Hulubalang Duri menghadap Sultan Jamaluddin, penguasa sah Kerajaan Berham. Kala itu kekuasaan Jamaluddin telah dirampas oleh pamannya, adik almarhumah ibunya, Bahsan namanya. Dengan kelicikan menghasut dan menipu serta kelihaian pencitraannya, Bahsan dapat memengaruhi rakyat agar berpihak kepadanya dan meninggalkan pemimpin yang sah, Sultan Jamaluddin, keponakannya sendiri.

            Jamaluddin memang lebih muda usianya daripada Bahsan. Akan tetapi, dia putra tunggal ayahnya, Sultan Berham yang telah mangkat. Saudaranya yang lain, adiknya, seorang perempuan. Dalam pada itu, Bahsan hanyalah adik dari ibu Jamaluddin, bukan keturunan dari ayahnya. Dengan demikian, sesuai dengan adat-istiadat kerajaan, Jamaluddin-lah yang berhak menggantikan posisi almarhum ayahnya sebagai Sultan Berham.

            Bahsan tak mau menerima kenyataan itu. Dia menggunakan alasan bahwa dirinya juga adalah keluarga diraja, adik almarhumah ibu Jamaluddin. Dari segi usia, dia lebih tua daripada keponakannya. Oleh sebab itu, dia menghasut para menteri, rakyat, dan tentara agar berpihak kepadanya. Taktiknya berhasil sehingga sebagian besar menteri, rakyat, dan tentara berpihak kepadanya. Bermodalkan itu, dia merebut kuasa dari keponakannya. Akibatnya, Negeri Berham terbelah: sebagian kecil rakyat masih setia kepada Sultan Jamaluddin, tetapi sebagian besarnya berpihak kepada Bahsan, yang lihai bermain “pencitraan” dan rasuah. 

            Karena mengetahui keadaan yang sebenarnya, hulubalang Duri—yang sesungguhnya adalah Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari, yang sedang menyamar—sangat kasihan kepada Sultan Jamaluddin. Dalam pertemuan di istana Sultan Jamaluddin itu, hulubalang Duri mengajukan usulnya.

            “Pada hemat patik, Tuanku tak boleh berdiam diri saja. Walaupun Bahsan mamanda (paman) Tuanku, dia telah bertindak merebut kuasa Tuanku sebagai penguasa sah Kerajaan Berham ini,” sembah Duri dengan takzim kepada Sultan Jamaluddin.

            “Apalah daya beta, hulubalang,” jawab Sultan Jamaluddin dengan raut wajah yang murung, “mungkin ini memang telah ditakdirkan Allah kepada beta. Hulubalang dan tentara yang setia kepada beta hanya tinggal sedikit sahaja. Sebahagian besar mereka dapat diperdaya oleh Mamanda Bahsan sehingga mereka berpihak kepadanya. Jika beta melawan pun, akhirnya beta akan kalah juga.”

            “Ampun, Tuanku. Jika ada perkenan Tuanku, patik akan berikhtiar untuk memulihkan kekuasaan Tuanku semampu-mampunya yang sanggup patik lakukan. Perbuatan sewenang-wenang dan biadab Bahsan tak boleh dibiarkan. Ianya menjadi contoh tak baik bagi negeri ini sampai bila-bila masa pun.”

            Sultan Jamaluddin sangat bahagia mendengarkan pengakuan hulubalang Duri yang akan membantunya. Dia mempersilakan sang hulubalang yang perkasa itu melaksanakan niatnya. Dia juga berterima kasih karena Duri hendak menolongnya untuk mengembalikan marwah dirinya sebagai sultan dan memulihkan kerajaannya.

            Kendatipun telah berjanji akan membantu Sultan Jamaluddin untuk mengembalikan kekuasaannya, Duri belum mendapatkan cara dan strategi mengalahkan Bahsan. Pernyataan serta-mertanya kepada Sultan Berham itu semata-mata karena watak dan sifatnya yang suka menolong orang lain. Dia memang tak sampai hati melihat orang mengalami kesulitan hidup walaupun dirinya sendiri masih harus berjuang keras untuk mengembalikan marwah negerinya. Berhubung dengan itu, Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk (1846), bait 1.013—1.014 menuturkan kisahnya.

Sangatlah suka sultan negeri
Mendengarkan sembah Duri bestari
Setelah petang sudahlah hari
Duri pun pulang ke tempat sendiri

Sampai ke rumah Duri nan pulang
Duduk berpikir seorang-orang
Berdiri duduk rebah terlentang
Bagaimanakah dayaku nin sekarang

Karena azamnya yang begitu kuat untuk menolong orang, terutama yang teraniaya, akhirnya Duri menemukan juga strategi dan taktik yang akan dilaksanakannya untuk menaklukkan Bahsan. Walaupun begitu, cara yang ditempuhnya itu penuh risiko. Apa pun cabaran dan akibatnya, andaikan akhirnya dirinya harus terbunuh, dia telah merelakannya demi menolong Sultan Jamaluddin yang sedang dirundung malang.

            Bercontoh kepada Duri, yang jati diri sebenarnya adalah Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk (perempuan bangsawan yang menyamar menjadi laki-laki karena hendak membebaskan negerinya), setiap pemimpin yang terbilang seyogianya memekarkan watak dan sifat penolong atau suka menolong dalam dirinya. Dia tak pernah tega melihat orang yang dilanda kesusahan, apa pun jenis dan bentuk kesulitan hidup yang membelit itu. Mustahaknya sifat dan watak penolong dalam diri pemimpin ditemukan juga dalam Tsamarat al-Muhimmah.

            “Hendaklah bertolong-tolongan atas sama-sama sepekerjaan … daripada kesusahannya atau kedaibannya atau kemaluannya [‘hal-hal yang memalukan’, HAM] atau kesakitannya yang disakiti oleh manusia mana-mana sehabis-habis kadar kuasanya menolong atas yang demikian itu. Hendaklah mengikuti jalan adab bersaudara dan adab bersahabat dan adab jiran, yakni adab sama kampung …,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

            Bagi para pemimpin, tanggung jawab menolong rakyatlah yang harus diutamakan, terutama rakyat yang serba kekurangan dalam hidupnya. Pasalnya, setiap pemimpin memang diandalkan untuk memajukan dan membahagiakan rakyat serta memakmurkan negeri yang dipimpinnya. Jika tidak, cepat atau lambat pemimpin akan menerima padah dari kelalaiannya. Peringatan itu termaktub dalam syair nasihat yang juga dihimpun oleh Tsamarat al-Muhimmah, bait 41 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), berikut periannya.

Kehidupan rakyat janganlah lupa
Fakir miskin hina dan papa
Jangan sekali tuan nan alpa
Akhirnya bala datang menerpa

Bait syair nasihat di atas dengan tegas menyebutkan bahwa pemimpin yang melupakan rakyatnya, terutama rakyat yang menderita, akan tertimpa bala atau menerima akibat buruk. Tak ada hujah yang sabit di akal seseorang pemimpin boleh menari di atas penderitaan rakyat. Akan tetapi, jenis manusia yang melupakan rakyatnya setelah menjadi pemimpin tak kurang juga bilangannya di dunia ini. Dalam keadaan serupa itu, banyak kasus “telah terantuk baru tengadah” dijumpai dalam perjalanan hidup manusia, khasnya yang berkaitan dengan kepemimpinan.

            Tragedi yang mirip dengan yang dialami oleh Sultan Jamaluddin juga dialami oleh Sultan Muhammad Zainul Din dari Negeri Matan (di Kalimantan Barat, sekarang). Baginda naik tahta menggantikan ayahandanya yang mangkat. Akan tetapi, adiknya—Pangeran Agung—tak mau menerima kenyataan itu. Dia menganggap dirinyalah yang lebih berhak menggantikan ayahanda mereka. Lalu, diperanginyalah kakandanya, Sultan Muhammad Zainul Din. Dalam keadaan terkepung dalam perang saudara itu, Sultan Muhammad Zainul Din masih sempat mengirim utusannya ke Siantan.    

