Pemandangan salah satu gudang dan tempat penjemuran gambir milik seorang Tauke Cina di Tanjungpinang pada awal abad 20. (Foto: Aswandi Syahri)

Gambir, yang berasal dari padatan ekstrak daun tanaman gambir (Uncaria gambir), pernah menjadi komoditi dagang yang penting dan sangat menentukan pada zaman Kerajaan Johor berpusat di Negeri Riau, Tanjungpinang, pada abad 18 dan pada fase-fase selanjutnya dalam abad 19 hingga dekade pertama abad yang lalu. Sebagai salah satu komoditi yang penting ketika itu.

Upaya untuk menjadi gambir sebagai koditi yang penting dari Negeri Riau telah dimulai pada tahun 1740, atau enam tahun menjelang berakhirnya masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Daeng Celak. Sebagai sebuah bandar dagang pada ketika itu, Negeri Riau yang juga menjadi ibukota Kerajaan Johor telah berada pada puncak kemakmurannya sebagai bandar dagang untuk pertamakalinya.

“…pada masa inilah Negeri Riau itu ramai serta dengan makmurnya, dan segala dagang dari segala negeri [yang] jauh-jauh pun datang lahDan apalagi di Sungai Riau, segala perahu-perahu rantau [yang datang dari luar Negeri Riau] seperti bercocok ikan lah ;banyaknya], bersambung berpendarat…”  ungkap Raja Ali Haji ketika melukiskan kemakmuran Negeri Riau pada zaman bahari, atau pada zaman dahulunya yang gilang gemilang, yaitu pada masa-masa pemerintahan  Daeng Celak (1729-1746), sebagai tertulis dalam kitab Tuhfat al-Nafis yang dirampungkannya  tahun 1867. Ketika itu, kapal-kapal, perahu dagang besar dan kecil dari berbagai jenisnya, seperti Selub, Senat, Wangkang, dan perahu Tob dari Negeri Siam ramai berlabuh di Kuala Riau dan di Sungai Riau.

Pada masa-masa puncak kemakmuran pada zaman ini lah Yang Dipertuan Muda Riau  Upu Daeng Celak memutuskan untuk menanam dan mengembangkan komoditi gambir di Negeri Riau. Maka,  diutus lah Punggawa Tarum dan Penghulu Cendun untuk menjemput benih gambir ke Pulau Sumatra pada tahun 1740 itu juga.

Keputusan untuk mengembangkan tanaman gambir ini telah membawa dampak jangka panjang (longe-dure) dalam sejarah  perdagangan dan perekonomian Negeri Riau sebagai pusat pemerintahan kerajaan Johor yang baru pada abad 18. Dampak yang menguntungan ini terus berlanjut hingga masa-masa sesudahnya yang ditandai dengan luasnya sebaran kebun dan bangsal-bangsal gambir di Pulau Bintan dan  Pulau Batam.

Titah Yang Dipertuan Muda Daeng Celak kepada Punggawa Tarum dan Penghulu Cendun pada tahun 1740 itu adalah sebuah titik balik sejarah, atau historical watershed, yang telah memungkinkan fungsi dan arti penting gambir berkembang lebih jauh; dari sekedar “pelengkap” yang digunakan secubit atau sedikit saja dalam tradisi makan sirih di kalangan orang Melayu dan Bugis di Negeri Riau, gambir telah berkembangan menjadi komoditi yang perdagangan.

“…Maka bertanam gambir lah segala Bugis-Bugis dan Melayu-Melayu. Maka membuat lah orang Melayu dan Bugis beberapa ratus ladang gambir. Adalah kuli-kulinya yang [me]masak [gambir] itu, segala Cina-Cina yag datang dari Negeri Cina…”, tulis Raja Ali Haji dalam kitab Tuhfat al-Nafis.

Ketika ikhtiar pengembangan komoditi gambir itu menampakkan hasilnya, tambah semakin ramai pula perahu-perahu dagang dari Tanah Jawa dan Tanah Bugis di labuhan Negeri Riau mengincar gambir Riau yang terkenal kualitasnya dan juga menjadi komoditi penting di Tanah Jawa.

Sejarawan Carl A. Trocki dalam Prince of Pirates The Temenggong and the Developmen of Johor and Singapor 1784-1885 (2007:33) menjelaskan bahwa pencapaian itu tidak berdiri sendiri: jaringan perdagangan, kuli-kuli Cina, dan kepemimpin Yamtuan Muda Riau ketika itu, telah memungkin Negeri Riau menjadi pelabuhan penyalur komoditi dagang (entrepot: sebuah pelabuhan pusat perdagangan sekaligus menjadi tempat barang dagangan dipindah muatkan, transshipment, dan dikemas ulang, repacking) yang berkembang dan maju.

Dalam siatuasi seperti itu lah itu gambir di Negeri Riau menjadi komoditi penting yang memastikan kemakmuran negeri serta menjadi indikator ketersedian berbagai komodi lainnya di sebuah pelabuhan penyalur (entrepot) seperti pelabuhan Negeri Riau. Mengapa demikian? Karena di Negeri Riau ketika itu “…berpalu lah dagangan tanah Jawa dengan gambir, makin suka lah segala dagang-dagang yang] masuk [ke Negeri] Riau itu…Pulang perginya untung banyak…” tulis Raja Ali Haji dalam kita Tuhfat al-Nafis.

Walaupun dalam perjalanannya penanaman gambir telah membawa “dampak lingkungan” yang juga luar biasa, namun demikian, menurut Freek Colombijn dalam artikelnya yang berjudul Een milieu-effect rapportage van de gambircultuur in de Riau-archipel in de negentiende eeuw (1997), gambir adalah sandaran ekonomi dan sumber kemakmurannya Kerajaan Johor yang baru di Riau pada abad 18 hingga pertengan abad 19. Gambir adalah “benih” perekomian yang disemai pada zaman pemerintahan Daeng Celak dan terus menghasilkan keuntungan berlipat ganda ketika menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Haji.

Lebih jauh tentang dampak ekonomi penanaman gambir itu, digambarkan oleh Raja Ali Haji dalam kitab Tuhfat al-Nafis sebagai berikut, “…maka ramai lah negeri Riau karena segala dagang-dagang berpalu-palu dagangannya itu dengan gambir…Syahdan maka baginda Sultan Sulaiman serta, Yang Dipertuam Muda ,serta Raja Indra Bungsu, serta orang besar sekalian pun banyak lah beroleh hasil dari daripada cukai-cukai dan labuh batu…maka banyak lah orang-orang negeri [Riau] yang kaya-kaya…

Bagaimanapun, zaman bahari (masa yang gilang-gemilang) komoditi gambir di tangan orang-orang Melayu dan  Bugis di Negri Riau, hanya berlangsung lima puluh tujuh tahun saja. Semuanya perlahan-lahan beralih ke tangan orang-orang Cina kuli pemasak gambir yang ditinggalkan Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang  hijrah bersama  orang Melayu dan Bugis menggunakan empat ratus buah perahu ke Lingga dan Pahang menyusul keberhasilan mengusir VOC-Belanda dari Tanjungpinang atas bantuan orang-orang Ilanun dari Tempasok pada tahun 1787.

David Ruhde, Resident VOC-Belanda di Riau waktu itu, mencatat ada 5000 orang Cina  kuli pemasak gambir yang ditinggalkan oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah di Negeri Riau. Mereka terdiri dari 4000 orang Cina Canton (Guangxhou) dan 1000 orang yang datang dari wilayah Amoy (Xianmen di Provinsi Fujian). Mereka tetap bertahan, dan “mengambil alih” ladang-ladang gambir yang ditinggalkan oleh orang Melayu dan Bugis. Selanjutnya, gelombang kedua kuli-kuli Cina pemasak gambir itu berbondong-bondong datang ke Negeri Riau,  dan perlahan-lahan kemakmuran Negeri Riau karena komoditi gambir kembali mengemuka.

Di tangan orang-orang Cina, kejayaan gambir Riau memasuki fase keduanya setelah tahun 1835, ketika gambir menjadi salah satu komoditi perdagangan dunia menyusul penggunaannya secara besar-besaran dalam industri penyamakan kulit dan obat-obatan di Eropa.  Dengan kata lain, gambir kembali menjadi salah satu sumber padapatan Kerajan Lingga-Riau. Hal ini dikarenakan otoritas izin pembukaan kebun gambir, bangsa-bangsal gambir serta cukai perdagangannya tetap berada di tangan Yang Dipertuan Muda Riau di Pulau Penyengat sebagai perpanjangan tangan Sultan yang berkedudukan di Daik-Lingga.

Satu hal yang penting, pada fase kedua ini, adalah tampilnya kota Tanjungpinang sebagai pelabuhan pengekspor gambir dunia yang terpenting dengan kualitas yang tebaik di Hindia Belanda sejak pertengahan abad ke-19 hingga dekade ketiga abad ke-20. Dalam sebuah publikasinya  yang berjudul Bescrijving van een Gedeelte der Residentie Riouw (1854), Elisa Netscher, mencatat bahwasanya gambir prododuksi bangsal-bangsal gambir di pedalamam Pulau Bintan dikirim dalam jumlah yang besar ke gudang-gudang Tauke gambir di Tanjungpinang menggunakan perahu-perahu yang disebut Pukat Gambir.

Kini, kejayaan penanaman dan perdagangan gambir di Tanjungpinang hanya tinggal kenangan, dan hanya menyisakan sepotong nama jalan. Pada masa jayanya sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20, jalan tersebut dinamai Gambirweg dalam bahasa Belanda. Setelah kita merdeka, nama itu bertukar ganti dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, Jl. Gambir. Dulu, di sisi kiri jalan ini berbaris rumah-rumah indah dan kantor-kantor tauke-tauke kaya pengusaha kebun dan perdagangan gambir di Tanjungpinang. Selain dilengkapi dengan gudang-gudang gambir yang menjorok hingga hingga ke laut, kompleks kediaman dan kantor tauke-tauke gambir ini juga dilengkapi dengan kolam taman, lengkap dengan rumah peranginan yang indah-indah.

Di Tanjungpinang, masa kejayaan gambir tidak hanya ditandai dengan mewahnya kehidupan para tauke di Gambirweg. Ketika itu, mereka juga pemilik dan pengguna moda transportasi “mewah” asal Jepang yang disebut rickshaw (jin-rick-shaw),  dan kuda yang baru.

Sebagaimana dicatat dalam arsip Politiek Verslag (Laporan Politik) Residentie Riouw tahun 1860, masa-masa kejayaan produksi dan perdagangan gambir itu juga membawa kemakmuran baru di Tanjungpinang. Semua itu jelas terlihat pada jalan yang beraspal, rumah-rumah yang diperbaiki dan diperindah, serta kelenteng masyarakat Tionghoa yang dihiasi dengan indah. Dan yang paling penting, wangkang-wangkang lebih banyak yang berlayar keluar masuk Labuhan Riau di Tanjungpinang membawa barang dagangan.

Kini, zaman bahari bagi gambir atau masa lalu yang gilang-gemilang karena jayanya pedagangan gambir itu hanya menyisakan “secubit” sejarah di Jl. Gambir: Hanya  segelintir orang-orag tua yang masih menyimpan dalam ingatan mereka nama para tauke kaya pengusaha gambir yang dulu sangat terkenal, seperti: Lim Sam Pheng, Pek Te Wee, Hiap Chin, dan Chua Tek Oei.***

Artikel SebelumZapin Melayu
Artikel BerikutBENTENG TANAH DI PULAU LINGGA
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan