ARKIAN pada suatu hari Sultan Duri (nama samaran Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk), penguasa Kerajaan Barham, berkunjung ke istana Jamaluddin, mantan Sultan Barham. Setelah keduanya bertemu, Sultan Duri menyampaikan maksud kedatangannya.

            “Kakanda, maksud kedatangan adinda ini untuk meminta pertimbangan dan nasihat Kakanda,” kata Sultan Duri seraya memandang abang iparnya yang bijaksana itu.

            “Pertimbangan dan nasihat apakah gerangan yang Adinda perlukan?” tanya Jamaluddin agak heran.

            “Adinda bermaksud hendak membebaskan Kerajaan Barbari dari penjajahan Kerajaan Hindustan. Adinda hendak menyerang negeri penjajah itu. Hanya dengan cara itu Negeri Barbari, para pemimpinnya yang ditawan dan disiksa di dipenjara, serta rakyat sekaliannya dapat bebas dari tekanan Kerajaan Hindustan. Bagaimanakah bicara Kakanda?”

            “Kalau memang itu keputusan Adinda, tak mungkin Kakanda melarangnya,” jawab Jamaluddin walau hatinya agak khawatir, “niat Adinda Sultan sangat mulia hendak menolong kerajaan sahabat dan jiran kita. Kakanda pun bersedia membantu semampu-mampunya kakanda. Mungkin ini memang hidayah dari Allah kepada Adinda dan semoga inayah-Nya juga akan menyertai. Walaupun, kakanda sangat maklum Negeri Hindustan itu kerajaan besar, tak sedikit negeri takluknya, dan tentaranya banyak pula. Salangkan Kerajaan Barbari yang masyhur dapat dikalahkannya. Tetapi, mungkin memang Allah telah menakdirkan Adinda harus membebaskan Negeri Barbari dari pendudukan Kerajaan Hindustan. Marilah kita bersama-sama berdoa semoga niat baik dan perjuangan Adinda dikabulkan Allah,” panjang-lebar Jamaluddin memberikan pertimbangannya kepada adik iparnya yang perkasa dan sangat dibanggakannya itu.

            Selanjutnya, Raja Ali Haji rahimahullah meneruskan kisahnya di dalam Syair Abdul Muluk, bait 1.257.

Di dalam kata kakanda demikian
Apa-apa juga perintah Tuan
Kakanda menurut juga sekalian
Sekali-kali tidak kakanda bantahkan

Walaupun Kerajaan Hindustan adalah negeri besar, kuat, dan banyak negeri taklukannya, Jamaluddin tak menghalangi Sultan Duri untuk memeranginya. Padahal,  dia agak khawatir penerus tahta Kerajaan Barham dan adik iparnya itu akan mengalami kekalahan. Kesemuanya itu dia ikhlaskan karena motivasi Sultan Duri untuk membantu negeri dan rakyat yang tertindas oleh bangsa lain. Memang, hanya setakat itu saja yang diketahui oleh Jamaluddin sekeluarga tentang latar belakang adik iparnya itu.

             Dalam pada itu, Siti Rafiah (jati diri sebenarnya Sultan Duri, yang belum diketahui oleh Jamaluddin sekeluarga) berasa wajib memerangi Kerajaan Hindustan karena negerinya (Kerajaan Barbari) telah diserang secara biadab dan kemudian dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Bersamaan dengan itu, suaminya (Sultan Abdul Muluk), para menteri, dan hulubalang yang masih hidup dipenjara disertai siksaan fisik setiap hari. Sejak melarikan diri dari istana Kerajaan Barbari, memang motivasi utama Siti Rafiah adalah memerdekakan kembali negerinya setelah dia berhasil menghimpun kekuatan di luar negeri. Sekarang dia berasa kekuatan yang dimilikinya telah memadai dan sudah saatnya sumpah setianya kepada negerinya ditunaikannya.

            Di atas semua pertimbangan duniawi itu, ajaran Allah-lah yang menjadi motivasi utamanya untuk menunaikan bakti. Dalam hal ini, dia wajib mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agamanya sekaligus mengikuti petunjuk Allah.

            “Dan, perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,”(Q.S. Al-Baqarah, 190).

            Siti Rafiah berasa berkewajiban menegakkan ajaran agamanya sesuai dengan firman Allah di atas. Bersamaan dengan itu, dia hanya mau menjadi pemimpin yang mengikuti petunjuk Allah. Memang, pemimpin kelas utama senantiasa mendasarkan darmabaktinya pada kesetiaan terhadap ajaran agamanya sekaligus menaati perintah Tuhannya.

            Sikap dan pilihan kepemimpinan yang diambil oleh Siti Rafiah, walaupun konsekuensinya mungkin saja dia syahid di medan juang, ternyata termaktub di dalam Tsamarat al-Muhimmah. Pedomannya seyogianya memang diterapkan oleh para pemimpin yang berkelas wira sejati.  

 “Bermula makna raja itu jika dikata raja itu dengan makna khalifah yaitu Khalifah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pada mendirikan Islam dan menghukumkan akan segala hamba Allah dengan hukuman Quran dan hadits dan ijma,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

            Seperti itulah sikap dan watak kepemimpinan yang dipilih oleh Sultan Duri. Dia sedikit pun tak rela jika kepemimpinannya menyimpang dari ajaran Al-Quran, hadits, dan ijma ulama. Pasalnya, dia yakin seyakin-yakinnya bahwa nilai-nilai itulah yang menjadi pedoman kebenaran kepemimpinan yang sebenarnya karena berasal dari Allah dan Rasul pilihan-Nya.

Siti Rafiah tak rela bangsanya dipimpin oleh pemimpin yang mabuk kuasa seperti Sultan Syihabuddin dari Negeri Hindustan. Watak, sikap, dan perilakunya yang menjajah negeri orang tak boleh dibiarkan. Syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 67 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) menggambarkan watak pemimpin yang serakah dan mabuk kuasa itu.

Setengah yang kurang akal dan bahasa
Tingkah dan laku bagai raksasa
Syarak dan adat kurang periksa
Seperti harimau mengejar rusa

Di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 1, pemimpin kelas rendah itu digolongkan sebagai pemimpin yang tiada boleh dibilangkan nama. Dengan kata lain, namanya tak mendapat tempat dalam senarai pemimpin yang patut dikenang karena ketauladanan kepemimpinan. Pasalnya, dia enggan dan memang sengaja melanggar ketentuan agama dalam penyelenggaraan pemerintahannya.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Padahal, bangsa-bangsa yang beradab dan bertamadun tinggi mendambakan pemimpinnya menerapkan nilai-nilai religius sebagai dasar utama kepemimpinan. Pemimpin seperti itu tergolong yang menolong agama Allah, yang pada gilirannya Allah pun akan menganugerahkan-Nya inayah sehingga negeri yang dipimpinnya terhindar dari malapetaka dan marabahaya.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (Q.S. Muhammad, 7).

Firman Allah di atas merupakan janji-Nya kepada orang-orang yang beriman. Tentu, diharapkan juga kepada para pemimpin. Bahkan, Allah menegaskan lagi jaminan-Nya jika para pemimpin bersedia menegakkan nilai-nilai ajaran agama-Nya dalam kepemimpinan.

“Dan, penuhilah janjimu kepada-Ku, nescaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu,” (Q.S. Al-Baqarah, 40).

Tak akan pernah ada negeri yang tertimpa bala jika pemimpin dan rakyatnya memenuhi janji mereka kepada Allah. Jika sebaliknya yang terjadi, bermakna tinggal menunggu giliran dan waktu untuk menerima padah (akibat yang buruk). Kesemuanya memang telah menjadi janji manusia kepada Allah sehingga Dia Yang Mahakuasa yang segala kekuasaan dan kekuatan sesungguhnya di dalam genggaman-Nya tinggal mengeksekusinya saja: baik atau buruk.

Dari Abu Darda’ r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, orang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah SWT) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan,” (H.R. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Kenyataan itulah yang sungguh-sungguh diyakini oleh Siti Rafiah walaupun dia perempuan yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki, selama dalam pelarian. Dia berjuang berdasarkan nilai-nilai agung yang memang diajarkan oleh Allah, tempat dia memohon segala pertolongan. Dengan begitu, hatinya telah mantap dan tiada keraguan sedikit jua untuk menghadapi Kerajaan Hindustan.

Kesemuanya itu ditempatkannya sebagai kewajiban, yang tak sekadar untuk membela negerinya yang tertawan. Akan tetapi, lebih-lebih tugas itu menjadi tanggung jawab utamanya sebagai pemimpin kepada Tuhan. Niatnya telah terpasang sehingga tak perlu ragu walaupun jiwanya harus terkorban. Hidup hina menjadi bangsa jajahan harus dilawan dengan bersandarkan sepenuhnya kepada petunjuk dan inayah Tuhan.

Bagi Sultan Duri, dia tak rela menjadi pemimpin yang dibinasakan oleh Allah karena kesombongan diri. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa keberhasilannya menghimpun kekuatan untuk memerdekakan negerinya semata-mata karena ridha Ilahi. Dia tak hendak menjadi pemimpin yang mengundang bala seperti yang dinukilkan oleh Tsamarat al-Muhimmah berikut ini.

“Maka, dilakukan oleh Allah Taala adat hal mereka itu memerintahkan segala hamba Allah yang am, tiada hirau mereka itu akan raja-raja dan orang kaya-kaya dan orang yang gagah berani. Maka, barang siapa daripada raja atau orang kaya-kaya atau orang yang gagah berani mengerintangi dan melawan takabur atas segala anbia dan aulianya dan ulama al-amilin, maka datanglah murka Allah Taala atas mereka itu. Ada kalanya dengan tunai atau dengan bertangguh seperti kebanyakan hikayat yang dahulu-dahulu, beberapa kaum dibinasakan oleh Allah Taala….” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Itulah kualitas kepemimpinan Sultan Duri atau Siti Rafiah. Dia adalah tipe pemimpin yang secara ikhlas tunduk dan patuh terhadap perintah dan petunjuk Allah. Dengan begitu, dia berharap kepemimpinannya akan senantiasa beroleh berkah.

Para pemimpin kelas utama seperti Siti Rafiah memang sangat meyakini nilai-nilai kebenaran syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 67 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013). Nilai-nilai itu senantiasa dijadikannya sebagai suluh sehingga negerinya tak perlu hancur dan lagi luluh.

Hendaklah anakanda mengaji selalu
Dari yang lain lebihkan dulu
Had syarak jangan dilalu
Tidaklah anakanda beroleh malu

Bukankah Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 3, juga telah menjamin akan kepemimpinan yang bersandarkan petunjuk Allah? Oleh sebab itu, jika itu menjadi pilihan nilai kepemimpinan, tak ada alasan untuk berhati gundah. Pasalnya, dia akan terhindar dari sikap dan perbuatan kepemimpinan yang mengundang padah.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Bagi rakyat, pemimpin seperti itu memang sangat didambakan karena dia telah mewakafkan dirinya untuk menjadi penolong. Pada gilirannya, pemimpin berkelas utama seperti itulah yang harus disokong.

“Dan, orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (Q.S. At-Taubah, 71).

            Memang istimewa pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya sejalan dengan penegakan nilai-nilai agama Allah. Dia terjamin karena tak pernah berani melawan petunjuk Allah. Lagi pula, jika matlamat kejayaan sejati yang hendak dicapai, cara satu-satunya yang harus dilakukan adalah taat-setia kepada Allah. Dari situlah mengalirnya segala berkah dan faedah.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang durhaka terhadapku, maka dia telah durhaka terhadap Allah,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, Siti Rafiah atau Sultan Duri—dengan strategi dan taktik yang luar biasa hebatnya—berjaya mengalahkan Kerajaan Hindustan, yang konon negeri besar dan kuat yang tak mungkin kalah. Dia mampu memerdekakan negerinya, membebaskan para pemimpin negerinya, dan membahagiakan rakyatnya karena dapat hidup di alam merdeka kembali seperti dahulu, sebelum kedatangan bangsa penjajah.

Banggakah perempuan jelita, yang bertahun-tahun memendam kesedihannya karena harus menyamarkan diri menjadi lelaki perkasa, itu dengan semua capaian gemilangnya yang telah teserlah? Matlamatnya telah tercapai melalui perjuangan yang tak mengenal lelah. Sebagai manusia, mungkin dia berbangga, atau lebih tepatnya berbahagia, atas segala hasil jerih payah. Akan tetapi, di atas kesemuanya itu dia semakin tunduk terhadap Allah. Begitulah anggunnya watak dan sikap kepemimpinan seorang Siti Rafiah.

Di bawah kepemimpinan terbilang seperti itulah setiap negeri akan beroleh berkah. Bukan pemimpin yang tampilan depannya terlihat elok tanpa sebarang noktah, tetapi di belakang ternyata berpaling tadah. Itulah pemimpin yang tak mampu mengaji pedoman Allah.***

Tinggalkan Balasan