Majalah Al Imam, Dokumentasi dan Repro oleh Aswandi Syahri

SIAPAKAH yang tak mengetahui reputasi Rusydiah Kelab pada masanya? Perhimpunan para cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga yang terdiri atas para pemikir, penulis, politisi, dan pengusaha yang cerdas, berpengetahuan luas, dan berani itu meneruskan tradisi intelektual yang diwarisi dari Kerajaan-Kerajaan Melayu sebelumnya sampailah kepada generasi Raja Ahmad Engku Haji Tua ibni Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fi Sabilillah, Raja Ali Haji ibni Raja Ahmad Engku Haji Tua, Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda, dan lain-lain. Kelompok cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga itu, oleh budayawan dan sastrawan Hasan Junus (Raja Haji Hasan ibni Raja Haji Muhammad Junus) dalam karya beliau Karena Emas di Bunga Lautan (2002) digelar sebagai kelompok penekan atau pressure group.

Betapa tidak? Demi kebenaran dan kemajuan negara yang signifikan, melalui tulisan-tulisan dan orasi mereka, Rusydiah Kelab tak segan-segan mengeritik pemerintah, apakah pihak sultan (Sultan Abdul Rahman al-Muazam Syah II, Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga kala itu) ataupun pihak Pemerintah Hindia-Belanda.

Soal risiko, mana ada perbuatan yang tak berisiko? “Tangan mencencang, bahu memang harus memikul.” Mengapakah harus ragu atau takut jika yang diperjuangkan itu memang sungguh-sungguh kebenaran dan demi kebaikan negara dan bangsa? Pikiran itu nyaris tersurat, di samping memang tersirat, dari perjuangan Rusydiah Kelab.

Rusydiah Kelab berdiri sekitar dasawarsa terakhir abad ke-19. Di antara tokoh pendirinya adalah pengusaha, politisi, pejabat pemerintah, juga penulis handal: Raja Ali Kelana ibni Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda X Kesultanan Riau-Lingga, Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi.

Dengan jabatan Kelana yang disandangnya, beliau adalah calon Yang Dipertuan Muda berikutnya, tetapi tak sempat dijabatnya. Pasalnya, Kesultanan Riau-Lingga hanya sampai pada Yang Dipertuan Muda X sebab dibubarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada 1913.

Raja Ali Kelana tak sudi bertuankan Belanda, lalu memilih berhijrah ke Johor dan diangkat oleh Sultan Johor menjadi Penasihat Rahasia (Politik) dan Ketua Urusan Agama Islam Kerajaan Johor, suatu jabatan yang jauh lebih mulia daripada menjadi “penguasa boneka” Penjajah Belanda (kalau beliau mau) di tanah tumpah darahnya sendiri.

Akan tetapi, bukan pejuang namanya kalau beliau tak berupaya membebaskan tanah airnya dari cengkeraman penjajah. Takdir menentukan walau telah melakukan pelbagai usaha bersama Khalid Hitam, termasuk mengupayakan bantuan dari Pemerintah Turki dan Jepang, semua upaya itu gagal.

Selepas itu, jadilah negara dan bangsanya tetap dalam cengkeraman penjajahan.    

            Saudara seayah Sultan Abdul Rahman al-Muazam Syah II itu adalah pemimpin perusahaan batubata Batam Brick Works di Pulau Batam, pengusaha banyak rumah sewa di Singapura, dan pemilik perkebunan yang sangat luas di Batam dan Bintan.

Yang paling mustahak untuk dicamkan dari misi bisnis para pemimpin Kesultanan Riau-Lingga kala itu adalah ini: agar sanak-saudara tak ada yang susah hidupnya dan terbentuk persatuan yang kokoh di kalangan anak watan (lihat juga Junus 2002, 141—142). Adakah yang masih mengamalkan perilaku itu dalam berbisnis setakat ini? Bagi Raja Ali Kelana, begitu beliau menjatuhkan “talak tiga” kepada Pemerintah Hindia-Belanda, semua harta-benda dunia itu ditinggalkannya.

            Tokoh-tokoh lain Rusydiah Kelab di antaranya Khalid Hitam, Sayid Sekh Al-Hadi Wan Anom, dan Syekh Jalaluddin Tahir Al-Azhari Al-Falaki. Sayid Sekh Al-Hadi adalah anak angkat Raja Ali Kelana dan pengelola perusahaan batubata milik ayah angkatnya. Beliau pernah belajar di Mesir dan berguru dengan Muhammad Abduh di Kairo. Beliau kemudian menjadi tokoh pemikir besar di Malaysia. Sejak 1904 perkumpulan cendekiawan ini dipimpin oleh Tengku Besar Umar ibni Sultan Abdul Rahman al-Muazam Syah II, yang dipanggil pulang ketika beliau masih belajar di Hoofdenschool Bandung karena khawatir pengaruh negatif lingkungan Belanda. Beliau dididik langsung oleh pamannya Raja Ali Kelana dan Khalid Hitam untuk menjadi calon sultan.

            Rusydiah Kelab banyak mengusahakan penerbitan. Selain buku-buku kalangan sendiri dan buku karangan para penulis dunia, mereka juga mengelola berkala atau majalah yang diberi nama Al-Imam. Penyandang dana utama Al-Imam siapa lagi kalau bukan Sang Karismatik Raja Ali Kelana. Penanggung jawab redaksinya adalah Syekh Jalaluddin Tahir Al-Azhari Al-Falaki.

Jemala hanya mengulas dua hal yang pernah disorot Al-Imam tentang raja atau penguasa atau pemimpim. Pertama, perihal teori lama Melayu yang menyatakan bahwa raja adalah zhilullahi fil ardh atau bayang-bayang Allah di bumi. Berhubung dengan itu, Al-Imam mengulasnya sebagai berikut.

“Doktrin ini walau bagaimanapun memerlukan sumbangan dan kualiti tertentu yaitu pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran, kesengajaan, kelakuan yang baik, bersimpati kepada yang lemah, sayang akan rakyatnya, cekap dalam pentadbiran dan politik, memahami sejarah raja-raja masa silam.

Ini ialah karena dunia ini dari satu segi adalah warisan kerajaan-kerajaan mereka, lalu usaha-usaha mereka menjadi kenangan kerajaan-kerajaan yang selanjutnya”  (Al-Imam, Vol. 2, No. 8, 4 Februari 1908, hlm. 24).

Nampak nyata bahwa Al-Imam tak menolak bahwa raja atau pemimpin atau penguasa merupakan bayang-bayang Allah di muka bumi. Akan tetapi, penguasa yang ideal itu harus memenuhi persyaratan tertentu.

Di antara syarat itu adalah pemimpin harus (1) memiliki pengetahuan, tentu berimbang ilmu dunia dan akhirat; (2) bijaksana; (3) memperjuangkan kebenaran; (3) berkeinginan untuk menjadi pemimpin (kesengajaan); (4) memiliki kelakuan atau perilaku yang baik dalam arti sesungguhnya; (5) sanggup membela rakyat yang lemah;  (6) sayang kepada rakyatnya sehingga tak rela rakyat menderita dan ditimpa kesusahan; dan      (7) cekap atau mahir dalam memerintah dan berpolitik, dan yang tak kalah mustahaknya (8) memahami sejarah negeri yang dipimpinnya serta tak melupakan jasa para pendahulu. Pasalnya, karena perjuangan para pendahulu itulah, negeri ini ada sampai sekarang. Hanya kalau mampu memenuhi syarat itulah seseorang baru boleh dijadikan pemimpin dan dapat pula menyandang bayang-bayang Tuhan di bumi. 

Sebagai lawan dari sifat terpuji itu, Al-Imam juga menyoroti sifat yang tak boleh ada pada seseorang raja, pemimpin, atau penguasa. “Jika raja jahil dan berkelakuan jahat, tiada cita-cita, tamak dan mengingini hak orang lain, berpikiran sempit, bodoh, mempunyai motif jahat, tidak jujur, maka tidak ragu-ragu sikap sedemikian itu akan menyebabkan keruntuhan negaranya ke dalam jurang yang merugikan akibat penyimpangan daripada jalan yang benar” (Al-Imam, Vol. 2, No. 12, 12 Juli 1907, hlm. 26—27).

Koleksi: Aswandi Syahri

Jelaslah bahwa, menurut Al-Imam, seseorang yang berperangai jahat, tak bercita-cita memperbaiki negeri, negara, dan rakyat, tamak dan senantiasa berupaya mengumpulkan harta dengan mengambil hak orang lain, berpikiran sempit semata pada lingkungan dan golongannya sendiri, bodoh dalam arti yang harfiah karena kurangnya ilmu dunia dan akhirat, menjadi pemimpin dengan motif jahat seperti untuk menumpuk kekayaan, menekan pihak lain, dan sebagainya, dan tak jujur dalam kepemimpinannya; orang seperti itu tak patut dan tak layak dijadikan pemimpin.

Penyebabnya tiada lain adalah kalau dia menjadi pemimpin, dia akan membawa negara dan bangsanya ke jalan yang tak benar sehingga negara atau negeri akan runtuh. Jelaslah bahwa para pengasuh Majalah Al-Imam sangat kental berkiblat kepada pemikiran senior mereka Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) dalam buku beliau Muqaddima fi Intizam dan Tsamarat al-Muhimmah.

Di dalam kedua buku itu RAH mengulas panjang-lebar tentang kualitas pemimpin yang akan mendapat pertolongan Allah.

Kepala pemerintahan, menurut Tsamarat al-Muhimmah, mengandungi tiga makna sesuai dengan fungsi dan tugas yang diamanahkan kepadanya.

Pertama, terkandung makna ‘khalifah’ dengan kewajiban menegakkan agama berdasarkan Alquran, sunnah nabi, dan ijmak.

Kedua, tersimpul makna ‘sultan’ dengan kewajiban mendirikan hukum yang adil berdasarkan pedoman Allah dan rasul-Nya.

Ketiga, termaktub juga makna ‘imam’ yang seyogianya berada paling depan dalam semua situasi sehingga menjadi ikutan semua orang di bawah pemerintahannya. Dalam hal ini, jikalau tak tergolong kufur dan maksiat, perintahnya adalah hukum yang harus ditaati semua orang: bawahan dan rakyat sekaliannya.

Pemimpin seyogianya memang memiliki derajat atau marwah yang tinggi asal memenuhi syaratnya. Dia berjuang membela kebenaran dan memerangi kejahatan (kebatilan) apa pun bentuknya.

Bukan sebaliknya, bersuka ria dalam kubangan kejahatan dan membinasakan kebenaran. Itulah pemimpin yang berlaku sewenang-wenang, berbuat sekehendak hati, mempermain-mainkan hukum, bahkan mengaku diri sebagai bayangan Tuhan di bumi, tetapi bertindak melawan Allah.

Dengan tegas RAH mengecam perilaku kepemimpinan seperti itu tergolong haram, yang jelas pembalasannya, dan cenderung ingkar, lagi tegas azabnya di akhirat kelak.

Para pemimpin seyogianya berilmu, barakal budi, bermarwah, adil, berijtihad yang baik, tekun beramal, di samping  memiliki pancaindera yang baik. Para pemimpin negeri haruslah berbuat kebajikan yang terbilang: benar dan patut menurut agama, bangsa, dan negara.

Begitu pula menurut penilaian orang-orang yang mempunyai mata hati atau mereka yang berakal. Jika kedapatan fasik, banyak aduan orang, zalim, khianat, belot, tak bermarwah, dan sejenisnya; para pemimpin itu patutlah diragukan baktinya, yang akan datang juga azabnya dari Tuhan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan negeri, menurut RAH dalam bukunya ini, lima hal utama yang perlu diperhatikan. Pembangunan tak boleh bertentangan dengan syara’, itu yang pertama dan terutama. Kedua, tak boleh membawa mudarat terhadap tubuh dan jiwa manusia. Ketiga, jangan sampai pembangunan, justeru, memusnahkan harta-benda orang.

Keempat, jangan pula karena pembangunan, orang mendapat aib dan malu. Kelima, jangan juga sampai terjadi pembangunan, bahkan, mencacatkan dan atau mencelakan nama para pemimpin itu sendiri.

Tsamarat al-Muhimmah  juga memberikan pedoman tentang pembinaan moral bagi penyelenggara negara. Dalam hal ini, penyelenggara negara wajib memelihara ruh (nyawa) atau aspek rohaninya, badan (jasad), dan nama. Ruh atau rohani harus dijaga supaya tak terdedah kepada penyakit batin.

Penyakit zahir pun dapat memengaruhi batin. Obat bagi penyakit batin lebih rumit daripada penyakit zahir (badan). Kedua jenis penyakit itu, lebih-lebih penyakit batin, dapat membawa kecelaan kepada pemimpin.

Pemimpin yang ideal menurut Raja Ali Haji dan diikuti oleh para pengelola Majalah Al-Imam sesungguhnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Di antara firman-Nya yang dapat dirujuk seperti dinukilkan berikut ini.

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi,” (QS. Al-Anbiya’, 73).

Sebaliknya, bukan pemimpin yang buruk yang diharapkan semua orang. Perihal pemimpin yang buruk dikemukakan sifat, watak, dan atau perangainya oleh Rasulullah SAW dalam salah satu sabda Baginda.

Rasulullah SAW bersabda, ”Akan ada nanti para pemimpin yang fasik lagi jahat. Barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan menolong kezalimannya (atas rakyat), maka dia bukan termasuk golonganku dan aku pun bukan termasuk golongannya. Dia tak akan sampai pada Al-Haudl (telaga),” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa’iy, Ahmad, Ath-Thayalisi, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Al-Haakim, dan Al-Baihaqi).

Satu hal yang juga sangat patut dicatat dan ditekankan, Al-Imam menegaskan mustahak atau pentingnya penguasa yang memimpin sesuatu negeri untuk memahami sejarah raja-raja masa silam.

Pasal apa? Negeri ini adalah warisan kerajaan mereka dan karena usaha merekalah kerajaan-kerajaan yang selanjutnya berdiri, apa pun bentuk dan nama “kerajaan” itu kemudian. Jika peristiadatan dan ketakziman itu dicuaikan dan atau dilanggar, cepat atau lambat, penguasa “yang lalai” itu akan menerima tulah (kuwalat).

Padahnya itu telah banyak terbukti sangat buruk dan amat pedih. Hendaklah kearifan itu dipahami benar untuk kemudian diterapkan oleh sesiapa pun para pemimpin dan atau penguasa sekarang. Semoga rahmat, hidayah, dan inayah Allah akan senantiasa menyertai pemimpin yang terbilang.***

Tinggalkan Balasan