Tengku Nasaruddin Said Effendy bin Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri adalah nama asal budayawan terkemuka alam Melayu, Haji Tenas Effendy. Beliau lahir di Kampung Tanjung Malim Kuala Panduk, Kerajaan Pelalawan, pada tanggal 9 November 1936, dan wafat di Pekanbaru pada tanggal 28 Februari 2015. Ayahandanya, bernama Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri, dan ibundanya bernama Tengku Syarifah Azamah binti Tengku Said Abubakar. Keduanya kerabat diraja Kerajaan Pelalawan.

Ayah dan anak

Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri pernah menjadi sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim (raja Kerajaan Pelalawan). Beliau tidak hanya mencatat urusan-urusan resmi kerajaan, tetapi juga menulis silsilah keluarga diraja Kerajaan Pelalawan dan adat-istiadat setempat, yang kemudian beliau himpun dalam sebuah buku bernama Buku Gajah. Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri bersama keluarganya pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk. Di kampung itu beliau kemudian diangkat sebagai penghulu, sekaligus sebagai guru agama dan guru sekolah desa. Meski menjadi orang terpandang di Kuala Panduk, untuk menyangga kehidupan ekonomi keluarga, Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri tetap menjalankan kegiatan sehari-hari sebagaimana orang-orang lainnya di kampung itu. Beliau berladang padi, menangkap ikan di sungai, suak, dan danau. Pada masa-masa itulah Tengku Nasaruddin Said Effendy lahir.

Tengku Nasaruddin Said Effendy selalu mengikuti kegiatan sehari-hari ayahandanya. Pengalaman masa kecil dari penglibatan dirinya dalam kegiatan sehari-hari sang ayah lekat dalam ingatannya, menjadi asas-tumpu perkembangan minat beliau setelah dewasa terhadap adat dan budaya Melayu beserta kearifan yang dikandungnya. Dengan tunak mengikuti ayahandanya berladang, ia memahami istiadat berladang dan nilai-nilai yang terselubung di balik selok-belok keseluruhan praktik berladang itu. Demikian pula halnya dengan menangkap ikan di sungai, suak, dan danau. Sementara itu, kedudukan ayahandanya sebagai penghulu memberi peluang bagi Tengku Nasaruddin Said Effendy kecil untuk menyimak pembicaraan-pembicaraan halus para pucuk adat, cerdik-pandai, dan pemuka masyarakat setempat.

Di dalam lingkungan masyarakat tradisional Kuala Panduk semasa, ia juga berkesempatan mengalami acara-acara sosial yang sarat dengan kekhasan bahasa dan seni, seperti pantun, syair, gurindam, seloka, dan sebagainya. Ibunda dan kedua nendanya (Tengku Syarifah Fatimah dan Tengku Syarifah Zaharah) pandai bersyair dan sering mendendangkannya di kala senggang atau menjelang tidur. Sedangkan datuknya, Said Muhammad Al-Jufri (dengan nama panggilan Tengku Tuan atau Tengku Haji) adalah seorang ulama terpandang yang berkhidmat di lingkungan istana dan masyarakat Kerajaan Pelalawan pada umumnya. Suasana kehidupan Islami dalam balutan adat yang melahirkan dan mengasuh Tengku Nasaruddin Said Effendy itu kelak terpancar baik dari gaya hidup sehari-hari beliau, dari prinsip dan cara beliau memandang serta menanggapi perkembangan gejala dan kenyataan sosial, maupun dari kebanyakan karya yang beliau wariskan.

Menjadi Tenas Effendy

Tahun 1950, Tengku Nasaruddin Said Effendy menamatkan pendidikan Sekolah Agama Hasyimiah (enam tahun) sekaligus Sekolah Rakyat (enam tahun) di Pelalawan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru B (SGB) tiga tahun di Bengkalis, lalu ke jenjang pendidikan Sekolah Guru A (SGA) tiga tahun di Padang (tamat 1957).

Sejak masih di SGB Bengkalis, Tengku Nasaruddin Said Effendy sudah memupuk minatnya terhadap sastra dan seni. Ia menulis sejumlah puisi. Minat itu kemudian berkembang ketika ia mengikuti pendidikan di SGA Padang. Ia makin banyak menulis karya sastra dan membacakannya di depan khalayak, serta aktif mengikuti acara-acara budaya yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Padang. Ia bergabung ke dalam organisasi Seniman Muda Indonesia (SEMI), bahkan sempat dipercaya menjadi salah seorang Ketua Cabang Padang di organisasi yang berpusat di Bukittinggi (waktu itu, ibukota Provinsi Sumatera Tengah). Selain sastra dan seni pertunjukan, ia juga menggeluti seni lukis. Kemudian ia ikut memprakarsai berdirinya Himpunan Seniman Muda Padang (antara lain bersama Salius; salah seorang pendiri Harian Singgalang). Tengku Nasaruddin Said Effendy juga dipercaya sebagai sekretaris Lembaga Karya Sumatera Barat yang diketuai Kaharoeddin Datoek Rangkayobasa (yang kemudian menjadi Gubernur Sumatera Barat setelah pemekaran Sumatera Tengah menjadi tiga provinsi).

Pada tahun-tahun akhir 1950-an itu, di lingkungan seniman dan pemuda terpelajar ada kebiasaan menyamarkan nama. Bila ia seorang penulis, nama samaran itu disebut ‘nama pena’. Tengku Nasaruddin Said Effendy memilih nama samaran dengan memendekkan empat kata nama pemberian orangtuanya menjadi akronim yang terdiri dua kata: Tenas Effendy. Menurut beliau, kedua orang tuanya tidak keberatan. Maka sejak itu nama Tenas Effendy beliau gunakan baik untuk identitas pencipta pada karya-karyanya, maupun identitasnya sebagai warga negara.

Memilih sastra dan seni

Tahun 1958 Tenas Effendy pindah ke Pekanbaru Riau, dan terus melakukan aktivitas sastra dan seni. Di bidang senirupa, beliau pernah mengadakan pameran lukisan di Rumbai (bersama Muslim Saleh). Pada tahun 1960, sejalan dengan pendidikannya, Tenas sempat mengajar di salah satu sekolah di Siak. Namun kesenian lebih kuat menggodanya, sehingga ia kembali ke Pekanbaru. Melalui lembaga Pondok Senirupa Riau yang dibentuknya bersama OK Nizami Jamil, mereka menggiatkan pameran dan festival.

Mulai akhir tahun 1950-an itu Tenas Effendy banyak menulis naskah-naskah drama berlatar mitos, legenda, dan sejarah Melayu Riau, baik untuk dipentaskan maupun untuk disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru. Oleh lingkungan seniman pada masa itu, lakon dan pementasannya disebut ‘drama klasik’. Sebagai penulis naskah, beliau menghasilkan tidak kurang dari 60 judul lakon radio dan 30 judul lakon pentas. Naskah-naskah drama yang beliau tulis dalam genre ‘drama klasik’ itu antara lain berjudul “Hang Jebat”, “Megat Seri Rama”, “Laksamana Hang Tuah”, “Sri Bunian”, “Hulubalang Canang”, “Pak Buntal”, “Lancang Kuning”, dan sebagainya. Lakon “Lancang Kuning”, khususnya, pernah dipentaskan di Bandung sempena Kongres Pemuda Indonesia. Di bawah pimpinan Djohan Sjarifuddin, SH, Tenas Effendy bersama para pemuda Riau lainnya dikirim sebagai utusan untuk mengikuti Kongres Pemuda tersebut.

Isteri setia

Selain menulis naskah, Tenas juga sering menjadi pemeran dan sutradara. Suatu ketika, seusai pementasan drama yang disutradarainya di Pekanbaru, Tenas Effendy berkenalan dengan Tengku Zahara binti Tengku Long Mahmud yang hadir menonton pementasan bersama teman-temannya. Perkenalan itu kemudian berlanjut ke pelaminan. Pada tanggal 7 Februari 1961 mereka menikah.

Tengku Zahara adalah pendamping setia bagi Tenas Effendy. Sejak menikah, dia memberi dukungan penuh pada aktivitas sang suami. Dia terbiasa dengan dunia seni yang digeluti suaminya, siapa teman-teman seniman suaminya, bagaimana mereka bergaul, dan apa saja yang mereka lakukan di luar atau ketika mereka berkunjung ke rumahnya. Seperti Tenas Effendy, Tengku Zahara memperlakukan para seniman itu tidak hanya sekedar kerabat kerja sang suami, tapi dalam batas-batas tertentu sudah menjadi bagian dari keluarga. Dia juga sering ikut bertungkus-lumus mempersiapkan acara-acara budaya yang dikelola atau melibatkan sang suami.

Pasangan ini dikaruniai tujuh anak, yang lahir dan tumbuh membesar dalam dinamika lingkungan dan aktivitas seni-budaya semasa. Ketujuh anak mereka itu adalah Tengku Hidayati Effiza (perempuan), Tengku Fitra Effendy (laki-laki), Tengku Taufik Effendy (laki-laki; almarhum), Tengku Ahmad Ilham (laki-laki; almarhum), Tengku Indra Effendy (laki-laki), Tengku Ekarina dan Tengku Nuraini (perempuan, kembar).

Membangkit batang terendam

Kegairahan dan ketunakan Tenas Effendy di bidang seni membuat beliau ditunjuk sebagai Sekretaris Badan Pembina Kesenian Daerah (BPKD) Riau, tahun 1968. BPKD dibentuk oleh Pemerintah Daerah Provinsi Riau, dan dipimpin langsung oleh Arifin Achmad (Gubernur Riau 1966-1978). Kegiatan-kegiatan sastra dan seni yang dikelola lembaga ini patut dicatat sebagai tonggak penting penemuan kembali ke-Melayu-an di Riau setelah kemerdekaan dan berprovinsi sendiri. Berbagai warisan ekspresi estetis Melayu Riau diolah dengan pendekatan ‘baru’ oleh seniman ‘lingkaran BPKD’ ini, untuk kemudian dibentangkan terutama di hadapan publik perkotaan semasa.

Di bidang seni musik, misalnya. BPKD Riau mendirikan Orkes Simfoni Riau, yang sempat menjadi salah satu orkestra terbesar di Indonesia. Melalui kumpulan ini, khasanah lagu-lagu Melayu tradisional digubah-ulang dengan aransemen orkestrasi yang ketat. Di antara hasilnya adalah lagu “Lancang Kuning”, yang dalam tampilan tradisionalnya berentak zapin, digubah-ulang menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Lagu “Lancang Kuning” itu adalah salah satu produk ‘pembaruan’ yang ditampilkan Orkes Simfoni Riau dalam peresmian Taman Ismail Marzuki Jakarta dan di Hotel Indonesia pada tahun 1970. Dalam gubahan baru itu, Tenas Effendy menyumbangkan bait kedua syairnya yang berbunyi: Lancang Kuning menentang badai – Tali kemudi berpilin tiga – Selamat sampan sampai ke pantai – Pelaut pulang dengan gembira.

Demikian pula di bidang seni tari. Seniman dan penata tari di lingkaran BPKD didorong menata-ulang khasanah tari tradisional Melayu Riau yang bersifat kolektif-intuitif menjadi persembahan yang memperhitungkan kaidah-kaidah koreografi modern. Meskipun kemudian tari-tari itu diakui sebagai ciptaan pribadi, pada proses awalnya selalu ada perkongsian pengalaman budaya tari antara sesama seniman serta budayawan yang berhimpun di BPKD tersebut, termasuk Tenas Effendy.

Namun, gairah terbesar Tenas Effendy di lingkungan BPKD itu adalah menulis. Melalui lembaga tersebut beliau menerbitkan sejumlah buku sastra, seperti Lancang KuningKubu TerakhirBanjir Darah di Mempusun, dan lain-lain. Sebagaimana naskah-naskah ‘drama klasik’ yang beliau tulis sebelumnya, cerita-ceritanya pada ‘periode BPKD’ tersebut berangkat dari legenda, mitos, dan sejarah lisan yang mestinya bersumber dari penghayatan terhadap lingkungan kampung Melayu tradisional yang mengasuh dan membesarkan beliau.

Dua tahun setelah BPKD berdiri, pada tanggal 6 Juni 1970, Gubernur Arifin Achmad ‘membidani kelahiran’ Lembaga Adat Daerah Riau (kemudian menjadi Lembaga Adat Melayu Riau). Tenas Effendy yang waktu itu masih tergolong muda (sekitar 34 tahun) juga terlibat dalam proses kelahiran dan kepengurusan lembaga tersebut. Dalam pidato peresmiannya, Gubernur Arifin Achmad mengatakan lembaga adat diperlukan sebagai tempat berhimpun tokoh-tokoh Melayu Riau untuk membangkit batang terendam. ‘Tokoh Melayu’, sebagaimana terlihat dari senarai nama yang dilantik menjadi pengurus periode pertama lembaga ini, mengandung pengertian genealogis sekaligus politis.

Secara genealogis mereka adalah ‘buah perut’, anak-kemenakan, dan cucu-cicit Melayu yang turun-temurun hidup di bumi Riau. Sedangkan secara politis, mereka adalah kalangan terpelajar Melayu Riau yang sedang atau pernah berkhidmat di berbagai bidang (seperti birokrasi/pegawai negeri, guru/dosen, ditambah cendekiawan/budayawan/seniman) yang dianggap –pada peringkat tertentu– memiliki keprihatinan dan kepedulian terhadap ke-Melayu-an di Riau. Keprihatinan dan kepedulian kebudayaan itu menjadi bekal yang niscaya untuk menjalankan tugas ‘membangkit batang terendam’, yakni menggali adat dan budaya Melayu yang tertimbun oleh perubahan-perubahan sosial-ekonomi-politik pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk dibawa memasuki kehidupan dan menjadi kenyataan kultural masyarakat di Provinsi Riau semasa dan di masa depan. Dengan berdirinya Lembaga Adat, Tenas Effendy memiliki dua sarang tempat mengerami telur pengalaman dan pengetahuannya, yang kemudian menetas menjadi karya-karya budaya.

Setelah aktivitas BPKD berhenti seiring berakhirnya masa tugas Gubernur Riau Arifin Achmad (1978), Tenas Effendy kemudian mencurahkan perhatiannya pada kerja-kerja membangkit batang terendam yang dibebankan kepada Lembaga Adat. HR Subrantas Siswanto, selaku Gubernur Riau pengganti Arifin Achmad, tidak sempat berbuat banyak karena dua tahun setelah dilantik tahun 1978, beliau berpulang ke Rahmatullah (tahun 1980). Pemerintah pusat menetapkan H. Imam Munandar sebagai penggantinya. Beliau tidak menghidupkan kembali BPKD. Tetapi, selama delapan tahun memerintah (1980-1988), Gubernur ini memberi sokongan yang cukup bermakna terhadap ke-Melayu-an di Riau, terutama dalam hal pembangunan budaya material-simbolik. Balai Adat Melayu Riau dibangun dan diresmikan oleh beliau (tahun 1982). Beliau juga mendorong penggunaan selembayung pada perkantoran pemerintah dan gapura-gapura kota.

Di masa-masa itu peran Tenas Effendy amatlah menonjol. Beliau menjadi salah satu informan kunci tentang senibina (arsitektur) tradisional Melayu Riau, baik teknis maupun filosofis. Kepiawaian beliau melukis dan menggambar memudahkannya mengkomunikasikan aspek-aspek teknis senibina tradisional tersebut. Lalu, keakraban beliau dengan kekuatan-kekuatan etis dan estetis seni bahasa Melayu melancarkan akalbudinya untuk menyusun falsafah yang terkandung di balik bentuk dan teknis itu. Tiga buah rumah pribadi beliau di Jalan Pasir Putih Desa Tanah Merah Siak Hulu Kampar, bersama ratusan gambar dan contoh motif ukiran serta ragam hias yang tersimpan di salah satu rumah tersebut, menjadi monumen kesaksian atas keunggulan-keunggulan beliau di bidang senibina Melayu ini.

Mengumpul ‘remah-remah’

Sebagaimana dapat dicerna dari warisan yang ditinggalkannya, pengkaryaan Tenas Effendy pasca ‘periode BPKD’ bergerak dari keprihatinan terhadap kesinambungan kebudayaan Melayu. Pada tahun-tahun awal berdirinya Provinsi Riau, yang hampir bersamaan dengan masa Tenas Effendy mulai menceburkan diri sepenuhnya ke dalam kegiatan seni-budaya, peranan orang dan tempat yang dulunya menjadi rujukan bagi dinamika budaya Melayu di Riau sudah makin melemah. Orang-orang patut sebagai pusat ingatan budaya di kampung-kampung sudah berkurang jumlahnya, sebagian karena hijrah ke kota, sebagian lagi karena menua tanpa pelapis. Acara-acara komunal sebagai wadah pewarisan terbuka pengetahuan dan pengalaman budaya juga mulai jarang dilakukan. Pusat-pusat kerajaan dan aktivitas adat di masa lampau pun sudah merosot kewibawaannya.

Keprihatinan itu semakin meningkat manakala rezim Orde Baru (mulai berkuasa akhir tahun 1960-an) menerapkan kebijakan developmentalistik yang mendewakan pertumbuhan ekonomi nasional. Di dalam kebijakan itu, Provinsi Riau dianggap penting karena memiliki sumber daya alam yang kaya dan berada di jalur keekonomian strategis Selat Melaka. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional, sumber daya alam Riau itupun dieksploitasi besar-besaran. Awal tahun 1970-an pepohonan rimba di daratan Riau mulai ditebangi untuk ekspor log (kayu balak). Setelah itu, awal tahun 1980-an, hutan-tanah yang tersisa dibagi-bagi oleh penguasa Orde Baru dan kaki-tangannya kepada para pengusaha. Kampung dan pedalaman di Riau menjadi lebih terancam.

Bagi Tenas Effendy, kampung dan pedalaman adalah penyangga utama kesinambungan kebudayaan Melayu di Riau; bukan sekedar tempat (place) bermukim orang-orang, tetapi ruang (space) yang menghidupkan nilai-nilai luhur yang bersumbu pada hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan (alam sekitar) beserta makhluk lain penghuninya (horizontal) dan antara semua makhluk dengan Sang Khalik (vertikal). Apabila lingkungan itu diubah dengan semena-mena, maka kesinambungan budaya pun terjejas. Dan itulah yang terjadi. Budaya kampung porak-poranda bersama runtuhnya rimba, tercerabutnya hak dan pengelolaan komunal atas hutan-tanah warisan leluhurnya, tercemarnya suak, danau, sungai, dan selat. Yang tersisa, seperti sering dikatakan oleh Tenas Effendy semasa beliau masih hidup, hanya remah-remah. Maka beliau berkejar-kejaran dengan waktu, secara tak berkala meninggalkan keluarganya, untuk pergi ke kampung dan pedalaman, mengumpulkan remah-remah warisan budaya itu.

Pada tahun-tahun itu, perjalanan ke kampung-kampung dan pedalaman Riau bukanlah hal yang mudah. Infrastruktur jalur darat dan air amat terbatas. Hambatan itu tidak menyurutkan langkah beliau mengunjungi ceruk-ceruk pemukiman suku asli Petalangan (di pedalaman Pelalawan), Talang Mamak (di pedalaman Inderagiri Hulu), Sakai (di pedalaman Mandau), Bonai (di pedalaman Rokan), Akit (di pesisir Sungai Siak dan pulau-pulau), ke perkampungan masyarakat adat Kuantan, Kampar, ke tapak-tapak bekas pusat kerajaan Siak, Inderagiri, Pelalawan, Riau-Lingga, Gunung Sahilan, dan Lima Luhak di Rokan. Tenas Effendy menemui orang-orang patut setempat yang masih ada, menggali keterangan dan membangun jaringan dengan mereka.

Beliau merekam budaya material dan non-material yang ada di tempat-tempat itu dengan peralatan teknis seadanya. Akan tetapi, beliau memiliki hal lain yang waktu itu agak langka, yaitu kepekaan akalbudi yang terus merangsangnya tunak bertindak: mengumpulkan, merenungkan, dan menyusun-ulang remah-remah itu, untuk kemudian beliau hidangkan kepada semua khalayak melalui tulisan dan lisan. Hal itu berlangsung selama berpuluh-puluh tahun, sampai Allah Ta’ala memanggilnya pulang ke keabadian.

Warisan dan penghargaan
Gajah mati meninggal gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Nama baik jadi sanjungan
Budi baik jadi ikutan

Tenas Effendy adalah jelmaan yang indah dari pepatah-petitih Melayu di atas. Kesederhanaan hidupnya, bersama kepekaan, keprihatinan sosial, serta kearifan dan keikhlasan menerima takdir sebagai ‘teluk timbunan kapar’ (tempat segala masalah dan silang-sengketa dilabuhkan untuk diselesaikan), membuat beliau akan diingat sebagai ‘telaga budi’ yang mengalirkan sungai-sungai kebaikan dalam bentuk karya-karya tertulis (lihat senarai di bawah). Maka, sangat banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk puluhan penghargaan yang beliau terima, di antaranya Ijazah Tertinggi Doktor Persuratan (Kehormat) Honoris Causa (2005) dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Anugerah Akademi Jakarta (2006), Gelar Tanda Kehormatan RI Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Republik Indonesia (2019), dan Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2019).

Buku-buku karya Tenas Effendy (senarai sementara)
[Tanpa Tahun]. Kumpulan Mantera Melayu Riau. Pekanbaru: –
1968. Upacara Tepung Tawar. Pekanbaru: BPKD Riau
1969. Syair Perang Siak. Pekanbaru: BPKD Riau
1969. Tjatatan tentang Lantjang Kuning. Pekanbaru: BPKD Riau
1970. Banjir Darah di Mempusun. Pekanbaru: BPKD Riau
1970. Lancang Kuning dalam Mitos Melayu Riau. Pekanbaru: BPKD
1971. Kesenian Riau. Pekanbaru: BPKD Riau
1971. Syair Perang Siak (versi Siak dan Pelalawan). Pekanbaru: BPKD Riau
1971. Tenunan Siak. Pekanbaru: BPKD Riau
1972. Hulubalang Canang. Pekanbaru: BPKD Riau
1972. Lintasan Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pekanbaru: BPKD Riau
1972. Raja Indra Pahlawan. Pekanbaru: BPKD
1973. Datuk Pawang Perkasa. Pekanbaru: BPKD Riau
1973. Kubu Terakhir (Perjuangan Rakyat Riau Melawan Portugis). Pekanbaru: BPKD Riau
1978. Upacara Besolang Simbol Kegotongroyongan Orang Melayu. Pekanbaru: –
1980. Tak Melayu Hilang di Bumi. Pekanbaru: Pemda Riau
1981. Lancang Kuning. Pekanbaru: Pustaka As
1981. Lintasan Sejarah Kerajaan Siak. Pekanbaru: Pemda Riau
1981. Seni Ukir Daerah di Riau (bersama OK Nizami Jamil). Pekanbaru: Senopress
1982. Hang Nadim. Pekanbaru: Pemda Riau
1982. Monto-monto: kumpulan Mantera Orang Talang. Pekanbaru: –
1982. Upacara Menumbai di Pohon Sialang. Pekanbaru: IDKD Depdikbud Riau
1984. Adat Berladang di Kerajaan Pelalawan. Pekanbaru: Pemda Riau
1984. Bermain Bono di Sungai Kampar. Pekanbaru: Pemda Riau
1984. Upacara Mandi Air Jejak Tanah Petalangan. Pekanbaru: Pekanbaru: IDKD Depdikbud Riau
1985. Ragam Pantun Melayu. Pekanbaru: IDKD Riau
1985. Ungkapan Tradisional Daerah Riau Yang Berkaitan Dengan Sila-Sila Dalam Pancasila (bersama Nurbaiti, Nursyam, S, dll). Pekanbaru: IDKD Depdikbud Riau
1986. Khasanah Pantun Adat Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1986. Lambang dan Falsafah dalam Arsitektur Tradisional dan Ragam Hias Daerah Riau. Pekanbaru: IDKD
1986. Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1987. Cerita-Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: IDKD
1987. Dari Pekantua Ke Pelalawan (Lintasan Sejarah Kerajaan Pelalawan). Pekanbaru: Pemkab Pelalawan
1987. Lambang dan Falsafah dalam Pakaian Adat Melayu Riau. Pekanbaru: IDKD
1988. Bujang Si Undang. Pekanbaru: IDKD Riau
1988. Kelakar dalam Pantun Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1988. Sutan Peminggir. Pekanbaru: IDKD Riau
1989. Menumbai: Upacara Tradisional Mengambil Madu Lebah di Daerah Riau. Pekanbaru: IDKD Riau
1989. Pandangan Orang Melayu Terhadap Anak. Pekanbaru: Pemda Riau
1989. Persebatian Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1989. Ungkapan Tradisional Daerah Riau yang Berkaitan Dengan Pembangunan: Pekanbaru: IDKD Depdikbud Riau
1989. Ungkapan Tradisional Melayu Riau. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
1990. Adat Istiadat dan Upacara Perkawinan di Bekas Kerajaan Pelalawan. Pekanbaru: –
1990. Cerita Rakyat dari Indragiri Hilir. Pekanbaru: Pemda Riau
1990. Kelakar dalam Pantun Melayu. Pekanbaru: Lembaga Adat Daerah Riau
1990. Pandangan Orang Melayu terhadap Anak. Pekanbaru: Bayu Indragrafika
1990. Silsilah Raja-raja Melayu di Kerajaan Johor, Riau Lingga dan Pahang. Pekanbaru: Pemda Riau
1990. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1991. Selayang Pandang tentang Nibung dan Serindit. Pekanbaru: Pemda Riau
1992. Pakaian Adat Melayu Riau dan Filosofi yang Terkandung di Dalamnya. Pekanbaru: Pemda Riau
1992. Sastra Lisan ‘Orang Laut’: Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Pemda Tingkat I Riau, Proyek IDKD Riau
1992. Ungkapan Tradisional Daerah Riau Yang Mengandung Falsafah Etos Kerja Melayu Riau. Pekanbaru: IDKD & Pemda Riau
1993. Pantun sebagai Media Dakwah dan Tunjuk Ajar Melayu. Pekanbaru: Pemda Riau
1993. Sastra Lisan Daerah Riau yang Mengandung Nilai Kegotongroyongan dan Tenggang Rasa. Pekanbaru: Pemda Riau
1994. Kebudayaan Melayu Riau dan Permasalahannya. Pekanbaru: Pemda Riau
1994. Kumpulan Ungkapan Melayu Riau. Pekanbaru: Pemda Riau
1994. Orang Talang di Riau. Pekanbaru: Pemda Riau
1994. Tunjuk Ajar Melayu (Butir-Butir Budaya Melayu Riau). Pekanbaru: Dewan Kesenian Riau
1994/1995. Ejekan Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: –
1995. Marwah Johor di Kerajaan Pelalawan. Pekanbaru: –
1995. Tunjuk Ajar Petuah Orang Tua-tua. Pekanbaru: Universitas Lancang Kuning
1996. Zapin di Kerajaan Pelalawan. Pekanbaru: IDKD & Pemda Riau
1997. Bujang Tan Domang. Yogyakarta: EFEO, The Toyota Foundation, Yayasan Bentang Budaya
1998. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku I). Pekanbaru: Pemda Riau
1998. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku II). Pekanbaru: Pemda Riau
1998. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku III). Pekanbaru: Pemda Riau
1998. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku IV). Pekanbaru: Pemda Riau
1998. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku V). Pekanbaru: Pemda Riau
1999. Pemakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu. Melaka: DMDI
2000. Pemimpin dalam Ungkapan Melayu. Kuala Lumpur: DBP
2000. Senarai Upacara Adat Perkawinan Melayu Riau [Co-Author]. Pekanbaru: Unri Press
2002. “The Orang Petalangan of Riau and Their Forest Environment”. Leiden: IIAS
2002. Bela Pelihara Anak. Pekanbaru: Universitas Islam Riau Press
2002. Pemimpin dalam Ungkapan Melayu. Kuala Lumpur: DBP (Cetakan II)
2002. Sultan Mahmud Syah I (Marhum Kampar) dalam Mitos Rakyat Pelalawan. Pekanbaru: –
2002. Syair Nasib Melayu. Singapura: –
2003. Buku Saku Budaya Melayu yang Mengandung Nilai Ejekan dan Pantangan terhadap Orang Melayu. Pekanbaru: Unri Press dan LAMR
2003. Buku Saku Mengenal Lancang Kuning. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2004. Buku Saku Budaya Melayu tentang Etos Kerja. Pekanbaru: Unri Press
2004. Buku Saku Budaya Melayu tentang Kegotongroyongan dan Tenggang Rasa. Pekanbaru: Unri Press
2004. Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau (bersama Abdul Malik, Hasan Junus, dan Auzar Taher). Yogyakarta: BKPBM dan Adicita.
2004. Pemakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu. Yogyakarta: BKPBM dan Adicita
2004. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu. Yogyakarta: Adicita
2004. Tunjuk Ajar dan Sopan Santun dalam Budaya Melayu. Pekanbaru: –
2004. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Adicita
2005. Melayu Masyarakat Terbuka. Pulau Penyengat: Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu
2005. Mengenal Lancang Kuning. Pekanbaru: LAMR
2005. Pantun Nasehat. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
2005. Ragam Hias pada Rumah Melayu. Pekanbaru: TEF
