TERBILANGLAH nama Sultan Abdul Hamid Syah. Dia adalah pemimpin Kerajaan Barbari. Kerajaan yang dipimpinnya sangat terkenal, dihormati semua orang, baik yang dekat maupun yang jauh. Bagaimanakah sesungguhnya keberadaan kerajaan yang dipimpinnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita ikuti penuturan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Syair Abdul Muluk, bait 3 (Haji, 1846).

Abdul Hamid Syah konon namanya
Terlalu besar kerajaannya
Beberapa negeri takluk kepadanya
Sekalian itu di bawah perintahnya

Sultan Abdul Hamid Syah berjaya membangun Kerajaan Barbari sehingga bertumbuh dan berkembang menjadi kerajaan yang besar dan maju. Begitu maju negerinya sehingga banyaklah orang berdatangan ke negerinya untuk mengubah nasib menjadi lebih baik dibandingkan ketika hidup di negeri mereka sendiri. Apakah rahasia utamanya sehingga Sultan Barbari berhasil membangun negerinya sampai pada peringkat kemajuan yang mengagumkan semua orang? Lebih dari itu, kerajaannya menjadi tempat bernaung manusia pelbagai bangsa yang berdatangan ke negerinya.        

            Melalui Syair Abdul Muluk, bait 142 (Haji, 1846), dapatlah diketahui kunci utama kejayaan Sultan Abdul Hamid Syah membangun negerinya. Rahasianya terungkap ketika sultan yang bijak bestari itu berwasiat kepada putranya, Abdul Muluk, pewaris tahtanya.

Anakku sedang remaja putera
Pasti-pasti sebarang bicara
Pekerjaan jahat janganlah segera
Kepada Allah minta pelihara

Sultan Abdul Hamid Syah tak pernah tergamak untuk melukai hati rakyatnya. Sikap, perkataan, dan perbuatan yang diimplementasikannya ke dalam kebijakan dan tindakan kepemimpinannya dijaganya sedemikian rupa agar rakyat tak kecewa terhadapnya dan kepemimpinannya. Dalam hal ini, dia selalu mengikuti petunjuk Allah dalam memimpin negerinya. Sangat takut dia melakukan tindakan kepemimpinan yang menyimpang dari pedoman yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang memang dipercayainya.

            Rupanya, sikap takut kepada Allah—dalam arti yang sesungguhnya—yang membuat pemimpin berjaya dalam kepemimpinannya. Dengan rasa takut menyimpang dari ketentuan Allah itu, para pemimpin terbilang mengimplementasikan program-program pembangunan negerinya benar-benar berdasarkan petunjuk Allah, tak berani dia mengingkari dan menyelewengkannya dengan alasan apa pun. Rasa takut yang benar itu pulalah yang menjulangkannya menjadi pemimpin besar yang patut dikenang semua orang.

            Rasa takut kepada Allah sebagai kualitas budi kepemimpinan ternyata memang disinggung dalam Tsamarat al-Muhimmah. Karya bidang hukum, politik, dan pemerintahan itu menjelaskannya sebagai berikut.   

 “Maka hendaklah … ia mendapat pangkat daripada jabatan menteri … tiada lepas sekali-kali daripada yang tersebut, melainkan takutkan Allah Taala [huruf miring oleh HAM]…” (Haji dalam Malik, 2013).

Dengan perian di atas, kualitas takut kepada Allah ditempatkan oleh Tsamarat al-Muhimmah sebagai syarat utama kepemimpinan. Dengan demikian, hanya pemimpin yang takut kepada Allah-lah yang akan berjaya mewujudkan negeri dan rakyatnya menjadi negeri dan bangsa yang maju. Sebaliknya pula, pemimpin yang “takut kepada Allah, sekadar berpura-pura sahaja” akan mendatangkan malapetaka bagi negeri dan rakyatnya seperti yang disuratkan syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 42 (Haji dalam Malik, 2013).

Beberapa negeri terkena bala
Sebab perbuatan kepala-kepala
Karena perbuatan banyak yang cela
Datanglah murka Allah Taala

Jelaslah bahwa negeri yang nasibnya bagai “hidup segan mati tak mau” dan rakyatnya senantiasa “dirundung malang” penyebab utamanya adalah pemimpinnya berani melawan Allah. Dengan kata lain, sikap dan tindakan kepemimpinannya jauh dari nilai-nilai yang diamanahkan oleh Allah. Lebih parah lagi, di permukaan dia terlihat seperti orang yang taat dan takut kepada Allah, tetapi di sebalik itu tindakan kepemimpinannya, justeru, sengaja melawan ketentuan-Nya. Dengan kata lain, walau tak diucapkannya secara terus-terang, dia seolah-olah hendak beradu kekuasaan dengan Yang Mahakuasa dengan cara mengingkari perintah Tuhan. Tuhan dilawan, maka rasakanlah padah-pedihnya yang tak terperikan! Jika tak sekarang, siap-siap saja menunggu giliran. Kepemimpinan bukanlah perkara yang boleh dipermain-mainkan.

