobar, terutama di kawasan Riau-Lingga dan Selat Melaka, bahkan sampai ke Laut Jawa. Menurut Taufik Abdullah (1988), dominasi Belanda sewaktu-waktu dilawan. Sultan Mahmud Riayat Syah—bersama-sama dengan para “perompak lanun”—berhasil menghancurkan benteng Belanda di Tanjungpinang (1787).

            Sultan Mahmud Riayat Syah  berusaha membangun kembali jaringan perdagangan yang telah terbentuk. Salah satunya perdagangan beras dari Jawa. Dalam pada itu, perkebunan gambir tetap dijalankan oleh orang-orang Tionghoa.

Lucas Partanda Koestoro dalam bukunya Dapur Gambir  di Kebun Lama Cina, Jejak Kegiatan Perekonomian Masa Lalu Sebagai Potensi Sumber Daya Arkeologi Pulau Lingga (tanpa tahun)menjelaskan ini. Jauh dari  keramaian kota pesisir, kelompok masyarakat Cina itu disediakan lahan di tengah  hutan. Mereka mendirikan tempat tinggal di sekitar kebun dan dapur gambir. Rumah panggung, di Kebun Cina Lama ditandai oleh umpak batu yang menjadi dasar tiang-tiang rumah, memungkinkan mereka untuk bertempat tinggal dengan nyaman. Kayu dan bambu serta atap ilalang/daun nipah diperoleh di lingkungan sekitarnya. Air untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan untuk pembuatan gambir dengan mudah diperoleh karena ada sungai yang mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik di dekat tempat tinggal dan dapur gambir. Dalam pada itu, pelbagai jenis wadah yang diperlukan dapat dipenuhi dengan mendatangkan pelbagai produk keramik dan tembikar dari pelbagai tempat, terutama dari Cina. Bahan makanan utama juga diperoleh melalui jalur perdagangan, yang merupakan salah satu bentuk kontak sosial, yang berlangsung secara rutin di pesisir pantai. Beras, sagu, dan ikan diperoleh dengan mudah dari para pedagang yang menjajakannya di pusat-pusat keramaian.

Sultan Mahmud Riayat Syah telah paham benar perjalanan sejarah kerajaannya, yang merupakan penerusan Kerajaan Bintan dan Melaka. Senantiasa terjadi pasang-surut, turun-naik, dan jatuh-bangun di kerajaannya karena konflik, baik karena pertikaian dari kalangan dalam kerajaan sendiri maupun karena berhadapan dengan Portugis dan Belanda.

Bagi Sultan Melayu yang cerdas dan patriotik itu, posisi wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang  strategis, terutama dalam jalur perdagangan dunia, merupakan potensi sekaligus modal besar untuk kembali menjayakan kerajaan. Oleh sebab itu, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang mesti berperan utama dalam lalu-lintas pelayaran dan perdagangan di  Selat Melaka.

Menurut Tanu Suherly (1988), kedudukan geografis Kesultanan Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang terletak pada pelayaran antara Selat Melaka dan Laut Cina Selatan serta antara Selat Melaka dan Laut Jawa. Kedudukan tersebut memiliki nilai strategis dalam jalur perniagaan, tetapi juga memiliki kerawanan dalam bidang keamanan. Oleh sebab itu, keberhasilan pemimpin kerajaan itu (dalam hal ini Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah yang dibantu oleh Yang Dipertuan Muda III Daing Kamboja, yang dilanjutkan oleh Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji, lalu Yang Dipertuan Muda V Raja Ali, sampai kepada Yang Dipertuan Muda VI Raja Jaafar) membangun negerinya merupakan kejayaan besar. Pasalnya, begitu besarnya ancaman dari Kompeni Belanda yang terus berusaha ingin menguasai wilayah nusantara. Dan, nyatalah pada waktu kerajaan itu berdiri (sebagai kelanjutan Kesultanan Melaka), jalur pelayaran Melaka—Jakarta (Batavia) sudah berada di bawah kontrol Kompeni Belanda. Mereka hendak memonopoli perdagangan dan mengukuhkan kedudukannya di Jakarta pada 1619 dan memberi nama Jakarta sebagai Batavia.

            Di dalam Tuhfat al-Nafis disebutkan pula oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji sebagai berikut.

“Syahdan (kata sahib al-hikayat) apabila kompeni Holanda mendengar khabar/orang-orang Cina itu (telah difikirkannya), maka tiadalah diusirnya segala orang Melayu (yang lari-lari) itu, dan Piter Jakub pun baliklah ke Melaka ditinggalkannya satu fetus serta satu kapal (perang serta beberapa jaga-jaga) bersama-sama. ((Maka)) diperbuatnyalah loji di Tanjungpinang itu (itu) dan Cina-Cina itu pun disuruhnyalah mengerjakan, kebun-kebun gambir (orang) Melayu yang tinggal(tinggal) itu dan perahu-perahu Jawa pun disuruhnyalah datang berniaga membawa beras ke dalam Riau berpalu-palu dengan gambir-gambir). Akan tetapi, berapa-berapa kesusahan atas segala orang yang berniaga karena perompak seperti anak hayam umpamanya/daripada kebanyakan. Maka tiada berhenti Kompeni Holanda payar memayar keruhlah lautan itu. Syahadan adapun Kompeni Inggris juga membawakan, ubat bedil dan meriam dan senapang berjual beli didalam negeri Melayu berpalu dengan dagangan negeri(negeri) Melayu, demikianlah halnya sehari-hari ((adanya)),” (Ahmad & Haji dalam Matheson Hooker (Ed.) 1991, 428).

            Selain komoditas beras dan gambir, perdagangan timah, apiun, obat bedil, peluru, dan meriam senapang kembali mewarnai perekonomian Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kenyataan itu juga disebutkan di dalam Tuhfat al-Nafis.

“Adalah kata riwayat orang tua-tua ada konon satu orang putih kapitan kapal sahabat Yang Dipertuan Muda itu, memang/memang/pada masa di Linggi Yang Dipertuan Muda berniaga-niaga timah-timah dengan dia, jadi bersahabatlah tolong-menolong dengan Yang Dipertuan Muda itu pada pekerjaan berniaga-niaga itu. Maka apabila Yang Dipertuan Muda sudah pulang ke Riau semula, maka datanglah ia mendapatkan Yang Dipertuan itu ke Riau padahal kapalnya itu ada membawa apiun beribu-ribu peti. Maka tatkala ia berlayar ke China, maka ditinggalkankannya setengah kepadaYang Dipertuan Muda minta jualkan di dalam Riau. Nanti apabila ia balik dari negeri China, jika habis laku diambil wangnya, dan adalah pula keuntungan Yang Dipertuan Muda di dalam itu. Syahadan maka apiun itulah diserahkan oleh Yang Dipetuan Muda kepada segala perahu-perahu Bugis dan perahu-perahu dagang mana-mana orang yang sahabat handai Yang Dipertuan Muda itu. Maka habislah apiun itu konon, maka cukuplah akan pembayar hutang marhum,” (Ahmad & Haji dalam Matheson Hooker (Ed.) 1991, 316).

            Setelah menang dalam Perang Riau II melawan Kompeni Belanda pada 13 Mei 1787, pusat kesultanan dipindahkan ke Daik-Lingga sejak 24 Juli 1787. Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah pun membuka pertambangan timah di Singkep. Selain dikerjakan oleh orang Melayu dan Bugis, Seri Paduka Baginda juga mendatangkan orang-orang dari Bangka untuk penambangan timah tersebut. Dengan demikian, perekonomian berhasil dibangun kembali. Bahkan, penduduk Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kembali ramai karena didatangi orang-orang dari pelbagai kawasan di nusantara. Tuhfat al-Nafis kembali mengisahkan hal itu.

“Alkisah maka tersebut(lah) perkataan Baginda Sultan Mahmud di dalam Negeri Pahang. Maka apabila dinantikan bicara Yang Dipertuan Terengganu perbaikan-perbaikan dia dengan Kompeni Holanda, (maka) tiada juga juga datang suruhnya atau khabar(nya), maka Baginda (Sultan Mahmud) pun berangkatlah balik ke Negeri Lingga. Maka apabila sampai ke (negeri) Lingga tetaplah ia di dalam Lingga serta orang-orang Melayu dan peranakan Bugis sehari-hari jua memikirkan pencarian (segala) orang-orangnya (sama ada sebelah suku-suku Melayu atau sebelah Bugis). Maka dengan takdir Allah Taala maka terbuka ((tanah)) Singkep, maka Baginda (Sultan Mahmud) pun menyuruhlah orang-orang Melayu dan peranakan Bugis mengerjakan timah-timah di situ serta (diaturkannya) masing-masing (dan masing-masing) bahagian (dan) datanglah kapal-kapal Inggris ke situ meninggalkan beberapa wang cengkeramnya timah pulang pergi. Maka dapatlah sedikit-sedikit rezeki dan kehidupan orang-orangnya. Dan perahu-perahu dari (negeri) timur (timur) pun datang (juga) membawa beras ke Lingga (dan beras-beras dari dari rantau-rantau pun datang juga), dan wangkang-wangkang (dari) China pun datang juga. Maka di dalam hal itu perompak-perompak pun banyak juga karena baginda (Sultan Mahmud) belum (tetap lagi) berdamai dengan Kompeni Holanda, dan Kompeni Inggris pun selalu juga membawakan ubat bedil dan peluru dan meriam senapang/dan/berpalu dengan (dagangan) timah-timah dan lainnya. Maka besarlah perompak pada seketika itu. Adalah kepalanya/perompakitu/Panglima Raman namanya, hingga merompak ia ke tanah Bangka (hingga) lalu(lah) ke Jawa. Maka banyaklah orang Bangka dan (orang) Jawa ditawannya dibawanya ke Lingga dijadikannya isi negeri Lingga. Lama-lama sukalah orang-orang Bangka itu diam di Lingga membuat kebun dan dusun tiadalah ia mau balik ke Bangka lagi. Terkadang datang sanak-sanak saudaranya dari Bangka dengan suka hatinya (tiadalah dengan rompak) memperhambakan dirinya di bawah perintah baginda Sultan Mahmud. (Maka) jadilah ramai (di dalam) negeri Lingga,” ( Ahmad & Haji dalam Matheson Hooker (Ed.) 1991, 447).