2005. Syair Nasib Melayu. Yogyakarta: BPBM
2005. Ungkapan Tradisional Melayu Riau (Cetakan II). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
2006. Mitos Marhum Kampar dan Cerita Lainnya dari Pelalawan. Pelalawan: LKAM Kab. Pelalawan
2006. Nasehat Sepanjang Zaman: Warisan untuk Lintas Generasi [Pengantar Tenas Effendy]. Pekanbaru: Unri Press
2007. Khazanah Pantun Melayu. Kuala Lumpur: DBP
2010. Kesantunan Melayu. Pekanbaru: TEF
2010. Semangat Melayu. Pekanbaru: TEF, APM, dan Pemprov Riau
2011. Kesantunan dan Semangat Melayu. Pekanbaru: Pemko Pekanbaru
2012. Adat sebagai Kekuatan Jatidiri Masyarakat Melayu. Pekanbaru: LAMR
2012. Kata Alu-aluan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau Bersempena dengan Pengukuhan Pengurus Lembaga Adat Melayu Riau Masa Khidmat 2012-1017. Pekanbaru: LAMR
2012. Kesantunan dan Semangat Melayu. Pekanbaru: TEF, APM & Disbudpar Prov. Riau
2012. Syair Nasib Melayu (edisi dwibahasa: Melayu dan Inggris). Pekanbaru: LAMR
2012. Syair Nasib Melayu (Latin & Arab-Melayu). Pekanbaru: TEF, Pemprov Riau, dan APM
2012. Tunjuk Ajar Melayu tentang Kejujuran. Pekanbaru: LAMR
2012. Tunjuk Ajar Melayu tentang Kepemimpinan. Pekanbaru: LAMR
2012. Tunjuk Ajar Melayu tentang Ketaatan terhadap Ibu dan Bapak. Pekanbaru: LAMR
2012. Tunjuk Ajar Melayu tentang Pemberi dan Penerima Amanah. Pekanbaru: LAMR
2012. Tunjuk Ajar Melayu tentang Sikap Mandiri dan Percaya Diri. Pekanbaru: LAMR
2012. Tunjuk Ajar Melayu: Buku Saku. Pekanbaru: Disbudpar Riau
2012. Ungkapan Melayu: Pemahaman dan Masalahnya. Singapura: Kesatuan Guru-guru Melayu
2012. Ungkapan Melayu. Pekanbaru: Disbudpar Riau & TEF
2013. Buku Saku Tunjuk Ajar Melayu tentang Sikap Mandiri dan Percaya Diri. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2013. Tunjuk Ajar Melayu tentang Hidup Hemat. Pekanbaru: Disbudpar & TEF
2013. Buku Saku Pantun Kelakar. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2013. Buku Saku Tunjuk Ajar Melayu tentang Kejujuran. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2013. Buku Saku Tunjuk Ajar Melayu tentang Kepemimpinan. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2013. Buku Saku Tunjuk Ajar Melayu tentang Wakil. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau
2013. Kata Amanah (Bersempena Upacara Tepung Tawar kepada Calon Gubernur Riau dan Calon Wakil Gubernur Riau Masa Khidmat 2013-2018). Pekanbaru: LAMR
2013. Kearifan Pemikiran Orang Melayu. Pekanbaru: TEF dan Pemprov Riau
2013. Pantun Kelakar. Pekanbaru: LAMR
2013. Syair Elu-eluan dan Petuah Amanah untuk Tuan Drs. HM Wardan, MP. Pekanbaru: LAMR
2013. Tunjuk Ajar Melayu dalam Pantun Gurindam Seloka Syair dan Ungkapan. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau & TEF
2013. Tunjuk Ajar Melayu tentang Pemberi dan Penerima Amanah (Cetakan II). Pekanbaru: LAMR
2013. Tunjuk Ajar Melayu tentang Rendah Hati. Pekanbaru: LAMR
2013. Tunjuk Ajar Melayu tentang Wakil. Pekanbaru: LAMR
2014. Pemimpin dalam Ungkapan Melayu. Pekanbaru: LAM Riau
2014. Rumah: An Ode to The Malay House. Pulau Pinang: Areca Books
2014. Tunjuk Ajar Melayu. Pekanbaru: Disbudpar Riau
2015. Tunjuk Ajar Melayu. Pekanbaru: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau
2019. Ungkapan Tradisional Melayu Riau. Pekanbaru: LAMR & Pemerintah Provinsi Riau

Sumber : https://lamriau.id

Tinggalkan Balasan