PANTUN tergolong puisi lama dan atau puisi klasik Melayu (Winstedt, 1977; Daillie, 1990; Alisjahbana, 2009). Keberadaannya ternyata masih mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat pendukung budaya Melayu (Malik, 2013). Oleh sebab itu, jenis puisi lama Melayu itu tetap lestari sampai setakat ini. Keistimewaan pantun tersirat dalam bait-bait pantun karya Haji Ibrahim (Riau, 2002).

Inilah pantun baharu direka
Menyurat di dalam tidak mengerti
Ada sebatang pohon angsuka
Tumbuh di mercu gunung yang tinggi

Menyurat di dalam tidak mengerti
Makna dendang dipuput bayu
Tumbuh di mercu gunung yang tinggi
Bahasanya orang cara Melayu

Dua bait pantun di atas dipetik dari buku Perhimpunan Pantun Melayu karya Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau yang diterbitkan kali pertama pada 1877 (Junus, 2001). Haji Ibrahim adalah penulis pada masa Kesultanan Riau-Lingga (1824—1913), yang sebelum dibelah bagi oleh Inggris dan Belanda pada 1824 merupakan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Beliau merupakan penulis sezaman sekaligus sahabat penulis ternama lainnya, yakni Raja Ali Haji. Dengan karyanya itu, Haji Ibrahim dipercayai sebagai penulis pertama yang mengubah pantun dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis dengan karya antologi pantunnya itu.

Dari pantun Haji Ibrahim itu dapatlah diketahui hal ini. Pertama, pantun merupakan gubahan yang menggunakan bahasa Melayu tinggi dalam tradisi Melayu. Kedua, pantun juga dihargai sebagai karya yang bernilai tinggi. Oleh sebab itu, ketiga, kemahiran berpantun pun memerlukan kecerdasan yang tinggi pula. Perihal pantun itu disebut dalam Hikayat Inderaputera.

“Syahdan di padang itu rumputnya seperti zamrud warnanya. Maka Inderaputera pun datanglah ke padang itu, dan ada suatu bukit terlalu elok rupanya, dan airnya pun mengalir daripada pihak bukit itu terlalu sejuk, dan di bawah bukit itu beberapa pohon kayu berbagai-bagai rupanya, berbagai-bagai jenis warnanya. Kalakian maka didengar oleh Inderaputera bunyinya segala bunyi-bunyian itu seperti orang bernyanyi. Ada yang seperti orang bersyair dan bermadah dan berpantun [huruf miring oleh saya, HAM]. Maka Inderaputera pun berhenti melihat ‘kekayaan’ Tuhan dan bertambah-tambah yang indah-indah itu. Setelah itu demikian maka Inderaputera pun kenyanglah rasanya melihat sekalian itu. Maka ia pun mengucap syukurlah kepada Allah dan terkenanglah akan ayah-bundanya,” (Braginsky 1994, 18-19).

Demikianlah keindahan dalam konsep estetika Melayu senantiasa disepadankan dengan kepelbagaian: rupa, warna, bunyi, rasa, dan sebagainya. Kepelbagaian yang bagi barang siapa yang berupaya mengapresiasinya dengan baik akan membuat dirinya dapat menikmati kekenyangan batiniah yang tiada bertara. Pada gilirannya, teringatlah dia akan segala yang memang patut dicintainya: Tuhannya, ayah-bundanya, bangsa dan negaranya, kampung-halamannya, anak-istrinya, kaum-kerabatnya, kekasih hatinya, dan seterusnya (Malik 2009, 12). Satu di antara jenis sastra yang memberi keindahan yang pelbagai rupa itu adalah pantun.

Pantun merupakan jenis sastra lama Melayu yang sangat disukai, dari dahulu sampai sekarang walaupun dalam perkembangannya terlihat juga gejala fluktuasinya (Malik 2013, 341). Kenyataan itu sekaligus menyangkal kekhawatiran Hans Overbeck (dalam Sweeney 1987, 34; Salleh 2009, 176) bahwa “Kesusastraan Melayu telah mati, layu, semenjak kegemilangan Kerajaan Melayu mengalami kegerhanaan.” Khusus untuk pantun, orang-orang tua-muda, laki-laki-perempuan, dan besar-kecil di kawasan berbudaya Melayu tak ada yang berasa bosan kalau berpantun dan atau mendengarkan pantun. 

Di kalangan para peneliti sastra pula, daya tarik pantun yang “menggelitik” mereka adalah ini.

“Sifatnya yang tidak lazim … sesudah dua baris yang pertama, ada perubahan yang tiba-tiba dalam arti kata-katanya dan bahwa inti seluruhnya terutama terdapat dalam dua baris terakhir,” (Djajadiningrat, 1933). 

Ketaklaziman itu membuat para peneliti, Barat dan Timur, terkagum-kagum dan berupaya sedapat-dapatnya untuk mencari rahasianya. Pantun memang memberikan kepelbagaian cita-rasa dan penuh dengan kejutan, tetapi indah, bermakna, dan bermanfaat. Itulah daya pikat utamanya.

Daya tarik lain pantun di kalangan masyarakat adalah ini. Jenis sastra lama Melayu ini boleh digunakan pelbagai kalangan dari pelbagai peringkat umur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan atau gagasannya (Malik, 2013). Kanak-kanak, para remaja, dan orang tua-tua boleh menggunakan pantun untuk menyampaikan pesannya tentang pelbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu, pantun sangat diminati oleh masyarakat.

Mengapakah pantun mendapat tempat yang istimewa dalam kehidupan pendukung peradaban Melayu? Dalam karyanya kamus ekabahasa sulung bahasa Melayu, Kitab Pengetahuan Bahasa, yang terbit kali petama 1858, Raja Ali Haji menjelaskan konsep budi yang amat mustahak dalam budaya dan tamadun Melayu. Konsep budi disandingkannya dengan akal  sehingga menjadi akal-budi yaitu sesuatu yang memuliakan manusia. Akal-budi itu tabiat  atau perangai untuk mencapai pengetahuan yang sukar-sukar seolah-olah ianya cahaya yang terang-benderang di dalam hati tempatnya terus memancar naik ke otak sehingga manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah, baik dan jahat. Barang siapa yang tidak memilikinya akan hinalah manusia itu meskipun dia seorang raja (Haji, 1986).

Dengan demikian, tamadun Melayu, seperti yang teradat dalam kehidupan orang Melayu, menyebatikan konsep budi dan bahasa. Dalam hal ini, terbentuklah konsep dwitunggal: budi menuntun bahasa untuk mewujudkan bahasa memancarkan budi (Malik, 2009; Malik 2017a, 13). Jadi, menjadi jelaslah mengapa sastra, khasnya pantun, mendapat tempat terhormat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Pasalnya, pantun memenuhi syarat bahasa memancarkan budi dan budi yang menuntun bahasa. Oleh sebab itu, tak heranlah jika ada peneliti Barat seperti Brandstetter mengaitkan pantun dengan akar kata tun  yang berarti ’teratur’ dan berhubung maknanya dengan kata tuntun ’bimbing, membimbing, mengatur, atau mengarahkan’ (Djajadiningrat, 1933).

Islam menjadi teras tamadun Melayu. Hal itulah yang menjadi penyebab utama begitu berkesannya amanat Syaiyidina Ali bin Abi Thalib dalam hati sanubari orang Melayu. ”Bahasa yang rusak menggambarkan akhlak yang sudah rusak pula,” demikian kata sahabat Rasulullah tersebut. Oleh sebab itu, membela (memelihara) dan membéla (mempertahankan) bahasa dari sebarang anasir yang berusaha untuk merusakkannya  menjadi tugas mulia, yang justeru disenangi oleh banyak orang (Malik, 2009).  

Karena merupakan medium utama karya sastra, bahasa yang memenuhi syarat untuk dikelompokkan ke dalam sastra Melayu, baik bentuk maupun isi (makna)-nya ialah bahasa yang benar sesuai dengan tuntunan nalar dan baik sesuai dengan pedoman hati (nurani). Singkatnya, bahasa yang memancarkan budi. Kandungan kebenaran dan kebaikan itulah yang menjadikan suatu karya yang dirajut dengan bahasa dapat dikategorikan sebagai karya sastra dalam kebudayaan Melayu, yang pada gilirannya memunculkan keindahan dan kemanfaatan. Kenyataan itu sesuai dengan pantun Haji Ibrahim berikut ini (Riau, 2002).

Makna dendang dipuput bayu
Seekor burung dipukul angin
Bahasanya orang cara Melayu
Tiada tahu erti yang lain

Berdasarkan perian di atas menjadi jelaslah mengapa sastra mendapat tempat yang penting dalam masyarakat dan tamadun Melayu. Dengan sastra, khasnya pantun, hasrat, resa (mood), dan tanggung jawab untuk mengekalkan budi yang terala (luhur dan mulia) dapat diwujudkan, yang pada gilirannya menjadi peneguh dan pengukuh jati diri dan karakter bangsa. Oleh sebab itu, semua sektor pembangunan di Negeri Melayu umumnya, Kepulauan Riau khasnya, seyogianya dilaksanakan berpayungkan budaya Melayu, tentu dengan bahasa dan sastra Melayu sebagai pilarnya. Dengan demikian, membina dan mengembangkan budaya dan tamadun Melayu menjadi tugas yang mustahak dan dipandang mulia oleh masyarakat.

Mengapakah keberadaan sastra, termasuk pantun, dianggap begitu penting?  Jawabnya, ”. . . sastra sebagai jalan keempat ke kebenaran . . . di samping jalan agama, jalan filsafat, dan jalan ilmu pengetahuan,” (Teeuw 1982, 7). Melalui karya sastra, manusia berusaha mendedahkan hakikat kebenaran sedemikian rupa sehingga ciptaan itu tetap memiliki nilai dan fungsi bagi sesiapa saja, bila-bila masa saja, dan di mana saja asalkan dia bersedia dan berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menemukan maknanya. Kelebihan sastra, kebenaran yang diungkapkannya disajikan secara indah dengan kreativitas bahasa yang luar biasa hebatnya.

