RAJA ALI HAJI rahimahullah di dalam karya sulung beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) menampilkan salah satu tokoh yang sangat arif dan bijaksana. Dia adalah Sultan Ban, ayahanda Siti Rafiah. Akan halnya Siti Rafiah, kemudian, dia berjodoh dengan Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari. Pada gilirannya, putri Sultan Ban itulah yang menjadi pahlawan kemerdekaan kerajaan suaminya. Kehebatan karakter tokoh-tokoh yang ditampilkannya, antara lain, yang menyebabkan karya-karya Raja Ali Haji sebagai karya klasik Melayu tetap bertengger di singgasana terhormat dalam deretan sastra klasik dunia sampai setakat ini.

Karya-karya Allahyarham takkan pernah lapuk dek hujan, takkan lekang dek panas. Pasalnya, ianya tak hanya menyerlahkan keindahan secara estetis, tetapi lebih-lebih kebaikan secara etis, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan atau bangsa yang berperadaban tinggi secara didaktis.

            Sesiapa pun yang mengidealkan pembangunan yang berlandaskan tamadun yang terbilang, seyogianya harus menjadikan karya-karya Raja Ali Haji sebagai salah satu referensi atau rujukan utama, khasnya yang bersumber dari peradaban Melayu-Islam. Di kawasan Melayu, khususnya, walaupun tak harus terbatas setakat itu, tentulah nilai-nilai terala (mulia) yang diamanatkan oleh Raja Ali Haji sangat patut diperhatikan dan diterapkan dalam pembangunan. Jika tidak, pembangunan apa pun yang dilaksanakan tak perlu dibanggakan dan memang akan berlalu begitu saja ditelan peredaran masa. Pasalnya, tak ada nilai terala yang patut dihormati dan dikenang orang.

            Suatu hari Sultan Ban memanggil untuk selanjutnya bertitah kepada salah seorang menterinya. Inilah titah perintah sultan bijaksana itu yang terekam pada bait 412 Syair Abdul Muluk (Haji, 1846).

Segera bertitah baginda sultan
Baiklah kerahkan orang sekalian
Kerja nin jangan berlambatan
Siapkan sekali balai penghadapan

Kerajaan Ban hendak melaksanakan pekerjaan penting lagi baik. Berhubung dengan itu, Sultan Ban menitahkan para bawahannya agar menyegerakan pelaksanaan pekerjaan itu (Kerja nin jangan berlambatan ‘Pekerjaan ini jangan dilambatkan, harus sesegera mungkin dilaksanakan’). Pasalnya, Sang Sultan menilai pekerjaan itu baik sehingga harus disegerakan. Jika tidak, dikhawatirkan pekerjaan yang seyogianya menjadi prioritas itu telantar, bahkan mungkin tak jadi dilaksanakan.

Bukankah sangat banyak kita saksikan sekarang pekerjaan pembangunan yang telah dimulai sebagian, tetapi kemudian ditelantarkan? Bahkan, ada rencana pembangunan besar dan mendesak, tetapi tak wujud karena pelbagai alasan. Pekerjaannya tak tuntas karena hati yang mengerjakan itu pun memang tak putus lagi tak tulus untuk melaksanakan tanggung jawab pembangunan. Alhasil, tak dirasakannya keterbengkalaian itu sebagai kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, melainkan semestinya juga kepada Tuhan.

Tauladan budi pekerti kepemimpinan yang diberikan oleh Sultan Ban ini: pemimpin yang baik lagi terbilang selalu menyegerakan pekerjaan yang baik. Dengan kata lain, tak baik melalaikan pekerjaan yang baik. Tentu, maksudnya baik bagi kemajuan negeri dan kesejahteraan rakyat sekaliannya. Bukan dalam takrif baik hanya bagi pemimpin secara pribadi orang-seorang. Memang, pemimpin kelas utama tak pernah rela menyia-nyiakan masa (waktu) kepemimpinannya—yang umumnya singkat—dengan urusan tetek-bengek yang tak berguna dan sia-sia.

Watak, sifat, dan perilaku mulia kepemimpinan Sultan Ban itu mengingatkan kita akan mutiara hikmah yang terhimpun di dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Berkenaan dengan perkara ini dapat dihubungkan dengan Pasal yang Kelima, bait 2.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Kepemimpinan seyogianya bermatlamatkan kebahagiaan. Kepemimpinan yang berjaya akan membahagiakan seluruh rakyat dan tentu saja pemimpin itu sendiri. Hendak berbahagia karena tercapainya tujuan kepemimpinan yang sesungguhnya? Menurut Raja Ali Haji, untuk itu pemimpin jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Artinya, pemimpin harus mengutamakan kemajuan negeri dan kesejahteraan masyarakat/rakyatnya sendiri dalam semua aktivitas pembangunan yang dilaksanakannya. Hal itu bermakna, pembangunan jangan hanya sekadar menguntungkan segelintir orang saja, bahkan bukan bangsa sendiri pula. Itulah pembangunan yang dihasilkan oleh kepemimpinan yang memelihara perbuatan sia-sia. Yang dibuatnya tak bermanfaat bagi bangsa dan negara, bahkan membuat sengsara.

Mungkin ada juga pemimpin yang berbahagia dengan kebijakan yang sia-sia bagi rakyat dan negara. Dalam hal ini, dia mendapatkan keuntungan materi dari kebijakan itu, misalnya. Akan tetapi,  kebahagiaan itu sebetulnya semu dan fana belaka. Suatu ketika, atau selambat-lambatnya di alam kehidupan yang abadi, dia akan menyesali perbuatannya tadi. Malangnya, ketika penyesalan itu terjadi pada akhir dunia, kesemuanya tiada lagi berguna.

“Nasi telah menjadi bubur, orang kenyang kita kebulur.” Pasalnya, kita bangsa pemakan nasi, bukan pemakan bubur. Kebulur di dunia masih mungkin meminta-minta, terutama kepada Allah SWT, tetapi “kebulur” dan nestapa di akhirat tiada sesiapa bersedia berkhidmat walau di dunia kita pejabat. Oleh sebab itu, pemimpin terbilang tak pernah mau terlibat pada perbuatan yang sia-sia. Pasalnya, dia tahu bahwa kesemuanya itu akan merenggut nikmat bahagia kepemimpinan yang sesungguhnya.

Pekerjaan dan atau perbuatan sia-sia jelaslah tak baik. Oleh sebab itu, jika kesia-siaan itu diterapkan dalam kepemimpinan, nalar yang benar tentu sulit menerimanya. Anehnya, tetap saja ada, bahkan cenderung banyak, kepemimpinan yang dijalankan secara sia-sia. Jangankan mendatangkan pengaruh positif bagi rakyat dan negeri, sebaliknya dampak negatiflah yang diderita. Mengapakah perilaku kontradiktif dengan budi pekerti kepemimpinan yang luhur itu dapat terjadi?

Jawab dari pertanyaan itu ternyata juga disediakan oleh Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Perkara itu terutama tersimpul pada Pasal yang Kesembilan, bait 1, yang sepatutnya bangsa-bangsa beradab patut menaruh belas.

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia ia itulah syaitan

Sesiapa pun yang mengerjakan pekerjaan yang sia-sia dan atau pekerjaan yang tak baik, apatah lagi kalau itu pekerjaan kepemimpinan yang berdampak pada orang banyak, ternyata dia telah berada di bawah pengaruh syaitan. Oleh sebab itu, hasil-hasil pekerjaannya memang tak berguna bagi manusia. Akan tetapi, kesemuanya itu tentu sangat diperlukan oleh para syaitan di mana pun mereka berada dan dalam wujud apa pun mereka berupa.

Intinya, hasil pekerjaan syaitan memang tak dapat dinikmati oleh manusia. Hal itu disebabkan oleh wujud, keperluan, dan matlamat kedua-dua makhluk itu memang jauh berbeda. Pemimpin yang melakukan pekerjaan yang tak baik telah mengikhlaskan dirinya untuk diperhambakan dan dipersembahkan sepenuhnya kepada syaitan, sama ada dinyatakan dengan perkataan ataupun tidak. Pasalnya, tindak-tanduk perbuatan kepemimpinannya menyerlahkan kenyataan itu secara terang-benderang, sejelas-jelasnya, senyata-nyatanya.

Jika yang diadakannya proyek makanan sehat, misalnya, makanan itu tak akan pernah mampu menyehatkan manusia karena memang tak cocok bagi manusia. Akan tetapi, proyek makanan itu memang akan menggemukkan para syaitan menjadi segemuk-gemuknya karena itu memang makanan mereka, makanan para syaitan dan para pengikut setianya.

Sultan Ban berprinsip pekerjaan (yang membabit kepemimpinan) yang baik harus disegerakan, jangan ditunda-tunda. Dengan demikian, menunda-nunda pekerjaan yang baik tergolong perilaku yang sia-sia, yang memang disukai oleh para syaitan. Pasalnya, syaitan suka  menyegerakan pekerjaan yang buruk, sama ada kualitas ataupun nilainya, karena memang itu misi mereka.

Adakah sumber yang dapat dirujuk atas pilihan Sultan Ban untuk menyegerakan pekerjaan yang baik dalam kepemimpinannya? Rupanya, memang ada dan petunjuknya langsung datang dari Allah SWT.

“Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang dia menghadapnya. Maka, berlumba-lumbalah (dalam membuat) kebaikan, di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (Q.S. Al-Baqarah, 148).

Ternyata, Allah-lah yang memerintahkan manusia, apatah lagi pemimpin, untuk berpacu  berbuat kebaikan, di mana sahaja manusia bermastautin. Kata berlumba-lumba tentulah semakna dengan menyegerakan. Bahkan, Allah berjanji untuk mengumpulkan manusia yang menyegerakan berbuat kebaikan pada hari kiamat kelak, tentu dikumpulkan dalam perlindungan-Nya sebagai balasan baik bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan, berkaitan dengan perkara ini ada petunjuk Allah yang lebih menegaskan anjuran-Nya.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung,” (Q.S. Al-Jumu’ah, 10).

Manusia diarahkan oleh Allah untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Karunia Allah tentulah berkaitan dengan pekerjaan yang baik, yang disegerakan. Atas dasar itulah, pemimpin kelas utama seperti Sultan Ban selalu mengutamakan untuk menyegerakan pekerjaan yang dinilainya baik dalam kepemimpinannya. Ternyata, pilihan itu tepat karena bersumber dari ajaran dan pedoman Sang Maha Penguasa, Allah SWT.

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah anjuran kepada para pemimpin untuk menyegerakan pekerjaan yang baik juga ditegaskan. Berikut ini nukilannya. 

“Syahdan inilah segala sebab yang mengesahkan menjadi raja. Adapun segala syaratnya ‘allal jumlah. Bahwa hendaklah raja itu Islam…. Lagi pantas (huruf miring oleh HAM) segera berbangkit pada tiap-tiap pekerjaan yang jadi kebijakan….” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 41—42).

Kutipan di atas menggunakan kata pantas yang bermakna ‘lekas, cepat’. Dengan tegas sumber di atas menyebutkan bahwa memiliki kemampuan cepat melaksanakan pekerjaan yang baik merupakan syarat kepemimpinan. Hal itu bermakna pemimpin yang tak mampu menyegerakan pekerjaan yang baik bagi rakyat dan negerinya tergolong tak layak menjadi pemimpin. Dengan demikian, setiap pemimpin seyogianya mampu membuat prioritas pembangunan yang dilaksanakan dalam kepemimpinannya.

Karena kepemimpinan dipersyaratkan memprioritaskan program pembangunan yang baik, watak dan perilaku lengah dan lalai dalam kepemimpinan menjadi indikator kelemahan pemimpin. Pemimpin seperti itu sebetulnya mempermalukan dirinya sendiri, bangsa, dan negaranya. Oleh sebab itu, syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 36, mengingatkan kita tentang perkara itu.   

Yakni jangan lengah dan lalai
Pekerjaan raja dihelai belai
Lengah dengan nasi dan gulai
Akhirnya kelak badan tersalai

Kelengahan dan kelalaian kepemimpinan cenderung disebabkan oleh lebih mengutamakan kepentingan pribadi, bukan orang-orang yang dipimpin. Dalam bait syair di atas disimbolkan dengan nasi dan gulai. Pemimpin yang hanya sibuk dengan urusan domestik dan kepentingan pribadinya—dengan mengatasnamakan orang banyak—umumnya mengalami kegagalan kepemimpinan (Akhirnya kelak badan tersalai). Tak akan pernah ada nilai kebaikan yang akan dikenang orang terhadap dirinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian melaksanakan amal-amal shalih karena akan muncul pelbagai fitnah yang menyerupai malam yang demikian gelap-gulita. Dalam hal ini, seseorang pada pagi hari masih mukmin, tetapi pada petang hari berubah menjadi kafir; menjadi mukmin pada petang hari, tetapi pada pagi hari menjadi kafir. Ditukarnya agamanya dengan dunia,” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Pilihan Sultan Ban sangat tepat dan memang mengena. Dalam kepemimpinannya, dia mengutamakan untuk menyegerakan program-program yang baik bagi masyarakat dan negerinya. Kebijakan itu pun memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yang mendorong umatnya. Dalam hal ini, hendaklah disegerakan pelaksanaan pekerjaan yang baik agar fitnah tak datang menerpa.

Begitulah pemimpin-pemimpin besar dan visioner senantiasa merujuk pemikiran cerdas, bernas,  dan berguna demi kemajuan rakyat dan negerinya. Pasalnya, terhambatnya kemajuan bangsa dan negara menjadikan pemimpin sebagai makhluk yang sama sekali tak berguna. Bukankah sang pemimpin yang menjadi punca (baca: penyebab), baik positif maupun negatif, kemajuan bangsa dan negaranya? Hanya pemimpin gagal yang menukar kinerja dengan bicara. Bersegeralah pada pekerjaan yang baik agar kita semua boleh berbahagia.*** 

Tinggalkan Balasan