Perempuan Melayu di Daik Lingga, Kepri memiliki kain khas. Kain penutup kepala biasa disebut tudung manto. Kain penutup kepala ini memiliki hiasan yang khas dan berbeda dengan penutup kepala yang dikenakan oleh perempuan Melayu di daerah lain di Kepulauan Riau.

Perempuan Melayu di Kelurahan Daik Kabupaten Lingga telah mengenal tudung manto sejak tahun 1700-an, dengan berkembangnya pengetahuan serta keterampilan bertenun di daerah Kampung Mentok, Siak, Sepincan, Tanda, dan Gelam. Sekarang kurang lebih 200 tahun telah berlalu, tudung manto masih diproduksi dan dipakai oleh perempuan Melayu di sana. Kemampuan tudung manto bertahan sebagai pakaian adat yang menunjukkan bahwa ia mengandung makna tertentu. Ia merupakan wahana bagi serangkaian makna yang penting bagi orang Melayu Daik.

Sepintas, tudung manto hanya terlihat sebagai sehelai kain yang merupakan bagian dari pakaian adat bagi perempuan Melayu Daik. Namun jika dikaji lebih dalam, tudung
manto mengandung serangkaian makna yang dipahami bersama oleh suku bangsa Melayu Daik. Tudung manto merupakan kain penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain seperti kain kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna yang beragam. Tudung manto memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari lebar 60 cm
dan panjang 150 cm hingga panjang 200 cm. Ciri khas utama tudung manto adalah hiasan wajib berbentuk tekat dengan berbagai motif yang dibuat menggunakan kawat lentur seperti benang berwarna perak ataupun emas yang disebut genggeng atau kelingkan.

Tudung manto memiliki struktur motif hias, yang terdiri dari: Pertama, tali air atas dan bawah, yaitu motif berbentuk garis pada posisi paling luar yang dibuat di sekeliling kain bahan dan berfungsi sebagai pembatas motif. Tali air atas merupakan pembatas antara bunga kaki bawah dengan bunga tabur atau bunga pojok.
Kedua, bunga kaki bawah, yaitu motif hias yang dibuat antara tali air atas dan tali air
bawah. Motif yang digunakan untuk bunga kaki bawah di antaranya awan larat dengan kelok paku, bunga pecah piring dengan kelok paku, itik pulang petang dengan bunga pecah piring, semut beriring, awan larat dan bunga tanjung, awan larat dengan pecah piring, kelok paku dan bunga kangkung, bunga cengkeh dengan kelok paku, wajik serta kelok paku dengan bunga kundur.

Ketiga, bunga tabur dan bunga pojok. Motif bunga tabur adalah motif bunga sekuntum (tunggal) yang bertaburan secara teratur pada bagian tengah kain, dan biasanya disusun menurut jarak tertentu yang disesuaikan dengan ukuran kain bahan tudung manto. Motif ini terdiri dari motif tampuk manggis, motif bunga teratai dengan kelok paku, motif bunga kundur, bunga kangkung, bunga melur, kuntum sekaki, bintang-bintang,
bunga tanjung serta bunga cengkeh.

Keempat, motif berbentuk bulat kecil seperti titik yang disebut mutu berfungsi untuk
memadati hiasan. Kelima, motif hiasan pinggir yang terdiri dari tiga bentuk hiasan, yaitu oyah (jalinan benang emas dengan kelingkan yang berbentuk motif ombak), selari (motif ombak yang langsung dibuat menyatu dengan motif tali air bawah), dan jurai (terbuat dari manik-manik). Setiap motif yang terdapat dalam sehelai kain tudung manto mengandung makna tertentu yang dipahami bersama oleh masyarakat Melayu Daik.

Selain perempuan non-Melayu, perempuan Melayu yang sudah tua (lanjut usia) juga tidak
diperbolehkan memakai tudung manto karena tudung manto merupakan perhiasan dunia yang menunjukkan kemegahan dan kekayaan perempuan yang memakainya. Bagi orang Melayu Daik, seorang perempuan lanjut usia idealnya memakai kain tudung biasa yang berwarna putih. Warna putih dipahami sebagai simbol untuk menunjukkan ketulusan hati meninggalkan kemegahan dunia dan lebih memerhatikan kesiapan diri, berupa amal kebajikan, sebagai bekal menghadapi kematian.

Sumber: Febby Febriyandi. Y.S, Makna Tudong Manto Bagi orang Melayu Daik. Jurnal Widyariset, Vol. 14 No.1, 2011

( Dikutip dari : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id )

Tinggalkan Balasan