Profil Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari al-Minangkabau sekitar tahun 1906. (foto: aswandisyahri)

Pada bulan Mei 1939, sepotong berita singkat dalam majalah Peringatan yang terbit di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, mengelu-elukan kedatangan seorang ulama jang masjhordan sekaligus ahli ilmu falak jebolan Universitas al-Azhar Cairo sebagai def (tamu kehormatan) Radja Haji Ahmad, imam Masjid Jamik Pulau Penjengat.

Siapakah orang alim jang massjhor itu? Namanya adalah Syekh Muhammad Thahi rJalaluddin: seorang anak Minangkabau dari Nagari Koto Tuo, Ampek Angkek (sebuah kampung dekat Bukittinggi) yang ketika itu telah bermastautin di tanah Semenanjung.

Dalam berita singkat yang berjudul “Ahli Falakiah Jang Masjhor Telah Tiba di Penjengat” tersebut, kepala pengarang (redaktur) majalah Peringatan menyapanya dengan sanjungan (sebagaimana ejaan yang lazim digunakan ketika itu) Toean Sjech Thahir Jalaloeddin Falaki al-Azhari bersempena nama almater dan bidang ilmu falak (astronomi) yang menjadi keahliannya.

Kedatangan Syekh Muhammad Thahir ke Pulau Penyengat ketika itu, tidakdi sia-siakan oleh Goeroe-Goeroe (Sekolah) Agama di Pulau Penyengat. Sebelum toean Al-Allamah itu bertolak ke Singapura menggunakan kapal uap “Tandjongpinang” pada 11 Mei 1939, beliau telah diminta untuk mengajarkan “Ilmoe Miqat”, yakni ilmu untuk menghisab (menghitung secara astronomis) masuknya waktu sembahyang: suatu cabang ilmu astronomi yang ketika itu “hampir-hampir hilang di moeka boemi” karena rumitnya kandungan isi kitab-kitab Ilmu Miqat yang ada.

Kutub khanah minggu ini tidaklah bermaksud mengulas aktivitas Syekh Muhammad Thahir dalam kenjungan singkatnya ke Penyengat sebagaimana dilansir oleh majalah Peringatan edisi bulan Mei 1939. Beberapa alinea di atas hanya sekadar pembuka laluan untuk mengingat kembali hubungan rapat Syekh Muhammad Thahir dengan penduduk Pulau Penyengat dan pengaruhnya di Kepulauan Riau pada masa lalu. 

Hubungan dan pengaruh itu telah berlangsung lama. Ianya telah dimulai jauh sebelum majalah al-Imam, yang dikelolanya di Singapura bersama Haji Abbas bin Muhammad Taha sejak tahun1906 hingga 1908, hadir di Pulau Penyengat dan Kepulauan Riau-Lingga melalui Raja Ali kelana dan perwakilannya yang dipimpin oleh Khalid Hitam.

Hubungan Syekh Muhammad Tahir dengan Kepulauan Riau (khususnya dengan kaum cerdik-cendekia di Pulau Penyengat) paling tidak telah tercipta sejak akhir abad kesembilan belas. Hingga kini, jejak sejarahnya masih terekam dalam baris-baris tulisan jawi yang tersurat dalam lembaran-lembaran manuskrip tua menggunakan kertas Eropa yang dijahit menjadi buku.

Sekitar tujuh tahun tahun yang lalu, saya menemukan manuskrip berharga tersebut dalam koleksi besar arsip dan bahan-bahan lainnya milik Syekh Muhammad Tahir yang terdapat dalam simpanan Arkib Negara Malaysia di Kuala Lumpur. Manuskrip tersebut sesungguhnya tak berjudul. Namun, untuk kemudahan inventarisasi, pihak Arkip Negara Malaysia membubuhkan judul “Catatan Perlayaran Syek Thahir”.

Pembacaan yang cermat atas manuskrip tersebut, menyimpulkan bahwa manuskrip tulisan tangan itu sesungguhnya adalah sebuah catatan harian (diary) Syekh Muhammad Thahir. Catatan hari itu tidak hanya mengabadikan ihwal perlayaranya melintasi benua dan lautan antara Timur Tengah dan Negeri-Negeri di sekitar Selat Melaka saja, tapi juga mencatat berbagai peristiwa penting di ngeri-negeri yang dikunjunginya.

Setakatini, Arkib Negara Malaysia menyimpan lebih kurang enam buah manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir (ditulis dalam bahasa Melayu dan Arab) dan menjadi bagian dari koleksi besar arsip Syekh Muhammad Thahir yang diperoleh dari anaknya (Hamdan SyekhThahir) pada tahun 2006. Hampir seluruh isi catatan harian tersebut berisikan bahan-bahan sumber yang sangat penting bagi menyingkap aspek-aspek dalam sejarah Kerajaan Riau-Lingga yang berlum pernah dijamah oleh para sejarawan dan pakar-pakar persuratan Melayu.

***

Catatan hal ikhwal di Pulau Penyengat tahun 1898 dalam catatan harian Syekh Muhammad Thahir koleksi Arkib Negera Malaysia. (foto: aswandi syahri)

Hal ihwal di Pulau Penyengat pada dekade terakhir abad ke-19 hingga awal-awal abad yang lalu antara lain tercatat dalam salah satu manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir yang merekam aktifitasnya dan peristiwa yang dialamainya dalam rentang waktu antara tahun 1869 hingga 1923.

Bagian awal catatan harian ini dimulai dengan biografi singkat dirinya yang berisikan catatan ringkas tentang tarikh ia dilahirkan, serta asal-usul orang tua dan keluarganya:

Adalah Syeikh Muhamad Thahir adalah anak Syeikh Muhamad yang masyhur dengan gelar Tuan Syeikh Cangking, tempat gembala orang pada perkara yang bersangkutan dengan agama Islam, bin Tuanku Syeik Jalal-al-dinDiperanakan dia oleh (xxx, tidak ternaca) di Kota Tua [Koto Tuo] Ampat Angkat, oleh ibunya Gundam (xxx) Tuanku nan (xxx) Tuanku (xxx) Ampat Angkat, Syekh Tuanku Baginda (xxx) Tanjung Medan. Pada jam pukul 4.45 petang hari Selasa, 4 haribulan Ramadhan 1286 Hijrah berbetulan 7 haribulanDesembar 1869 Masehi…”

Dalam catatan hariannya ini dinyatakannya bahwa ia menjejakkan kaki untuk pertama kali di Pulau Penyengat, setelah singga ke Bengkalis, Pakanbaru, dan balik ke Singapura lalu ke Riau (Pulau Penyengat), pada 22 Zulhijah 1310 bersamaan dengan 7 Juli 1893.

Sejak saat itu ia selalu berulang-alik antara Pulau Penyengat, Singapura, Pulau Pinang, Johor, Sumatera Timur, dan Sumatera Tengah, tanpa pernah pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Mulai tarikh itu pula ia berhubungan rapat dengan cendekia kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat seperti Raja Muhammad Thahir, Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Said Abdulkadir.

Di Pulau Penyengat, Syekh Muhammad Thahir telah memperkenalkan metode falakiahnya kepada cendekia istana Riau-Lingga sejak tahun 1898. Dalam baris-baris catatan hariannya ia menuliskan tentang hal itu sebagai berikut:

“Dan pada 15 Syafar [15 Syafar 1316 – 4 Juli 1898] pergi ke Riau Pulau Penyengat, berjumpa Syeik Muhamad Nur dan ditahan oleh Raja Muhamad Thahir Hakim bin al-marhum (xxx) a-rusydiah? (xxx) kerana hendak mengaji al-fala’ al-hisab sampai bulan Rabi’ul-Akhir pergi ke Singapura. Lalu belayar dengan kapal, lalu Pulau Siantan Anambas bersama2 dengan Syeikh Muhamad Nur bin Ismail al-Khalidi dan Haji Khali-al-din kena penyakit beri2. Maka balik ke Singapura dengan tongkang kelapa kering (xxx) Syakban tahun 1316 (xxx)…”

Selama di PulauPenyengat, Syekh Muhammad Thahir juga turutmembantuanak-anakkeluargadiraja Riau-Linggamelanjutkanpendidikantinggike Timur Tengah (Mesir) pada awalabad yang lalu. Dalamcatatanhariannyaiamencatatikhwalperjalanannyaketikamengatarputra Sultan Lingga-Riau dan sasudara-saudaranyakeMesir pada tahun 1904:

“Pada 14 bulan Rajab 1322 (xxx) 1904 berlayardengankapal(xxx)LuwisbersamadenganSyeikh ‘Abdulrahman….Lalu…memeriksaperbekalansekolah. Dalam 15 harilalubelayar(xxx),mengambil Raja Hasan, dan Tengku Adam bin Raja Haji ‘Ali dan Tengku ‘Usman bin Sultan ‘Ab-al-Rahman Lingga dan dibawakeMesir pada bulanSya’ban, dimasukkanke Madrasah al-Khadiri Dalilah al-Said Zain”

Dari catatan harian ini, terlihat bahwa Syekh Muhammad Thahir juga terlibat (tanpa “tercium” para perisik Belanda, sehingga tak tercatat dalam sebarang arsip Belanda sezaman) dalam ‘perlawanan-perlawan halus’ cendekia kerajaan Riau-Lingga terhadap politik kolonialisme Belanda antara tahun 1902 hingga menjelang tahun 1911.

Oleh karena itu, bukanlah suatu yang mengherankan bila dalam himpunan arsip pribadinya yang kini tersimpan di Arkib Negara Malaysia juga terdapat salah satu salinan resmi Kontrak Politik tahun 1905 yang ditandatangani oleh Resident Riouw dan Sultan Riau-Lingga (Sultan Abdurahman Mu’azam syah syah); Sebuah kontrak politik yang menjadi salah satu pemicu ‘perlawanan-perlawanan’ dari para cendekia yang berhimpun dalam Perdirian Roesidijah (Club) Riouw Pulau Penyengat.***

Artikel SebelumPatriotisme Raja Ali Haji
Artikel BerikutPrata dan Sejarahnya
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan