SITI Rafiah dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) telah berjanji kepada suaminya. Jika negerinya kalah berperang karena diserang tanpa alasan oleh Kerajaan Hindustan, dia akan melarikan diri dari istana. Dia tak rela ditawan dan bertuankan Sultan Hindustan. Akhirnya, negerinya—Kerajaan Barbari—memang dapat dikalahkan oleh Kerajaan Hindustan. Sesuai dengan janjinya, Siti Rafiah melarikan diri dari istana menuju hutan walaupun kala itu dia sedang hamil tua. Sebagai istri yang setia dan perempuan yang mulia, dia konsisten dengan sumpah-setianya.

            Siti Rafiah bukanlah perempuan biasa. Dia keturunan bangsawan, putri tunggal Sultan Ban, raja yang ternama. Parasnya pula sungguh jelita sehingga Sultan Abdul Muluk cinta mati kepadanya. Di atas kesemuanya itu, budi pekertinya yang terala (luhur) dan akhlaknya yang mulia melengkapkan kelebihannya sebagai wanita yang pokta. Di dalam pelarian di hutan, Siti Rafiah meneguhkan niat pembelaannya terhadap negeri suami, Kerajaan Barbari yang menjadi hak sah suaminya tercinta.

            “Wahai, Raja Hindustan! Nantikan ketikanya, akan beta ambil kembali kerajaan suami beta yang tuan hamba rebut secara paksa, dengan cara-cara yang terkutuk menurut adat bangsa-bangsa yang mulia. Jika beta tak sanggup melakukannya, lebih baik beta hilang di dunia.”

            Karena sumpah-setianya itulah, istri Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari itu, setelah melahirkan putranya, mengubah penampilan dirinya. Dari seorang perempuan jelita, dengan mengunakan seluruh kecerdasan karunia Ilahi yang dimilikinya dan kerja keras yang tak terlukiskan dengan kata-kata, diubahnya penampakan dirinya menjadi seorang laki-laki perkasa. Diperlukan keteguhan hati, kesungguhan jiwa, dan upaya yang luar biasa untuk melakukan perubahan besar itu, apatah lagi oleh seorang perempuan yang lemah-lembut berdurja jelita.

Dengan mengerahkan semua daya pikirnya yang bertimbal dengan kerja keras yang tiada bandingannya, hari-hari selanjutnya dilaluinya dengan penampilan seorang hulubalang yang gagah perkasa. Demi keyakinan dan sumpah-setianya, dia mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menghimpun kekuatan demi memerdekakan kembali bangsa dan negaranya.

Begitulah karakter pemimpin terbilang yang senantiasa mencurahkan dan menggunakan segenap pikiran, akal budi, dan kerja kerasnya untuk mencapai matlamat kejayaan bangsa. Dia tak akan pernah rela bangsa dan negaranya tergadai oleh sebarang angkara murka. Aib dan malu semalu-malunya akan dirasakannya—lebih-lebih—jika duka-lara bangsa dan negerinya disebabkan oleh sikap dan perilakunya sebagai pemimpin yang sekadar sibuk mengurusi kepentingan diri semata-mata.

Watak, sikap, dan perilaku kepemimpinan Siti Rafiah itu ternyata mendapat sambutan yang positif dari para pemikir kenegaraan. Di dalam Tsamarat al-Muhimmah, Raja Ali Haji rahimahullah mengulasnya sebagai syarat utama seseorang yang boleh diangkat menjadi pemimpin. Dari pemimpin yang berkarakter mulia itulah sesebuah negeri dan atau negara akan berjaya mencapai matlamat yang sebenarnya.    

 “Syahdan inilah segala sebab yang mengesahkan menjadi raja…. Bahwa hendaklah raja itu … yang mempunyai ijtihad yang elok …,” (Haji dalam Malik, 2013).

Dengan ijtihad yang elok dimaksudkan pemimpin mampu, bersungguh-sungguh, dan sepenuh hati ikhlas melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya. Dikerahkannya semua kemampuan akal pikiran yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya untuk membawa bangsa dan negaranya kepada kejayaan dan kegemilangan hidup di antara bangsa-bangsa sedunia. Tanpa kemampuan ijtihad yang elok, seseorang pemimpin hanya dapat tampil seolah-olah boneka, yang dapat digiring orang ke sana ke mari, tanpa dia sadar akan upaya-upaya “pagar makan tanaman”, yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, sesiapa pun dia.

Karena begitu mustahaknya ijtihad dalam kepemimpinan, syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 5 (Haji dalam Malik, 2013) mengingatkan pemimpin untuk sekuat dapat menerapkannya dalam kepemimpinan.     

Kerja kebajikan janganlah malas
Zahir dan batin janganlah culas
Jernihkan hati hendaklah ikhlas
Seperti air di dalam gelas

Berbakti sebagai pemimpin merupakan pengabdian yang sangat mulia. Oleh sebab itu, ianya tak boleh dicemari dengan sifat dan perilaku malas, berpaling tadah, apatah lagi curang dan culas demi kepentingan diri dan kelompok sendiri. Di dunia segalanya mungkin dapat ditutupi dengan pelbagai taktik dan tekanan yang diatur sebagai strategi. Akan tetapi, kepemimpinan itu sesungguhnya harus dipertanggungjawabkan sampai ke akhirat, yang tak secebis makhluk pun akan mampu mengelak dari sanksi dan hukuman Ilahi. Padahal, akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang abadi.           

“Dan, tak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah. Dan, Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tak menggunakan akalnya,” (Q.S. Yunus, 100).

Dengan firman di atas, Allah membenarnya bahwa pemimpin seyogianya memang wajib  menggunakan ijtihad yang baik dalam kepemimpinannya. Bahkan, Allah mengancam sesiapa sahaja, apatah lagi pemimpin, yang tak mau menggunakan akal-baiknya dengan sanksi kemurkaan dari-Nya. Tak ada pemimpin yang dapat menjulangkan marwah bangsanya jika dia telah dimurkai oleh Allah.

Itulah sebabnya, pemimpin harus terus dan terus berpikir untuk memajukan bangsa dan negaranya. Dia bukanlah orang yang menetapkan standar kejayaan kepemimpinan sekadar pada keberhasilan diri dan kelompok sendiri karena dengan pelbagai cara telah menduduki singgasana kekuasaan. Dia bukanlah pula orang yang dengan lantang berteriak tanpa rasa malu di hadapan rakyat, “Kami harus mendapat lebih daripada kalian!” Jika Siti Rafiah menyaksikan kejadian itu, tentulah dia akan berucap dengan anggun, “Hanya setakat itukah kalian letakkan nilai-nilai agung kepemimpinan, yang padahal sangat mulia ditetapkan oleh Tuhan?”     

            Pemimpin berkelas seperti Siti Rafiah pastilah terilhami oleh bakti yang pernah dijalani Muadz bin Jabal. Itulah sebabnya, dia mengerahkan semua keceradasan yang dimilikinya untuk mencapai matlamat sesungguhnya yang berwujud kejayaan bangsa dan negara.

Ketika Rasulullah mengutus sahabat Muadz bin Jabal ke Yaman sebagai hakim, Baginda Nabi bertanya, “Bagaimanakah cara Anda menghukumi suatu masalah hukum?” Muadz menjawab, “Saya akan putuskan dengan Al-Quran. Baginda Nabi bertanya kembali, “Apabila tak Anda temukan di dalam Al-Quran?” Muadz menjawab, “Dengan sunnah Rasulullah.” Baginda Nabi bertanya lagi, “Kalau tak juga Anda temukan?” Muadz menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan tak akan melihat ke yang lainnya. Muadz berkata, “Lalu, Rasululullah memukul dadaku dan bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan pada utusannya, Rasulullah’ karena Baginda Nabi menyukai sikap Muadz,” (H.R. Abu Dawud).

Siti Rafiah berjaya di dalam kepemimpinannya—selain kemauan dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara ikhlas demi bangsa dan negara—juga disertai dengan kerja keras untuk mencapai matlamat yang sebenarnya. Dipantangkannya dirinya untuk berleha-leha dan bermanja-manja walaupun dia telah berada di puncak kejayaan kepemimpinan. Pasalnya, dia sangat menyadari bahwa kemalasan pemimpinlah yang menjadi punca malapetaka bagi bangsa dan negara.

                “Dan setengah daripada lalai dan lengah dengan tidur dan baring sebab menurutkan hawa nafsu yang malas, terkadang jaga sepanjang malam dan tidur sepanjang siang dan terkadang di dalam sehari semalam empat lima kali berbalik-balik tidur dan jaga. Maka, segala yang tersebut itu memberi cacat dan cedera kepada raja-raja dan kepada orang besar-besar adanya, intaha,” (Haji dalam Malik, 2013).