“Syahadan kata sahibul hikayat maka apabila suruhan itu sampai ke Siantan maka naiklah mengadap (sic) opu yang lima beradik itu mempersembahkan surat itu kepada Opu Dahing Parani, kerana ia terlebih tua daripada opu-opu yang lain itu. Maka apabila dibaca oleh Opu Dahing Parani akan surat Sultan Muhammad Zainul Din itu, ia pun musyawarahlah adik beradik (sic) serta punggawanya dan indera gurunya pada pekerjaan membantu Sultan Muhammad Zainul Din itu. Maka sudah sama-sama satu muafakatnya akan pergi maka pada ketika saat yang baik berlangkahlah ia, lalu berlayar ke Matan dengan enam buah perahunya,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

            Rupanya, Sultan Muhammad Zainul Din mengirim utusan ke Siantan (Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau, sekarang) untuk meminta bantuan opu lima bersaudara, yakni Daeng Parani dan adik-adiknya. Seperti halnya hulubalang Duri yang perkasa bersedia menolong Sultan Jamaluddin, Daeng Parani adik-beradik pun bersedia menolong Sultan Muhammad Zainul Din. Pasalnya, mereka menyadari bahwa sesuai dengan adat-istiadat kesultanan, Muhammad Zainul Din yang berhak menggantikan ayahandanya menjadi Sultan Matan, bukan adiknya, Pangeran Agung, walaupun mereka bersaudara kandung. Hal itu disebabkan oleh Muhammad Zainul Din adalah putra tertua sultan yang telah mangkat.

            Dari peristiwa Kesultanan Matan itu, sifat bersedia menolong orang lain, sesiapa pun dia asal benar, memang menjadi watak pemimpin yang berbudi pekerti mulia. Kenyataan itu ditunjukkan secara ksatria oleh Opu Daeng Parani dan adik-adik beliau. Mereka rela mengarungi lautan luas dan merempuh amukan gelombang demi membantu orang yang memang memerlukan pertolongan. Lalu, apakah alasannya?   

“Dan, orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (Q.S. At-Taubah, 71).

Petunjuk bahwa manusia harus saling menolong, lebih-lebih pemimpin kepada rakyatnya, memang datang dari Allah. Bahkan, Allah berjanji akan memberi rahmat kepada sesiapa pun yang bersedia menjadi penolong. Jika pemimpin telah mendapat rahmat dari Allah, tak ada hambatan dan cabaran kepemimpinan yang tak dapat diatasinya. Pasalnya, dia senantiasa mendapat pertolongan Allah.

Pemimpin yang menolong rakyatnya bermakna dia berlaku adil terhadap rakyat. Sebaliknya, rakyat pun sangat dianjurkan untuk menolong pemimpinnya. Tentu saling menolong dalam kebaikan. Maklumat itu diberikan oleh Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 2—3 (Haji, 1847).

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Di antara pertolongan rakyat kepada pemimpinnya adalah tak menaruh curiga tanpa alasan terhadap pemimpinnya (betul hati kepada raja). Rakyat dengan karakter bersedia menolong pemimpinnya berbuat kebajikan, bahkan, akan beroleh kejayaan dalam hidupnya (tanda jadi sebarang kerja). Alhasil, sebarang kerja pembangunan dapat dilaksanakan dengan baik. Karena apa? Pemimpin dan rakyatnya sehati-sejiwa dalam perjuangan memakmurkan negeri dan memajukan bangsa.

            Begitu pulalah, dan lebih-lebih lagi, pemimpin terhadap rakyatnya. Dia seyogianya berlaku adil dalam menolong rakyatnya, lebih-lebih yang memang memerlukannya (hukum adil atas rakyat). Pemimpin dengan kualitas itulah yang senantiasa mendapat pertolongan Allah dalam kepemimpinannya (tanda raja beroleh inayat) sehingga kepemimpinannya tak akan pernah mengundang musibah dan bencana bagi bangsa dan negara.

Rasulullah SAW bersabda, “Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan sedang berbuat zalim atau sedang teraniaya.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimanakah pula menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Baginda Rasulullah SAW menjawab, “Dengan menghalanginya melakukan kezaliman. Itulah bentuk pertolonganmu kepadanya,” (H.R. Bukhâri).

Wasiat Rasulullah SAW yang dinukilkan di atas sangat jelas membimbing kedua-dua belah pihak: pemimpin dan rakyat. Kepada pemimpin yang zalim sekalipun—bahkan lebih-lebih—rakyat wajib menolongnya agar sang pemimpin dapat keluar dari perangkap sesat. Dalam keadaan serupa itu, pemimpin tentulah harus membuka diri terhadap saran dan kritik dari rakyat. Bukan tak mungkin kesemuanya itu mendatangkan berkat. Tak pernah ada kebesaran dari praktik menutup pintu hati rapat-rapat. Pasalnya, qalbu tak diberi peluang untuk menghirup udara yang sehat. Pemimpin berkelas hebat seperti itu dapat dipastikan beroleh inayat.***

Tinggalkan Balasan