DI KESULTANAN Riau-Lingga, pasca Perjanjian London (Traktat London, 1824), pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan telah digesa lebih giat oleh pihak kerajaan. Bersamaan dengan itu, tampillah tokoh-tokoh intelektual yang mengembangkan tamadun Melayu. Di antara tokoh itu adalah Raja Ali Haji rahimahullah ibni Raja Ahmad ibni Raja Haji Fisabilillah (Yang  Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang).

             Raja Ali Haji rahimahullah (1808—1873) merupakan tokoh yang paling masyhur di antara intelektual Kesultanan Riau-Lingga pada abad ke-19. Beliau menulis dua buku dalam bidang bahasa (Melayu)yaitu Bustan al-Katibin (1850), yakni buku mengenai ejaan dan tata bahasa dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), yakni kamus bahasa Melayu. Kedua-dua buku itu merupakan buku pertama dalam bidangnya, baik dalam bidang tata bahasa maupun kamus, yang ditulis oleh penulis Melayu. Selain itu, beliau juga menulis karya-karya dalam bidang ilmu agama Islam, sastra, filsafat, ilmu hukum-politik-pemerintahan, dan sejarah (Malik, 2015). Dalam karirnya sebagai penulis, beliau sekurang-kurangnya telah menghasilkan dua puluh karya.

Memang, di Kesultanan Riau-Lingga sejak pertengahan ke-19 sampai awal abad ke-20 kreativitas ilmu-pengetahuan dan budaya mengalir deras. Di kawasan yang sekarang merupakan wilayah Provinsi Kepulauan Riau itu aktivitas dan kreativitas intelektual, yang menjadi ciri khas tamadun Melayu semenjak zaman Sriwijaya, tumbuh merecup kembali. Tak berlebihanlah apabila dikatakan bahwa pada abad itu Kesultanan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam, pasca-Kesultanan Melaka (Malik, 2013).

Bilal Abu, Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahanda Raja Ali Haji), dan Daeng Woh merupakan perintis tradisi kepengarangan di Kesultanan Riau-Lingga. Selain karya-karya  mereka, masih ada dua karya awal lagi yang belum diketahui pengarangnya yaitu Syair Menyambut Sultan Bentan (tanpa tahun) dan Syair Hari Kiamat, yang ditulis oleh penyair Arab yang telah lama bermastautin di Pulau Penyengat Indera Sakti, tempat yang menjadi pusat pengembangan tamadun Melayu-Islam pada abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20.

Di tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda (pemimpin tinggi kedua setelah sultan) Riau-Lingga sejak 1805 dan sekaligus tempat kedudukan Sultan (Yang Dipertuan Besar) Riau-Lingga sejak 1900—1911 itu, kreativitas intelektual dan kultural memang berkembang pesat. Generasi penerus Raja Ali Haji, bahkan, mendirikan pula perkumpulan cendekiawan yang mereka namakan Rusydiah Kelab pada 1880. Rusydiyah Kelab merupakan perkumpulan cendekiawan Riau-Lingga, tempat mereka membahas pelbagai perkara yang berkaitan dengan ilmu-pengetahuan, pentadbiran negeri, dan perjuangan bangsa. Organisasi intelektual ini telah ditubuhkan jauh sebelum berdirinya organisasi serupa di Indonesia, yakni Budi Utomo yang didirikan di Yogyakarta pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo (1852—1917).

            Dari senarai karya para penulis Riau-Lingga, dapat diketahui bahwa pada masa itu telah dilakukan pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu secara intensif. Karya-karya linguistik mereka meliputi tata bahasa,  ejaan, dan perkamusan(Raja Ali Haji), etimologi (Haji Ibrahim), morfologidansemantik (Raja Ali Kelana), dan pelajaran bahasa (Abu Muhammad Adnan atau nama aslinya Raja Abdullah ibni Raja Hasan). Oleh sebab itu, karya-karya mereka menjadi lebih istimewa, terutama Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, dibandingkan dengan karya Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdul Kadir yang berkarya di Singapura dalam kurun yang lebih kurang sama karena beliau tak menghasilkan karya dalam bidang bahasa. Jelaslah bahwa pada masa itu telah dilakukan upaya pembakuan atau standardisasi bahasa Melayu. Dalam hal ini, Raja Ali Haji merupakan orang pertama yang melakukan pengembangan dan pembinaan bahasa secara modern di nusantara ini, jauh sebelum adanya lembaga seperti Badan Pengembangan Bahasa dan Perpustakaan di Indonesia, Dewan Bahasa dan Pustaka di Malaysia, serta lembaga sejenis di Singapura dan Brunei Darussalam.

Diperkaya oleh karya dalam bidang kesusastraan yang bermutu tinggi dan karya-karya pelbagai bidang ilmu lainnya, bahasa Melayu baku (Melayu Tinggi) Riau-Lingga itu menjadi yang paling terkemuka di antara dialek Melayu yang lain di nusantara ini sehingga menjadi rujukan bahasa Melayu. Kesemuanya itu berkat perjuangan luar biasa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji.

Jiwa patriotisme terlihat jelas dalam diri Raja Ali Haji. Kenyataan itu tercermin dari karya-karya beliau.

Karya sulung beliau Syair Abdul Muluk (1846) merupakan puisi naratif yang berkisah tentang perjuangan melawan penjajah. Dalam hal ini, Kerajaan Barbari yang makmur dan sejahtera dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Dengan perjuangan yang terus-menerus dan tak kenal menyerah oleh pemimpin dan rakyatnya, akhirnya Kerajaan Barbari merdeka kembali. Pemimpin perjuangan kemerdekaan itu, justeru perempuan, yakni Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, pemimpin Kerajaan Barbari. Dalam karya ini Raja Ali Haji menempatkan perempuan dalam posisi yang sungguh luar biasa dalam perjuangan membela bangsa dan negara.

Ketika menulis tentang kemenangan Sultan Mahmud Riayat Syah dalam peperangan melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dalam Perang Riau II (berakhir 13 Mei 1787) dalam Tuhfat al-Nafis (1866), beliau bersama ayanandanya berkomentar dengan nada yang sangat keras dan bersemangat. “Seekor Holanda pun tiada lagi tinggal dalam Negeri Riau,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982). Kenyataan itu menunjukkan bahwa Raja Ali Haji sangat menentang penjajahan.

Sikap yang sama juga ditunjukkan secara tersirat melalui syair nasihat, bait 40, dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Mahdini, 1999; Malik (Ed.), 2013).

Ayuhai segala raja menteri
Serta pegawai kanan dan kiri
Hendaklah jaga ingatkan negeri
Perampok penyamun perompak pencuri

Yang dimaksudkan oleh Raja Ali Haji tentang baris terakhir bait syair di atas tentulah penjajah. Walaupun begitu, tentu perbuatan khianat itu pun dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebangsa dan senegara juga.

Berdasarkan sikapnya itu, Raja Ali Haji—sesuai dengan kemampuan dan kepakaran yang dimilikinya—berjuang melawan penjajah dengan cara yang berbeda. Dalam hal ini, beliau menggunakan jalan bahasa dan ilmu pengetahuan. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan, diharapkannya bangsanya menjadi cerdas sehingga tak mudah teperdaya oleh siasat musuh, Belanda atau Inggris atau bangsa mana pun yang berpotensi menjadi penjajah. Selanjutnya, dengan jalan bahasa diharapkannya bangsanya dapat dipersatukan dalam perjuangan melawan penjajah dengan menggunakan bahasa yang sama. Ternyata, sejarah mencatat bahwa strategi berbasis intelektual yang digunakan oleh Raja Ali Haji itu sangat efektif dalam menghalau penjajah dari tanah air Indonesia.

             Semangat mengembangkan dan membina bahasa Melayu di Kesultanan Riau-Lingga digesa, dipicu, dan dipacu oleh Raja Ali Haji. Di dalam mukadimah karya tata bahasanya, Bustan al-Katibin (1850), beliau menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

“Bermula kehendak ilmu perkataan pada jalan berkata-kata karena adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan. Bermula apabila berkehendak kepada menuturkan ilmu atau berkata-kata yang beradab dan sopan, tidak dapat tiada mengetahui ilmu yang dua itu yaitu ilmu wa al-kalam (ilmu dan pertuturan). Adapun kelebihan ilmu wa al-kalam amat besar …. Ini sangat zahir pada orang yang ahli nazar (peneliti, HAM.).”

            Jelaslah bahwa Raja Ali Haji memandang begitu pentingnya kedudukan bahasa bagi manusia. Dengan kemahiran berbahasa, manusia mampu mencapai taraf sebagai orang yang beradab, berakal-budi yang baik, dan berilmu yang tinggi lagi bermanfaat.