            Belanda sangat bernafsu hendak menguasai usaha perdagangan timah. Akan tetapi,  mereka tak dapat menaklukkan Sultan Mahmud Riayat Syah. Dan, memang nyatalah bahwa Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud tak sudi melakukan perhubungan dagang dengan Belanda. Bahkan, Baginda Sultan yang visioner itu menetapkan penambangan timah dilakukan sendiri oleh Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Penjualannya dilakukan kepada Inggris, bukan kepada Kompeni Belanda. Timah di Pulau Singkep yang berhasil dirintis oleh Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah ini dalam perkembangannya dikenal sebagai salah satu tambang timah terbesar di Indonesia, selain Bangka di Bangka-Belitung.

Penambangan timah di wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor Pahang semakin memberikan hasil yang jelas pada masa Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah. Menurut Sutedjo Sujitno (2007:18), Ir. Hovec yang melakukan penelitian timah di Kepulauan Riau pada 1963 berpendapat, “Penggalian timah untuk pertama kali dilakukan oleh orang-orang pribumi di Pulau Singkep telah terjadi sejak dahulu kala, dan adalah lebih tua umurnya daripada di Bangka….

Berdasarkan pendapat tersebut, penambangan timah di Singkep telah dilakukan sebelum 1709. Timah sudah dihasilkan dari Pulau Singkep atau setidak-tidaknya dari kawasan Kepulauan Riau (Kesultanan Riau-Johor-Lingga-Pahang) semasa Sultan Mahmud Riayat Syah. Pada 1787 Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Lingga dan mengutip pajak penjualan timah. Pada 1792 keluarga Abang Tawi, bangsawan Mentok (Bangka) yang pindah ke Singkep, diterima oleh Sultan Lingga dan diberi hak untuk menambang timah di pulau itu. Pada 1812 Seri Paduka Baginda Sultan mulai mengusahakan timah di Sungai Buluh, yang dilengkapi dengan kincir air  untuk memompa kolong. Tak kurang dari 70 orang Tionghoa bekerja di tambang Sungai Buluh itu dan selanjutnya Seri Paduka Baginda Sultan mewajibkan para penambang untuk menjual hasil timah kepadanya yang akan dibayar dengan harga tetap. 

Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menjadi pusat perdagangan atau pelabuhan transito antara Timur dan Barat. Hal ini disebabkan oleh sangat strategisnya letak Kepulauan Riau dalam jalur perdagangan itu, juga sebagai akibat dari berkembangnya arus perdagangan ke Kepulauan Riau pada masa itu. Pedagang-pedagang India, Sri Langka, Arab, dan negara-negara Barat: Belanda, Inggris, Perancis, dan Portugis telah bertarung memperebutkan  Riau-Lingga. Inggris berusaha mendekati Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda Raja Haji) agar dapat secara bersama-sama menghadapi Belanda. Akan tetapi, Seri Paduka Sultan Mahmud tak mau bekerja sama dengan cara seperti itu. Dalam hal ini, yang disetujui hanya sebatas kerja sama dalam perdagangan saja, terutama perdagangan timah.

Menurut A.B. Lapian (1988, 198-199), keramaian dan kemakmuran Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menunjukkan kenyataan ini. Pada waktu itu (pertengahan abad ke-18) pusat pelayaran dan perdagangan di kawasan perairan Selat Melaka telah berpindah ke Riau-Lingga, meneruskan kejayaan Johor sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di kawasan ini pada abad ke-17. Keadaan itu terjadi setelah berakhirnya kemelut sepeninggal Sultan Mahmud Syah II, Sultan Johor ke-8, atau Sultan Mahmud Mangkat Dijulang pada akhir Juli atau Agustus 1699.

Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah lagi-lagi menampilkan kinerja yang unggul sebagai pemimpin Melayu. Baginda berjaya memakmurkan negeri dan membahagiakan rakyatnya dengan kesejahteraan. Kesemuanya itu dapat dicapai berkat kepiawaian dalam kebijakan pembangunan di bidang ekonomi dan perdagangan. Padahal, untuk mewujudkan matlamat besar dan mulia itu, Baginda senantiasa dalam intaian pihak musuh, yakni Belanda yang sangat bernafsu untuk melenyapkan nyawa pemimpin ulung itu.

Akan tetapi, karena niat Baginda tulus dalam membangun bangsa dan negaranya, Sultan Melayu yang piawai itu senatiasa mendapat inayah Allah. Hal itu bermakna dalam keadaan sulit Baginda tetap mampu membangun bangsa dan negara. Nyatalah memang, Sultan Mahmud Riayat Syah sejatinya pemimpin Melayu terbesar sepanjang masa, yang sangat sulit dicari penggantinya.***

Tinggalkan Balasan