Sesungguhnya, sangat banyak petunjuk Allah kepada pemimpin jika hendak dijadikan pedoman. Di antaranya diperturunkan ayat-ayat yang menjadi pilihan.

 “Orang yang takut kepada Allâh akan mendapatkan dua surga. Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua-dua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan,” (Q.S. Ar-Rahmân, 46—48).

Surga memang didambakan oleh semua manusia yang yakin akan keberadaan Tuhan. Bagi pemimpin yang melaksanakan bakti kepemimpinannya dengan takut melanggar ketentuan Allah, surga, tentu, telah dinikmatinya di dunia—bahkan dinikmati juga oleh seluruh rakyat, yakni kesejahteraan zahir dan batin—berupa nikmat kejayaan kepemimpinan yang takkan dilupakan orang. Di akhirat pula surga yang abadi telah menanti dengan pelbagai anugerah kebahagiaan karunia Ilahi yang telah dijanjikan-Nya. Memang, seyogianya tak ada nikmat Allah yang harus didustakan. Lalu, ada pemimpin yang justeru mengalami derita kepemimpinan? Pasalnya, tindakan kepemimpinannya memang sengaja berlawan dengan Tuhan. Tangan yang mencencang, bahulah yang harus memikul.

Pemimpin seperti Sultan Abdul Hamid Syah menyadari benar akan mustahaknya sifat dan sikap takut kepada Allah yang harus diimplementasikan dalam melaksanakan amanah kepemimpinan. Pemimpin seperti itu sadar sesadar-sadarnya akan kebenaran tunjuk ajar Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 3 (Haji, 1847) yang tak terbantahkan nasihatnya jika matlamat kepemimpinan adalah kejayaan yang sesungguhnya. Kepemimpinan semestinya mengimplementasikan tindakan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Bukankah Rasulullah SAW sebagai pemimpin ulung juga telah berwasiat tentang mustahaknya memelihara rasa takut kepada Allah dalam kepemimpinan? Sesungguhnya, Bagindalah yang paling mengetahui alasan pentingnya sifat dan sikap takut kepada Allah, lebih-lebih dalam melaksanakan amanah kepemimpinan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, aku melihat apa yang tak kalian lihat. Aku mendengar sesuatu yang tak kalian dengar. Langit merintih dan layak baginya untuk merintih. Tak ada satu ruang selebar empat jari, kecuali di sana ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya, bersujud kepada Allah. Demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kalian akan jarang ketawa dan sering menangis. Juga, kalian akan sedikit bermesraan dengan istri-istri di ranjang. Sungguh, kalian pasti akan keluar ke jalan-jalan untuk meminta kepada Allah Azza wa Jalla dengan berteriak-teriak. Aku berharap, kalaulah aku hanya sebatang pohon yang terpotong,” (H.R. Ahmad dan Turmudzi).

Di antara tanda pemimpin yang takut kepada Allah adalah dia berupaya sekuat dapat untuk mengendalikan hawa nafsunya. Pasalnya, godaan hawa nafsulah yang selalu mencelakakan pemimpin. Jika syahwat kekuasaan mengatasi akal-sehat dan hikmah kepemimpinan, tak ada harapan negeri mencapai kemakmuran dan kemajuan.

“Syahadan di dalam hal itu, maka bertambah-tambahlah keduanya mengikutkan hawa nafsunya. Maka lalulah jadi bersebelahan antara kedua pihak, maka lalulah berperang di dalam negeri beramuk-amukan dan berbunuh-bunuhan. Maka haru-haralah negeri Siak. Kemudian masing-masing anak raja itu mengambil tempat berkukuh. Adalah Tengku Mahmud di dalam Kota Besar dan Raja Alam di dalam Kota Tuan Besar, maka berperang tiap-tiap hari. Syahadan adapun Tengku Mahmud itu banyak juga Bugis sebelah dia, sebab ia berbinikan anak Dahing Matekkuh serta telah mendapat anak laki-laki seperti Raja Ismail sudahlah besar dan beberapa lagi anaknya. Adapun Raja Alam sudah juga menaruh beberapa anak laki-laki pula, yang tuanya bernama Raja Muhammad Ali dan yang lain-lainnya, istimewa pula ia sudah berbinikan anak Opu Dahing Parani di Siantan, iaitu Dahing Khadijah,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

