Gunung Daik, ikon Kabupaten Lingga

Oleh : Khairunnas Jamal dan Idris Harun
UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Email: irunjamal@yahoo.com

Pendahuluan

Lingga adalah nama sebuah pulau sekaligus nama sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Lingga pada masa kejayaannya pernah menjadi pusat kerajaan besar Melayu dengan nama Kerajaan Lingga, yang sangat tersohor di kawasan Asia Pasifik (Indra Purnama, 2010: 84). Sebagai sebuah bekas kerajaan Melayu pada masanya, Lingga telah meninggalkan berbagai peninggalan, baik dari segi budaya, intelektual, dan situs-situs penting yang menunjukkan kebesaran kerajaan ini pada masanya.

Hampir sama dengan kerajaan Melayu lainnya, kerajaan Lingga mengembangkan tradisi tulis menulis yang sangat baik, untuk kepentingan transmisi pengetahuan, baik dalam bidang sastra, keagamaan (Islam, maupun budaya. Tokoh-tokoh intelektual tersebut nyatanya telah meninggalkan karya-karya intelektual mereka dalam bentuk naskah, yang tentunya sangat berharga bagi generasi sesudahnya. Budaya naskah yang dikembangkan pada masa itu terkait dengan aksara Arab. Artinya, karya-karya intelektual tersebut ditulis dengan menggunakan tulisan arab Melayu, sehingga pada akhirnya terjadi masa transformasi ke aksara Eropa (Day dan Foulcher, 2008: 78).

Sebagian naskah tersebut telah ditemukan kemudian menjadi objek kajian para ilmuwan di zaman ini. Hasil kajian tersebut memberikan sumbangan yang sangat berharga untuk memperkaya serta memperkokoh jati diri masyarakat Melayu, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau pada masa kini. Di lain pihak, masih banyak naskah-naskah yang masih tersimpan di berbagai tempat sehingga perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk mengungkapkan keberadaannya.

Banyak teori yang menjelaskan tentang jumlah naskah Melayu yang pernah ada. Menurut Ismail Husin terdapat 5000 naskah Melayu yang pernah ada. Sedangkan menurut Chambert Loir ada 4000 naskah. Dan menurut Russel Jons lebih dari 10.000 naskah pernah ditulis oleh penulis Melayu pada zaman keemasannya (www.kompas.com). Naskah-naskah tersebut dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Ia akan bertambah bila ditemukan naskah-naskah baru yang masih tersimpan, dan berkurang bila mana naskah yang ada mengalami kerusakan karena tidak mendapatkan perawatan yang baik.

Pada saat ini usaha menemukan dan menyelamatkan naskah-naskah tersebut menghadapi tantangan yang sangat berat. Yang sangat dikhawatirkan adalah ada sebagian naskah yang diperjualbelikan kepada pihak ketiga dengan nilai yang tidak begitu tinggi. Naskah-naskah tersebut kemudian dibawa ke luar negeri, sebut saja Malaysia, yang pada akhirnya diklaim sebagai hasil karya negara lain. Padahal naskah-naskah yang sangat berharga tersebut adalah hasil karya masyarakat Melayu Lingga yang pernah jaya di masa lampau. Bahkan menurut tokoh Melayu, Tennas Efendi (wawancara, September 2012), ada di antara naskah klasik tersebut yang dibawa ke Belanda dan dikaji secara mendalam di negeri kincir tersebut.

Selain diperjualbelikan ke negara lain, naskah-naskah klasik tersebut juga masih banyak yang tersimpan pada masyarakat. Hal ini tentu akan menyebabkan naskah-naskah tersebut akan rusak dan luput dari kajian-kajian yang mendalam untuk menyingkap kekayaan khazanah yang dimilikinya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya yang sungguhsungguh untuk mengetahui keberadaan naskah-naskah tersebut melalui sebuah penelitian, sehingga pada akhirnya naskahnaskah klasik tersebut dapat diinventarisasi dan diidentifikasi dengan baik.

Bila langkah ini terus dilakukan, maka naskah yang sangat berharga itu pun dapat diselamatkan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Selanjutnya dapat dikaji secara mendalam untuk memperkaya khazanah peradaban masyarakat Melayu pada masa kini maupun yang akan datang.

