keberaksaraan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pemajuan kebudayaan. Bahkan, keberaksaraan menjadi kekuatan terdepan dalam upaya memajukan kebudayaan dan tamadun. Dengan kata lain, maju-mundurnya sesuatu kebudayaan dan tamadun, terutama, ditentukan oleh keberaksaraan. Hal itu disebabkan oleh dinamika kebudayaan memerlukan pengembangan pemikiran kritis dan penalaran logis (Teeuw, 1994). Kesemuanya hanya dapat dihasilkan dengan pembacaan buku-buku dan bacaan-bacaan lain sebagai sarana yang mutlak diperlukan. Ketunakan membaca dan menulis menjadi kunci kejayaan dalam hal ini.

            Kenyataan itu mengharuskan setiap pemilik kebudayaan meningkatkan kuantitas dan kualitas keberaksaraan masyarakat budayanya secara berterusan. Keberaksaraan mengandalkan masyarakat yang benar-benar tunak dalam membaca dan menulis, tanpa berasa enggan apatah lagi malas dalam perjuangan itu. Semakin tinggi tingkat keberaksaraan masyarakatnya akan semakin maju pula kebudayaan masyarakat tersebut. Pada gilirannya, nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan semakin memperkokoh jati diri masyarakatnya.

Sebagai ikutannya, pemilik budaya asli tak mudah dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya luar yang negatif di satu pihak. Di pihak lain, mereka dengan bijak mampu menyaring nilai-nilai positif budaya luar untuk memperkaya dan memajukan budayanya. Di samping itu, mereka secara cerdas dan arif sanggup mengembangkan unsur-unsur asli budaya sendiri. Oleh sebab itu, kualitas keberaksaraan masyarakat harus terus meningkat sesuai dengan cabaran zaman yang terus berubah.

            Budaya Melayu telah cukup lama dan terus bertembung dengan pelbagai budaya bangsa-bangsa sejagat. Pertembungan itu ternyata secara kualitatif tak menjejas keberadaan jati diri budaya dan tamadun Melayu. Sebaliknya pula, masyarakat budaya itu secara kreatif mampu memperkayakan budaya mereka sehingga berdampak positif terhadap kemajuannya. Hal itu dimungkinkan karena kearifan yang terkandung di dalam nilai-nilai budaya Melayu itu sendiri dan kecerdasan budaya masyarakatnya. Kenyataan itu menjadi dasar yang sangat mustahak bagi upaya pemertahanan dan pemajuan kebudayaan Melayu ke depan ini.

            Keberaksaraan merupakan kekuatan utama setiap budaya. Bahkan, kuantitas dan kualitas keberaksaraan pemilik sah sesuatu budaya dan tamadun sangat menentukan kemajuan budaya dan peradaban tersebut.

            Budaya dan tamadun Melayu mampu mencapai puncaknya dan dapat bertahan ratusan tahun sampai setakat ini karena keunggulan kearifan yang dikandunginya. Kearifan yang berkecerdasan itu pun bersabit dengan keberaksaraan yang signifikan yang dimiliki oleh bangsa Melayu sebagai pewaris dan ahli waris sah budaya dan tamadun Melayu. Oleh sebab itu, bangsa Melayu mampu menyaring unsur budaya luar secara kritis dan kreatif. Bersamaan dengan itu, berkembanglah tradisi intelektual di kalangan bangsa Melayu. Tradisi intelektual itulah yang menjadi bukti nyata kecanggihan keberaksaraan bangsa Melayu, terutama pada masa lampau.

            Unsur budaya sekaligus alat pengembangan budaya Melayu yang sangat berpengaruh, baik terhadap bangsa Melayu sendiri maupun terhadap masyarakat lain di nusantara, adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu, bahkan, selain digunakan sebagai bahasa pengantar dalam sistem pendidikan kerajaan dan selanjutnya diteruskan oleh sistem pendidikan kolonial, juga dijadikan bahasa perjuangan ketika bangsa-bangsa nusantara merebut kembali kemerdekaan mereka dari penjajah. Pada akhirnya, bahasa Melayu-lah yang dijadikan bahasa nasional di negara-negara modern di nusantara ini setelah lepas dari belenggu penjajahan.

Selain ragam lisan, bahasa Melayu ragam tulis—hasil dari keberaksaraan—yang menjadi rujukan pengembangan dan pembinaan bahasa nasional bangsa-bangsa yang kembali merdeka itu. Karena bahasa berada dalam sistem budaya, secara tersirat budaya dan tamadun Melayu juga berpengaruh luas terhadap masyarakat nusantara, baik unsur maupun, terutama, nilai-nilainya. Pasalnya, apa pun budaya dan tamadun yang dikembangkan manusia sangat dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan untuk itu.

            Tulisan ini mengambil perhatian pada keberaksaraan Arab-Melayu di kalangan orang Melayu. Perkara ini penting artinya karena aksara Arab-Melayu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan serta kemajuan budaya dan tamadun Melayu berbilang zaman.

Aksara Arab-Melayu telah berperan penting dalam pemajuan budaya dan tamadun Melayu sejak digunakan kali pertama di prasasti yang ditemukan di Terengganu, Malaysia (sekarang) bertarikh 1303. Tarikh itu dianggap awal sejauh yang dapat dibuktikan sampai kini. Setelah itu, sekurang-kurangnya, kalau tak lebih awal lagi, sejak abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-20 bangsa Melayu telah dididik, sama ada secara formal maupun nonformal, dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Ringkasnya, sekurang-kurangnya 500 tahun kemahiran membaca dan menulis bangsa Melayu merupakan keberaksaraan Arab-Melayu. Dengan demikian, aksara Arab-Melayu telah menjadi warisan dan jati diri budaya dan tamadun Melayu.

            Sejak diperkenalkan dan digunakan aksara Latin (Rumi) dalam sistem bahasa tulis Melayu pada awal abad ke-20, aksara Arab-Melayu secara berangsur-angsur mulai ditinggalkan, termasuk di kawasan yang berbudaya Melayu. Bersamaan dengan itu,  bahan bacaan dalam aksara Arab-Melayu juga semakin hari semakin sulit diperoleh, terutama di Indonesia. Bahkan, naskah-naskah dan karya-karya Melayu yang ada selama ini dialihaksarakan ke aksara Latin, pun dalam jumlah yang sangat terbatas. Akibatnya, orang Melayu yang mahir membaca teks beraksara Arab-Melayu tak dapat lagi mengakses bacaan yang beraksara Arab-Melayu. Tak terlalu lama, karena tak lagi terbiasa membaca dan menulis dalam aksara Arab-Melayu, orang Melayu—yang padahal budaya dan tamadunnya dijulangkan oleh aksara warisan berharga itu—tak mampu lagi membaca, apatah lagi menulis, teks beraksara Arab-Melayu.

            Keberaksaraan yang menjadi kekuatan utama budaya dan tamadun, dalam konteks bangsa Melayu, seyogianya yang terutama keberaksaraan Arab-Melayu. Pasalnya, aksara warisan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya-upaya pemajuan dan kemajuan budaya dan tamadun Melayu selama ini. Bangsa Melayu, khasnya generasi muda, seyogianya dapat menggali, memperoleh, mengkaji, dan mengembangkan ilmu-pengetahuan, teknologi, seni,  dan nilai-nilai terala (mulia) warisan Melayu dari karya-karya agung yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Sungguh aneh kiranya jika orang Melayu tak pernah membaca karya-karya Melayu, terutama yang beraksara Arab-Melayu. Jika demikian keadaannya, mereka mendapat pedoman nilai dari mana? Jawabnya, mungkin sumber lisan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, pengetahuan dan ilmu yang diperoleh sekadar lisan itu sangat tak memadai untuk menghadapi cabaran zaman yang terus berubah dalam semua bidang kehidupan.

Bersabit dengan itu, keniraksaraan Arab-Melayu di kalangan bangsa Melayu, terutama di kalangan generasi muda, harus segera diatasi. Caranya, keberaksaraan Arab-Melayu harus direvitalisasi melalui sistem pendidikan. Yang dimaksudkan dengan sistem pendidikan itu meliputi pendidikan formal bagi generasi masa kini dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi dan pendidikan nonformal bagi orang dewasa (Malik, 2015).

Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu itu, sekurang-kurangnya harus dipersiapkan secara baik dan memadai hal-hal berikut.

  1. Guru-guru dan dosen yang mahir membaca dan menulis Arab-Melayu serta mampu mengajarkannya kepada peserta didik, dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.
  2. Buku Pedoman Ejaan Arab-Melayu yang dibakukan sehingga dapat dipedomani oleh guru, dosen, peserta didik, dan umum.
  3. Kurikulum Pendidikan Aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang pendidikan.
  4. Buku Pedoman Guru Pendidikan Aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang pendidikan.
  5. Buku teks atau buku pelajaran aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang pendidikan.
  6. Buku bacaan atau referensi beraksara Arab-Melayu sebagai pemerkayaan bacaan dan pemerolehan ilmu-pengetahuan, teknologi, dan seni bagi peserta didik.
  7. Untuk menyokong Pendidikan Aksara Arab-Melayu, ada baiknya pembelajaran mata pelajaran tertentu seperti Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Budaya Melayu (muatan lokal), dan Pendidikan Budi Pekerti diintegrasikan dengan Pendidikan Aksara Arab-Melayu. Maksudnya, ada tugas-tugas tertentu dalam mata pelajaran tersebut menggunakan aksara Arab-Melayu. Tak mungkin semua tugas mata pelajaran itu menggunakan aksara Arab-Melayu karena sistem pendidikan kita sekarang menggunakan aksara Latin.

             Kegiatan pendidikan, termasuk Pendidikan Aksara Arab-Melayu, baru akan berhasil dengan baik jika didukung oleh sarana yang memadai. Dalam Pendidikan Aksara Arab-Melayu, diperlukan sokongan media tertentu.

Pertama, buku bacaan dan atau bahan rujukan (referensi) yang dapat berupa naskah dan karya klasik Melayu dalam pelbagai bidang ilmu dan pengetahuan. Untuk itu, karya-karya tersebut perlu dicetak dan diterbitkan ulang, sama ada dalam edisi ekaaksara (Arab-Melayu) ataupun dwiaksara (Arab-Melayu dan Latin). Penerbitan dalam edisi sekolah (edisi ringkas) yang dikerjakan oleh kalangan profesional juga akan sangat membantu. Di samping itu, buku-buku karya baru yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu patut juga diadakan, khususnya buku-buku bidang budaya Melayu. Jika upaya itu dilakukan, peserta didik dan atau pembelajar memperoleh manfaat langsung, baik untuk peningkatan keberaksaraan (belajar membaca dan menulis Arab-Melayu) maupun pemerolehan ilmu-pengetahuan, teknologi, dan seni dari kegiatan pendidikan yang mereka geluti.

Kedua, sebaiknya diupayakan penerbitan media massa (surat kabar, majalah, dan lain-lain) yang menggunakan aksara Arab-Melayu. Jika tak mungkin, media massa yang telah ada di kawasan Melayu yang menggunakan aksara Latin seyogianya bersedia menyediakan rubrik beraksara Arab-Melayu—entah sekadar satu halaman sahaja—yang boleh berisi cerita pendek-pendek, tulisan bersambung yang diambil dari naskah klasik (hikayat, syair, dongeng, dan sebagainya), petatah-petitih, berita sehari-hari dalam masyarakat, dan lain-lain. Yang pasti, rubrik tersebut patut dan sesuai untuk bacaan bagi pembaca semua umur.

Bacaan-bacaan itu sangat diperlukan untuk menyokong pelaksanaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu di sekolah dan di lembaga pendidikan lainnya. Dalam hal ini, para pendidik dapat memberikan tugas kepada peserta didik yang dikaitkan dengan materi yang terdapat di dalam rubrik media massa tersebut.

            Kejayaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif dan positif semua pihak. Dalam hal ini, pemerintah, khususnya pemerintah daerah di kawasan Melayu di Indonesia, orang tua (ibu-bapak), masyarakat, tokoh adat dan budaya, dan pemangku kepentingan lainnya seyogianya bersinergi untuk menjayakan program pembangunan sumber daya manusia yang mustahak lagi genting ini. Yang pasti, kejayaan program pendidikan ini akan menjulangkan kembali budaya dan tamadun Melayu sehingga dapat memberikan sumbangan selanjutnya yang lebih berarti bagi pemajuan kebudayaan nasional dan kemajuan peradaban dunia.

Keberaksaraan dan tradisi intelektual yang berkembang di kalangan bangsa Melayu  diwadahi oleh aksara Arab-Melayu. Aksara tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keunggulan budaya dan tamadun Melayu yang telah terbukti selama ratusan tahun. Di mana pun pusat kesultanan Melayu pada masa lampau keberaksaraan Arab-Melayu yang berkelindan dengan tradisi intelektual berkembang pesat sehingga hasilnya diwarisi oleh generasi Melayu  sampai sekarang. Kenyataan itu menunjukkan kesungguhan dalam perjuangan pemajuan kebudayaan Melayu semasa.

Capaian yang membanggakan itu memang patut dijadikan tauladan. Dengan demikian, untuk mencapai  matlamat pertahanan, pemajuan, dan kemajuan lebih lanjut budaya dan tamadun Melayu kedepan ini, keberaksaraan Arab-Melayu di kalangan generasi Melayu masa kini wajib dilaksanakan secara bersungguh-sungguh, bukan hanya sekadar ada. Kejayaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu menjadi pertaruhan dalam upaya pemajuan kebudayaan dan tamadun Melayu.***

Tinggalkan Balasan