Nukilan Tuhfat al-Nafis di atas berkisah tentang anak-anak Raja Kecik, penguasa Kerajaan Siak Seri Inderapura. Ketika ayahanda mereka sakit dan tak kuasa lagi untuk menerajui pemerintahan kerajaan, mereka justeru berseteru untuk memperebutkan tahta kerajaan. Karena kedua-duanya tak mampu mengendalikan syahwat kekuasaan yang telah merasuki hati sanubari, pecahlah perang saudara sehingga rakyat terbelah. Saling teror dan sandera di antara keduanya menyebabkan negeri mencekam dan rakyat hidup dalam ketakutan. Tak ada kemajuan dan kebahagiaan sejati yang dapat dinikmati dalam keadaan negeri haru-hara seperti itu, kecuali fatamorgana yang membungkus derita dan beban yang tak berkesudahan.

Pemimpin yang tak mampu mengendalikan hawa nafsu melaksanakan kepemimpinan sesuka hatinya, asalkan tujuannya tercapai. Jangankan takut kepada Allah, peraturan dan adat-istiadat negeri saja tak dihiraukannya. Sifat dan perilaku pemimpin seperti itu digambarkan oleh syair didaktik dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) dengan sungguh mencekam. Pemimpin kelas rendah itu tergolong ceroboh sehingga negeri yang dipimpinnya pun mendekati runtuh.

Ke sana ke mari langgar dan rempuh
Apa yang terkena habislah roboh
Sedikit marah hendak memelupuh
Inilah perbuatan sangat ceroboh

Padahal, sangat banyak petunjuk Allah yang melarang pemimpin menurutkan hawa nafsunya. Akan tetapi, golongan pemimpin yang berhaluan sesat dan memang sengaja berlawan dengan Tuhan tak pernah mau mengikuti pedoman Allah. Oleh karena itu, Allah membimbing Nabi Daud AS agar tak memperturutkan hawa nafsu dalam melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan. Pasalnya, dampak memperturutkan hawa nafsu dalam kepemimpinan sungguh mengerikan.

“Hai, Daud! Sesungguhnya, Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ianya akan menyesatkan kamu dari jalan Allâh,” (Q.S. Shâd, 26).

Atas dasar itulah, tak terbantahkan amanat Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesembilan, bait 1 (Haji, 1847).

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia ia itulah syaitan

Pemimpin yang menerapkan sifat, sikap, dan perilaku syaitan dalam kepemimpinannya memang tak bakal membawa kemajuan negeri dan kebahagiaan manusia. Akan tetapi, dia pasti menjadi idola syaitan. Pasalnya, dia akan memakmurkan negeri syaitan dan meningkatkan kesejahteraan serta taraf hidup rakyat syaitan sekaliannya. Bagi manusia, pemimpin seperti itu tentulah menyengsarakan karena memang berbeda hakikat kemakmuran dan kesejahteraan antara syaitan dan manusia. Oleh sebab itu, setiap manusia seyogianya mencari pemimpin yang kualifikasinya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW sehingga berguna bagi manusia dan sanggup berlawan dengan syaitan.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a.beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tak beriman seseorang sampai hawa nafsunya ditundukkannya demi mengikuti apa yang aku bawa,” (H.R. Ibnu Abi Ashim dan Ath-Thabrani).

Pemimpin yang bebas dari tekanan hawa nafsu bermakna dia mengikuti ajaran Rasulullah SAW dalam kepemimpinannya. Dia bukanlah pemuja syaitan yang memperturutkan hawa nafsu dan syahwat kekuasaan tanpa peduli rakyatnya menderita. Oleh sebab itu, dia senantiasa bermohon akan hidayah dan inayah Allah dalam kepemimpinannya. Dia adalah pemimpin yang menyadari sebab perbuatan kepala-kepala: baik-buruk hasilnya banyak ditentukan oleh perbuatan kepemimpinannya.

Dia sangat takut kepada Allah. Akan tetapi, anehnya dia berupaya sekuat dapat untuk senantiasa dekat dengan Rabb-Nya. Sifat, sikap, perkataan, dan perbuatan kepemimpinannya terhala kepada kemajuan negeri dan kebahagiaan bangsa dalam arti yang sesungguhnya. Dengan niat, kebijakan, dan perbuatan kepemimpinan yang anggun seperti itu—sesuai dengan janji Allah—dia telah menempah dua surga. Di dunia dia telah dijaga, di akhirat pula tak berhingga rahmat telah tersedia baginya. Intaha.***

Tinggalkan Balasan