Kompleks Makam Sultan Abdullah Mu'ayatsyah Marhum Tambelan di Desa Batu Lepuk Pulau Tambelan. Foto : Dok. Aswandi Syahri.

Sultan Abdullah Mu’ayatsyah (1571-1623)

Nama batang tubuhnya Raja Abdullah. Dilahirkan sekitar tahun 1571. Ia memiliki sejumlah nama timang-timangan atau nama gelaran yang juga populer dan mengandungi konteks historis tententu

Orang-orang Portugis menyebutnya Raja BoncoatauRadja Boengsoe. Sebaliknya orangBelanda menggelarnya Radja Sbrang [Raja Seberang] atauRadja Diilir, bersempena tempat ia bermastautin di seberang sungai atau di Kota Seberang yang terletak agak ke hilir di ibu kota Johor Lama di Batu Sawar. Sedangkan dalam Sejarah Melayu atau Sullalatus Salatin, ia dikenal dengan nama Sultan Hammat Syah.

Ketika ditawan Aceh pada tahun 1613, orang-orang Aceh menyebutnya Raja Radin. Ia kemudian dinikahkan oleh Sultan Iskandar dari Aceh Muda dengan salah seorang anak perempuannya.

Sultan Johor ke-VII

Mula-mula Raja Abdullah menjalankan pemerintahan saudara sepupunya, Sultan Johor, Sultan Ala’uddin Ri’ayatsyah III. Setelah Sultan Ala’uddin Ri’ayatsyah III mangkat karena dibunuh pada akhir tahun 1615 atau pada awal tahun 1615, barulah Raja Abdullah menggantikannya sebagai Sultan Johor bergelar Sultan Hammat Syah, atau lebih tekenal dengan gelar Sultan Abdullah Mu’ayatsyah. Ia memerintah di singgahsana Johor hingga bulan Mei tahun 1623: masa pemerintahan adalah sebuah fase pemerintahan Kerajaan Johor yang nomaden, yang ibukotanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pada  masa pemerintahan Sultan Abdullah Mu’ayatsyah inilah, Kerajaan Johor yang lama membuka kembali hubungan dengan Portugis pada tahun 1617, dan berhasil mengusir orang-orang Aceh dari Batu Sawar-Johor. Keberhasilan itu telah membangkitkan amarah Sultan Iskandar Muda di Aceh. Lebih-lebih ketika ia tahu bahwa Sultan Abdullah Mu’ayatsyah juga menceraikan istrinya yang merupakan anak perempuan Sultan Iskandar Muda, dan memilih puteri Sultan Jambi yang telah disuntingnya sejak 1615.

Setelah dua peristiwa tersebut, ibu kota Kerajaan Johor di Batu Sawar tidak aman. Ancaman balasan dari Aceh selalu terbuka dan dapat terjadi kapan saja. Sehingga, untuk menghadapi kemugkinan terburuk serangan armada laut Aceh, Sultan Abdullah Mu’ayatsyahakhirnya memindahkan ibu kota Johor.

Marhum Tambelan

Menurut sejarawan Leonard Y. Andaya, dalam disertasinya yang berjudul The Kingdom of Johor 1641-1728 (Kuala Lumpur:1975), Sultan Abdullah Mu’ayatsyah berkonfrontasi menghadapai Aceh secara-secara berpindah-pindah tempat (nomaden).

 Mula-mula ia memilih Pulau Bintan. Sebegaimana dijelaskan oleh  O.W. Wolters dalam bukunya yang berjudul The Fall of Srivijaya in Malay History (1970), Pulau Bintan dipilih karena perstimbangan strategis dan militer: di sekitar Pulau Bintan inilah terletak kekuatan armada laut Johor yang terdiri Orang-Orang Laut  Kepulauan-Lingga.

Di Pulau Bintan, sebagaimana dilaporkan oleh seorang ustusan VOC-Belanda yang mengunjunginya pada  1615,  menyusun kekuatan dan aliansi. Ia menabalkan seorang putera mantan Sultan Johor, Sultan Ala’uddin Ri’ayatsyah yang dibawa oleh Orang Kaya Pahang, sebagai Sultan Pahang. Di Pulau Bintan, ia juga memimpin sebuah ikatan pertahanan dengan Palembang, Jambi, Indragri, Kampar, dan Siak, dalam upaya menghadapi  armada militer Aceh.

Masih dalam rangkaian startegidalam menghadi serangan Kerajaan Aceh, Sultan Abdullah Mu’ayatsyah memindahkan lagi pusat pemerintahan Johor ke Pulau Lingga pada 1618. Menurut P.A. Tiele dalam artikelnya yang berjudul ‘De Europeeschen in den Maleischen Archipel’ (Orang Eropa di Kepulauan Melayu, BKI, 1886) tempat yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor yang dipindahkan oleh Sultan Abdullah Mu’ayatsyah ke Pulau Lingga itu bernama ‘Benauw’ (Penuba?) dekat sekitar Pulau Lingga. Lebih kurang  enam tahun setelah Pulau Lingga menjadi ibu kota Kerajaan Johor,  Sultan Iskandar mulai Muda menyerang kedudukan Sultan Abdullah Mu’ayatsyah di Pulau Lingga pada tahun 1623.

Peristiwa serangan Aceh ke Pulau Lingga ini akhirnya memaksa Sultan Abdullah Mu’ayatsyah menyingkir untuk menyelamatkankan kerajaannya pada tahun itu juga. Kali ini, tempat yang dipilih adalah Pulau Tambelan. Dalam perpindahan ke Pulau Tambelan ini, beliau diiringi oleh Raja Bujang, Laksamana Tun Abdul Jamil, dan para pembesar Kerjaan Johor. Dalam Pulau Tambelan inilah, sekitar mulai Mei than 1623 itu, Sultan Abdullah Mu’ayatsyah mangkat dan dimakamkan. Karena itulah dalam sejarah ia juga mempunyai gelar posthumous, gelar yang diberika setelah wafatnya: Marhum Tambelan.

Sebuah sumber menyebutkan bahwa ketika Sultan Abdullah Mu’ayatsyah menyingkir dari Lingga, daerah yang dituju sesungguhnya adalah pulau Karimata, dekat Kalimanta. Namun ketika sampai dekat Pulau Tambelan, ia jatuh sakit di atas perahunya. Jenazahnya kemudian dibawa ke Pulau Tambelan dan di makam di pulau itu.

Pada tahun itu juga, Raja Bujang putera mantan Sultan Johor, Sultan Ala’uddin Ria’yatsyah III yang sebelumnya telah ditabalkan sebagai Sultan Pahang, ditabalkan pula sebagai Sultan Johor di Pulau Tambelan menggantikan Sultan Abdullah Mu’ayatsyah oleh Laksamana Tun Abdul Jamil yang ketika telah mengambil alih kuasa Datuk Bendahara. Gelar kebesrannya sebagai sultan Johor ke-VIII adalah Sultan Abdul Jalil Syah III.

Selain dikenal sebagai Sultan Johor ke VII, Sultan Abdullah Mu’ayatsyah dicatat juga sebagai actor intellectualisdan penggagas yang menitahkan Tun Sri Lanang gelar Bendahara Paduka Raja menyusun kitab Sejarah Melayuatau Sullatus Salatin:sebuah kitab sejarah yang asalnya adalah hikayat Melayu yang dibabawa orang dari Goa dan diberikan kepada Tun Sri Lanang oleh Tun Bambang Seri Narawangsa anak Seri Akar Raja.

Situs Sejarah

Pusara Sultan Sultan Abdullah Mu’ayatsyah, hingga kini masih dapat dilihat di Pulau Tambelan. Sebagai sebuah situs sejarah Islam di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan,Provinsi Kepulauan Riau, keberadaan  makam ini untuk pertamakalinya dilaporkan oleh Ressident Riau di Tanjungpinang kepada Oudheidkundige Denst in Nederlandsch-Indie (Dinas Purbakala di pada zaman Belanda) pada tahun 1922. Selanjutnya, temuan situs makam ini dipublikasikan dalam Oudheidkundig Verslag ( Berkala Laporan Kepurbakalaan) pada tahun itu juga. Tak lama kemudian, epigraf dan akeolog J.P Moquette telah dikim pula ke Pulau Tambelan untuk meneliti dan menyalin inskripsi yang ada di situs makam itu

Sebuah sumber setempat menyebutkan bahwa pada mulanya makam Sultan Abdulah Mu’ayatsyah terletak di Bukit BentayanatauMentayan, yangkemudian dipindahkan ke lokasi saat ini, di desa Batu Lepuk, Pulau Tambelan.

Makam ini diberi diwal (dinding makam) berupa empat keping batu karang berukir dengan panjang 345 cm dan lebar 12 cm yang saling dikaitkan sehing sehingga membentuk kotak empat persegi panjang.

Selain berfungsi sebagai penahan gundukan tanah makam, kotak diwal empat persegi panjang ini berfungsi sebagai alas tempat sebuah balok batu karang berhiaskan kaligrafi yang pada salah satu sisinya bertuliskan kalifi  dalam huruf jawi yang bertuliskan:“Hijratun Nabi Salalahu ‘Alaihi Wwassalam pada seribu lima puluh kepada hari bulan Jumadil Awal kepada  dari Isnin kepada Sayyit …” *

Artikel SebelumKeinsjafan Rakjat Indonesia Riouw (K.R.I.R)
Artikel BerikutSeperti Air di Dalam Gelas
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan