Bermula dari Selatan India

Yang Tidak Kalah Penting dari kesuksesan prata ‘menjajah’ lidah orang Melayu hari ini adalah proses akulturasi”

Kendati banyak kedai prata di Tanjungpinang, tidak ada yang mengalahkan kedai Pagi Sore yang ada di kawasan Jalan Merdeka. Kedai prata ini merupakan tertua dan sudah berlangsung selama dua generasi. Dibuka kali pertama sejak 1951 dan masih digemari sampai hari ini.

“Dulu waktu aku masih kecil, sering diajak makan do situ dengan bapak aku,” kata sejarawan Kepri, Aswandi Syahri, kemarin.

Tanjungpinang Pos hendak menggali kisah kedai prata yang sudah bertahan lebih dari separuh abad ini, Yasin yang merupakan generasi kedua, sedang tidak berada di tempat. Informasi yang diterima, laki-laki keturunan India ini sedang menjalankan ibadah Umroh di Tanah Suci.

India? Ya. Prata memang berasal dari India. Tepatnya dari sebuah daerah bernama Kelara, di selatan India. Dari berbagai referensi, disebutkan bahwasanya prata yang bermula dari kata paratha dalam bahasa India berarti lapisan adonan matang.

Aswandi menjelaskan, kedai Pagi Sore dengan amat mudah diterima masyarakat sejak 1951 lantaran menjawab kerisauan banyak orang tentang menu sarapan di kedai kopi di kawasan pasar. Dahulu, memang sudah banyak berdiri kedai kopi di sana. Hanya saja, tidak semua menjajakan pilihan sarapan. Kalau pun ada, dikelola oleh kaum non-muslim, yang tentu saja membuat ragu para muslim penikmat kopi yang menyukai kongkow di kawasan Jalan Merdeka itu.

“Pak Kamu, bapak si Yasin ini yang memulai. Ia Bermula dari Selatan India menyajikan prata dan aneka ragam masakan Melayu di sana. Sehingga cukup banyak orang Melayu yang lantas menyukainya sampai sekarang,” tutur Aswandi.

Perjalanan prata dari selatan India sampai ke Tanjungpinang, sambung sejarawan kita ini, lebih disebabkan lantaran proses migrasi penduduk sebagaimana yang lazim di daerah lain. Orang-orang Kerala bermigrasi di sebagian kawasan semenanjung ini. Banyak di Malaysia, Singapura, dan tentu di Tanjungpinang. Kaum perantau datang tidak hanya dengan membawa badan belaka, tapi juga adat dan budaya leluhurnya. Satu di antaranya tentu saja citarasa masakannya.

“Prata itulah yangkemudian dikembangkan oleh orang-orang Kerala ini untuk bertahan hidup dirantauan. Ditilik dari bahan dasarnya, sudah pasti prata itu memang bukan penganan asli orang Melayu,” ujar Aswandi.

Yang tidak kalah penting dari kesuksesan prata ‘menjajah’ lidah orang Melayu hari ini adalah proses akulturasi. Aswandi menyebutkan, pembauran kebudayaan ini yang membuat prata bisa diterima dan bahkan disebut-sebut sebagai penganan wajib ketika berkunjung ke Tanjungpinang.

Walau memang prata juga ada di Singapura, Malaysia, dan Tanjungpinang, masing-masing prata punya ciri khas yang membedakan. Aswandi sendiri sudah mencicip prata di tiga negara ini. Menurutnya, tidak ada yang lebih pas di lidah kecuali prata di Tanjungpinang. Apa sebab? Kuah karinya. Sebab itu, tidak diragukan lagi, citarasa kuah kari dalam sehidang prata amat memegang peranan penting.

Jikalau di Singapura dan Malaysia, kuah prata cenderung kental dan kaya akan rempah-rempah. Hal ini rupanya kurang pas di lidah masyarakat Tanjungpinang. Di sinilah, kata Aswandi, kelihaian Pak Kamu, pendiri kedai prata Pagi Sore terlihat.

“Kuahnya dibuat dengan standar khas Indonesia. Akulturasi yang sukses dan membuat prata begitu mudah diterima di lidah kita,” ujar Aswandi. Tak ayal, bagi kebanyakan orang Tanjungpinang yang sudah lama merantau, akan selalu merindukan prata. Dimana pun memang ada prata, tapi tidak pernah ada yang melebih khas kuah kari prata ala Tanjungpinang melalui sentuhan akulturasi langsung antara India dan Melayu.

“Selain mie lendir, prata akan jadi sesuatu yang dirindukan oleh banyak orang Tanjungpinang di rantauan,” pungkas sejarawan berkacamata ini.

Tinggalkan Balasan