Dengan keyakinan itu, Raja Ali Haji memacu dan memicu semangat berkarya dalam bidang kepengarangan. Tentulah amanat itu ditujukan beliau kepada generasi penerusnya. Didalam mukadimah Bustan al-Katibin beliau juga memerikan pelajaran berikut ini.

“Segala pekerjaan pedang itu boleh diperbuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh diperbuat oleh pedang… Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores kalam jadi tersarung.

Kalam yang berteraskan budilah yang mampu membuat beribu-ribu dan berlaksa-laksa pedang yang telah terhunus jadi tersarung. Memang, ketika minda manusia sudah tercerahkan, dengan apa pun bentuk pengabdian hanya demi Sang Khalik, kehadiran pedang tak lagi diperlukan. Hal itu mengingatkan kita akan wahyu pertama Allah SWT kepada rasul pilihan-Nya Muhammad SAW.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia tentang apa yang tak diketahuinya,” (Q.S. Al-Alaq:1—5).

      Begitu jelas terlihat bahwa Raja Ali Haji sangat yakin akan kekuatan kalam dalam membangun tamadun. Kalam sebagai simbol ilmu pengetahuan itu mampu mengalahkan kekuatan senjata (pedang). Dengan cara itulah tamadun Melayu-Islam harus dipelihara, dilestari, dan dikembangkan. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan nescaya tamadun Melayu-Islam akan bangkit dan akan mampu mengalahkan kekuatan politik dan militer kolonial Belanda yang telah mulai menanamkan kukunya di Bumi Melayu kala itu. Melalui strategi itulah beliau berjuang untuk menyelamatkan bangsanya. 

Sudah saatnya Dunia Melayu Dunia Islam harus bangkit kembali. Oleh sebab itu, pekerjaan pengembangan ilmu pengetahuan tak boleh dilengah-lengahkan lagi. Berdasarkan pemahaman itu, Raja Ali Haji juga mengobarkan semangat mencipta melalui syair Parsi yang dikutipnya dalam karyanya yang disebutkan di atas, “Berkata kalam, aku ini raja (yang) memerintah akan dunia. Barang siapa yang mengambil akan daku dengan tangannya, tidak dapat tiada aku sampaikan juga (dia) kepada kerajaan(nya),” (Haji dalam Malik, 2015).

Apabila ilmu pengetahuan dapat dikembangkan, tamadun Melayu-Islam akan berjaya kembali. Tak heranlah pekerjaan menulis atau mengarang sangat dimuliakan di lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga. Para pembesar istana berasa hidupnya belumlah lengkap walau telah menjabat suatu jabatan tinggi sebelum mereka menghasilkan karya tulis, apa pun bidang ilmu yang menjadi minat mereka, terutama ilmu agama, bahasa, sastra, hukum, dan filsafat untuk mencerahkan budi manusia.Begitulah profesi mengarang menjadi sangat mulia dan diidam-idamkan oleh setiap orang kala itu. Kepengarangan jadinya bagaikan tali arus yang terus bergerak, walaupun kadang-kadang begitu deras dan pada saat yang lain agak tenang, untuk mengantarkan sesuatu capaian tamadun yang cemerlang, gemilang, dan terbilang.

Selain pelbagai ilmu yang menjadi minatnya, Raja Ali Haji menaruh perhatian khusus kepada bidang bahasa. Dalam hal ini, beliau berpandangan bahwa jatuh-bangunnya sesebuah bangsa sangat ditentukan oleh bahasanya. Bukankah bahasa itulah yang menampilkan budi manusia? Lagi pula, dalam pengamatan beliau, pada masa itu bahasa Melayu telah mulai terancam. Sudah banyak orang menggunakan bahasa Melayu yang tak lagi  sesuai dengan kaidah bahasa Melayu. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus diselamatkan dan dengan begitu bangsa Melayu akan terselamatkan selamat pula.

