AKHIRNYA, Kerajaan Barbari kalah perang. Serangan mendadak dengan pelbagai cara dan dari segala arah tanpa maklumat perang terlebih dahulu dilakukan oleh Kerajaan Hindustan terhadap musuhnya itu, langsung dipimpin oleh rajanya. Taktik perang total Kerajaan Hindi itu ternyata sangat efektif melumpuhkan pertahanan Kerajaan Barbari yang dipimpin oleh Sultan Abdul Muluk yang karismatik dan menjadi harapan segenap rakyatnya.

Konsekuensinya, sejak saat itu Kerajaan Barbari terjajah. Setidak-tidaknya untuk sementara, sebelum suatu ketika kelak pahlawan kemerdekaannya, seorang perempuan jelita tetapi juga perkasa—Siti Rafiah—datang menerjang untuk menuntut bela serta membebaskan negeri dan rakyatnya dari tekanan dan belenggu penjajahan si angkara murka.

            Setelah kalah perang, Sultan Abdul Muluk, permaisurinya Siti Rahmah, para menteri, dan para hulubalang (tentara) yang masih hidup ditangkap, disiksa, dan dipenjara. Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Syair Abdul Muluk, bait 845, melanjutkan kisahnya (Haji, 1846).

Setelah didengar Sultan Hindi
Terlalu panas rasanya hati
Baginda segera mengambil cemeti
Dipalukan baginda dua tiga kali

Tekanan terhadap rakyat Negeri Barbari mungkin akan berkurang, boleh jadi juga dihentikan, andaikan Siti Rahmah bersedia menerima permintaan Syihabuddin, Raja Hindustan. Bahkan, suaminya Sultan Abdul Muluk mungkin tak akan lagi disiksa dan dapat dikeluarkan dari penjara. Akan tetapi, sebagai istri yang setia dan permaisuri yang menjaga kehormatan diri dan marwah suaminya, Siti Rahmah menolak keras dendam berahi Syihabuddin terhadap dirinya. Akibatnya, Ibu Negara Kerajaan Barbari itu juga disiksa dan dimasukkan ke penjara. Dera dan derita dihadapinya dengan tabah, tanpa sedikit pun berasa ragu dan tak secuil pun menjejas iman dan harga dirinya sebagai perempuan yang berbangsa.

            Sesampainya di dalam penjara untuk menjalani hukuman yang dikenakan kepadanya, Siti Rahmah mendapati kenyataan yang lebih menyakitkan dan menyedihkan lagi. Kisahnya tersurat di dalam Syair Abdul Muluk, bait 862 (Haji, 1846).

Hancur hati Siti bangsawan
Melihat hal Paduka Sultan
Beberapa belenggu rantai di badan
Azab tak dapat lagi dikatakan

Suaminya yang terlebih dahulu dipenjara ternyata tak sekadar dikurung. Lebih daripada itu, Sultan Barbari juga dirantai dan disiksa fisiknya. Menyaksikan penderitaan suaminya itu, hancurlah hati Siti Rahmah sehancur-hancurnya, tiada kata yang dapat digunakan untuk menyatakan kepiluan kalbunya. Abdul Muluk yang selama ini dikenal sebagai laki-laki yang sangat tampan dan perkasa, kini remuk tubuhnya dan wajahnya hampir tak lagi dapat dikenali karena siksaan fisik yang diterimanya di penjara. Walaupun begitu, Siti Rahmah boleh berbangga karena suaminya tak sedikit pun berasa sedih atas derita yang dialaminya, kecuali sultan muda itu remuk-redam jiwanya karena istrinya turut disiksa dan dipenjara.

            Kisah yang dialami oleh Sultan Abdul Muluk dan permaisuri setianya itu memberikan pelajaran ini. Pemimpin terbilang harus rela berkorban, tak hanya harta tetapi juga jiwa dan raga. Dia harus siap menderita demi mempertahankan dan memperjuangkan nasib bangsa dan marwah negara. Untuk itu, dia tak boleh menyerah dan atau menyerahkan kehormatan diri, negeri, dan rakyatnya kepada penceroboh dari mana pun datangnya dan apa pun bentuk bujuk rayunya. Kedaulatan dan keselamatan bangsa dan negara jauh lebih penting dan utama daripada sekadar kesenangan diri, keluarga, dan atau kolega. Pemimpin diadakan memang untuk menjadi orang yang terdepan, sama ada dalam suka ataupun nestapa.

            Di dalam Tuhfat al-Nafis dikisahkan bahwa Raja Kecik, setelah kemangkatan Sultan Mahmud Syah II, datang ke Johor dan mengaku sebagai putra Sultan Johor-Riau (Padahal, Sultan Mahmud Syah II tak memiliki istri). Atas dasar itu, dia memengaruhi rakyat Johor dan Singapura untuk memperebutkan tahta Kesultanan Johor-Riau. Sebagian rakyat, termasuk Laksemana Johor, terpengaruh akan cerita Raja Kecik dan bersedia memerangi Kesultanan Riau-Johor. Akan tetapi, di antara pembesar kesultanan itu, Raja Muda termasuk pemimpin yang tak dapat dipengaruhi oleh pendatang yang menyerbu. Maka, berkobarlah perang.       

“Maka Raja Muda pun membunuh isterinya lalulah ia keluar mengamuk pula, kerana fikirannya daripada isterinya diambil … diperbuatnya gundik, terlebih baik biar hilang sekali. Kemudian Raja Muda pun mengamuklah menyerbukan dirinya kepada pihak sebelah Raja Kecik itu. Lalu berkejar-kejaran hambat-berhambat hingga sampai ke Kayu Anak nama tempat itu. Maka Raja Muda pun mangkatlah di situ, sebab sabur menyabur orang beramuk itu,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 57).

Raja Muda, seperti halnya Sultan Abdul Muluk, sedia berkorban demi menyelamatkan negerinya. Bahkan, Raja Muda dan istrinya syahid di medan perang untuk menunaikan bakti kepada negerinya. Demikianlah pemimpin kelas utama tak pernah gentar mempertaruhkan jiwa dan raga untuk membela marwah negeri dan rakyatnya.

Apakah yang memotivasi manusia, lebih-lebih pemimpin kelas utama, untuk berjuang membela bangsa dan negara sehingga mereka rela berkorban dan atau menderita demi matlamat itu? Ternyata, petunjuknya memang bersumber dari Allah SWT.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezeki,” (Q.S. Ali ‘Imran, 169).

Sesebuah negeri merupakan anugerah Allah kepada setiap bangsa yang menghuninya. Anugerah yang amat berharga itu tentulah harus dijaga dengan penuh tanggung jawab sampai ke tetesan darah yang penghabisan. Orang-orang yang berjuang mempertahankan negerinya karena Allah, walau akhirnya gugur, mereka bahkan hidup di sisi Allah di akhirat dengan memperoleh rezeki yang telah disediakan-Nya. Oleh sebab itu, para wira sejati tak pernah gentar berjuang untuk membela bangsa dan negaranya jika diancam oleh sesiapa pun dari mana pun.

Di samping rela berkorban, para pemimpin yang berkualitas utama senantiasa menampilkan watak, sikap, dan perilaku yang lemah-lembut. Keutamaan itu terekam di dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Keempat, bait 8 dan Pasal yang Ketujuh, bait 9.

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Pasal yang Keempat, bait 8 menekankan sisi perilaku yang tak boleh kasar, baik secara eksplisit maupun implisit. Dalam pada itu, Pasal yang Ketujuh, bait 9 pula menegaskan perihal keutamaan perkataan yang lemah-lembut. Para pemimpin yang memiliki karakter mulia itu akan berhasil memikat hati orang-orang yang dipimpinnya. Alhasil, pemimpin terbilang dengan kualitas budi utama itu akan mendapat sokongan yang signifikan dari rakyat dan atau masyarakat dalam kebijakan kepemimpinannya.

Pemimpin yang berjiwa lemah-lembut tak akan pernah tergamak atau sampai hati untuk mengecewakan dan atau melukai hati rakyat, masyarakat, dan atau orang-orang yang dipimpinnya. Jiwanya senantiasa peka terhadap penderitaan rakyat dan kemampuannya dengan sekuat dapat, sesuai dengan wewenang yang diamanahkan kepadanya, akan dikerahkannya untuk mengatasi persoalan negeri dan rakyatnya.

