Mi lendir tentu bukan hal yang baru bagi masyarakat Tanjungpinang. Konon, kuliner ini sudah dijajakan lebih dari setengah abad lalu. Uniknya, mi yang disiram dengan kuah kental menyerupai lendir, yang dihidangkan dengan telur rebus, taburan seledri dan bawang goreng ini hanya ada di Tanjungpinang. Dan justru lebih banyak dijual oleh orang Jawa.

Sumardi, satu dari sekian banyak penjual mi lendir di Tanjungpinang, menuturkan dirinya sudah menjual olahan mi ini sejak tahun 1968. “Di kedai kopi Setya sudah 41 tahun, di Aneka Ria baru 4 tahun,” terang kakek asal Klaten ini. Sumardi terpaksa pindah karena pemilik kedai Setya meninggal dan anaknya berencana menjual rukonya. “Bahkan sampai punya buyut,” kata Sumardi berkelakar.

Sembari tangannya yang terus mencelupka taoge dan mi kuning, laki-laki yang akrab disapa Pakde ini mengatakan tiap harinya bisa menghabiskan 30-40 kilogram mi kuning. “Kalau Minggu, bisa 60 atau 70 kilo,” tambah Pakde yang ketika berjualan juga dibantu oleh istri dan anak bungsunya.

Warijah, istri Sumardi, menjelaskan kental yang terdapat di kuah mi lendir itu diperoleh dari tepung terigu dan gula merah. “Dicampur kacang juga,” tambahnya. Dalam sehari, Warijah dan suaminya biasa membawa empat periuk besar berisikan kuah kental tersebut. “Pas Minggu dan hari libur bawanya 9 periuk,” terang perempuan yang biasa dipanggil Bude oleh pelanggannya.

Saking khasnya, ada saja pembeli yang membeli kuah kental racikan Sumardi dan istrinya. Menurutnya, karena tidak sembarang orang bisa membuat kuah kental tersebut. Dibutuhkan keahlian khusus untuk meracik kombinasi kuah yang terdiri dari tepung terigu, gula merah, dan kacang tanah itu. “Untuk itu, kita pasang setengah harga saja,” terang Warijah.

Sembari duduk di depan gerobak jualannya, Warijah menceritakan awal mula dirinya dan suaminya berjualan mi lendir. “Dulu paman saya yang jualan. Suami saya disuruhnya menggantikan,” kisah ibu enam anak ini. Sumardi turut pula menambahkan, dirinya terlebih dahulu dirinya menjajakan kue keliling. “Setelah itu, saya jualan mi lendir keliling di Jalan Merdeka,” tambahnya.

Menurut cerita Sumardi, dulunya tidak ada yang berjualan mi lendir seperti saat ini, dengan menumpang di kedai kopi seperti dirinya. “Dulu ya harus keliling, sambil mukul piring,” terang Kakek 14 cucu ini sambil memeragakan caranya berjualan dulu. Saat ini, Sumardi dan istrinya berjualan di depan kedai Aneka Ria dengan uang sewa Rp 20 ribu perharinya.

Pria yang sempat menggunakan uang KR, mata uang khusus Kepulauan Riau, menceritakan dulunya yang berjualan mi lendir ini adalah orang-orang India. “Mereka berhenti, jadilah orang Jawa yang meneruskannya sampai sekarang,” kata Sumardi.

Sebagai orang Jawa asli yang sudah lama di Tanjungpinang, Warijah mengakui dirinya juga tidak pernah mendapati mi lendir di Klaten, kampung halamannya. “Kalau jual di Jawa, orang pada jijik,” ucapnya tertawa. Warijah mulai berjualan mi lendir bersama suaminya sejak pukul 6 pagi sampai pukul 1 siang. “Tapi sebelum jam satu, biasanya sudah habis,” ujar Warijah.

Saban pagi di Jalan Bintan, mi lendir menjadi pilihan sarapan berbagai kalangan dan etnis. Terlihat dari ragam pembeli yang terus datang silih berganti.

Tinggalkan Balasan