Encik Muhammad Apan dan Dr. H.J. van Mook usai Oepatjara Pelantikan Federasi Bangka, Belitoeng dan Riouw, di Tanjungpinang tahun 1948. Kelak, Encik Meuhammad Apan menjadi Bupati Kpulauan Riau yang pertama. (Foto: Dokumentasi Aswandi Syahri)

(Verslag Lengkap Upatjara Pelantikan)

PADA tahun 1948, seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau pernah bergabung dalam sebuah federasi bersama Bangka danBelitung (yang kini tergabung dalam Provinsi Bangka Belitung) dan Belitung (Billiton) yang disingkat Federasi BaBeRi atau adakalanya BABIRI (Bangka Billiton Riouw).

Federasi ini adalah sebuah ‘ikatan longgar’ tiga wilayah (Bangka, Belitoeng, dan Riouw) dengan status sebagai “negara” semi-otonomi atau neo-zelfbesturen (pemerintah otonomi model baru), dan menjadi bagian (Negara Federal) dari Negara Indonesia Serikat (NIS) bentukan Belanda yang digagas dalam Konferensi Malino, di Kota Malino, Sulawesi Selatan pada 15 Juli hingga 25 Juli 1946.

Ikatan federatif tiga wilayah ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan ekonomis dan politis. Dua pertimbangan ini diambil untuk memaksimalkan potensi alam (timah dan bauksit) serta status daerah semi-otonomi yang diberikan Belanda, untuk sepenuhnya memberi manfaat bagi kepentingan pembangunan di ketiga wilayah ini bila kelak bergabung dalam Negara Indonesia Serikat (NIS) yang akan dibentuk.

Embrio gagasan pembentukan Federasi BaBeRi atau BABIRI ini juga muncul dalam Konferensi Malino itu, dan pembahasan lebih lanjut tentang ide pembentukan federasi ini dilakukan oleh badan-badan pekerja Dewan (Raad) Bangka, Belitoeng, dan Riouw pada bulan Januari 1948 di Kota Belinyu (Bangka).

Gagasan pembentukan federasi tiga wilayah semakin dimatangkan dalam sebuah Permoesjawaratan Federal yang digelar di Bandung pada bulan 15 Juli 1948, yang juga dihadiri oleh Encik Mohamad Apan dari Pulau Penyengat (kelak menjadi Bupati Kepulauan Riau pertama), J.B. van Schendel, dan Mochtar Hoesin (kelak menjadi Ketua Riouw Raad hasil pemilihan umum Riouw Raad 1948) sebagai wakil dari Keresidenan Riouw.

Pada mulanya, peresmian federasi ini akan diselenggarakan di Kota Pangkal Pinang sebagai yang telah dipilih sebabagi ibukota federasi BaBeRi atau BABIRI. Namun demikian,  atas permintaan Riouw Raad (Dewan Riau) di Tanjungpinang, seremonial peresmian dan penubuhan federasi tiga daerah ini akhirnya dilaksanakan di Tanjungpinang pada hari Senin, 5 Juli 1948. Prosesi peresmiannya ditandai dengan pelantikan sebuah Majelis atau Dewan Federasi BeBeRi yang diikuti dengan pembukaan sidang Majelis Federasi BaBeri yang pertama, oleh Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dr. H.J. van Mook.

Di Tanjungpinang, peresmian Federasi BaBeRi dan pembukaan sidang pertama Majelis Federasi BaBeRi tersebut diselenggarakan di gedung Riouw Raad (Dewan Riouw), sebuah bangunan permanen yang kelak digunakan sebagai gedung studio  RRI Tanjungpinang yang pertama.

Sejalan dengan peresmian Federasi BeBeRi di Tanjungpinang, dilantik pula Tuan Masjarif gelar Lelobandaharo dari Dewan Bangka sebagai ketua federasi dengan didampingi oleh Encik Mohamad Apan dari Dewan Riouw, dan K.A.M. Joesoef dari Dewan Belitoeng.

Dalam sejarahnya, eksistensi Federasi BaBeri tidak berlangsung lama. Kerja sama federasi ini hanya berjalan sepuluh bulan dan secara resmi berakhir pada tanggal 4 April 1950, menyusul masuknya wilayah Bangka, Belitoeng, dan Riouw (Kepulauan Riau) ke dalam Negara Republik Indonesia sebagai tindak lanjut kesepakatan pemerintah Republik Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Negeri Belanda.

***

Upacara pelantikan Federasi Bangka, Belitoeng dan Riouw serta rangkaian acaranya di Tanjungpinang dan Pulau Penyengat sejak hari Senin hingga Selasa (5 Juli hingga 6 Juli 1948) itu diliput oleh media cetak berbahasa Belanda dan Indonesia yang berbasis di Jawa dan Sumatra (media cetak nasional ketika itu) serta disiarkan oleh sejumlah petugas radio siaran yang didatangkan dari Jakarta.

Jauh-jauh hari, surat kabar berbahasa Belanda, Het dagblad yang diterbitkan oleh Nederlandsche Dagbladpers di Batavia, umpamanya, telah menurunkan berita tentang rencana peresmian pengukuhan federasi tiga wilayah ini itu dibawah judul “Dr. Van Mook Naar Riouw Installatie van Federatie” (“Dr. Van Mook ke Riouw Pelantikan Federatie”) pada 30 Juni 1948. Di Medan, harian Het Neuwsblad voor Sumatra yang diterbitkan oleh sindikat Deli Corant dan De Sumtatra Post, juga merilis berita yang sama di bawah judul “De Landvoogd Naar Riouw” (“Wali Negeri ke Riouw”) pada 1 Juli 1948.

Selain digelar secara formal di Gedung Riouw Raad (Dewan Riau) di Tanjungpinang, rangkaian acara yang melengkapi upacara pelantikan Federasi BaBeRi di Tanjungpinang ketika itu berlangsung meriah selama dua hari penuh: 1.700 murid sekolah dilibatkan, ada karnaval laut, Pulau Penyengat dipilih menjadi destinasi dalam kunjungan Gubernur Jendral ke ibu kota Keresidenan Riouw, dan Kota Tanjungpinang bermandi cahaya sempena pawai lampion (Lampion-Optocht) pada malam hari.

Surat kabar berbahasa Indonesia seperti Pelita Rakjat yang terbit di Jakarta pada 20 Juli 1948 melansir dua foto yang merekam peristiwa itu. Sementara itu, surat kabar Pandji Ra’jat yang juga terbit di Jakarta mengirim seorang koresponden istiwewanya untuk meliput upacara tersebut di Tanjungpinang. Laporan padangan mata atau reportase tentang upacara pelantikan oleh koresponden istimewa dari Surat Kabar Pandji Ra’jat itu diterbitkan di bawah judul Oepatjara Pelantikan Federasi Bangka, Belitoeng dan Riouw pada 9 Juli 1948.

Bagaimana suasana dan kemeriahan yang mengikutinya? Berikut ini salinan verslag (laporan) lengkap koresponden istimewa dari surat kabar Pandji Ra’jat tersebut. Verslag ini adalah sebuah model repostase wartawan ‘tempoe doeloe’ yang saya salin sesuai ejaan aslinya dalam Bahasa Indonesia yang masih menggunakan Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik yang  bercampur-campur dengan kosakata dalam bahasa Belanda. Tambahan keterangan dalam kurung siku, adalah dari saya:

Tiba di Riouw (Tanjungpinang)

Djam 10.30 pagi djam Riouw (11.30 djam Jawa) pesawat terbang “catalina” jang membawa Pjm [Paduka Jang Mulia] Letnan Goebenoer Jenderal tiba di Tandjoeng Pinang! Disana beliau disamboet oleh ketiga ketoea dari Dewan2 Bangka, Belitoeng dan Riouw, beserta para pembesar sipil dan militer, dengan seboeah motor-laoet. Motor-laoet ini di kanan-kirinja ada poela 24 perahoe jang dihiasi dengan bermatjam-matjam bendera dan kertas2 berwarna perak, mengirimkan motor Wali Negeri [Gubernur Jenderal Hindia Belanda] itoe kepelaboehan. Dipelaboehan [Tanjungpinang] disamboet oleh Panitia Penjamboet jang terdiri dari pemoeka2 di Riouw dari segala bangsa lelaki dan perempoean. Dan djoega ada kira-kira 1700 moerid-moerid sekolah lelaki dan perempoean toeroet menjamboet dengan melabai-lambaikan bendera ketjil. Setelah memeriksa barisan kehormatan, maka Wali Negeri dengan rombongannja jang datang bersama-sama itu doedoek mengasoeh [mengaso, istirahat] sebentar di rumahnja Pt [Padua Tuan] Residen Riouw [Gedung Daerah].

Pelantikan Federasi

Pada djam 12.15 djam Riouw (11.15 djam Djawa) oepatjara pelantikan poen dimulai dalam soeatoe gedung jang sederhana dengan dihadiri lebih dari 100 orang. Dimedja pimpinan doedoek ditengah-tengah T [Tuan] Masjarif,  di kanan-kirinja tt [Tuan-Tuan] Mohamad Apan dan K.A.M. Joesoet, jang ketiga-tiganja meroepakan gaboengan dari tiga ketoea dari Dewan2 Bangka, Belitoeng, dan Riouw. Dimoeka medja itoe doedoek Pjm [Paduka Jang Mulia] Goebernoer Djenderal dan dikanan-kirinja doedoek  para staafsecretarisen (staf secretariat Gubernur Jeneral) dan lain-lain pembesar jang toeroet datang dari Djakarta bersama Wali Negeri itoe, beserta kedoeanja Residenten Bangka-Belitoe dan Riouw. Disebelah kanan medja itoe doedoek para anggauta Dewan Riouw. Para tetamoe jang dioendang terdiri dari segala bangsa lelaki dan perempoean. Poeblik poen ada djoega berdjedjal-djedjal menontoen diroeangan jang ketjil itoe. Film dan fotoe serta ahli technik radio dari Djakarta siboek dengan pekedjaanja masing-masing, begitoe djoega wakil-wakil pers.

Ketoea Federasi Pt [Paduka Tuan] Masjarif memboeka sidang dan mengoetjapkan pidatonja dalam bahasa Indonesia jang lantjar, pidato lengkapnja lihat dibagian lain.

Setelah itoe, maka Pjm. Dr. van Mook [Gubernur Jenderal] poen berpidato, pidato lengkapnja lihat dibahagian lain.

Setelah itoe, maka selesailah penalikan [seharusnya pelantikan] resmi Federasi Bangka, Belitoeng dan Riouw dan sidang poen ditoetoep oleh Pt [Paduka Tuan] Masjarif.

Lampion-Optoch

Sorenja pada djam 18.30 ada poela arak-arakan memakai lampion (tangleng2) jang bermatjam-matjam warnanja. Arak-arakan ini dilakoekan oleh moerid-moerid sekolah besar dan ketjil, lelaki dan perempoean. Mereka terdiri dari segala bangsa Indonesia,  Tiongoa dan Belanda. Ramai benar mereka anak-anak itoe bersorak2. Araka-arakan itoe didahoeloei oleh orkest soeling dari tentera keradjaan. Dan diachir sekali ada barisan moesik Tionghoa, dengan pakaian istimewa poela.

Resepsi

Pada djam 19.30 diadakan resepsi diroemahnja Resident [Gedung Daerah di Tanjungpinang]. Banjak sekali jang hadir dari segala bangsa. Disitoe kita melihat banjak toean-toean dan tengkeo2 jang berpakaian adat Melajoe-Riouw sedjati. Beliau-beliau ini masih ketoeroenan dari Sultan Riouw dari zaman dahoelo. Banjak Pjm [Paduka Jang Mulia] Letnan Goebernoer Djenderal beramah-tamah dengan beliau2 itoe.

Kepoelau Penjengat

Esok paginja (Selasa-pagi) telah diadakan perdjalanan dengan motor-laoet melihat-lihat Poelau Bajan, dan poelau Penjengat jang bersedjarah. Dipoelau Penjengat rimbongan Letnan Goebernoer Jenderal disamboet oleh pembesar-pembesar Indonesia jang ada disitoe, dimana Wali Negeri pergi melihat-lihat bekas2 astana toea dari keradjaan Riouw jang soedah tidak ditoenggoe lagi. Roemah holoebalang Riouw jang hebat kelihatnnja serta amat toea itoepoen didatangi oleh rombongan ini. Setelah itoe pergi melihat Mesdjid Soeltan jang baroe benar roepanya, sekalipoen soedah toea dan koerang teroeroes, tetapi mesdjid ini adalah bagoes adanja. Setelah itoe, rombongan ite poen poelang kembali kepoelau Bintan dimana kota Tadnjoeng Pinag terletak. Pada djam 13.00 tepat pesawat terbang Letnan Goebernoer Djenderal terbang melajang kembali ke Djakarta.***

Artikel SebelumTanda Raja Beroleh Inayat
Artikel BerikutCitra Perempuan Melayu pada Awal Abad Lalu
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan