Sungai Daik, Lingga.

20 Tahun Daik Bunda Tanah Melayu

Oleh : MUHAMMAD HASBI

Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabanh tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang juga

Setiap manusia pasti mati. Tapi tidak dengan amal dan perbuatan baik yang terus menerus akan hidup dan diajarkan turun-temurun sebagai bagian dari akal budi manusia. Mungkin begitu makna dari pantun Melayu yang melegenda di atas. Sampiran yang semula dianggap hanya mitos namun nyata kebenarannya. Beruntunglah hari ini, perkembangan teknologi yang juga membawa orangorang Melayu dapat melihat Gunung Daik yang memang jauh terpencil di semenajung Melaka.

Lantas, mengapa pantun ini mengambil tema akal budi? Apa maksud yang sebenarnya dari pantun tersebut? Lalu bagaimana dengan hari ini, Daik Bunda Tanah Melayu yang seiring waktu berubah pula menjadi Lingga Bunda Tanah Melayu dan kemudian hari muncul pula Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu. Terlepas dari hal tersebut, perlu digaris bawahi politik dan kepentingan lain atas nama Melayu terus terjadi untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Tentu hal ini jauh sekali dari harapan Deklarasi Daik Bunda Tanah Melayu 20 tahun silam.

Yusmar Yusuf dalam kegiatan PPMS 1999 mengatakan, Daik tentu saja boleh menjadi “Perkampungan Penulis”. Tapi seperti yang disebut dalam pantun;

Gunung Daik bercabang tiga
Patah satu tinggallah dua
Maksud baik tiada tercela
Tapi jangan sampai menunggu masa

Nyatanya, sampai saat ini 20 tahun berjalan, Kabupaten Kepulauan Riau yang telah pun menjadi Provinsi sendiri dan Lingga menjadi Kabupaten, arah dan kebijakan juga belum jelas dalam hal pembangunan di bidang kebudayaan. Kalaupun ada yang nampak hanya “latah budaya”. Budaya menjadi alat politik identitas, untuk kekuasaan dan sifat buruk yang tentu ditolak oleh semua orang Melayu. Boleh dikata, bukan lagi menjadi bagian dari Melayu.

Di Malaysia, orang-orang yang berjasa dalam penulisan antologi Daik Bunda Tanah Melayu memberi ruang untuk kreativitas penulisan seperti lomba mengarang, penerbitan, kursus / bengkel penulisan, diskusi karya, penataran bakat kreatif dan seminar sebagai bagian dan upaya mengangkat harkat dan martabat Melayu itu sendiri. Hal ini juga yang dimaksudkan dalam kegiatan Perkampungan Penulis dan isi Deklarai Bunda Tanah Melayu 4-8 Juli 1999 tersebut.

“ … dalam konteks ini, orang Melayu harus mengakui dan melakukan legitimasi bahwa yang Daik itu identik dengan sebuah gerakan politis. Daik itu identik dengan sebuah gerakan kondisi geografis. Daik itu sebagai sebuah simbolisasi bahasa Melayu serumpun. Daik itu juga adalah sebuab penyesalan dan kesalahan setting sejarah politik masa lalu”….. (Sejarah Daik dan Politik Bahasa Melayu, Daik Boenda Tanah Melayu, 2000: 65).

Salah satu yang perlu kemudian muncul sebagai bentuk kesadaran adalah terbitnya Kamus Melayu Serumpun. Dan itu telah mulai di Daik dan perlu terus digesa dengan melibatkan lebih banyak lagi penulis-penulis Melayu yang kuat. Agar kesalah sejarah masa lalu tidak lagi terulang.

Daik memiliki pijakan yang kuat dimana Percetakan Rumah Cap Kerajaan pernah ada, mungkin menjadi yang pertama di Nusantara. Seni dan Budayanya begitu kental dan upaya meregenerasi saat ini oleh orang-orang Melayu di daerahnya sendiri sebagai pemegang kebijakan masih jauh dari kesadaran tersebut. Sebut saja Gamelan Melayu, merekontruksi hubungan budaya antara Daik-Jawa-Pahang, Nobat yang monumental, Zapin Daik yang menjadi salah satu cara pengembangan Islam dan masih banyak lagi. Seharusnya, 70 persen konten atau isi kegiatan di daerah wajib memberi ruang kepada seni dan budaya tradisi sebagai bagian Bunda Tanah Melayu.

Dari segi bahasa, Daik menurut Yusmar Yusuf adalah “Benteng Lidah Orang Melayu”. Belakangan, bahasa serapan mulai populer dan berkembang, Nasi Kuning jadi Tumpeng. Ada juga Unduh Mantu padahal bahasa Melayu Daik juga ada yang bisa mengartikan peristiwa tersebut.

Kemudian dengan tapak sejarah Kerajaan Lingga yang ada dan masih utuh yakni Masjid Jami’ dan sekolah tidakkan memberi satu kesimpulan bahwa Sultan Lingga menaruh perhatian penting terhadap Agama dan Pendidikan? Bagaimana pula dengan empat buah Makam Sultan, Makam Merah YDM, bekas istana dan benteng-benteng pertahanan serta sistem irigasi kuno lubuk bendung?

Kitab-kitab, aturan Hukum Mahkamah, sistem Pertanahan/agraria yang menurut sejumlah sumber kemudian menjadi rujukan Hukum Pertanahan di Negara Indonesia hari ini belum cukup membuktikan bahwa Taji Melayu berada dk Daik?

Di sisi pertahanan pangan, perkebunan sagu masih kokoh dan masih menjadi penopang ekonomi. Teknologi tradisional yang diterapkan menjadi sebab alam dan ekosistem terjaga dengan baik.

Keanekaragaman hewan dan tumbuhan di Gunung Daik dengan puluhan tanaman langkanya, tanaman herbal yang masih terjaga belum juga membuat pemegang kebijakan memberi perhatian lebih untuk pemanfaatan yang lebih
manusiawi guna ilmu dan penhetahuan? Lalu bagaimana bisa kegiatan-kegiatan di daerah tidak menjadikan semua hal ini sebagai rujukan untuk menjadikan Daik semakin mantap sebagai Bunda Tanah Melayu.

Pemerintah malah memasukkan berburu babi dalam agenda menjual pariwisata Festival Gunung Daik tahun 2017 lalu yang “mencoreng” muka orang Melayu Daik dengan segala hal yang telah dibangun pada masa Kesultanan Lingga hingga upaya perkampungan penulis mengangkat kembali Daik untuk muncul ke permukaan.

Lemahnya kesadaran dan latah budaya yang terjadi belakangan seharusnya tidak lagi perlu terjadi. Orang Melayu Daik tidak membangun peradaban fisik (kota dan gedung), mereka membangun kesadaran mental, akal dan budi. Tonggak yang ditancapkan oleh Perkampungan Penulis Melayu Serumpun menjadi acuan langkah kemana Daik Bunda Tanah Melayu apa dan harus menjadi apa.

“ … di Bunda Tanah Melayu ini pula pernah terkenal sebagai imperium kebudayaan yang lebih mengutamakan keperkasaan otak ketimbang kilauan kapak seperti yang berhadap-hadapan dengan keseharian kita beberapa periode belakangan ini. Dengan bingkai akal budi seharusnya peradaban sekarang ini dibangun. Karena dengan akal fikiran, Yusmar berfalsafah: Kita tidak akan pernah kalah oleh kebodohan”……(Daik Boenda Tanah Melayu, 2000: 32).***

Tinggalkan Balasan