Usaha menginventarisasi dan mengidentifikasi naskah demi penyelamatan naskah-naskah ini, tidak dapat dilepaskan dari filosofi Pembangunan Daerah Provinsi Kepulauan Riau yang mengacu kepada nilai-nilai luhur kebudayaan Melayu sebagai kawasan budaya yang telah menjadi jati diri masyarakatnya. Hal ini dituangkan di dalam sebuah visi, yaitu terwujudnya Kepulauan Riau sebagai bunda tanah Melayu yang sejahtera, berakhlak mulia dan ramah lingkungan (www.kepriprov.go.id.).

Eksistensi Kabupaten Lingga

Kabupaten Lingga adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang dibentuk berdasarkan surat keputusan DPRD Provinsi Riau no. 08/KPTS/ DPRD/2002 tanggal 30 Juli 2002 (Supardi Haliman, 2007: 43). Kabupaten ini terbentuk setelah turunnya Undang-undang dasar Republik Indonesia no 31 tahunKabupaten ini memiliki luas daratan sejauh 2.117,7 Km2. Sedangkan luas lautannya adalah 38.992 Km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebanyak 85.150 jiwa (Edi Songo, 2006:166). Kabupaten ini di sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Batam. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Bangka dan selat Bangka. Sebelah Barat dengan laut Indragiri. Sedangkan bagian Timur berbatasan dengan laut Cina Selatan. Pembentukan Kabupaten Lingga tidak lepas dari terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau yang “memisahkan” diri dari Provinsi Riau. Sebelum menjadi Provinsi, Kepri merupakan sebuah Kabupaten otonom.

Untuk mengejar ketertinggalan dari kabupaten-kabupaten lain, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau, dan di Indonesia pada umumnya, maka Kabupaten Lingga berupaya untuk melakukan berbagai hal, antara lain menyusun visi dan misi Kabupaten yang menjadi arah pembangunan Kabupaten Lingga ke depan. Visi dan misi ini diharapkan dapat menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu membangun Kabupaten Lingga.

Daik Lingga sebagai sebuah Kabupaten didiami oleh berbagai suku yang berasal dari berbagai pelosok di Indonesia. Bukti keragaman suku yang berkembang dari pulau ini adalah terlihat dari nama-nama kampung yang mengacu kepada nama suku yang mendiaminya.

Di antara nama-nama kampung tersebut adalah kampung Keling, kampung Cina, kampung Bugis, bahkan keturunan suku-suku tersebut masih dapat ditemukan hingga saat ini. Selain daripada beberapa suku utama tersebut di Daik Lingga hari ini pun telah didiami oleh suku-suku lainnya yang sengaja datang dari berbagai pulau di Indonesia untuk mencari penghidupan baru yang lebih baik.

Kedatangan saudara sebangsa ini tentunya sangat menguntungkan, karena akan menambah jumlah penduduk dan akan membuka pertumbuhan ekonomi baru yang akan menguntungkan masyarakat. Suku-suku yang mulai berdatangan tersebut antara lain suku Jawa dan suku Batak. Ini artinya masyarakat Lingga adalah masyarakat majemuk. Di dalam masyarakat tersebut disadari atau tidak mereka telah mengembangkan suatu budaya yang dapat diterima oleh semua pihak.

Masyarakat Melayu Lingga mempunyai gelar sesuai dengan keturunan mereka. Jika orang itu Melayu, maka gelar mereka adalah Tengku. Sedangkan jika gelar tersebut adalah Raja, maka mereka adalah keturunan Melayu-Bugis. Sedangkan jika mereka adalah keturunan Melayu-Arab, maka gelar mereka adalah said bagi laki-laki dan syarifah bagi perempuan.

Kerajaan Lingga

Lingga adalah nama sebuah pulau yang kemudian dijadikan nama Kabupaten dengan ibukotanya Daik. sebutan kedua nama tersebut telah menyatu sehingga orang sering menyebut nama daerah ini dengan sebutan Daik Lingga.

Daerah Riau Lingga tidak dapat dipisahkan dari dinamika selat Melaka sebagai jalur laut yang menghubungkan daerah semenanjung Melayu dengan wilayah nusantara dan samudera Indonesia dengan laut Cina Selatan. Peranan selat Melaka ini sudah lama berlangsung sebelum ditemukannya Melaka sebagai pusat perniagaan di Asia Tenggara. Bahkan dalam perkembangan dunia perniagaan, selat Melaka bisa dianggap sebagai jantungnya dunia dan hatinya lautan (Sutamat Ariwibowo, 2008: 149).

Kesultanan atau Kerajaan Lingga adalah Kerajaan Islam yang terdapat di Kepulauan Lingga, Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan Lingga termasuk dalam salah satu tujuan perjalanan Muhammad Cheng Ho dan menjadi tempat persinggahannya. Oleh Cheng Ho, kepulauan ini diberi nama pintu gigi naga. Hal ini disebabkan karena terdapatnya dua gunung yang saling berhadapan seperti gigi naga (Kong: 143).

Daerah Riau Lingga pada awalnya merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Melaka. Setelah lepas dari Kesultanan Melaka, kerajaan ini kemudian berada dalam pengaruh dan kekuasaan Kesultanan Johor Riau (Deni Prasetyo,2009: 110). Roda pemerintahan kerajaan lebih banyak dijalankan oleh Yang Dipertuan Muda Daeng Marewa, Semenjak Sultan memegang kekuasaan Kesultanan Johor Riau. Dominasi Yang Dipertuan Muda ini sangat dirasakan oleh masyarakat dan para bangsawan Melayu. Akibatnya mulai tumbuh benih-benih konflik di antara kalangan kesultanan. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk menjalin kerjasama dengan Sultan Sulaiman dengan cara membantu sultan untuk mendapatkan keuntungan dan perluasan daerah jajahan bagi Belanda.

Pusat Pemerintahan pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman mengalami perpindahan dari Johor ke Riau (Bintan) sehingga Johor dipercayakan dipimpin oleh keturunan Raja Kamarian dan Daeng Parani. Pada tahun 1759 Sultan Sulaiman meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Melayu Tanjung Pinang. Sultan Sulaiman digantikan oleh putranya Abdul Jalil dan putranya Ahmad (Deni Prasetyo, 2009: 110).

Kekuasaan Sultan Ahmad tidak berlangsung lama karena pada tahun 1761 ia dibunuh oleh orang Bugis yang tidak mendukungnya sebagai penguasa Kesultanan Riau. Kemudian sebagai pengganti diangkatlah Tengku Mahmud, cucu Sultan Sulaiman, yang masih kanakkanak dengan gelar Sultan Mahmud Riayat Syah pada tahun 1761 berkedudukan di Riau. Sultan Mahmud memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Riau ke Lingga (Daik) pada tahun 1787 dengan membangun istana, pasar, masjid, dan benteng kota berupa parit yang mengelilingi kota.

Sultan Mahmud III telah membangunLingga dan selama 25 tahun telah dapat membenahi ibukota serta melengkapi segala fasilitasnya. Dalam situasi sulit dan selalu mendapat tekanan dari Kerajaan Belanda, beliau telah berhasil meletakkan landasan untuk kelanjutan pemerintahan berikutnya.

Kesultanan Riau Lingga mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga sekarang menjadi bahasa Indonesia. Pada masa jayanya kerajaan Lingga, bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasabahasa besar dunia lainnya yang kaya akan susastra dan memiliki kamus bahasa. Perkembangan ini terjadi berkat usaha Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan Melayu keturunan Melayu Bugis (Amir Hendarsyah: 77). Raja Ali Haji pernah berdiam dalam waktu beberapa lama di Kerajaan Riau Lingga dan menjadi pengawas urusan hukum serta penasehat kerajaan (Tim Penulis, 2000: 116).

Untuk menopang budaya bahasa yang tinggi dan tradisi penyebaran ilmu dan sastra kerajaan, maka kerajaan membangun rumah cap kerajaan. Rumah cap kerajaan adalah sebuah perusahaan percetakan yang resmi didirikan pada tahun 1850 s/d 1890 di Pulau Lingga (A.Wahab Ali, 2012: 84). Percetakan ini menghasilkan surat kabar yang menggunakan cetakan litograf dengan tulisan Arab Jawi dan Rumi.