            Selain peringatan di dalam Tsamarat al-Muhimmah di atas, pemimpin sejati memang senantiasa memahami dan menyadari nilai kerja keras. Sikap dan perilaku itu memang mustahak dalam bakti kepemimpinan. Hal itu juga dinukilkan di dalam syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik, 2013) untuk mengingatkan pemimpin agar jangan bersikap lengah dan lalai karena dampaknya sangat luas bagi bangsa dan negara yang dipimpinnya.

Ayuhai anakanda muda remaja
Jika anakanda menjadi raja
Hati yang betul hendak disahaja
Serta rajin pada bekerja

Pemimpin yang bekerja keras itulah yang telah menjalankan amanah kepemimpinan yang diberikan kepadanya secara benar. Dalam keadaan itu, dia akan mendapat sokongan yang sesungguhnya dari rakyat yang dipimpinnya secara ikhlas. Kenyataan itu telah disuratkan di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 11 (Haji, 1847).

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat honar

Memang tak ada alasan untuk membantah pemimpin yang telah bertindak benar. Bakti kepemimpinan dilaksanakannya dengan ikhlas, sungguh-sungguh, dan kerja keras. Standar kejayaan tak diletakkan pada kepuasan dirinya, tetapi lebih-lebih kebahagiaan orang-orang yang dipimpinnya. Tentu, sesuai dengan nilai kebenaran yang sesungguhnya.

            Ternyata, seperti halnya Siti Rafiah, kejayaan kepemimpinan yang mengutamakan kerja keras juga diterapkan oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Dengan kerja keras dan strategi yang cerdas, Baginda berjaya mengembalikan marwah kerajaannya, yang sebelumnya dikuasai oleh pihak penceroboh, bahkan ayahanda Baginda sampai terkorban oleh tindakan perebutan kekuasaan pihak lawan. Kenyataan itu terungkap di dalam Tuhfat al-Nafis.   

“Syahadan apabila datanglah opu-opu itu, maka sampailah segala maksudnya dan berbalas kematian ayahandanya dan dapat ia kerajaan Johor kepada tangannya dan susah seterunya dan sanak saudaranya hendak mendatangkan kejahatan atasnya, dengan beberapa kali telah berperang dan beberapa susah meramaikan negeri. Kemudian maka tetaplah kerajaannya pulang seperti pangkat ayahandanya….,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

Tanpa kerja cerdas dan kerja keras, tak mungkin Sultan Sulaiman mampu mengembalikan marwah keluarga dan bangsanya seperti sebelum datangnya pihak penceroboh. Kecekalan hati Baginda berdasarkan keyakinan akan nilai-nilai kebenaranlah yang memungkinkan kembalinya semua daulat itu sesuai dengan petunjuk Allah.

“Dan, katakanlah, ‘Bekerjalah kamu!’ maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,” (Q.S. At-Taubah, 105).

Pemimpin yang bekerja keras dengan keikhlasan membangun bangsa dan negaranya pasti akan mendapat inayah dari Allah. Dia tak akan dibiarkan berjuang sendiri karena perjuangannya sesungguhnya sejalan dengan pedoman Allah. Oleh sebab itu, setiap pemimpin seyogianya memedomani Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesebelas, ayat 2 (Haji, 1847) jika hendak menjadi dan dikenang sebagai pemimpin yang terbilang.

Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Sekali pemimpin berbuat cela, seluruh negeri menerima padah. Kenyataan itu banyak terjadi dalam sejarah. Pasalnya, mereka berpaling tadah dan mengingkari petunjuk Allah.

Itulah sebabnya, para pemimpin harus bekerja keras dengan menggunakan pikiran yang bernas secara ikhlas karena kerja-kerja kepemimpinan memang tak mudah. Daripada terbabit pekerjaan menyalah, kalau memang tak mau dan tak sanggup, lebih baik tak menjadi pemimpin agar bakti itu dapat dilakukan oleh orang yang tepat lagi amanah. Menjadi orang yang dipimpin berperilaku baik jauh lebih mulia daripada menjadi pemimpin, tetapi serakah. Akibatnya, negeri yang dipimpinnya juga semakin menjauh dari berkah.***

Tinggalkan Balasan