Karya sastra klasik Melayu Hikayat Dewa Mandu (HDM) menggambarkan sesuatu yang disebut cantik  atau indah sebagai berikut. 

”Setelah Dewa Mandu menengar kata Puteri Lela Ratna Kumala demikian itu maka Baginda pun tersenyum seraya membaca suatu isim Allah, lalu ditiupnya kepala gajah putih itu tiga kali. Maka dirasai oleh Tuan Puteri itu sejuklah segala anggotanya, seketika ia pun kembalilah seperti sediakala menjadi manusia. Setelah dilihat oleh Dewa Mandu akan rupa Tuan Puteri itu maka ia pun pingsanlah seketika. Lalu Tuan Puteri pun meniup kepala Dewa Mandu. Maka Dewa Mandu pun sadarlah akan dirinya, lalu ia mengucap seraya memuji Tuhan seru sekalian alam katanya, ’Salangkan hamba-Nya yang dijadikan-Nya lagi sekian [cantiknya, pen.], jikalau yang menjadikan berapa lagi.’ Makin bertambah-tambahlah tauhid dan tasdiknya akan Tuhan Malik al-Manan,” (Chambert-Loir & Fathurrahman, 1999, 109; Malik, Junus, & Thaher 2003, 107-108).

  Petikan HDM di atas menggambarkan aspek ontologis estetika Melayu, yang senantiasa mengaitkan keindahan duniawi atau zahiriah dengan keindahan Ilahiah. Keindahan duniawi atau zahiriah baru dapat mencapai derajat kesempurnaan apabila merupakan gabungan dari seri gunung dan seri pantai (Chambert-Loir & Fathurahman, 1999). Seri gunung merupakan keindahan yang terlihat dari jauh atau keindahan batiniah, yang dalam karya sastra terkandung dalam maknanya. Seri pantai adalah keindahan yang terlihat dari dekat atau keindahan zahiriah, yang dalam karya sastra dapat dilihat dari bentuknya (Malik 2019, 13).

Persebatian antara seri gunung dan seri pantai itu oleh Ahmad Rijaluddin disebut sebagai sadu perdana dan bernilai tujuh laksana. Paduan mesra antara keindahan insaniah (zahiriah) dan keindahan Ilahiah itulah yang disebut keindahan kelas utama yang bernilai tujuh bintang. Sosok idealnya menjelma dalam diri bidadari Sakerba yang dikisahkan dalam Syair Ken Tambuhan, yang sampai mampu menghidupkan kembali pasangan pencinta yang sudah meninggal dunia (Malik, Junus, & Thaher, 2003).

Karya dengan kualitas keindahan seperti itulah yang didambakan oleh setiap orang untuk dihasilkan, yang pada gilirannya diharapkan dapat dibaca oleh para pembaca dan didengarkan oleh para pendengar. Karya yang demikian itulah yang tak diragukan nilai dan fungsinya bagi masyarakat penikmat, yang membuat mereka terus berusaha untuk mencarinya (Malik 2017c, 13). Begitulah Dunia Melayu mewariskan pelbagai jenis karya sastra untuk dinikmati dan diambil hikmahnya untuk kehidupan, dari dahulu sampailah ke masa kini.

Di kawasan Melayu, pantun merupakan genre kesusastraan klasik yang paling digemari sampai setakat ini. Para peminat dan penikmatnya tak kira umur, status sosial, suku, dan agama (Malik 2017c, 13). Untuk pelbagai aktivitas, pantun terus digunakan dan diciptakan orang. Pasalnya, kesetiaan dan ketersediaan seri pantai dan seri gunung masih kekal dan tak tergoyahkan di dalam pantun.

Dari sisi seri pantai, bentuknya yang ringkas menjadi daya pikat utama. Di samping itu, keseimbangan kata setiap larik atau baris (4—6 kata) dan selanjutnya membangun konsistensi korespondensi setiap bait juga menjadi daya tariknya yang lain. Dan, persajakannya yang indah sanggup membangunkan imajinasi tentang pelbagai persoalan dalam kehidupan. Apatah lagi, untuk menghasilkan sampiran atau pembayang dan isi yang serasi memang diperlukan kreativitas berpikir dan kemahiran berbahasa yang mencabar atau menantang. Akal dan budi harus dibancuh sedemikian rupa sehingga menghasilkan adonan yang bersebati.

Dari sisi seri gunung, isinya terbuka untuk semua jenis dan peringkat persoalan, dari yang ringan-ringan sampai yang paling berat sekalipun: segala perkara tentang diri sendiri, perhubungan diri sendiri dengan manusia lain, makhluk lain, dan Tuhan. Hal itu membuat pantun memiliki daya pikat lebih. Sesuai dengan fungsinya sebagai penuntun, bahasanya yang santun cocok dan serasi untuk menyampaikan amanat tentang nasihat, pedoman hidup, tunjuk ajar, peringatan, sampai kepada hiburan yang mendidik. Dalam hal ini, orang yang menjadi sasarannya tak berasa tersinggung dan atau sakit hati. Itulah ciri khas yang menjadi keunggulan batiniahnya. (bersambung)


Tinggalkan Balasan