Untuk meningkatkan penyebaran ilmu pengetahuan, maka segolongan cendekiawan juga membentuk klub cendikiawan yang bernama rusydiyah. Anggota klub ini menulis berbagai karya ilmiah, baik yang berasal dari ide dan karya sendiri maupun terjemahan dari bahasa asing (A. Wahab Ali, 2012: 84). Kebanyakan buku-buku yang diterjemahkan berasal dari bahasa Arab dan berkaitan dengan persoalan-persoalan keagamaan.

Naskah Klasik Peninggalan Kerajaan Lingga

Kerajaan Lingga sangat kaya dengan karya-karya intelektual. Hal ini disebabkan hidupnya suasana keilmuan masyarakat dan adanya fasilitas-fasilitas yang disediakan kerajaan untuk mendukung minat masyarakat tersebut. Fasilitas kerajaan antara lain adanya percetakan yang dimiliki oleh kerajaan untuk mencetak buku dan arsip-arsip milik kerajaan Lingga. Selain itu, banyak di antara anggota masyarakat kerajaan berlomba untuk menulis berbagai buku dalam berbagai bidang, terutama bidang agama Islam, baik untuk kalangan diri sendiri maupun untuk pengajaran. Sampai saat ini sudah ada puluhan naskah yang tersimpan di museum Lingga, baik berupa catatan di daun, buku, dan lain sebagainya. Dan puluhan naskah, atau bahkan ratusan naskah masih berada di tangan anggota masyarakat yang harus diselamatkan dan dikaji isinya yang sangat berharga.

Dalam survei lapangan yang penulis lakukan, keberadaan naskah di bekas wilayah Kerajaan Lingga setidak-tidaknya terdapat pada empat titik.

1.Masjid Raya Pulau Penyengat

Masjid Raya Pulau Penyengat adalah masjid yang cukup tua dan masih terjaga keutuhannya hingga sekarang. Masjid yang terdapat di Pulau Penyengat ini merupakan bagian dari Kerajaan Lingga. Di pulau inilah administrasi Kerajaan Lingga pada masa lalu dijalankan. Di dalam Masjid ini terdapat naskah-naskah lama yang lebih banyak berkaitan dengan kajiankajian keislaman. Naskah yang ada berupa al-Qur’an tulis tangan yang telah berusia ratusan tahun. Selain itu, terdapat puluhan naskah cetak edisi lama yang tersimpan di dalam lemari masjid yang berada di depan pintu masuk. Lemari tersebut berada dalam kondisi terkunci dan dapat dibuka setelah meminta izin kepada petugas masjid yang bertanggung jawab mengelolanya. Naskah-naskah yang ada di masjid ini tidak mendapatkan perawatan yang baik. Ada beberapa naskah al- Qur’an kuno yang ditulis tangan. Hanya satu al-Qur’an tulis tangan yang masih terawat dan diletakkan di dalam lemari kaca yang dapat disaksikan oleh para peziarah.

2. Naskah Koleksi Masjid Sultan Lingga

Naskah Koleksi Masjid Sultan Lingga merupakan koleksi yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang kemudian dititipkan di Masjid Sultan Lingga. Naskah-naskah tersebut banyak yang berkaitan dengan ilmu-ilmu keagamaan. Akan tetapi Keberadaan Naskah-Naskah Di Masjid Sultan Lingga tidak menjamin selamatnya naskah tersebut dari kerusakan dan pemindahtanganan. Oleh sebab itu, pihak museum Linggam Cahaya mengambil langkah untuk menyelamatkan naskah-naskah tersebut dengan cara meminta pengelola masjid untuk memindahkan naskah-naskah tersebut ke museum Linggam Cahaya milik pemerintah Kabupaten Lingga, sehingga dapat diselamatkan dan dijaga keutuhannya (wawancara, Muhammad Fadhli, 14 September 2013).

3. Museum Lingga Cahaya

Selain di Masjid Raya Pulau Penyengat, keberadaan naskah melayu lama juga dapat ditemukan di museum Linggam Cahaya Kabupaten Lingga. Museum ini terletak searah dengan Istana Damnah, bekas istana kerajaan. Naskah-nakah tersebut telah tersimpan dengan baik. Ada dua jenis penyimpanan naskah di museum tersebut. Pertama, naskah-naskah yang disimpan di dalam lemari kaca, dapat dilihat keberadaannya. Akan tetapi, naskah-naskah tersebut tidak dapat disentuh kecuali setelah mendapatkan izin dari pihak pengelola museum. Kedua, naskah-naskah yang disimpan secara khusus di ruangan khusus museum. Naskah tersebut tidak diperlihatkan kepada khalayak ramai karena usia yang sudah tua. Untuk melihat dan membaca naskah, pihak museum mesti memberikan izin khusus. Izin hanya diberikan untuk dokumentasi saja. Berbagai naskah yang terdapat di museum terdiri dari naskah-naskah perobatan, naskahnaskah keagamaan, naskah-naska sastra, dan lain sebagainya. Naskahnaskah tersebut terdiri dari berbagai bahasa, yaitu bahasa Arab, bahasa arab Melayu, dan bahasa Tamil.

4. Anggota Masyarakat (Datuk Tengku Husin dan Raja Malik)

Tengku Husin dan Raja Malik adalah dua anggota masyarakat keturunan kelurga besar Kerajaan Lingga. Keduanya mempunyai koleksi naskah kuno yang mereka dapatkan dari anggota masyarakat lainnya maupun warisan keluarga yang diberikan secara turun temurun. Datuk Tengku Husin berdiam di Tanjung Pinang. Namun, masih mempunyai rumah pribadi di Ibu Kota Kabupaten Lingga. Naskah yang dimiliki oleh Tengku Husin masih terjaga dengan baik. Naskah-naskah tersebut tersimpan di rumah beliau di Daik Lingga. Naskah-naskah tersebut tersimpan di dalam lemari kaca yang terawat dengan baik. Koleksi naskah yang dimiliki oleh Tengku Husin lebih banyak berkaitan dengan tema-tema keislaman, seperti tafsir, tasawuf, faraidh, dan lain sebagainya (wawancara, Tengku Husin, 14 September 2013). Raja Malik tinggal di Pulau Penyengat Tanjung Pinang. Tokoh muda yang belajar pernaskahan Melayu secara otodidak ini mengoleksi naskah dengan tujuan ingin menyelamatkan naskah-naskah kuno dan mempelajari isi naskah-naskah tersebut (wawancara, Raja Malik, 12 September 2013). Raja Malik banyak dikunjungi oleh tokohtokoh intelektual, baik dalam dan luar negeri yang ingin mendalami pernaskahan Melayu Kuno peninggalan Kerajaan Lingga. Naskah yang terdapat pada Raja Malik tidak begitu banyak. Naskah-naskah yang terdapat pada beliau lebih ke arah naskah-naskah agama dan perobatan Melayu.

5. Naskah-naskah koleksi yang masih terdapat di tangan anggota masyarakat

Menurut Raja Malik (wawancara, 12 September 2013) dan Muhammad Fadli (wawancara, 14 September 2013) masih banyak terdapat naskah-naskah melayu klasik di tangan anggota masyarakat, baik yang ada di Pulau Penyengat maupun di Daik Lingga. Naskah-naskah tersebut masih mereka jaga dengan baik, namun enggan untuk diberikan kepada instansi yang terkait karena menganggap naskah tersebut adalah peninggalan keluarga. Kedua narasumber tersebut memastikan bahwa beberapa anggota masyarakat, terutama yang berada di Daik Lingga masih menyimpan beberapa naskah. Pihak museum Linggam Cahaya telah berupaya melakukan negosiasi kepada pihak keluarga untuk menyerahkan naskah-naskah tersebut kepada museum. Akan tetapi terkendala dengan adanya keengganan untuk menyerahkan. Menurut nara sumber, motivasi keengganan untuk menyerahkan tersebut bukanlah faktor ekonomi, namun faktor sejarah keluarga.

Naskah-naskah Klasik Kerajaan Lingga

Setelah penulis menelusuri naskah- naskah peninggalan Kerajaan Lingga, maka penulis menemukan masih banyaknya naskah-naskah yang tersimpan dan belum terinventarisir dengan baik. Naskah-naskah tersebut terdiri dari naskah-naskah keagamaan (Islam), naskah sastra, dan naskah perobatan. Naskah naskah yang penulis temukan dan inventarisir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.Mushaf al-Qur’an al-Karim

Salah satu penulisan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Melayu pada zaman dahulu adalah penulisan mushaf al- Qur’an. Mushaf tersebut ditulis, baik untuk diri sendiri maupun atas perintah penguasa pada masa itu. Penulis menemukan beberpa mushaf al-Qur’an, baik yang ada di Masjid Pulau Penyengat maupun yang terdapat di wilayah Daik Lingga.

a. Mushaf Ali bin Abdullah al-Bugisi al- Syafi’i. Mushaf ini ditulis oleh Ali bin Abdullah al-Bugisi al- Syafi’i pada tahun 1166 H atau bertepatan dengan tahun 1752 M di Kampung Padang Saujana pada masa Pemerintahan Sulthan Alauddin Syah Ibni Opu. Mushaf ini masih terawat dengan baik dan tersimpan di dalam lemari buku Masjid Raya Pulau Penyengat.

b. Mushaf al-Qur’an dan terjemahan baris perbaris yang ditulis pada tahun 1747. Mushaf ini tidak jelas siapa penulisnya dan dalam kondisi yang tidak terawatt dengan baik. Kertas-kertasnya sudah mulai lapuk dimakan usia. Mushaf ini tersimpan di lemari khusus di pintu masuk Masjid Raya Pulau Penyengat.Mushaf al-Qur’an tulisan tangan. Tidak jelas identitas penulisnya dan jumlah halamannya tinggal sepertiga saja. Sudah mulai lapuk dan hancur. Mushaf ini dalam kondisi yang tidak terawat dan tersimpan di dalam lemari Masjid Pulau Penyengat.

c. Mushaf al-Qur’an tulisan tangan. Tidak jelas identitas penulisnya dan jumlah halamannya tinggal sepertiga saja. Sudah mulai lapuk dan hancur. Mushaf ini dalam kondisi yang tidak terawat dan tersimpan di dalam lemari Masjid Pulau Penyengat.

d. Mushaf al-Qur’an tulisan tangan yang ditulis oleh Abdul Rahman Stanbul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga untuk menuntut ilmu ke Mesir. Sekembalinya dari Mesir beliau menjadi guru agama di Kerajaan. Abdul Rahman menyelesaikan tulisan mushafnya ini pada tahun 1867 dan masih terawat dengan baik.

e. Mushaf al-Qur’an. Mushaf al-Qur’an ini disebutkan hanya ditulis oleh tuan guru-tuan guru agama masa lalu. Ditulis dengan tulisan tangan yang sangat indah penuh dengan hiasan- hiasan mushaf di kiri dan kanan ayat- ayat al-Qur’an. Tidak tertera nama penulis mushaf tersebut. akan tetapi sepintas penulis melihat terdapat kemiripan mushaf ini dengan mushaf yang ditulis oleh Abdul Rahman Stanbul yang tersimpan di Masjid Raya Pulau Penyengat. Mushaf ini tersimpan di museum Linggam Cahaya Kabupaten Lingga.Al-Qur’an tulisan tangan milik Masjid Sultan Lingga. Al-Qur’an juga ditulis dengan tulisan tangan dan tempat pertamanya adalah di Masjid Sultan Lingga. Akan tetapi pengurus masjid menitipkan mushaf tersebut kepada museum Lingga agar dapat terjaga dan tidak hilang. Tidak diketahui siapa penulis mushaf tersebut dan masih tersimpan dengan baik di museum Lingga Cahaya Kabupaten Lingga.

f. Al-Qur’an tulisan tangan milik Masjid Sultan Lingga. Al-Qur’an juga ditulis dengan tulisan tangan dan tempat pertamanya adalah di Masjid Sultan Lingga. Akan tetapi pengurus masjid menitipkan mushaf tersebut kepada museum Lingga agar dapat terjaga dan tidak hilang. Tidak diketahui siapa penulis mushaf tersebut dan masih tersimpan dengan baik di museum Lingga Cahaya Kabupaten Lingga.

g. Al-Qur’an tulisan tangan yang tidak diketahui penulisnya. Akan tetapi menurut informasi dari pihak museum, mushaf ini ditulis pada masa Pemerintahan Sultan Abdurrahman Syah yang berkuasa pada taun 1812 s/d 1824. Oleh pemilik mushaf ini, kitab suci ini dititipkan di museum Kabupaten Lingga agar terjaga keutuhannya.

Inilah beberapa mushaf yang penulis temukan, baik yang berada di Pulau Penyengat maupun di Daik Lingga. Mushaf-mushaf tersebut ada yang masih terawat, ada yang tidak terawat dan ada yang sengaja tidak dirawat.

2.Naskah-naskah Keagamaan

Naskah-naskah klasik yang terdapat di Lingga utamanya didominasi oleh naskah-naskah keagamaan, baik yang berbetuk cetak maupun tulis tangan. Naskah-naskah keagamaan itu berkisar kepada masalah fiqh, tauhid, hadits, dan tasawuf. Kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah ada naskah- naskah yang tidak lagi utuh keberadaannya. Seperti ada naskah yang tidak diketahui judul dan nama penulisnya. Hal ini mungkin disebabkan karena usia naskah yang sudah tua dan terlambatnya naskah untuk diselamatkan. Naskah-naskah tersebut banyak yang tersimpan di museum Daik Lingga maupun yang tersimpan di kediaman pribadi Tengku Husin. Naskah-naskah tersebut antara lain:

a. Fiqh tulis tangan yang judul bukunya tidak lagi ada karena sudah robek. Naskah ini dipastikan berkaitan dengan fiqh karena pembahasan-pembahasan pada lembaran-lembarannya memuat mengenai masalah-masalah fiqh. Naskah ini merupakan hibah dari perpustakaan Masjid Sultan Lingga kepada museum Daik agar lebih terpelihara. Beberapa buah naskah fiqh yang tersimpan di museum memang tidak diketahui judul dan pengarangnya. Meski demikian naskah tersebut tersimpan dengan baik di museum.

Selain itu, ada juga naskah fiqh yang memiliki nama pengarang dan judul naskah. Judul naskah fiqh tersebut adalah furu al Masail wa ushul al wasail. Kitab fiqh tulis tangan ini ditulis oleh Daud bin Abdullah al-Fatani.

Ada juga naskah fiqh tulis tangan dengan menggunakan Bahasa Arab Jawa. Selain membahasa fiqh, naskah tersebut juga membahas masalah teologi atau ilmu kalam.Naskah Hadits tulisan tangan. Naskah ini juga tidak mempunyai pengarang dan judul karena sudah cukup tua. Naskah ini juga merupakan hibah dari Masjid Jami’ Sultan Lingga kepada museum.

Naskah yang membahas masalah shalawat. Naskah ini berkaitan dengan fungsi shalawat kepada Nabi dengan judul Tawali al- Sa’adat li ahl al-khairat.  Naskah ini ditulis tangan oleh Muhammad Mahdi bin Muhammad.

b. Naskah Hadits tulisan tangan. Naskah ini juga tidak mempunyai pengarang dan judul karena sudah cukup tua. Naskah ini juga merupakan hibah dari Masjid Jami’ Sultan Lingga kepada museum.

c. Naskah yang membahas masalah shalawat. Naskah ini berkaitan dengan fungsi shalawat kepada Nabi dengan judul Tawali al-Sa’adat li ahl al-khairat. Naskah ini ditulis tangan oleh Muhammad Mahdi bin Muhammad.

d. Ada naskah klasik yang tidak jelas tema pembahasannya karena menggunakan bahasa Arab Tamil. Hal ini menunjukkan bahwa orangorang Tamil muslim dulu juga pernah singgah bahkan menetap di Daik Lingga.

e. Naskah klasik yang tertulis di kertas yang menyerupai baju rompi. Tulisan yang terdapat pada daun tersebut berbentuk bahasa Arab yang memuat bacaan-bacaan tertentu. Menurut keterangan petugas museum, baju kertas tersebut dijadikan sebagai baju kebal yang berguna untuk melindungi diri dari gangguan musuh terutama dalam kondisi peperangan.

f. Naskah Tasawuf yang berjudul Kitab Rencana Mandah. Naskah ini berisi ajaran dan petunjuk untuk lebih mengenal diri sendiri sebagai modal untuk mengetahui Allah SWT. Naskah ini berada di tangan Raja Malik.

g. Naskah Tasawuf yang berjudul  sifat 20. Naskah ini berisi penjelasan tentang sifat 20 yang membahas nama dan sifat Tuhan. Naskah ini berada di tangan Tengku Husin.

3. Naskah-naskah Perobatan dan seks

Dalam proses inventarisasi naskah ini, penulis juga menemukan     naskah perobatan  klasik  tradisional. Naskah tersebut ditulis dengan bahasa Arab Melayu. Naskah ini oleh penulisnya diberi judul Kitab Obat Sopak. Sopak adalah sejenis penyakit kulit berupa belang-belang putih di tangan  atau kaki. Di antara bentuk penyembuhan yang ditawarkan penulis naskah ini adalah melalui metode zikir asma’ al- husna. Naskah ini berada di tangan Raja Malik.

Pada tokoh yang sama, penulis juga menemukan sebuah naskah klasik melayu yang berhubungan dengan seks, yaitu tata cara melakukan hubungan suami istri dalam budaya Melayu. Naskah ini menurut Raja Malik ditulis oleh penulis perempuan dari lingkungan istana Kerajaan Lingga. Naskah ini ditulis dalam bahasa Melayu dan mengajarkan tata cara untuk meningkatkan kualitas hubungan suami-istri sehingga   akan mendatangkan kebahagiaan rumah tangga.

4. Naskah-naskah administrasi Kerajaan

Naskah-naskah yang banyak terdapat di Museum Daik Lingga adalah naskah- naskah yang berkaitan dengan administrasi Kerajaan  Lingga Riau pada masa keemasannya. Naskah tersebut ditulis dengan menggunakan Arab Jawi (Arab Melayu). Dengan adanya naskah tersebut menjadi tanda bahwa adminstrasi Kerajaan Lingga Riau telah berjalan deangan baik. Diantara naskah administrasi kerajaan tersebut adalah:

a. Salinan surat Sultan Abdurrahman Muazzam Syah Sultan Lingga tentang perizinan untuk membuka lahan perkebunan di Pulau Selayar pada tahun 1327 H.

b. Surat selebaran yang dikeluarkan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah Sultan Lingga untuk kepala kampung agar masyarakat memberikan kabar dan keterangan tentang warga kampung yang wafat dan penyebab kematiannya. Juga tentang anak yang baru lahir pada tahun 1307 H.

c. Surat keterangan telah bekerja dengan baik yang dikeluarkan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah Sultan Lingga untuk Sayyid Hamid bin Sayyid Ali sebagai kapten kapal.

d. Surat penunjukan kepada Sayid hamid bin Sayyid Ali sebagai kapten kapal Sultan pada tahun 1311 H.

e. Surat Keputusan Mahkamah Kerajaan Lingga pada masa Sultan Abdurrahman Muazzam Syah tentang pengangkatan raja muda Riau Raja Muhammad pada tahun 1855M).

Inilah beberapa Naskah yang penulis temukan dalam inventarisasi Naskah Klasik di Kabupaten Daik Lingga. Masih banyak naskah-naskah yang mesti dicari dan diselamatkan, untuk selanjutnya digali dan dipahami pikiran-pikiran yang berkembang di dalamnya. Penulis berharap akan ada penelitian lanjutan untuk mengkaji beberapa naskah yang masih ada untuk diungkapkan pemikiran di dalamnya sehingga akan memberikan informasi yang lebih kepada masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan