Guru Muhammad Saleh: de geestelijke vader, bapak spiritual, perkumpulan K.R.I.R. adalah seorang guru Melayu, anak jati Kepulauan Riau asal Tambelan. Pernah menjadi wakil masyarakat Riouw (Kepulauan Riau) dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, pada 16 hingga 22 Juli 1946. (sumber foto: buku Malino Maakt Historie, koleksi: aswandi syahri)

(Proklamasi Kemerdekaan dan Reaksi Rakyat Kepulauan Riau  1946-1948)

Sejak akhir tahun 1945 hingga menjelang tahun 1950, terdapat lebih dari tujuh buah organisasi atau perkumpulan (vereniging) yang ditubuhkan di Tnjungpinang sempena mengobarkan gelora api revolusi dalam fase yang disebut zaman revolusi dan perang kemerdekaan dalam sejerah Indonesia.

Perkumpulan-perkumpuan tersebut bergerak secara “legal” dan “illegal” menurut ukuran pemerintah Belanda yang kembali berkuasa ketika itu. Mereka tampil mengikuti arus sejarah, untuk mendukung dan mempertahankan prokmalasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Di Tanjungpinang, perkumpulan-perkumpulan pegerakan itu tampil sebagai bagian dari reaksi kolektif seluruh anak negeri yang  dijajah kembali oleh pemerintah kolonial Belenda setelah pemerintahan Bala Tentara  Jepang menyerah tanpa syarat. Demikianlah, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, salah satu dari perkumpulan  pro-Republuk Proklamasi itu diberi nama Keinsjafan Rakjat Indonesia Riouw (disingkat, K.R.I.R) dengan logo berbettuk belah ketupa berhiaskan keris bersilang dan matahari memancar.

Menurut arsip nota rahasia (geheimnota) dinas reserse umum (Algemeene Recherse) Kejakasaan Agung (Procureur-Generaal) Hindia Belanda tahun 1947, bapak spiritual (de geestelijke vader) perkumpulan K.R.I.R adalah seorang guru Melayu, anak jati Kepulauan Riau, bernama Muhammad Saleh. Ia pernah menjadi wakil delegasi masyarakat Riouw (nama Kepulauan Riau tempo doeloe) dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, pada 16 hingga 22 Juli 1946. Sedangkan penggagas (initiatief-nemer) perkumpulan K.R.I.R ini adalah seorang Bumi Putera asli Kepuluaan Riau, yaitu mantan Amir Radja Mohamad yang kelak mewakili daerah bagian Kepulauan Riau dalam Konfrensi Meja Bunda (KMB) di kota De Haag, Negeri Belanda, pada bulan Desember 1949.

Oleh karena itu pula, latar belakang penubuhan K.R.I.R erat sekali hubungannya dengan perbahasan-perbahasan yang disampaikan oleh guru Muhammad Saleh dalam Konferensi Malino yang intinya adalah untuk menemukan formula baru bagi Kepulauan Riau yang berada dalam “bekas Negara Hindia Belanda yang hidup kembali” pasca pendudukan Bala Tentara Jepang. Salah satu formula baru itu adalah rencana pembentukan beberapa buah negara bagian dan beberapa buah daerah federasi dalam “pemerintahan kolonial Belanda yang baru”. Hasil-hasil Konferensi Malino tersebut menjadi bahan pikiran Mohamaad Saleh sekembalinya ke Tanjungpinang. Ia berfikir, sesuatu harus dilakukan dan dibuat untuk menentukan arah perjalanan rakyat Kepulauan Riau (Riouw), dan merebut peran politik dalam “tatanan dunia yang baru”.

Sebuah organisasi sebagai motor dan wadah tempat bergerak harus ditubuhkan. Maka lahirlah K.R.I.R di Tanjungpinang pada 10 November 1946. Walaupun bukan berbentuk partai, sangat jelas kemudian, perkumplan ini adalah sebuah perkumpulan politik yang bertujuan untuk melawan kembalinya pejajahan Belanda di Kepulauan Riau setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Pada awal penubuhannya, para penggagas perkumpulan ini melaporkkan kepada pemerintah Belanda di Tanjungpinang bahwasanya tujuan perkumpulan yang mereka tubuhkan itu adalah untuk memajukan dan membangun penduduk Kepulauan (Riouwer). Selain itu, juga bertujuan untuk menyiasati kemungkinan menghapuskan masalah sosial-ekonomi dikalangan rakyat Kepulauan Riau (Riouw Bevolking) ketika itu.

Namun demikian, semua yang dikemukan sebagai dasar dan tujuan penubahannya itu hanyalah kamuflase dan taktik belaka. Ada sesuatu yang lebih penting dan besar yang mereka sembunyikan. Sebab pada ketika itu, segala sesuatu yang “babau politik”, apa lagi yang dimotori oleh semangat anti-kolonial dan mendukung proklamasi kemederkaan yang baru saja dukumndangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, tidaklah dapat dilakukan scara terang-terangan.

K.R.I.R adalah salah satu dari tiga tipikal ‘perkumpulan politik’ di Tanjungpinang, yang muncul tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Ketika itu tatanan politik di daerah-daerah bekas Hindia-Belanda, seperti di Tanjungpinang, goyah dan “tak bertuan” setelah berakhirnya zaman pendudukan Jepang. Pada ketika itu, siapa saja yang tersadar dari “tidur lelapnya di alam penjajahan”, mempunyai kesempatan yang sama dalam merebut peluang kekuasaan secara politik.

Singkatnya, seperti terungkap dalam surat rahasia yang ditulis sendiri (geheim-eigenhandig) oleh Asistent Resident Residency van Riouw, J.B. van Schendel kepada Jaksa Agung Hindia Belanda di Batavia tanggal 19 Juli 1947, jelas terlihat perubahan perlahan-lahan tapi pasti (langzaam maar zeker) bahwa K.R.I.R telah mengarah kepada sebuah perkumpulan politik, meskipun moderat [deze Vereeniging geworden tot een politieke (zij het gematide)]. Semua aktifitas ‘politik’ K.R.I.R diselipkan diantara berbagai kegiatan sosial-ekonomi dan pendidikan yang dilakukan oleh angota-anggotanya.

Nota rahasia dinas reserse umum (dienst der Algemeene Recherce) Kejaksaaan Agung Hindia Belanda tahun 1947, menjelaskan, “…seperti halnya kelompok gerakan Sultan Riau (Sultanaatsbeweging) yang didukung oleh zuriat mantan Sultan Riau-Lingga yang terakhir (Sultan Abdulrahman Muazamsyah) yang bermastautin di Singapura, Karimun, dan Pulau Penyengat, para penggagas K.R.I.R [pada awalnya] bercita-cita membentuk pemerintahan sendiri…” dan lepas dari pemerintahan Belanda yang kembali berkuasa setelah Jepang menyerah kalah pada tahun 1945.

Namun demikan, kemudian semuanya berubah. Berbeda dari Bandan Kedaulatan Indonesia Riouw (BKIR) yang ditubuhkan oleh gabungan orang-orang bukan anak jati Riouw (niet-Riouwer) dan anak jati Riouw (Riouwer) yang dipimpin oleh Dr. Ijlas Datuk Batuah, maka para anggora K.R.I.R ingin membentuk pemerintahan anak watan Riouw (anak negeri) di Tanjungpinang yang dimpimpin oleh anak watan sendiri. Namun demikian, bedanya, para anggota K.R.I.R sepakat bahwa cita-cita itu akan diwujutkan tidak dengan keharusan menubuhkan kembali Kesultanan Riau-Lingga (een sultanaat moest emen echter niets hebben) seperti yang dikehendak kelompok Gerakan Kesultan Riau.

Karena haluannya yang moderat, maka dalam perjalanan sejarahnya, KRIR perlahan-lahan berkembang menjadi wadah bagi berbagai haluan ‘politik’, ‘etnik’, dan ‘provinsialis’ untuk mencapai satu tujuan yang sama. Tak lama setelah penubuhannya, tepatnya pada paruh kedua bulan November 1946, pengurus dan pendiri K.R.I.R.  telah memasukkan orang-orang Indoneia bukan anak watan Kepulauan Riau (geen Riouwers van origine), yang kebanyakannya adalah pegawai-pegawai yang berasal dari Sumatra (Tapanuli dan Minangkabau), Jawa, dan Manado,  atau mereka yang lahir di Kepulauan Riau, sebagai anggotanya: meskipun ada protes dari kelompok yang bermaksud memnghidupkan kembali kesultanan Riau-Lingga (sultanaatpartij).

Haluan yag baru itu tergambar pula dari komposisi pengurus teras (hoofdbestuur) K.R.I.R. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang dilakukan oleh anggotan perkumpulan itu pada paruh pertama bulan Desember 1946, telah ditetapkan Mohammad Apan (seorang anak jati Pulau Penyengat yang menikah dengan seorang perempuan Minangkabau dan juga merangkap sebagai anggota organisasi Badan kebangsaan Indonesia Riau (BKIR) pimpinan Dr. Iljas Datuk Batuah) sebagai ketua (voorzitter) K.R.I.R yang baru, menggantikan posisi Radja Mohamad. Hal ini dilakukan karena arti penting Mohammad Apan sebagai seorang anggota kelompok BKIR yang punya akses terhadap pemimpin-pemimpin Republik hasil Proklamasi yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra, yang berdiri belakangnya.

Sementara itu, Guru Mohammad Saleh tetap dipertahankan sebagai wakil ketua (vice-voorzitter). Sekretaris pertama adalah Moh. Amin, dan seorang commisarissen dijabat oleh Said Bakri al-Atas yang juga berasal dari kelompok Dr. Iljas Dt. Batuah. Selain itu, ada pula  seorang perempuan bernama Radja Chatijah yang berasal dari kelompok pedukung penubuhan kembali kesultanan Riau-Lingga dalam “wadah baru” pemerintahan Hindia Belnda.

Sayap Perempuan K.R.I.R.

Memasuki pertengahan tahun 1947, K.R.I.R melebarkan aktifitasnya dengan membetuk sebuah sayap organisasi perempuan yang diberi nama Perkumpulan Wanita-K.R.I.R pada 15 Oktober 1947, di Tanjungpinang.

Susunan pengurus pertamanya adalah sebagai berikut: Ketua I, Syarifah Fatemah Nur Djamalullael; Ketua II, Zaharah Mahmud; Ketua III, Nyonya Muchtar Husin; Sekretaris, Raja Hatijah (Radja Chatijah); dan Bendahara dijabat oleh Wan Nun.

Perkumpulan Wanita KRIR ini sejatinya adalah sebuah perkumplan politik pendukung Proklamasi 17 Agustus 1945. Uantuk mengelabui pemerintah Belanda,  aktifitasnya disamar-samarkan dengan melakukan kegiatan sosial-ekonomi. Pada mulanya, kegiatan utama sayap perempuan peekumpulan K.R.I.R ini adalah berupa kegiatan belajar menulis dan membaca sempena “Pemberantasan Boeta Hoereof”. Kegiatan soasial itu untuk pertama kalinya dilakukan di gedung sekolah lama Muhammadiyah yang terletak di Kamponeg Boekit  (atau di Jl. Sunaryo) Tanjungpinang,  pada 10 Juli 1947.

Kegitan belajar menulis dan membaca yang diikuti oleh 40 otrang siswa, yang 50% diantaranya berusia 30 tahun itu dipimpin oleh Ratna Samin, bekerjasam dengan Mohammad Apan, Radja Chatijah, Siahaan, dan Guru Mohammad Saleh. Selain di gedung sekolah lama yang lokasinya di kawasan  Kempoeng Bukit itu, kegiatan “Pemberantasan Boeta Hoereof”  tersebut dilakukan juga dengan cara mengunjungi kampung-kampung di sekitar Tanjungpinang. Mohd. Safri Wok dan istrinya Latifah umpamanya, bertanggung jawab untuk wilayah Kampung Teluk Keriting dan Kampung Skip; saudara Mukiyen, bertugas di Kampung Jawa sekitarnya; sedangkan  Rukini, istri mendiang Sunaryo, bertugas di Kampoeng Bukit sekitarnya.

Kegiatan pendidikan oleh organisasi perempuan KRIR terus berkembang. Pada 1 April 1948, Wanita-K.R.I.R meresmikan pembukaan sebuah sekolah dalam arti yang sesungguhnya di gedung sekolah Muhammadiyah, tempat pertamakali mereka menggelar kegiatan “Pemberantasan Boeta Hoerof” pada 10 Juli 1947.

Sekolah itu adalah sekolah Taman Kanak-Kanak Wanita-KRIR, dan sekaligus menjadi Sekolah Taman Taman Kanak-Kanak pertama di Kepulauan Riau. Sekolah bersejarah yang lahir dalam gemuruh gelora api revolusi kemerdekaan di Kepulauan Riau tersebut masih berdidiri dan berkhidmat hingga kini sebagai Sekolah Taman Kanak-Kanak Mawar di Tanjunpinang.***

Artikel SebelumGelar Abang dan Yang di Kampung Mentok, Daik Lingga
Artikel BerikutMarhum Tambelan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan