Foto Kiri : Bagian awal manuskrip Cod. Or. 3199: Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Bandar Negeri Riau. Bijzondere Collectie Universiteit Bibliotheek, Leiden. Foto Kanan : Bagian akhir dan kolofon manuskrip Cod. Or. 3199: Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Bandar Negeri Riau. Bijzondere Collectie Universiteit Bibliotheek, Leiden. Foto: Aswandi Syahri

SETELAH dibuka oleh Laksamana Tun Abdul Jamil pada akhir abad ke-17, Bandar Negeri Riau di Pulau Bintan berkembang menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan penting, serta menjadi bagian jaringan perdagangan maritim dunia. Bagaimana potensi ekonomi pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bntan, yang juga menjadi ibu kota Kerajaan Johor-Riau-Pahang, dikelola pada masa lalu? Siapa yang mengelolanya? Lantas, apa saja yang harus dipenuhi oleh kapal-kapal yang menyinggahinya?

Kedudukan dan peranan penting yang dimainkan oleh pelabuhan Bandar Negeri Riau di Pulau Bintan ini terus berlanjut hingga menjelang dekade-dekade terakhir terakhir abad ke-18, yakni ketika negeri dan bandar Pelabuhan Riau ini menjadi tempat bersemayam Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau yang memerintah Kerajaan Johor-Pahang di Bandar Negeri Riau.

Namun, berbeda dengan masa-masa kejayaannya pada dua dekade terakhir akhir pada abad  ke-17 hingga menjelang dua dekade pertama abad ke-18, pelabuhan Negeri Riau setelah  masa-masa dua dekade pertama abad ke-18 tidak lagi dikendalikan oleh Laksamana yang terkenal itu. Ketika itu, Pelabuhan Negeri Riau memeasuki babak barunya, dan berada di bawah kendali Yang Dipertuan Muda Riau.

Gambaran tentang pelabuhan Bandar Negeri Riau ketika itu dikisahkan dengan jelas oleh Raja Ali Haji dan ayahnya dalam kitab sejarah mahakarya mereka, Tuhfat al-Nafis. Dan Tuhfat al-Nafis tidak sendiri dalam menyuguhkan bukti historis tentang eksistensi pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bintan pada zaman itu. Cukup banyak bahan sumber tertulis yang dapat menjadi sandaran bukti, dan salah satu diantaranya adalah sebuah salinan manuskrip yang diberi judul Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau.

Sebagai salah satu manuskrip Riau-Lingga yang kini tersimpan dalam bagian Bijzondere Collectie Perpustakaan Universitas Leiden, di Negeri Belanda, Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau ini adalah sebuah manuskrip salinan yang dihimpun bersama tujuh salinan manuskrip lainnya dalam sebuah kumpulan salinan manuskrip Melayu dengan nomor katalogus Cod. Or. 3199.

Dalam katalog manuskrip yang disusun oleh Edwin P. Wieringa, Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscrips In the Library of Leiden Uiniversity and Other Collections In Netherlands (volume two: 2007), kumpulan salinan manuskrip tersebut diberi judul Undang-Undang Melaka; Undang-undang laut; genealogies: sebuah judul yang ‘kurang tepat’ dan sekedar diupayakan untuk mengambarkan kandungan isinya.

Manuskrip yang berisikan “peraturan pelabuhan di Bandar Negeri Riau” ini sesungguhnya tak berjudul. Judul Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau tidak terdapat terdapat dalam teksnya, dan hanya terdapat dalam daftar isi kumpulan manuskrip tersebut yang, diperkirakan ditambahkan kemudian oleh filolog ahli manuskrip Melayu, H.N. van der Tuuk, yang kemudian mewariskannya kepada Perpustakaan Universitas Leiden.

Kolofon manuskrip Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau ini tidak mancantumkan tarikh penyalinan atau penulisannya. Didalamnya hanya dinyatakan bahwa manuskrip tersebut selesai dikerjakan di Tanjungpinang: “…tamat al-kalam bilkhair wa-al-salam kepada malam Isnin didalam Negeri Riau atas Kota Tanjungpinang, tam.

***

Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau adalah sebuah manuskrip Riau-Lingga yang menjelaskan sejumlah aturan yang berkenaan dengan bea kapal, perahu, selub, frigat, dan jung yang masuk berlabuh di pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bintan pada abad 18.

Selain itu, didalamnya juga dijelaskan aturan tentang ayapan: yakni upah atau permakanan yang diberikan oleh raja kepada orang-orang yang menjalankan tugas kepelabuhanan, seperti, kepala dacing urusan timbang; kepala perahu, kepala satu; dan juru tulis, sebagaimana adat purbakala yang terpakai dalam undang-undang lama Negeri Johor dan Pahang.

Secara khusus, kandungan isi Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau sesungguhnya dikurniakan sebagai sebuah penjabaran tugas-tugas yang “disandarkan” dan menjadi pegangan kepada Encik Dampal (dal-mim-fa-lam) yang, tampaknya, bertanggung jawab terhadap hal-ihwal pelabuhan di Bandar Negeri Riau. Hal ini tertera sebagaimana dinyatakan pada bagian ‘pembuka’ Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau, yang menyatakan sebagai berikut:

Bahwa disandarkan [diamanahkan oleh] Duli Yang Dipertuan Muda [Riau] Bandar Negeri Riau itu kepada Encik Dampal. Maka dikurniakan [oleh] baginda ayapan seperti ‘adat purbakala, seperti [ter]pakai di dalam Undang-Undang Negeri Johor dan Pahang, yaitu kepala dacing, dan kepala perahu, dan kepala satu, dan antar-antaran itu disandarkan pula oleh baginda kepada juru tulis”.

Selain itu, juga dijelaskan apa saja yang menjadi hak para ‘petugas’ yang mengurus kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan Bandar Negeri Riau, dan apa saja yang harus dibayar oleh pemilik kapal yang masuk ke pelabuhan Bandar Negri Riau berdasarkan jenis kapal dan kuantitas muatan yang dibawanya.

Semua aturan kepelabuhan ini tidak berlaku bagi kapal-kapal orang yang menjadi utusan raja negeri laian, orang patut-patut, orang yang mengantar hasil negeri, dan orang-orang yang membawa upeti untuk raja.

***

Oleh karena kandungan isi manuskrip Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau tidak terlalu panjang, maka dibawah ini disajikan salinan hasil  aksara kandungan isinya  dengan tambahan penjelasan dalam kurung sebagai berikut:

“Adapun ayapan juru tulis, labuh ba[n]tu kepala tiang.

Adapun tatkala raja kurniakan kepada seorang nakhoda disurat bebas pada suatu teluk rantau. Maka memberi nakhoda itu dua emas. Dan demikian lagi piutang di negeri lain, serta dikurniakan cap. Itupun dua emas. Dan surat orang merdeheka (merdeka), dan surat orang yang menyerahkan dirinya minta lepaskan, minta kelengkapan yang di laut itu seemas, dan disurat orang menebus seorang sekupang (kupang: satuan nilai mata uang).

Adapun makanan (upah, fee) juru tulis tatkala perahu besar masuk, dua puluh gantang. Sepuluh gantang labuh bantu. Kapal tiang muat sepuluh kuwin (kuintal, ukuran berat=100 Kg) itu anam kupang.

Adapun makanan mata-mata (pengawas) pada sebuah jung (nama jenis perahu) seemas. Dan kepada sebuah selub (nama jenis perahu Eropa. Dalam bahasa Belanda Sloep dan dalam bahasa Prancis, Chaloupe) dua emas. Kecil dari selub seemas. Kecil lagi dari itu dua kupang. Jika muat delapan kuwin, dan wangkang (nama jenis perahu, biasanya dari Cina) …., dan perigat (nama jenis kapal, Frigate) lima emas, dan kapal setengah tahil. Dan makanan mata-mata sama banyak dengan juru tulis, garam dua puluh gantang.

Adapun adat jung yang muat sepuluh kuwin, atau dua belas, atau tiga belas kuwin, maka kenalah antar-antaran kepada raja kira-kira pada sekuwin kurang sepaha daripada harga luar labuh bantu kapal tiang enam kupang. Demkian lagi, jung yang muat lima belas kuwin keatas, melainkan mana dinilai patut kepada Syahbandar daripada adat yang telah tersebut pada jung yang muat sepuluh kuwin itu.

Adapun antar2 ran perigat, yaitu tiga belas tahil cukai, enam ratus labuh batu, kapal tiang setahil. Demikian lagi ‘adat Johor.

Adapun antar2 ran kapal itu enam belas tahil, dan cukai seribu labuh batu. Kepala tiang dua tahil (tahil: ukuran berat setara dengan 37,8 gram).

Adapun ‘adat antar2 ran wangkang dari Cina tiga belas tahil, dan cukai dua ratus labuh batu, kepala tiang setahil. Dan makanan juru tulis beserta dengan mata-mata dinamai pantakan kepada baluk (nama sejenis kapal) yang muat tiga kuwin atau lima kuin yaitu dua kupang. Pada sebuah yang kurang daripada lima kuwin, sekupang.

Adapun yang tiada kena ‘adat (hukum, peraturan, sangsi) pertama-tama [adalah] utusan, kedua orang patutan, ketiga orang mengantar hasil, keempat orang membawa upti (upeti), kelima orang mengantar rampai…”***

Artikel SebelumPrata dan Sejarahnya
Artikel BerikutPantun: Akar Puisi Liris Indonesia
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan