Selasa, 9 Juli 2019, saya diundang untuk menjadi panelis dalam Program (Acara) Wacana Sinar Ilmuwan tajaan bersama Majlis Profesor Negara dan Sinar Harian, Malaysia. Acara yang dikemas dalam bentuk talk show itu dilaksanakan di Dewan Karangkraf, Off Persiaran Selangor, Seksyen 15, Shah Alam, Selangor Malaysia. Selain saya dari Indonesia, juga diundang Tan Sri Prof. Dr. Abdul Latiff Abu Bakar dari Universiti Islam Malaysia dan Prof. Datuk Dr. Teo Kok Seong dari Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai panelis.

            Acara itu juga dihadiri oleh Presiden dan Ketua Eksekutif Majlis Profesor Negara Malaysia, Prof. Datuk Dr. Raduan Che Rose, Timbalan (Wakil) Presiden Majlis Profesor Negara Malaysia, Prof. Dr. Kamaruddin M. Said, para pengurus Majlis Profesor Negara, tokoh-tokoh senior dan junior Malaysia, mahasiswa perguruan tinggi Malaysia, guru-guru, dan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia. Program yang disiarkan secara tunda (live delay) dengan durasi lebih dari dua jam oleh TV Sinar, Malaysia, itu mengangkat topik “Bahasa Malaysia-Indonesia sebagai Bahasa Dunia”.

            Salah satu perkara yang terungkap dalam perbincangan itu adalah keunggulan bahasa Melayu—yang di Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara disebut bahasa Indonesia dan di Malaysia disebut bahasa Malaysia—adalah hati budi dan budi pekerti yang dikandunginya. Keunggulan itu, bahkan, diakui oleh para pakar dan peneliti berkebangsaan asing. Itulah sebabnya, bahasa Melayu telah dianggap oleh bangsa asing—Barat dan Timur—sebagai bahasa dunia atau bahasa internasional sejak zaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Melaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Kesultanan Riau-Lingga, dan kesultanan-kesultanan lainnya di nusantara. Di dalam tulisan ini hati budi dan budi pekerti bahasa Melayu itu saya sebut seri gunung karena ianya merupakan keindahan, keelokan, bahkan kecerdasan yang tersirat di dalam bahasa Melayu.     

Hati, budi, dan bahasa merupakan tiga serangkai di dalam diri manusia yang tak dapat dipisahkan dalam perannya membentuk jati diri seseorang. Hati menjadi tempat bernaungnya budi. Dalam pada itu, bahasa pula mencerminkan kualitas hati dan kehalusan budi. Hati yang terpelihara akan memancarkan budi yang patut dikenang untuk selanjutnya melahirkan bahasa yang menawan. Persebatian hati, budi, dan bahasa yang terbela (terpelihara) membuat jasad—siapa pun yang empunya—rela tertawan tanpa perlawanan. Oleh sebab itu, kalau hati diibaratkan kerajaan, maka budi menjadi tahtanya, dan bahasalah yang menjadi mahkotanya.

Itulah keperkasaan orang perseorangan, yang seyogianya dipupuk dan dibina di dalam diri supaya mampu tampil sebagai sosok seorang bangsawan. Itulah kekuatan magis sebuah bangsa, yang seharusnya diolah sedemikian rupa untuk menjadi perekat persatuan dan kesatuan. Itulah yang sesungguhnya bagi kita menjadi “pakaian” yang paling padu, patut, dan padan—yang kalau ada kenyakinan yang kuat untuk membela (memelihara) dan membéla (memperjuangkan)-nya—dapat menjadi pakaian yang pokta (terelok dan terindah) sehingga menjadi bangsa yang terala (paling mulia) di dunia yang sarat persaingan.

            Raja Ali Haji rahimahullah melalui Gurindam Dua Belas (GDB), Pasal yang Kelima mengingatkan kita tentang kepoktaan dan keteralaan budi bahasa. Pasal yang bertutur tentang akhlak atau budi-pekerti dan disepadusepadankan dengan muamalah itu pada bait 1 langsung menyirami sukma, “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan bahasa.”

            Bangsa yang dimaksudkan itu taklah semata-mata sebatian orang-orang seasal keturunan, seadat-sebudaya, sepengalaman sejarah, dan atau sefaham politik kenegaraan. Jelaslah bangsa itu juga mencakupi konsep keturunan atau kedudukan yang mulia. Perihal budi pula tiada lain dari unsur batiniah yang berupa sebatian akal dan nurani untuk menjelmakan pikiran, perasaan, sikap, sifat, dan perangai-baik yang bersumber dari hati yang terpelihara. Dari situlah teserlahnya bahasa yang memesona, yang tak hanya bernas kandungan isinya, elok cara penuturannya, tetapi juga indah budi bicaranya.

Dalam bahasa populer, dapat dikatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memelihara budi bahasanya. Lebih daripada itu, suatu bangsa akan mampu menjadi besar dan mulia jika bangsa itu menjadikan budi bahasa warisan terala (luhur)-nya sebagai kekuatan jati diri bangsanya. Alhasil, jika hendak nama jadi terbilang dan jati diri jadi terjulang, manusia seyogianya memelihara budi bahasanya.

Amanat GDB Pasal yang Kelima, bait 1, itu mengingatkan kita akan pedoman Ilahi tentang mustahaknya memelihara budi bahasa.

“Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus-terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”(Q.S.An-Nisaa’:148).Selanjutnya, Allah juga berfirman, “Dan, sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur,” (Q.S. Al-Qalam:1).

Firman Allah yang dinukilkan di atas sangat jelas memberi petunjuk tentang pentingnya manusia memelihara budi bahasa. Amanat yang sama juga dikemukakan oleh Rasulullah SAW melalui sabda Baginda. Dari Abu Darda’ r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada sesuatu pun yang melebihi beratnya budi pekerti yang baik dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor,” (H.R. Tirmidzi).

            Setelah itu, GDB membicarakan tanda orang yang berbahagia. Inilah GDB Pasal yang Kelima, bait 2, “Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.” Untuk memahami bait ini, tentulah kita tak boleh bersandar pada ungkapan yang harfiahnya saja.

            Jika kandungan harfiahnya yang diikuti, tentulah seolah-olah orang akan berbahagia jika dia melakukan kerja (memelihara) yang sia-sia yaitu ‘sesuatu yang tak berguna, tak bermanfaat’. Jelaslah yang dimaksudkan oleh bait ini, justeru sebaliknya, orang akan berbahagia jika dia memelihara dirinya agar terhindar dari berbuat yang sia-sia atau melakukan pekerjaan yang tak bermanfaat. Dengan perkataan lain, jika kita ingin berbahagia, janganlah melakukan pekerjaan yang tak berfaedah.

            Pesan bait GDB di atas juga sejalan dengan firman Allah. Dalam hal ini, Allah menuntun manusia supaya menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tak bermanfaat (sia-sia). Inilah di antara firman Ilahi yang dimaksud.

            “Dan, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” (Q.S. Al-Mukminuun:3).

            Perilaku yang ditunjukkan membuat orang lain dapat menilai derajat seseorang. Itu berarti, bukan pangkat, jabatan, harta, atau hal-hal yang berkaitan dengan unsur material lainnya yang menentukan derajat manusia. GDB Pasal yang Kelima, bait 3, menegaskan, “Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.”

            Kelakuanlah yang menentukan kemuliaan seseorang, suatu puak, suatu kaum, suatu kelompok, bahkan suatu bangsa. Perbuatan, perangai, atau tingkah laku itulah yang menjadi indikator mulia atau hinanya manusia. Hidup berpunya, tetapi perangai bakhil, misalnya, tak mencerminkan kemuliaan. Pangkat tinggi dan jabatan bagus, tetapi tak mau membezakan yang halal dan yang haram, umpamanya, bukan contoh yang representatif bagi orang mulia. Paras elok dan potongan ada, tetapi perilaku kasar membuat gusar, contohnya, tak perlu dijadikan pujaan atau idaman karena tak mencerminkan kelas kemuliaan. Orang yang berkelakuan baiklah yang memperoleh anugerah manusia mulia. Kebiasaan memelihara kelakuan yang baik menjadi tanda bagi kemuliaan diri manusia.

            “Sesungguhnya, Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,” (Q.S. An-Nahl:90).

            Ayat di atas menerangkan sebagian kelakuan atau perbuatan baik yang dianjurkan oleh Allah. Sebaliknya, Dia melarang manusia melakukan perbuatan keji sebagai indikator kelakuan yang tak terpuji. Dengan memperhatikan firman Allah itu, jelaslah bahwa GDB Pasal yang Kelima, bait 3, selaras benar pedoman Allah.

            Gelar akademikkah yang menjadi penentu bahwa pemiliknya orang berilmu? Ternyata, bukan. Karena apa? Karena, gelar akademik boleh didapatkan orang dengan pelbagai cara, sama ada sah ataupun haram. Secara sah, berarti pemiliknya memang tamat dari menuntut ilmu di perguruan tinggi sehingga dia berhak atas gelar itu. Sebaliknya secara haram, sekolah tidak, belajar apa lagi, tiba-tiba sederetan gelar akademik berjejer di depan dan di belakang namanya. Salangkan orang yang memang belajar belum tentu berilmu, yang tak belajar apatah lagi?

            Pedoman untuk itu diberikan oleh GDB Pasal yang Kelima, bait 4, “Jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.” Rupanya, tanda orang berilmu itu ialah sepanjang hidupnya dia terus dan terus bertanya tentang fenomena kehidupan ini. Selebihnya, dia pun terus tanpa henti belajar sepanjang hayat. Orang yang berilmu, begitu kira-kira yang ditegaskan GDB, adalah orang yang mencintai ilmu pengetahuan, baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Dia mendasarkan pikiran, perkataan, dan perbuatannya dari ilmu yang dimilikinya.

            Amanat bait GDB di atas juga tak berselisih dengan petunjuk Allah tentang pentingnya bertanya dan belajar untuk menjadi orang yang berilmu. “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui,” (Q.S. Al-Anbiyaa’:7).

            Firman Allah di atas sangat tegas memerintahkan manusia untuk bertanya dan sudah barang tentu juga belajar kepada orang yang berilmu. Berdasarkan petunjuk Allah itulah, GDB memberikan ciri orang yang berilmu, yakni gemar bertanya dan belajar. 

            GDB Pasal yang Kelima diteruskan,“Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.” GDB bait 5 ini mengandungi amanat bahwa dunia bukanlah tempat terakhir bagi makhluk Allah. Manusia dan segala makhluk ciptaan Tuhan sedang berjalan atau berlayar menuju kampung abadi yang menjadi matlamat sesungguhnya, sedangkan dunia hanyalah pulau persinggahan sementara sahaja.

            Dalam perjalanan menuju alam yang kekal itu manusia seyogianya memiliki bekal. Bekal itu harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya di dunia ini untuk kehidupan yang abadi kelak. Itulah gunanya dunia ini, terutama bagi manusia: sebagai tempat mengambil bekal. Untuk itu, diperlukan kecerdasan dengan menggunakan akal. Tentulah tak sebarang kecerdasan dapat digunakan, tetapi kecerdasan religius (ketuhanan) yang mampu memancarkan cahaya keyakinan yang bertimbal keimanan bahwa memang ada kehidupan abadi setelah alam dunia yang serbafana ini.

Manusia yang berusaha mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya itulah yang nyata-nyata memanfaatkan dengan baik akal yang dianugerahkan kepadanya. Bekal yang dimaksudkan tentulah amal shalih sesuai dengan tuntunan agama. Menggunakan akal secara benar dan baik taklah memadai hanya dengan melaksanakan kebajikan, tetapi juga harus menunaikan kewajiban dengan penuh ketaatan yang hanya mengharapkan ridha Allah.

Masih adakah rujukannya di dalam firman Allah tentang amanat GDB Pasal yang Kelima, bait 5, itu? Marilah kita renungkan nukilan berikut ini.

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashash:77).

Anjuran Allah, melalui firman-Nya yang dikutip di atas, adalah supaya manusia mengejar kenikmatan akhirat. Akan tetapi, manusia pun tak perlu menyia-nyiakan kenikmatan dunia. Dengan demikian, beruntunglah orang-orang yang mampu memanfaatkan dunia sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk memperoleh kenikmatan akhirat yang serbaabadi.

            Di manakah kita mengetahui bahwa seseorang berperilaku baik? Atau, bagaimanakah caranya kita mengetahui seseorang berkelakuan baik? GDB Pasal yang Kelima, bait 6, menunjukkan caranya, “Jika hendak mengenal orang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai.”

            Di situlah rupanya tempatnya. Baik-buruk perilaku, tabiat, atau perangai manusia dapat diketahui ketika dia bergaul di dalam masyarakat (bercampur dengan orang ramai). Orang yang baik perangai senantiasa bersikap santun, menghindari perbuatan tercela, dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat di lingkungan masyarakat tempat dia berada. Alangkah ruginya diri jika hidup tak berbudi sehingga banyak orang yang membenci. Jadi, jika hendak dibilangkan nama, memiliki jati diri, baikkanlah perangai sehingga disukai oleh orang ramai.

            “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya, Allah memperhitungankan segala sesuatu,” (Q.S. An-Nisa’:86).

            Melalui firman-Nya yang dipetik di atas, Allah menuntun manusia dalam bergaul dengan sesamanya. Orang yang mampu menghormati dan atau menghargai orang lain dalam pergaulan hidupnya tergolong manusia yang baik perangai menurut GDB. Dengan demikian, GDB Pasal yang Kelima, bait terakhir itu pun memiliki dasar yang kuat dan pasti dalam ajaran Islam.

            Alhasil, elok budi-pekerti yang dipadu dengan halus budi-bahasa seyogianya menjadi kualitas idaman setiap insan makhluk Tuhan. “Sesungguhnya, orang-orang pilihan di antara kamu adalah orang yang paling baik budi-pekertinya,” demikian amanat Rasulullah SAW.

            Sesungguhnya, itulah seri gunung bahasa Melayu. Oleh sebab itu, ianya dikagumi masyarakat dunia sejak dahulu.

Hendak menjulangkan kembali kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa dunia? Kesemuanya terpulanglah kepada kita sebagai pemilik sah bahasa Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, Filipina, Kamboja, dan di mana pun bangsa besar ini berada di serata dunia). Dalam hal ini, ”kita bersungguh-sungguh hendak mencapai matlamat itu atau sekadar bercakap sahaja?” Demikian kalimat penutup saya—yang sengaja saya ”gantung” dengan pertanyaan—dalam acara yang dikemas sangat menarik oleh TV Sinar, Malaysia. Tahniah dan terima kasih Majlis Profesor Negara, Malaysia!*** 

Tinggalkan Balasan