            Mengapakah pemimpin harus berwatak, bersikap, dan berperilaku lemah-lembut dan menghindari sejauh mungkin sifat kasar? Jawabnya diberikan oleh Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 21.

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Kemaluan orang anakanda pikirkan

Kualitas prima kepemimpinan yang lemah-lembut tak menyebabkan orang-orang yang dipimpinnya berasa malu. Pemimpin yang berwatak, bersikap, dan berperilaku kasar akan mempermalukan rakyat dan atau orang-orang yang dipimpinnya. Orang-orang yang menjadi sasaran langsung kekasaran pemimpinnya sudah barang tentu akan berasa malu bangat. Akan tetapi, mereka yang tak secara langsung menerima perilaku kasar pemimpinnya pun akan berasa malu. Pasalnya, watak, sikap, dan perilaku kasar bukan ciri pemimpin pilihan.

Halus-kasar kepemimpinan tak semata-mata ditampilkan secara terbuka di depan publik. Ada banyak orang yang biasa berpura-pura berperilaku seolah-olah lemah-lembut di depan orang dengan senyum manis yang sungguh menawan. Akan tetapi, di sebalik senyum yang memikat itu terkandung racun yang mematikan, seumpama kebijakan kepemimpinan yang diterapkannya membuat rakyatnya sengsara. Hidup di negeri sendiri, tetapi hari-hari dilalui dengan nestapa tiada henti. Pasalnya, pemimpinnya sibuk mengurusi diri sendiri dan atau kelompoknya yang dianggap mengabdi. Dalam keadaan serupa itu, senyum dan kelembutan sekadar dipamerkan untuk mengabui.

Pemimpin yang memiliki karakter lemah-lembut sejati tak pernah sampai hati melukai perasaan anak negeri. Segala kemampuan yang dimilikinya akan dipersembahkan untuk memajukan negeri. Seperti Sultan Abdul Muluk dan Raja Muda Johor-Riau yang diperikan di atas, mereka akan berjuang membela rakyat dan negeri walau harus menderita, bahkan Raja Muda berkorban sampai mati.

Begitulah pemimpin sejati berbuat bakti. Pasalnya, mereka sadar bahwa tiada sesuatu di dunia ini yang abadi, termasuk kepemimpinan yang mereka nakhodai. Oleh sebab itu, sekali diberi amanah harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Pahit-maung kepemimpinan mereka simpan sendiri. Di hadapan rakyat dan sesiapa pun mereka selalu tampil tegar dan menyenangkan hati. Dengan menerapkan cara anggun seperti itu, siapakah yang mereka ikuti?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah Mahalembut serta mencintai kelembutan. Dan, Allah memberikan kepada sifat lembut yang tak diberikan kepada sifat kasar dan sifat-sifat lainnya,” (H.R. Muslim).

Berdasarkan pedoman yang diberikan oleh Rasulullah SAW seperti yang dinukilkan di atas, ternyata sifat lemah-lembut itu disukai oleh Allah SWT karena Dia Mahalembut. Keutamaan sifat lemah-lembut tak dianugerahkan kepada sifat kasar dan sifat-sifat lain. Oleh sebab itu, orang-orang yang memimpin dengan kelembutan akan senantiasa mendapat inayah dari Allah. Pasalnya, pemimpin tersebut mengikuti pedoman yang diberikan oleh Allah dan rasul-Nya.

Pemimpin sejati tak pernah gentar untuk berkorban dan atau menderita. Dia menyadari benar bahwa banyak onak dan duri yang harus dilalui untuk sampai kepada kepemimpinan yang berjaya. Dalam pada itu, watak, sikap, dan perilaku lemah-lembut menjadi karakter utama kepemimpinannya. Karena sejalan dengan petunjuk Allah dan rasul pilihan-Nya, pemimpin kelas utama itu tak akan pernah rela mencederai negeri dan melukai hati rakyatnya. Misi utama kepemimpinannya semata-mata kemakmuran negeri dan kesejahteraan bangsa. Dialah pemimpin yang boleh dibilangkan nama. Kepada pemimpin seperti itu, bimbingan dan pertolongan Allah senantiasa menyerta.***       

Tinggalkan Balasan