jembatan sungai carang

oleh: Dedi Arman (Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri)

Kegemilangan sebuah peradaban akan selalu tercatat dalam literatur yang ditulis berdasarkan fakta sejarah yang berasal dari berbagai sumber. Historiografi dapat dimaknai pada tiga hal. Pertama sebagai proses kerja sejarawan dalam menerapkan metode-metode sejarah hingga penulisan. Kedua, hasil penulisan itu sendiri dan ketiga, kajian mengenai hasil karya tulisan sejarah. (Zuhdi, 2014). Dalam tulisan ini difokuskan pada mengkaji kajian mengenai hasil karya tulisan sejarah tentang Sungai Carang. Berbagai tulisan sejarah yang ditulis sarjana Indonesia dan asing. Satu persatu akan dipaparkan secara ringkas. Dari historiografi ini akan tergambar kebesaran Sungai Carang masa lalu.

Ada sejumlah historiografi tentang Hulu Riau (Sungai Carang) yang dapat mengambarkan bagaimana kondisi dan kegemilangan Hulu Riau pada masanya. Buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (edisi revisi 2008) ditulis M.C Ricklefs menjadi buku bacaan wajib mahasiswa Sejarah dan siapa saja yang ingin mengetahui sejarah Indonesia dari masa ke masa. Dalam buku ini, Ricklefs juga menulis tentang Hulu Riau (Sungai Carang) yang dalam bukunya disebut dengan nama: Riau. Pada halaman 15 ditulis tentang Indonesia Bagian Barat 1640-1800.

Pada tahun 1687 terlihat ada 500-600 kapal dagang ada di Riau (Hulu Riau). Kapal dagang itu berasal dari Siam, Aceh, Inggris, Portugis dan Cina. Riau pelabuhan dagang yang menjanjikan. VOC Belanda membutuhkan Riau yang makmur. Eskpor timah dan lada maju begitu pesat. Banyak cara agar pelabuhan Riau maju. Kapal-kapal Cina dan Jawa yang menuju Malaka dipaksa pihak kesultanan merapat ke Riau. Dibawah pemimpin Bugis, Riau terus menjadi pusat perdagangan yang maju dan VOC tak bisa mengontrol. Meski tak banyak, dalam buku Sejarah Indonesia Modern ini tergambar ramainya Hulu Riau sebagai pusat perdagangan yang terbukti dengan banyaknya kapal dagang yang bersandar di sana.

Karya lain yang bercerita tentang Hulu Riau adalah Buku Sejarah Johor tulisan Haji Buyong Adil (1971). Dalam bukunya disebutkan, Laksamana Tun Abdul Jamil membuka Sungai Carang di Pulau Bentan dan dinamakan Riau. Keterangan orang Belanda, Pieter Willemz dan Jan Meine, laksamana sangat disayangi sultan. Laksamana yang membantu Belanda dalam melawan Portugis di Malaka. Pesatnya perdagangan di Riau digambarkan GubernurThomas Slicher yang menulis surat ke Betawi (Jakarta) tahun 1687. Pelabuhan Riau saat itu sulit dilewati karena banyaknya kapal dagang yang berlabuh disana. (hal.51). Sultan menggunakan orang laut sebagai pasukan yang setia. Melindungi kapal-kapal yang berlayar ke Riau. Orang laut juga setia dan bisa digunakan untuk menyerang kapal asing yang mencurigakan di Selat Malaka. Selain itu, pedagang tertarik ke Riau karena menjual menjual timah diganti setengah uang dan setengahnya lagi kain.

Leonard Y Andaya dalam bukunya Sejarah Johor juga banyak mengupas tentang Riau. Disebutkan, Riau mulai berperan dalam aktivitas perdagangan sejak ramainya perdagangan di Kerajaan Johor tahun 1687. Kerajaan Johor berdiri tahun 1641, saat berhasilnya penaklukan atas Malaka yang dikuasai oleh Portugis. Dengan bantuan Belanda, Malaka dapat direbut dan saat itu mulai dibentuk pemerintahan baru dengan nama Kerajaan Johor. Saat itu pusat pemerintahan terletak di Sungai Johor.
Pada tahun 1687, kota-kota di sepanjang Sungai Johor dan Riau, yang pada masa itu merupakan wilayah dari Kerajaan Johor ramai dengan kegiatan perdagangan. Gubernur Thomas Slicher Malaka dalam suratnya ke Betawi pada bulan Mei 1687 memberikan gambaran di atas sebagai berikut:
“Bilangan kapal yang berlayar ke Riau begitu besar sehingga sungai itu sukar untuk dilalui akibat dari pada terlalu banyaknya kapal-kapal dagang. Pedagang-pedagang tertarik ke Riau disebabkan oleh Managierse Aequipagenya. Disini para pedagang timah dibayar setengah dengan duit content dan setengfah lagi dibayar dengan kain, sedangkan di Malaka mereka itu diberikan apa saja jenis kain yang ada dan bukannya jenis kain dengan corak yang terbaru seperti di Riau.

Riau pada tahun itu menjadi pusat perdagangan antar bangsa yang terkenal. Perahu yang berlabuh di Sungai Riau saat itu sekitar 500-600 buah termasuk di antaranya kapal-kapal besar. Berikut pernyataan yang menyebutkan bahwa Sungai Riau menjadi pusat perdagangan antar bangsa: “Antara kapal-kapal yang berlabuh di Sungai Riau terdapat juga tiga buah tongkang Cina yang besar, dua buah kapal besar dari Palembang yang bermuatan dengan lada hitam, kapal-kapal Portugis dan Manila, kapal-kapal Inggris, kapal-kapal pribumi dari Buton, Jawa, Melaka, Kampar, Aceh, Kedah, Perak dan wilayah-wilayah naungan Johor sendiri yaitu Trengganu, Pahang, Sedili, Rambau, Muar, Bengkalis, Siak, Pulau Penang, Tioman, Pulau Auer, Pulau Jemaja, Siantan, Bunguran, Pulau Laut, Serasan, Sugi, Tambelan, Sudalan dan Lingga”

Ironisnya, buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka, Edisi Pemutakhiran 2008 tak ada menulis tentang Kerajaan Riau Lingga. Buku yang ditulis Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto ini menjadi buku babon dan referensi utama tentang Sejarah Indonesia. Pada halaman 37-19, buku ini menulis tentang Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau. Ada tiga kerajaan yang ditulis, yakni Siak, Kampar dan Indragiri. Tak ada tulisan tentang Kerajaan Riau Lingga. Disana hanya ada dua foto tentang Kerajaan Riau Lingga, yakni Masjid Penyengat dan puing-puing bekas istana di Penyengat. Namun, tanpa ada keterangan kesultanan yang pernah berkuasa di Penyengat.

Historiografi lain adalah Buku Sejarah Melayu yang ditulis Ahmad Dahlan. Dalam warkah pembuka pada halaman 7-8 menulis tentang Hulu Riau. Ia menyebut Hulu Riau atau tepatnya Hulu Sungai Riau menjadi pusat pemerintahan setelah berpindah dari Johor pada pemerintahan Sultan Sulaiman Badrum Alamsyah I tahun 1722. Raja Kecik juga pernah beristana dikawasan ini sekitar tahun 1719 setelah kekuasannya lengser di Johor. Kawasan Hulu Riau yang juga dikenal dengan nama kawasan Sungai Carang pertama kali dibina sebagai bandar dagang dan pusat pemerintahan Kemaharajaan Melayu oleh Laksamana Tun Abdul Jamil tahun 1673. Sultan Ibrahim Syah juga pernah berkuasa dan beristana di sana.

Dalam buku ini, juga ditulis kawasan Hulu Riau atau Sungai Carang kondisinya saat ini. Di sana masih dijumpai tapak dan reruntuhan Istana Biram Dewa sebagai pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda (YDM) IV Raja Haji Fisabilillah. Seperti yang diceritakan dalam Tuhfat Al Nafis karya Raja Ali Haji, Istana Biram Dewa sangat megah dizamannya. Dinding dan pagar istana dihiasi dengan piring-piring dan kaca berkualitas tinggi. Di kawasan ini juga ada makam YDM 1 Daeng Marewa dan YDM II Daeng Celak.

Diceritakan Pelabuhan Hulu Riau mengalami kegemilangan sejak zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I sampai Sultan Mahmud Syah III berkuasa, meski pada masa-masa tertentu ada fase kemunduran. Pelabuhan Hulu Riau menjadi pelabuhan transito yang menghubungkan dunia barat dan timur. Kapal-kapal dagang dari Jawa, Sulawesi, dan kerajaan Melayu sekitar dan asing, seperti Siam, Cina, Persia, Arab, Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis berlabuh dan berdagang di sana. Pelabuhan Hulu Riau menjadi pelabuhan ekspor hasil bumi Riau, seperti gambir dan lada. Kemajuan kerajaan tergambar dalam Tuhfat Al Nafis. Kemakmuran kesultanan ceritanya sampai ke Melaka yang dikuasai Belanda dan pesisir timur Sumatera. (hal.233). Tak hanya perekonomian, Hulu Riau ramai dengan kedatangan penduduk pendatang. Terjadilah perkawinan antar etnis. Terjadilah pembauran dengan orang Melayu.

Di Kepri, selain Ahmad Dahlan, ada tiga penulis yang cukup banyak tulisannya tentang Hulu Riau, yakni Abdul Malik. Selain itu, ada dua sejarawan, Anastasia Wiwik Swastiwi dan Aswandi Syahri. Abdul Malik merupakan ketua tim penulis buku Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812). Dalam buku itu, Malik memaparkan kiprah Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahannya dari Hulu Riau ke Daik Lingga.Itu dari bagian strategi menghadapi Belanda.

Lingga merupakan kawasan yang tak mudah dijangkau oleh pihak musuh merupakan salah satu pertimbangan Sultan untuk berhijrah ke sana. Di samping itu, Baginda yang memiliki ketajaman visi yang luar biasa dalam membangun telah memprediksi bahwa dengan potensi yang dimilikinya, Lingga, kalau dibangun dengan benar, akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar bagi kerajaan. Itulah sebabnya, Baginda membangun kesultanan yang berbasis di Lingga meliputi pelbagai aspek dengan semangat, perencanaan, dan strategi yang memukau. Baginda membuktikan bahwa kerja keras dalam membangun dan upaya menangkis pencerobohan anasir luar dapat dilakukan dengan gemilang. Di sejumlah media, Abdul Malik menulis Sungai Carang sebagai Medan Marwah Orang Melayu. Ada juga tulisannya dengan judul Sungai Carang: Tapak dan Marwah. Isinya sama bagaimana kisah majunya Hulu Riau (Sungai Carang) menjadi pusat perdagangan dan pusat pemrintahan. Hulu Riau berakhir masa keemasannya setelah peperangan melawan Belanda dan Sultan Mahmud Syah III memindahkan pusat pemerintahan ke Daik Lingga.

Sejarawan Aswandi Syahri lebih banyak lagi tulisannya yang terkait tentang Hulu Riau (Sungai Carang). Sebagai kolumnis di media massa, banyak tulisannya tentang Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang. Ian juga menulis sejumlah buku, diantaranya Cogan : Regalia Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang yang ditulisnya bersama Raja Murad. Aswandi Syahri mengatakan Sungai Carang adalah urat nadi Kerajaan Riau Lingga yang diserang Belanda dalam perang Riau, tahun 1782-1784. Perang hebat yang yang berakhir 6 Januari 1784 itulah yang dicatat sebagai hari lahirnya Tanjungpinang. Sebagai Ibu Kota Kerajaan Johor sejak pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke 18, Bandar Riau di Sungai Carang sesungguhnya tidak menghasilkan apapun komoditi perdagangan yang dicari oleh pedagang antarbangsa ketika itu. Namun, pelabuhan itu sibuk dengan aktivitas perdagangan oleh pedagang antarbangsa yang datang dari Eropa, Asia dan Nusantara hingga menjadi saingan menakutkan pelabuhan Melaka yang sudah dikuasai VOC-Belanda. Meski tidak menghasilkan apa-apa, namun pada zamannya pelabuhan di Sungai Carang telah dikelola dengan managemen yang baik hingga menarik minat para pedagang antarbangsa.

Ia juga pernah menulis artikel dengan judul: Negeri Riau di Pulau Bintan dan Pelabuhannya (Abad 17 – Abad 18). Dalam tulisan ini, Sungai Carang dibangun Laksamana Tun Abdul Jamil sempena menjunjung titah Sultan Johor, Sultan Abdul Jalil Syah pada 1672. Perlahan-lahan negeri baru di Sungai Carang, Pulau Bintan, yang kemudian dikenal sebagai Riau itu menjadi tempat ‘nadi sejarah’ di Selat Melaka berdenyut. Awalnya, pembukaan negeri baru itu adalah bagian dari strategi pertahanan ketika Kerajaan Johor lama, yang masih berpusat di Semenanjung, kalah dalam peperangan dengan Jambi pada tarikh 1083 Hijriah bersaman dengan 1672 Miladiah.

Peristiwa pembukaan Negeri Riau di Pulau Bintan itu adalah sebuah historical watershed, sebuah titik sejarah yang sangat penting dalam tahap-tahap perjalanan sejarah yang panjang pada masa-masa berikutnya. Dari hanya sekedar sebuah benteng yang perlahan-lahan berubah menjadi pelabuan dagang, Negeri Riau yang terletak di Sungai Carang itu pada akhirnya silih-berganti menjadi ibukota Kerjaan Johor menggantikan ibukota lama di Semanjung sejak Sultan Ibrahim yang menggantikan ayahnya pindah ke negeri baru ini pada 1678.

Kolega Aswandi, sesama pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepri, Anastasia Wiwik Swastiwi juga cukup banyak meneliti dan menulis tentang Hulu Riau (Sungai Carang). Dalam tulisannya, Istana Kota Piring 1777-1778: Aset Sejarah Yang Terlupakan (2002), Wiwik menulis tentang dibukanya Hulu Riau dan menjadi pusat perdagangan yang ramai hingga kawasan Sungai Carang kemudian ditinggalkan. Sungai Carang tinggalah tempat jalur transportasi kapal dari kampung ke kampung dan sumber mata pencaharian nelayan mencari ikan.

Wiwik juga pernah menulis tentang Jejak Sejarah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I 1722-1760. Dalam tulisan ini, dijelaskan sejak pelantikan Raja Sulaiman menjadi Sultan dengan bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tanggal 4 Oktober 1722, pusat pemerintahan kesultanan Johor Riau berkedudukan di Riau tepatnya di Sungai Carang (sekarang termasuk dalam wilayah Kota Tanjungpinang). Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah menjadi Sultan Riau Johor Pahang Lingga yang pertama. Pelantikan Raja Sulaiman menjadi Sultan dengan bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah menjadi catatan sejarah penting karena sejak itu muncul konsep pemerintahan yang tidak mutlak di tangan Sultan. Artinya, segala kebijakan pelaksanaan pemerintahan tetap berada di tangan Sultan sedangkan roda pemerintahan dilaksanakan oleh Yang Dipertuan Muda.

Tulisannya yang lain adalah Jaringan Perdagangan di Sungai Carang Pulau Bintan 1777-1787 yang ditulis tahun 2004. Tulisan-tulisan Wiwik ini adalah hasil kajian dari instansi tempatnya bekerja, yakni Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri yang dulu bernama Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Tanjungpinang. Dalam tulisan ini, mengutip Elisa Netscher, Resident Riau tahun 1861-1870, dalam “Beschrijving Van Een Gedellte Der Residentie Riouw” yang dimuat dalam Tijdschrift Voor Indische Tall-land-en Voelkenkunde, 2, 1854, saat itu Riau merupakan kawasan tempat berniaga bagi pedagang-pedagang dari Borneo (Kalimantan), dan Celebes (Sulawesi) yang datang dari Singapura. Ketika itu, Singapura belum memiliki peranan yang berarti dalam dunia perdagangan di kawasan Selat Malaka.

Wiwik menuliskan, pertumbuhan penduduk tersebut dapat dikatakan dangat tinggi sekali dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk yang terjadi di Bandar Melaka. Di Riau pada masa itu terdapat kurang lebih 50.000 orang penduduk. Sementara di Melaka pada tahun yang sama mencapai 10.000 orang. Pada masa pemerintahan Raja Haji (1777-1784), Riau menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting dan menentukan di Asia Tenggara. Pelabuhan Riau yang terletak di Ulu Sungai Riau yang kemudian lebih dikenal dengan Sungai Riau ini merupakan tempat tempat tukar menukar atau keluar masuknya barang-barang komoditi antara daerah hinterland dan foreland (daerah seberang). Selain itu juga sebagai tempat berlindung atau berlabuh kapal-kapal (a shelter for ship).

Dari historiografi ini tergambar bagaimana kebesaran dan kegemilangan Sungai Carang pada masa lalu. Mustahil kembali mengulangi masa keemasan itu. Buku Sejarah Nasional Indonesia boleh melupakannya. Mungkin lupa mencatatnya. Tanggungjawab semuanya, termasuk pemerintah daerah, akademisi, sejarawan maupun budayawan untuk merawat sejarah Sungai Carang itu. Biar tak dimakan zaman dan tak dilupakan generasi selanjutnya. ** (Terbit di Jembia Harian Batampos, 25 September 2016)

(Dikutip dari : kebudayaan.kemdikbud.go.id )

Tinggalkan Balasan