oleh: Dedi Arman (Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri)

Tak banyak yang tahu gambir dibudidayakan di Lingga. Desa Sungai Raya, Kecamatan Singkep Barat pernah jadi penghasil gambir terbesar di Provinsi Riau dan Kepri. Mong Sung Bangsal, usaha gambir milik Aleng Loya (72) di desa itu bertahan selama 40 tahun. Gambir ditanam, diolah sendiri dan diekspor ke Jepang. Apa rahasianya ?
———————————–
Hamparan tanaman gambir yang hijau menyegarkan mata saat memasuki areal kebun gambir yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Raya, ibukota Kecamatan Singkep Barat. Sejauh-jauh mana memandang yang tampak hanya pohon gambir. Kebun terlihat bersih, tak ada rerumputan.
Seorang laki-laki tua sibuk membersihkan bibit gambir yang tak lama lagi siap ditanam.
“Saya kerja disini sudah lima tahun. Tugas saya bagian pembibitan,”kata Tono (55), pekerja asal Blora, Jawa Tengah.

Sekitar 100 meter dari Tono bekerja, ada pondok terbuat dari kayu yang nampak terawat baik. Tono menyebutkan, bangunan itu baru diperbaiki dan fungsinya tempat istirahat pemilik kebun dan pengolahan gambir, Aleng Loya. Ditanya lokasi pengolahan gambir,ia menunjukkan bangunan lain yang berjarak 800 meter dari lokasi pembibitan.

Di lokasi pengolahan, ada tiga pondok terbuat dari kayu berukuran cukup besar. Juga ada bangunan mirip kos-kosan yang setengah permanen. Dua pondok yang besar fungsinya untuk pabrik pengolahan gambir. Bangunan yang mirip-mirip kos-kosan digunakan untuk tempat tinggal pekerja.
“Usaha ini sudah berumur 40 tahun. Ayah buka awal tahun 1970-an dan bertahan hingga sekarang. Keluarga memberi merek dagang usaha gambir ini Mong Sung Bangsal. Artinya selalu jaya,”kata Agus Sutarman alias Atong yang dipercaya ayahnya mengelola usaha gambir ini.

Atong bercerita, usaha gambir di Kabupaten Lingga hanya ada di Sungai Raya. Usaha ini sudah berlangsung turun temurun. Ayahnya generasi kelima dan ia generasi keenam. Sebelum di Desa Sungai Raya, budidaya dan pengolahan gambir keluarganya ada di Langkap, Desa Bakong, Singkep Barat. Namun, awal tahun 1970-an ayahnya membuka perkebunan gambir di Sungai Raya dan bertahan hingga sekarang.

Ia ingat saat permintaan gambir besar dan harga bagus tahun 2006-2008, areal perkebunan gambir yang produksi mencapai 200 hektar. Saat itu gambir berkualitas bagus harganya mencapai Rp50 ribu per kilogram dan kualitasnya dibawahnya sekitar Rp30 ribu. Jumlah pekerja kebun mencapai 65 orang.
“Kalau sekarang harga gambir masih bagus. Kualitas paling bagus yang catechinnya 100 persen, harganya bisa Rp50 ribu per kilogram. Tapi areal gambir yang tanamannya bagus dan bisa produksi saat ini sekitar 50 hektar saja,”ujarnya.

Menurunnya produksi, disebabkan karena banyak pohon gambir yang sudah tua. Solusinya dilakukan penanaman baru. Pembibitan dilakukan sendiri dan ada juga yang dibeli. Dengan menurunnya produksi, jumlah tenaga kerja yang digunakan juga berkurang. Jumlah pekerja tinggal 20-an orang. Mereka dibayar harian antara Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per hari. Makan dan tempat tinggal ditanggung oleh pemilik kebun.

Pekerja awalnya didatangkan dari transmigran yang ada di Jambi. Kemudian masyarakat yang ada di sekitar Desa Sungai Raya juga banyak yang tertarik bekerja di sana. Saat gambir dalam proses pengolahan atau produksi membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dari hari biasa.
Setiap bulan produk gambir yang dihasilkan berkisar antara 1 sampai 1,2 ton. Dalam setahun, panen gambir bisa dilakukan sekitar empat kali. Daun gambir yang siap dipanen kemudian ditunggu tiga atau empat bulan lagi, baru bisa dipotong lagi.

Usaha gambir perlu dana cukup besar. Selain upah pekerja yang bertugas menanam, memelihara dan juga mengolah, juga perlu biaya besar untuk perawatan. Gambir sejak bibit ditanam perlu pupuk. Setelah panen, pohon gambir juga diberi pupuk, seperti Urea dan pupuk lainnya. Belum lagi biaya membeli racun untuk membunuh rerumputan di sekitar kebun gambir. Soalnya, gambir bisa tumbuh subur jika diberi pupuk dan kondisinya selalu bersih.

Ternyata di Singkep Barat, selain usaha Mong Sung Bangsal, masyarakat Kelurahan Raya dan Desa Sungai Raya yang lain juga pernah membudidayakannya. Rusiah, Penyuluh Pertanian Kecamatan Singkep Barat menyebutkan, sekitar tahun 2006 ada sejumlah orang yang juga menanam gambir, tapi kemudian pohon tersebut dibiarkan sehingga tak sampai diproduksi. Penyebabnya, biaya budidaya dan pengolahan gambir memakan biaya besar. “Ada beberapa orang, tapi tak kuat modal. Gambirnya dibiarkan sehingga menyatu dengan semak,”kata Rusiah, Ahad kemarin.

gambir
kebun gambir

Rusiah sendiri pernah bekerja di Mong Sung Bangsal sekitar tahun 2006. Dalam enam tahun terakhir dilihatnya, usaha itu tetap berkembang dan kendalanya hanya pohon gambir sudah banyak yang usia tua. Bahkan, ada pohon gambir yang sudah berumur 30 tahun. Pemilik kebun mulai melakukan penanaman kembali.
“Kalau di Kepri, gambir hanya ada di Sungai Raya dan Sawang, Kundur, Kabupaten Karimun. Kualitas gambirnya, produksi pak Aleng yang terbaik. Makanya bisa menembus pasaran Jepang. Kalau gambir dari Sumatera Barat dan Kundur, pasarannya ekspornya banyak ke India. Ada juga ke Singapura,”ujarnya.

Gambir bisa dipanen saat usia 1,5 tahun tergantung pertumbuhan. Tingginya mencapai 1,5-1,8 meter. Panen gambir dilakukan dengan cara memangkas ranting beserta daun sepanjang sekitar 5 cm dari pangkal ranting gambir. Panen gambir bisa dilakukan tiga sampai empat kali setahun. Tanaman gambir bisa berusia panjang tergantung perawatan dan tak ada tanaman lain yang melindungi dari cahaya matahari.

Pengolahan gambir Mong Sung Bangsal di Desa Sungai Raya berbeda dengan pengolahan gambir di Sumatera Barat dan daerah lainnya. Daun gambir yang dipetik dicincang atau dipotong-potong sebelum direbus di dalam kancah (kuali besar). Sementara, di daerah lain, daun gambir diikat kemudian direbus. Untuk mengeluarkan getahnya, daun gambir tersebut ditekan atau dipress menggunakan dongkrak atau alat lain. Getahnya baru keluar.

Ekspor ke Jepang

Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan.

Pengelola Mong Sung Bangsal, Agus Sutarman (Atong) mengatakan, produk gambir yang dihasilkannya diekspor ke Jepang. Ini berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang mengekspor gambir ke India. Gambir dikirim antara 8-10 ton pakai kapal kargo ke Jambi dan dibawa ke Jakarta lewat darat.

gambie
Tempat gambir diolah

Gambir dijual pada perusahaan Jepang dibawah bendera Jintan Coorporation. Pihaknya selama 40 tahun usaha berdiri, selalu menjual pada Orang Jepang. “Dulu selalu kita ke kirim ke Jakarta. Pembelinya Jintan. Tapi setelah bosnya meninggal, belakangan kita langsung kirim ke Jepang via Singapura. Benderanya tetap sama, Jintan,” kata Atong.

Gambir yang dihasilkan Mong Sung Bangsal, katanya disukai karena kadar katekinnya lebih tinggi ketimbang daerah lain. Gambir lebih bersih dan di Jepang digunakan untuk obat-obatan. Jintan Coorporation di Jepang juga memakai gambir dipakai dalam pembuatan permen khusus bagi perokok yang dapat menetralisir nikotin.

Ferdi Lesmana alias Ameng, kakak Atong menyebutkan, usaha milik keluarganya ini tak pernah tersentuh bantuan pemerintah. Sejak zaman Provinsi Riau hingga Kepri, belum ada bantuan pemerintah mengalir, termasuk dari Pemkab Lingga.
“Belum pernah sekalipun ada bantuan dari pemerintah. Baik bibit, modal dan pemasaran. Jadi usaha ini benar-benar swadaya,”kata Ameng.

Mong Sung Bangsal mulai melakukan penanaman baru. Setahun ke depan, pohon gambir sudah bisa dipanen. Dengan kondisi harga gambir yang senantiasa bagus, usaha gambir ini tetap bertahan. Selain karena usaha yang dijalankan sudah turun temurun, pemilik Mong Sung Bangsal juga memikirkan nasib para pekerja. Puluhan orang mengantungkan hidupnya dari usaha gambir ini.

(Dikutip dari : kebudayaan.kemdikbud.go.id )

Tinggalkan Balasan