Pemandangam salah satu sudut kawasan Kota Piring di Pulau Biram Dewa, di Hulu Riau, Tanjungpinang bulan februari 1989. Masih belum ada rumah penduduk. (Dok. Aswandi Syahri)

DALAM historiografi tradisional Melayu seperti Sullalatus Salatin (Sejarah Melayu) karya Tun Sri Lanang, Hikayat Siak yang dirawikan oleh Tengku Said, dan Tuhfat Al-Nafis karya Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad, terdapat cukup banyak narasi serah perihal kota yang dibedakan dari negeri, benteng, dan kubu, dalam kebudayaan Melayu.

Pada bagian-bagian yang mengisahkan tentang Raja Syulan di Benua Keling, Tun Sri Lanang (Sulalatus Salatin, 1200:17) umpamanya, menggambarkan sebuah kota di negeri  bernama Lenggui atau Gelanggui (yang artinya perbendaharaan permata) sebagai berikut: “…dahulu kala negeri itu negeri besar, kotanya batu hitam ladai…tujuh depa tebalnya, tingginya sembilan depapintunya daripada emas melela…bermula peri luas kota itu  tujuh buah gunung di dalamnya…”

Begitu pula dalam Hikayat Siak (1992:271), ada dikisahkan tentang Sultan Negeri Kayung di Kalimatan Barat yang berundur dan membangun negeri di Hulu Sungai Sikudana (Sukadana) setelah ditaklukkan Tengku Akil yang menggelar dirinya Sultan Abdul Jalil syah: “…Dan Sultan pun mengalih ke dalam sungai Sikudana, kepada tempat sekarang ini dan membuat istana dan kota. Dan kepada empat penjuru kota [itu], ditaruh meriam…”

Demikian pula halnya dengan pembukaan Pulau Penyengat sebagai sebuah negeri tempat kediaman Engku Puteri Raja Hamidah oleh Sultan Johor, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah pada tahun 1803, juga dimulai dengan pembangunan sebuah kota dan kelengkapannya sebagaimana dicatat Raja Ali Haji dan Ayahnya dalam Tuhfat al-Nafis (1997:218) sebagai berikut: “…Maka apabila sudah cuci [bersih] Pulau Penyengat itu ditebas, maka baginda [Sultan Mamhmud] pun berbuatlah istana dengan kota paritnya, dengan masjid balairungnya…”.

Pada bagian yang lain, dalam Tuhfat al-Nafis (1997:166), digambarkan pula betapa indah dan megahnya kota dan istana Raja Haji di Negeri Riau, yakni sebuah kompleks istana yang kini dikenal sebagai ‘Kota Piring’: “…Syahdan, apabila tiba ke Riau, maka Yang Dipertuan Muda [Raja Haji] pun membuat istana…serta dengan kotanya yang indah-indah, yang bertatah dengan pinggan dan piring sangatlah indah perbuatannya…”

Beberara kutipan di atas, menunjukkan adanya beda dan perbedaan antara kota dan negeri, yang juga berbeda maknanya dengan istilah kota, yang dipadankan dengan city, dalam pengertian kita pada masa kini. Lantas apa sesungguhnya yang disebut kota dan “variannya” dalam kebudayaan Melayu?

Perkataan kota, asalnya adalah bahasa Sansekerta, yang telah terserap kedalam bahasa Melayu. R.J. Wilkinson dalam Malay-English Dictionary (romanised edition, 1959:618) menjelaskan bahwa makna pertama yang terkandung dalam kosa kata ini adalah: benteng, kubu, [Fortified place; Stronghold], sebuah tempat yang dibentengi atau sebuah kawasan perbentengan yang lebih permanen dari sebuah kubu yang sifatnya hanya temporer.

Selengkapnya, Wilkinson menjelaskan sebagai berikut: “A fortification more permanent than stockade (kubu) or breastworks (benteng) that are cobstructed only for the needs of campaign; a fortified town or fortress e. The Malacca fort” [Sebuah perbentengan yang lebih permanen dibanding tembok pertahanan (kubu) atau breastworks (benteng) yang dibangun secara darurat dengan batu atau tanah, dan hanya hanya berfungsi untuk keperluan menahan sebuah tindakan militer; sebuah benteng atau kota yang dibentengi, contohnya, adalah benteng kota Malaka.]                 

   Penjelasan Wilkinson sejalan dengan defenisi yang dikemukakan oleh oleh M. Monier-William dalam A Sansktrit-English Dictionary (1964). Menurut Monier-William, istilah kota atau kotta adalah kosa adalah bahasa dalam bahasa Sansekerta yang artinya adalah benteng (“the fort”). Begitu pula istilah “kottara” yang akar katanya adalah kota, juga menunjuk kepada makna “benteng” atau “fort”, atau kota yang diperbentengi, “portified town.”

Sebagai sebuah kosa kata serapan, dalam penggunaannya, perkataan kota dalam Bahasa Melayu mengandungi beberapa pengertian dan makna yang sangat bergantung kepada konteks kultural dan historisnya. Dalam kebudayaan Melayu, Kota biasanya dipersandingkan dengan kubu yang memagari pusat pemerintahan, yaitu istana raja. Namun demikian, jika dilihat dari segi bentuk, fungsi, lokasi, dan materi untuk membangunnya, maka akan terlihat sebuah perbedaan antara kota dan kubu.

Seperti telah dikemukan sebelumnya, dalam historiografi tradisonal Melayu, kota sering dikaitkan dengan istana raja-raja. Apabila seorang raja membuka sebuah negeri yang baru, maka sang raja memerintahkan rakyatnya mendirikan istana yang ber-kota. Dengan kata lain, sebuah istana raja itu haruslah terletak dalam sebuah kawasan berpagar, atau diperbentengi, seperti dalam kasus pembangunan istana sebuah di Pulau Penyengat untuk kediaman Engku Puteri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud Ria’ayatsyah. Begitu juga dengan Kota Piring, yaitu kompleks istana Raja Haji di Pulau Biram Dewa yang yang pagar tembok istananya, atau kota-nya, berhiaskan pinggan porselin Cina.

Selain dibangun menggunakan susunan batu atau campuran batu dan pasir yang direkatkan menjadi tembok, kota sebagai pagar atau benteng istana raja Melayu dapat pula terbuat dari kayu sasak, nibung, buluh, atau berupa gundungan tanah yang ditata sedemikian rupa.

Oleh karena fungsi ganda yang dimilikinya, sebuah kota atau benteng pelindung dalam kaitannya dengan istana raja-raja Melayu memiliki sejumlah kelengkapan pendukung dalam fungsinya sebegai pelindung kediaman raja atau Kota Raja yang juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Demikianlah, selain istana raja, lazimnya, di dalam lingkungan sebuah kota, dalam kebudayaan Melayu, terdapat balairung, rumah ibadah, sudut sarang meriam (bastion), mempunyai tempat menyimpan senjata dan lain sebagainya. Oleh karena fungsi gandanya itu, sebuah kota mempunyai pintu gerbang, yang membedakannya dengan kubu dan benteng.

Sebaliknya, Kubu atau Benteng, berbeda pula dengan kota. Sebuah kubu atau benteng, biasanya adalah kelengkapan pertahanan yang dibuat dari tanah yang ditambak, atau pancang-pancang kayu yang rapat, yang disebut ‘pagar sasak’, yaitu pagar kayu balok yang melingkari sebuah kawasan pertahanan. Namun demikian, seperti halnya kota, sebuah kubu juga mempunyai pengawal bersenjata yang selalu menjaganya.

Sebagai sebuah pusat pertahanan, sebuah kubu atau benteng berbeda dari kota raja. Di dalam kubu tidak perlu ada rumah kediaman keluarga diraja, tidak ada balairung dan istana seperti terdapat dalam sebuah kota raja. Oleh karena itu, seperti telah ditunjukkan oleh Abdul Halim Nasir (1990), istilah kota dan kubu tidaklah dengan serta merta dapat menentukan suatu kompleks bangunan disebut kota di satu pihak, dan kubu di pihak lain, karena segala sesuatunya harus lah dilihat konteksnya.

Adakalanya, sebuah pusat pertahanan, benteng atau kubu juga disebut kota dalam pengertian kelengkapan pertahanan negeri. Dalam kasus ini, Kota Karang sebuahbenteng di Pulau Bulang; sebuah perahu diperbentengi yang disebut Kota Berjalan yang pernah dipakai pada masa Sultan Sulaiman di Negeri Riau; dan Kota Kara, yakni benteng pertahanan Sultan Mahmudsyah Melaka ketika menghadapi rempuhan serangan Portugis di Pulau Bintan pada abad ke-16, adalah kota dalam pengertian kubu atau benteng pertahanan.***

Artikel SebelumCitra Perempuan Melayu pada Awal Abad Lalu
Artikel BerikutKehidupan Rakyat Pikirkan Benar
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan