Biografi singkat Haji Abdul Wahab Siantan dalam Beknopte Aantekeningen over Het Eiland Bintang 1833, Karya H.C. (Foto: Aswandi Syahri)

(Mufti dan Imam Besar Kerajaan  Riau-Lingga di Pulau Penyengat)

Nama Haji Abdul Wahab Siantan sangat dimuliakan oleh istana Riau-Lingga sejak kerajaan itu masih bernama Kerajaan Johor pada zaman Sultan Mamud Ri’ayatsyah dan Engku Puteri Raja Hamidah (sekitar 1708-1824 CE), hingga zaman Raja Ali Haji dan ayahnya. Siapakah Haji Abdul Wahab Siantan?

Dalam sepucuk suratbertarikh 9 Oktober 1864 yang dikirimkannya kepada Hermaan Von De Wall di Tanjungpinang, Raja Ali Haji menjelaskan sosok Haji Abdul Wahab dalam hubungannya dengan sebuah manuskrip Melayu yang berjudulHikayat Golam.Menurut Raja Ali Haji, Haji Abdul Wahab adalah penterjemah Hikayat Golam ke dalam bahasa Melayu. Hikayat itu asalnya adalah sebuah hikayat berbahasa Arab yang dibawa oleh Habib Syekh al-Saqaf dari Hadramaut ke Pulau Penyengat.

Di dalammanuskrip hikayat Hikayat Golam bertarikh 1837 yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, jelas tertulis bahwa hikayat itu diterjemahkan dari sebuah manuskrip berbahasa Arab oleh Haji Abdul Wahab yang mangkat di Riau (Pulau Penyengat) berdasarkan sebuah manuskrip yang dimiliki oleh Habib Syekh bin Alwi al-Saqaf.

Akan tetapi bukan hal itu yang membuat Haji Abdul Wahab sangat dimuliakan dan dihormati oleh istana Riau-Lingga. Beliau dimulaikan dan dohormati, seperti dinyatakan oleh Raja Ali Haji dalam suratnya, adalah karena kedudukannya sebagai “…ulama yang besar lagi mufti[ulama yang memiliki wewenang dalam menginterpretasi al-quran dan memberikan fatwa kepada umat] di dalam [Kerajaan] Riau-Lingga…”. Bahkan lebih dari itu, Raja Ali Haji juga menyebutnya sebagai “..ulama saya…” dan “…guru ayah saya Engku Haji Tua…”

Posisi dan kedudukan penting  Haji Abdul Wahab Siantan dalam institusi istana Riau-Lingga juga dijelaskan oleh seorang perwira militer Inggris, Peter James Begbie, yang pernah mengunjungi Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat pada 1830-an.Menurut Begbie yang berpangkat Kapten itu, ada sebuah ‘institusi’ dan jabatan yang sangat berpengaruh dalam Istana Johor-Riau-Lingga-dan Pahang. Jabatan dan “institusi” itu berada di tangan Haji Abdul Wahab Siantan (Begbie menyebutnya Abdul-Waap) yang diangkat sebagai Ulama besar atau imam besar (High Priest) oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah.

Catatan Kapten Pieter James Begbie ini bersesuaian pula dengan biografi ringkas Haji Abdul Wahab Siantan yang ditulis oleh H.C. Steenhard, seorang pejabat kolonial Belanda di Riau (Tanjungpinang)  dalam sebuah laporan tentang pulau-pulau di sekeliling Pulau Bintan, alam. dan sejarah keluarga diraja Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang yang berjudul Beknopte Aantekeningen over Het Eiland Bintang 1833 (Catatan Singkat Tentang Pulau Bintan Tahun 1833). “Haji Abdul Wahab Siantan (yang ditulisnya Hadji Abdoelwahap) adalah Ulama Besar Kerajaan Johor (nama lama Kerajaan Riau-Lingga)”, tulis Steenhart.

Haji Abdul Wahab Siantan lahir pada tahun 1708. Menurut Begbie, beliau lahir di Siam (Thailand). Namun demikian fakta sejarah ini sangat lemah. Ia lahir di Pulau Siantan (di Kabupaten Kepulauan Anambas sekarang) dan orang tuanya bersal  dari Minangkabau (Minangkabow parentage). Sebab itulah nama Pulau Siantan lekat pada hujung nama batang tubuhnya. Bila diterjemahkan, biografi singkat Haji Abdul Wahab Siantan yang ditulis H.C. Steenhard itu kurang lebih adalah sebagai berikut: “…Ulama besar Kerajaan Johor adalah Haji Abdoelwahap. Ia lahir di Siantan. Berasal dari orang tua asal MInangkabau (Manangkabo). Sultan Mahmoed Sha memilihnya memegang kuasa sebagai pejabat Ulama atau Imam Besar (Hooge-Priester) yang dengan demikian berada lansung dibawahnya…”

Setelah Sultan Mahmud Ri’ayatsyah Mangkat di Daik-Lingga, Haji Abdul Wahab Siantan diwa pindah oleh Engku Puteri Raja Hamidah ke Pulau Penyengat. Atas persetujuan Engku Puteri Raja Hamidah, janda Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang sangat berpengaruh ketika itu, Haji Abdul Wahab Siantan diangkat pula sebagai gurunya dan ulama sekaligus imam bagi keluarga istana Riau-Lingga di Pulau penyengat. Di Pulau Penyengat, beliau tinggal di lingkungan istana Engku Puteri Raja Hamidah, yakni di lingkungan kawasan berkota yang disebutDalam Besar.

Setelah sekian lama menjadi guru Engku Puteri Raja Hamidah dan ulama atau besar di Pulau Penyengat, Haji Abdul Wahab Siantan mangkat di istana Engku Puteri Raja Hamidah pada 7 Oktober 1824 CE. Menurut Raja Ali Haji, beliau mangkat dalam usia 100 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Punggawa, Pulau Penyengat, “…di tas bukit, bersama-sama dengan kubur Habib Syekh, [dan] kubur Marhum Teluk Ketapang…”

Ketika Kapten Pieter James Begbie mengunjungi Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat pada pada 1830-an, jabatan ulama besar (Hight Priest) sebagaimana yang pernah disandang oleh Haji Abdul Wahab Siantansudah tidak ada lagi.

Semua hal ikhwal yang berkenaan dengan tugas dan kerja-kerja yang pernah menjadi Tanggung jawab Haji Abdul Wahab Siantan telah menjadi tanggung jawab seorang guru agama bernama Abdul-Rachid (Abdul Rasyid) yang berkhidmad di Masjid Jamik Pulau Penyengat.***

Artikel SebelumKeberaksaraan dan Pemajuan Kebudayaan
Artikel BerikutSeri Gunung Bahasa Melayu
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan