INI kisah patriotisme orang berdua beranak, paman dan keponakannya. Sang Paman adalah Raja Haji, Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777—1784) dan Sang Keponakan adalah Sultan Mahmud Riayat Syah, Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812).

Dalam silsilah kerabat kedua-dua pembesar Kesultanan Melayu itu, Raja Haji—walaupun jabatannya setingkat lebih rendah—adalah paman Sultan Mahmud Riayat Syah karena ibunda Baginda Sultan adalah saudara kandung Baginda Yang Dipertuan Muda.

Jelaslah bahwa Raja Haji pun lebih tua usianya daripada Sultan Mahmud Riayat Syah. Akan tetapi, sesuai dengan Sumpah Setia yang telah diasaskan para pendahulu mereka, Raja Haji—walaupun secara kerabat dan kalender lebih tua—tetaplah dengan jabatannya sebagai Yang Dipertuan Muda karena Baginda sejatinya keturunan Yang Dipertuan Muda.

Sebaliknya, kendatipun lebih muda—secara kerabat dan kalender—Tengku Mahmud menjabat Sultan karena Baginda keturunan Yang Dipertuan Besar dari pihak ayahandanya. Itukah yang membuat mereka istimewa? Ternyata tidak! Bakti dan pengorbananlah yang membuat orang bangsawan itu boleh dibilangkan nama.

            Pada 6 Januari 1784 bangsawan berdua itu telah mempermalukan Belanda. Mereka menang telak dalam Perang Riau I di perairan Tanjungpinang. Yang bertindak sebagai panglima perang dari kesultanan adalah Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda Raja Haji ibni Opu Daeng Celak.

Akibatnya, pasukan Belanda yang masih hidup harus melarikan diri ke markas mereka di Melaka, tentu dengan mengalami kerugian materi akibat perang yang tak sedikit, termasuk meledaknya kapal mereka Malaka’s Welvaren. Perang Riau I merupakan kemenangan besar pertama Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang terhadap musuhnya pasukan Belanda.

            Tak lama setelah Perang Riau I berakhir, kedua pemimpin Melayu itu dan para pembesar kerajaan bermusyawarah. Putuslah mufakat mereka dalam musyawarah itu. Belanda harus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Untuk itu, tahap awalnya bangsa penjajah itu harus diusir dari Tanah Melayu. Dengan demikian, Melaka yang dijadikan basis pertahanan Belanda di Semenanjung harus direbut kembali.

Pengalaman mampu mengalahkan Belanda di Tanjungpinang, yang pasukan musuhnya juga datang dari Melaka, memberikan semangat lebih kepada Sultan dan Yang Dipertuan Muda. Maka, Juni 1784 dimulailah penyerangan terhadap Belanda dengan satu matlamat: Melaka harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi, milik sah bangsa Melayu.

            Beberapa daerah pinggiran Melaka, dalam perang lanjutan itu, telah dikuasai pasukan Duli Yang Mulia Raja Haji, yang memimpin perang itu. Duli Yang Mahamulia Sultan Mahmud Riayat Syah, sesuai dengan kesepakatan orang berdua beranak, untuk sementara bertahan di Muar (bagian Kerajaan Negeri Johor, Malaysia, sekarang). Akan tetapi, ketika perang mulai berkecamuk di Teluk Ketapang, Melaka, Sang Keponakan khawatir akan keselamatan Sang Paman dalam perang itu. Lalu, Tuhfat al-Nafis melanjutkan kisahnya. 

“Kemudian tiada berapa antaranya maka Sultan Mahmud pun datanglah ke Teluk Ketapang itu mendapatkan paduka ayahanda Raja Haji. Maka sembah Raja Haji kepada paduka anakda baginda itu Sultan Mahmud, ‘Baik silakan paduka anakda balik ke Muar. Nanti ayahanda di dalam Muar, tiada usahlah masuk, biarlah ayahanda saja kerana barangkali dikehendaki Allah taala ayahanda sampai janji di dalam perang dahulu Allah wa baadu al-rasul. Kemudian paduka anakdalah ayahanda harap memeliharakan ahli-ahli ayahanda serta memelihara pacal-pacal itu anak-anak Bugis.

Adapun ayahanda suka serta rela kerana dosa ayahanda selama-lama ini. Maka ayahanda harapkan diampuni Allah taala dengan sebab kematian perang ini.’ Syahadan apabila baginda Sultan Mahmud mendengar perkataan paduka ayahanda itu, maka baginda pun menangislah terlalu sangat. Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun menangis juga…,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

Walau dengan berat hati karena tak tega meninggalkan Mamanda Raja Haji, Sultan Mahmud Riayat Syah harus kembali ke Muar untuk mempersiapkan pertahanan di sana. Dalam pada itu, Raja Haji melanjutkan perang terhadap Belanda di Teluk Ketapang. Diringkaskan kisahnya, dengan takdir Allah dan sesuai benar dengan firasat Baginda, Duli Yang Mulia Raja Haji tertembak oleh musuh dalam peperangan itu dan Baginda serta sebagian tentaranya gugur secara perkasa sebagai syuhada pada 18 Juni 1784 untuk membela bangsa dan negaranya.

Berdiam diri sajakah Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah atas musibah yang menimpa mamanda Baginda? Jawabnya, tentu saja tidak. Pantang Melayu menghindari musuh! Nanti, pada Mei 1787 Sultan Melayu yang paling cerdas dan visioner itu tampil langsung memimpin pasukan untuk mempertahankan marwah bangsanya sekaligus menuntut bela atas kemangkatan mamandanya dalam Perang Riau II. Dalam perang itu, Belanda kembali merasakan dahsyatnya amuk dan aruk Melayu. Kisahnya panjang sehingga harus dipadakan sampai di sini dulu.

Dari sedotan perjuangan para pemimpin Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di atas, pertanyaan utama yang muncul adalah mengapakah para wira sejati tak pernah gentar berlawan dengan musuh ketika marwah bangsa dan negaranya tercabar walaupun nyawa sebagai tagannya? Jawabnya, mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa perjuangan membela bangsa dan negera diridai oleh Allah. Dengan kata lain, perjuangan suci itu tak lain tak bukan adalah berjuang di jalan Allah.

Jika demikian putus kajinya, Raja Ali Haji rahimahullah dalam Tsamarat al-Muhimah melalui syair nasihat bait 16 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) mewasiatkan nilai kebenarannya.

Jika benar yang kita hukumkan
Di belakang jangan kita hiraukan
U(m)pat dan puji kita biarkan
Kepada Allah kita saksikan

Itulah kalimat khatam kajinya. Jika yang diperjuangkan memang kebenaran sejati karena sesuai dengan pedoman Allah, pemimpin terbilang tak perlu ragu. Perjuangan membela bangsa dan negara dengan niat yang suci—apa pun bentuk dan cabarannya—wajib dilaksanakan. Hasil dan akibatnya kesemuanya harus dipulangkan kepada Allah. Ternyata, perjuangan suci itu memang dibenarkan oleh Allah sesuai dengan petunjuk-Nya.  

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, mereka tak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Merekalah orang yang sebenar-benarnya benar,” (Q.S. Al-Hujurat, 15).

Keyakinan itulah yang memotivasi para pemimpin sekaligus wira sejati untuk berbuat bakti. Mereka tak pernah mempersoalkan perkara hidup ataupun mati asal sesuai dengan ketentuan Ilahi. Membela bangsa dan negara dengan sepenuh hati tak boleh ditawar-tawar karena telah menjadi harga mati. Bukankah setelah hidup setiap manusia pasti juga mati. Akan berbedalah maknanya mati biasa dengan mati berbuat bakti. Bukan hanya atau sekadar menurut pandangan manusia, bahkan memang telah disuratkan oleh Allahi Rabbi.

 Atas dasar itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesebelas, bait 1 (Haji, 1847) mengingatkan manusia, lebih-lebih pemimpin, untuk bersungguh-sungguh berbakti kepada negara dan bangsa. Pasalnya, bakti yang tulus itu sangat mustahak bagi kelangsungan bangsa sehingga dikenang orang sepanjang masa. Pemimpin seperti itulah yang dipandang mulia dalam arti yang sesungguhnya.

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa

Bakti dan perjuangan di jalan Allah itu pun ditegaskan oleh Rasulullah SAW akan kebenaran nilainya. Itulah sebabnya, pemimpin sejati tak pernah ragu melaksanakan pengabdiannya. Pasalnya, mereka yakin akan kebenarannya sehingga perjuangan mereka pasti mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Rasulullah SAW bersabda, “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah,” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, ‘Abdurrazzaq, dan Ibnu Majah).

Jelaslah alasannya mengapa setelah mangkat Baginda Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dipanggil dengan nama Raja Haji Fisabilillah. Penambahan nama Baginda bukanlah dibuat-buat, melainkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang dibuktikan oleh pengorbanan Baginda Yang Dipertuan Muda yang gagah perkasa itu dalam membela bangsa dan negara. Bahkan, ketika berperang melawan Belanda di Melaka, Baginda memang telah meniatkannya untuk berjuang di jalan Allah (lihat nukilan Tuhfat al-Nafis di atas).

Para wira dan pemimpin yang berjuang di jalan Allah tak mencintai dunia atau tak tertipu oleh godaan dunia. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia hanya tempat laluan sementara, yang di dalamnya manusia diamanahkan untuk menunaikan bakti. Perkara itu terekam dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam, bait 89 (Haji, 1893 dalam Malik & Junus, 2000).

Sebab berperang ugama yang mulbih
Nabi Muhammad lisanul fasih
Hatinya suci sangatlah bersih
Akan dunia tiada ia kasih

Syair Sinar Gemala Mestika Alam, bait 89

Rasulullah SAW merupakan tauladan pemimpin yang agung dan tiada bandingannya. Bagindalah yang disuratkan dalam bait syair di atas untuk diikuti oleh para pemimpin kelas utama. Baginda tak pernah silau oleh gemerlapnya tipuan dan racun dunia. Oleh sebab itu, orang-orang yang mengikuti Baginda akan menyandang kualitas budi kepemimpinan yang sempurna. Memang begitulah sesungguhnya pedoman sekaligus amaran dari Allah Azza wa Jalla.

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nescaya Kami  berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tak memperoleh  balasan di akhirat, kecuali neraka. Dan, lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan,” (Q.S. Hûd, 15—16).

            Sangat benarlah jadinya ketika Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 5—6 (Haji, 1847) menuturkan tunjuk ajarnya. Pasalnya, dibandingkan akhirat, kuantitas dan kualitas dunia tak ada apa-apanya. Oleh sebab itu, sangat tak bijak jika dunia dijadikan tempat untuk berbuat sesuatu yang tiada berguna.

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Tunjuk ajar dalam Gurindam Dua Belas di atas sesuai benar dengan pedoman yang diberikan oleh Rasûlullâh SAW. Baginda Rasul bersabda, “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jarinya—Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya—ke laut. Lalu, lihatlah apa yang dibawa jarinya itu,” (H.R. Muslim dan Ibnu Hibban).

Kebaikan dan kebahagiaan dunia ini kiranya hanya seujung telunjuk jika dibandingkan dengan keelokan dan kesempurnaan akhirat. Oleh sebab itu, orang-orang yang dianugerahi amanah sebagai pemimpin di dunia hendaklah berjuang sesuai dengan petunjuk Allah agar di akhirat yang abadi kelak tak jatuh melarat.

Cintailah dunia secara benar dengan berbuat bakti kepada negeri dan rakyat. Tentulah dengan niat dan perilaku sebagai pemimpin yang amanat lagi terhormat. Bersamaan dengan itu, tak perlu bercontoh kepada pemimpin yang khianat. Hanya dengan begitu kerja-kerja kepemimpinan beroleh berkat. Jika tidak—percaya atau tidak—azab Allah terlalu dekat.***

Tinggalkan Balasan