“. . . Maka setengah ada pula daripadanya mereka itu pergi ke sana ke mari mengambil upahan dan gaji kepada segala negeri yang besar-besar dan kepada orang yang besar-besar menjadi jurutulis Melayu konon, padahal belum lagi ia sempurna pengetahuannya. Terkadang dapatlah marah dan murka daripada sekalian raja-raja itu dan terkadang jikalau raja-raja yang bukan bahasa dirinya tiadalah diselidiknya amat-amat pekerjaan itu daripada sebab dia sudah harap akan jurutulisnya kerana jurutulis itu sudah mengaku sempurna ilmunya itu, menjadi diberikannyalah barang yang hendak diperbuat itu, sungguhnya pun diberinya akan teladan. Jika dengan bahasa yang lain hendak dipindahkannya dengan bahasa Melayu, terkadang menjadi berat dengan yang demikian itu pada bunyinya dan jika tiada dengan berbaik-baik periksanya nazar dan fikirnya pada tempat itulah datang cederanya pada kemudian harinya,” (Haji, 1850).

Raja Ali Haji sangat khawatir akan kecenderungan penggunaan bahasa Melayu yang menyimpang dari kaidah yang sebenarnya oleh sebagian orang pada masa itu. Apabila keadaan yang tak disiplin dalam menggunakan bahasa itu dibiarkan, bahasa Melayu akan binasa. Oleh sebab itu, beliau berupaya dengan bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan bahasa Melayu. Dalam hal membina bahasa itu, beliau memiliki keyakinan sebagaimana diungkapkannya di dalam karya Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima, bait 1 (Haji, 1847).

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Dari itu, Raja Ali Haji berkeyakinan bahwa budi dan bahasalah yang dapat menyelamatkan bangsa, termasuk bangsa Melayu. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus dipelihara, dilestari, dibina, dan dikembangkan. Melalui jalan itu pulalah beliau berjuang untuk menyelamatkan bangsanya.

Keyakinan akan mustahaknya budi yang seyogianya terkandung di dalam bahasa menyebabkan Raja Ali Haji berasa perlu menjelaskan konsep budi di dalam sebuah syair yang ditempatkan beliau sebagai penjelasan lema (entri) budi di dalam karya beliau Kitab Pengetahun Bahasa (Haji dalam Yunus (Ed.), 1986/1987).Berdasarkan syair itu, dapat diperikan tanda-tanda orang berbudi: (1) menauladani  sifat dan perilaku para anbia dan aulia, (2) akan senantiasa berbahagia, (3) rendah hati, (4) suka memberi, (5) bertingkah laku ugahari (mulia), (6) bertutur kata lemah-lembut dan manis, (7) tak menyakiti hati orang lain, (8) tak melakukan perbuatan tercela, (9) dapat memimpin semua orang dengan baik, (10) berpikiran cerdas, (11) tak menyukai kekejaman, (12) tak suka merendahkan orang kecil, dan (13) tak suka mengejek dan atau memperolok-olok orang lain.

Konsep budi yang dijelaskan oleh Raja Ali Haji memang mengarah kepada ajaran Islam. Dalam pandangan beliau, budi merupakan maujud rohaniah yang berasal dari hati. Unsur rohaniah itulah yang harus dijaga supaya ianya dapat mengendalikan semua fungsi jiwa dan unsur zahiriah manusia.

Atas dasar itu pulalah, Raja Ali Haji menekankan pentingnya tertib bertutur dan berbahasa. Pasalnya, bahasa menjadi dasar pembinaan ilmu dan adab-pekerti. Oleh sebab itu, setiap orang harus memahiri bahasa secara benar dan baik, terutama harus dikaitkan pembelajaran bahasa dengan matlamat untuk mencapai makrifat mengenali Allah, mengagungkan-Nya, dan mensyukuri nikmat dan rahmat ilmu dan akal yang dianugerahkan-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

            Pentingnya persebatian bahasa dan budi ditegaskan lagi oleh Raja Ali Haji melalui syair nasihat bait 21 dan 67 dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah (1858). Berikut ini dinukilkan kedua bait syair tersebut (Haji dalam Mahdini, 1999; Malik, 2013).

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Kemaluan orang anakanda pikirkan
………………………………………….
Setengah yang kurang akal dan bahasa
Tingkah dan laku bagai raksasa
Syara’ dan adat kurang periksa
Seperti harimau mengejar rusa

Raja Ali Haji hendak menegaskan, melalui syairnya di atas, bahwa keutamaan manusia terletak pada budi bahasanya. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan oleh manusia seyogianya  mengandungi, menyuratkan, dan atau menyiratkan kehalusan budi penuturnya. Tanpa itu, manusia dapat berperilaku laksana hewan. Kenyataan itu mengingatkan kita akan kearifan yang dipegang teguh oleh orang Melayun sejak zaman berzaman.

Dengan bahasanya, manusia memiliki kebudayaan sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tertinggi tamadunnya. Dalam hal ini, Raja Ali Haji berpandangan sangat maju dan modern, yang bahkan melampaui ilmuwan yang menyebut dirinya modern sekalipun (Malik, 2015). Oleh sebab itu, banyak ilmuwan modern yang salah dalam memahami filsafat dan ilmu bahasa yang dikembangkan oleh Raja Ali Haji

Dalam pengkajian bahasa Raja Ali Haji memberikan penekanan utama pada pembentukan (pembinaan) konsep tentang sistem ontologi (wujud), kosmologi (alam), dan epistemologi (ilmu) Melayu-Islam. Hal itu berarti, menurut beliau, pengkajian, pembelajaran, dan penggunaan bahasa Melayu seharusnya menjadi sarana dan wahana yang membawa manusia ke arah pengenalan, pengertian, pemahaman, pengucapan, pengungkapan, penyampaian, pemujaan, pemujian, dan pengakuan terhadap Allah, yang pada gilirannya membawa manusia kepada keadilan, kebahagiaan, dan keberuntungan di dunia dan di akhirat (Musa, 2005).

Berdasarkan uraian di atas, konsep kehalusan budi yang diyakini oleh Raja Ali Haji memang merujuk kepada ajaran Islam. Dalam hal ini, mengkaji, mempelajari, dan menggunakan bahasa untuk memuji kebesaran Allah dengan segala konsekuensi ikutannya: keimanan, ketakwaan, adab, sopan-santun, dan ketinggian budi pekerti merupakan tanggung jawab setiap manusia kepada Allah. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa Raja Ali Haji mengembangkan dan membina bahasa Melayu dengan niat yang tulus dan suci untuk mempertahankan kemurniannya, baik struktur maupun nilainya, sehingga tak mudah terpengaruh oleh budaya bahasa bangsa lain. Tentulah pengaruh yang paling dikhawatirkan kala itu adalah pengaruh negatif bahasa penjajah yang mulai menunjukkan gejala ke arah itu, yakni bahasa Belanda.

Filsafat dan pandangan jagat Raja Ali Haji dalam perjuangan dan pembinaan bahasa Melayu itu menjadi acuan para cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga dalam berkarya. Oleh sebab itu, di dalam karya-karya para penulis sesudahnya pun konsistensi pemikiran, perilaku, dan hasil karya mereka masih terlihat jelas perhubungannya dengan dasar yang telah digariskan dan diwariskan oleh tokoh utama pejuang bahasa Melayu yang juga bahasa Indonesia itu (Malik, 2019).

            Bahasa Melayu yang dibina dan dikembangkan pada masa Imperium Melayu sejak abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 itu disebut bahasa Melayu klasik. Ciri utamanya ialah begitu melekat dan bersebatinya bahasa Melayu itu dengan Islam. Oleh sebab itu, tamadun yang dinaunginya terkenal dengan sebutan tamadun Melayu-Islam. Dari tamadun itulah bangsa Melayu mewarisi tulisan Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, karena kreativitas penulisnya, bahasa Melayu telah menunjukkan ciri transisi dari bahasa Melayu klasik ke bahasa Melayu modern dan tetap mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi utama di nusantara.

Di antara tokoh yang menegaskan pentingnya bahasa Melayu dalam perlawanan terhadap penjajah adalah Bung Hatta. Pernyataan itu dipertegas lagi pada 29 April 2000 oleh Presiden ke-4 Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid. Dalam pidato beliau, Gus Dur menegaskan pengakuan Pemerintah Republik Indonesia akan jasa pahlawan Raja Ali Haji dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional. “Tanpa jasa beliau itu (Raja Ali Haji, HAM) kita belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini,” kata beliau (Malik, 2019).

Akhirnya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Bapak Bahasa Indonesia dan Pahlawan Nasional Republik Indonesia kepada Raja Ali Haji, tokoh utama perjuangan bahasa Melayu. Anugerah itu diberikan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/Tahun 2004, 6 November 2004. Plakat Pahlawan Nasional diserahkan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, 11 November 2004.

Dengan perjuangan berbasis intelektual, Raja Ali Haji telah menunaikan baktinya kepada bangsa dan negara secara luar biasa. Beliau telah berjaya memanfaatkan kalam yang dianugerahkan oleh Allah berkat keyakinan yang tiada berbelah bagi.***

Tinggalkan Balasan