Banyak peristiwa penting dalam kehidupan dan budaya. Tak elak juga berlaku bagi orang-orang Melayu di Daik. Salah satunya upacara adat pernikahan yang sakral. Ada tradisi unik yang masih dipertahankan sebelum pernikahan berlangsung. Menjemput atau mengundang sanak saudara langsung kerumah masing-masing.

Pemilik hajat akan datang kerumah saudara dekat menjemput. Menyampaikan hajat dan maksud. Lazimnya, orang tua calon mempelai baik laki-laki ataupun perempuan datang bertandang. Untuk mengundang hadir dalam upacara agama dan adat ini. Menjemput bagi orang Melayu Daik lebih tinggi nilainya daripada memberikan selebaran undangan. Karena sudah menjadi kultur dan budaya turun temurun.Yang dijemput dan menjemput adalah sanak keluarga dekat. Adik beradik, sepupu yang masih memiliki ikatan darah dan keturunan. Sedangkan untuk orang-orang diluar itu biasanya hanya diberikan undangan. Bertemu langsung menghidupkan silaturahmi. Menjaga persaudaraan. Mempererat kekeluargaan. Tidak pula terlalu formal, tapi cara-cara ini menjadikan orang-orang Melayu Daik begitu rukun.

Beberapa waktu lalu, Paklang Masnun dan Ngah Ayat datang kerumah usai magrib. Dirumah, hajat dan maksud disampaikan, mengajak langsung mengahdiri resepsi adat pernikahan dan ijab qabul anaknya yang bungsu.“Kami datang membawa hajat. Nak menikahkan si Bungsu Kami hari Rabu nanti. Dapatlah kiranya datang hadir. Semua keluarga dijemput datang,” kata Ngah Ayat memulai percakapan.

Setelah maksud dan hajat sampai, sembang-sembang ringanpun berlangsung. Bercerita sedikit soal si calon mempelai yang kelak akan menjadi keluarga sampai keberbagai hal lain soal persiapan hajat pernikahan. Jemput-menjemput ini pun kemudian berlangsung kerumah sanak keluarga dekat lain menyampaikan maksud sama. Tradisi bertemu dan berhadap-hadap muka tak tergerus zaman di Bunda

Penulis: M Hasbi, Penulis di Daik

(Dikutip dari : kebudayaan.kemdikbud.go.id )

Tinggalkan Balasan