DALAM kehidupan masyarakat Melayu, pantun memang telah diperkenalkan kepada orang Melayu sejak mereka masih bayi. Keadaan itu bergerak ke usia kanak-kanak, terus ke masa remaja, menuju ke usia dewasa, sampailah ke masa orang tua; selalu ada pantun untuk mengisi ruang kehidupan mereka. Nampaknya, anjuran Nabi Muhammad SAW, ”Tuntutlah ilmu sejak dari dalam kandungan sampai ke liang lahat” dilaksanakan secara konsisten dengan, antara lain, memanfaatkan pantun sebagai salah satu medianya. Dengan demikian, kebiasaan yang sudah melekat lagi meresap itu tak akan mudah hilang begitu saja sehingga pantun memainkan perannya yang cukup signifikan dalam kehidupan orang Melayu.

Dan, untuk mengingatkan perihal mustahak dan pentingnya marwah (harga diri) bangsa, orang Melayu, khasnya di Kepulauan Riau, selalu bangga akan pantun pusaka, yang konon, diciptakan sempena dengan peristiwa bersejarah. Berikut ini  salah satu pantun tersebut.

Besar ulat di daun kayu
Anak Belanda main teropong
Besar daulat Raja Melayu
Kapal ditarik dengan jongkong

Bahkan, daya magis pantun mampu membangkitkan semangat juang yang bernyala-nyala. Yang paling mustahak, serasinya perkataan dengan perbuatan. 

Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa kami dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Nyawa dan badan kami serahkan

Begitulah pantun yang baik mampu menyampaikan amanat untuk membangkitkan semangat membangun dan sifat pantang berputus asa dalam perjuangan bagi sesiapa saja. Kota Melaka yang dibanggakan itu, seandainya ianya roboh, akan digantikan dengan bangunan yang sama atau lebih megah lagi di Jawa sebagai lambang ’sifat dan perilaku yang pantang menyerah dan atau tak pernah berputus asa’. Bahasa dengan pemerian biasa tak sanggup menandinginya untuk memberikan kesan yang menyentak dan menghunjam dalam ke lubuk sanubari. Pantun ”Kota Melaka”  di atas, misalnya, melalui persebatian sampiran dan isinya yang sanggam—disebut pantun mulia—itu memberikan kesan ’kalau sungguh (benar) seperti yang dikatakan’—sejalan perkataan dengan perbuatan—(syarat, sebab), sesiapa pun ’rela mengorbankan jiwa dan raga’ untuk mencapai matlamat suci membela kebenaran, memperjuangkan hak, dan memerangi kebatilan demi kejayaan bangsa dan negara. Tak ada kata menyerah bagi perjuangan suci dalam kehidupan ini.

Di Indonesia sejak 1920-an dimulailah era kesusastraan modern. Ciri utamanya telah masuknya pengaruh Barat dalam kesusastraan Indonesia. Dengan perubahan itu, adakah puisi modern Indonesia meninggalkan sama sekali jejak pantun dalam bentuk dan isinya?

BUKAN BETA BIJAK BERPERI

Bukan beta bijak berperi
Pandai menggubah madahan syair
Bukan beta budak negeri
Musti menurut undangan mair
…………………………………..

Bait puisi di atas merupakan kutipan dari puisi Bukan Beta Bijak Bestari karya Roestam Effendi, salah seorang penyair Angkatan Balai Pustaka (Rosidi, 2013). Pola baris, persajakan, dan iramanya sama benar dengan pantun. Kecuali memang, dua baris pertama puisi tersebut bukanlah sampiran seperti pantun. Begitu pulalah halnya dengan puisi berikut ini.

ASTANA RELA

Tiada bersua dalam dunia
tiada mengapa hatiku sayang
tiada dunia tempat selama
layangkan angan meninggi awan
………………………………….

Kutipan di atas berasal dari puisi Astana Rela karya Amir Hamzah. Beliau dikenal dengan gelar Raja Penyair Pujangga Baru, yakni angkatan kesusastraan Indonesia pasca Angkatan Balai Pustaka. Selain itu, beliau juga dikenal dengan julukan sebagai Penyair Religius dan Penyair Modern Klasik. Jika Angkatan Balai Pustaka merupakan kelompok sastrawan  periode 1920—1933, maka Angkatan Pujangga Baru merupakan kelompok sastrawan modern Indonesia periode 1933—1943. 

Seperti halnya puisi Roestam Effendi, dari segi bentuknya, puisi-puisi Amir Hamzah juga masih sangat setia terhadap pola pantun. Perbedaannya, sebagai puisi modern, puisi-puisi beliau tak lagi menggunakan sampiran.

Bahkan, puisi-puisi penyair mutakhir Indonesia pun, walaupun tak seluruhnya, masih mengunakan pola pantun. Ternyata, puisinya sangat memikat lagi berkesan.

Tangan
(Kepada Melayu)

Jangan bilang punya tangan
Kalau cuma bisa tadah
cuma bisa garuk
cuma bisa raba
cuma bisa kocok
…………………………….

Puisi Tangan di atas merupakan karya penyair Rida K Liamsi dari buku Kumpulan Puisi Rose (2013). Buku puisi itu memperoleh Anugerah Buku Puisi Terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 28 Oktober 2018.

Tak berbeda dengan pendahulunya, puisi berikut ini pun masih setia menggunakan pola pantun. 

24/ selera garam
………………………………….
(2)
batu di lautan
sembunyi matahari
segala keinginan
pergi pasti sekali

Puisi di atas karya penyair Abdul Kadir Ibrahim (Akib), peraih Anugerah Jembia Emas 2019, dari Kumpulan Puisi Jikalau Laut Dinyalakan (2019). Buku puisi Akib itu terpilih sebagai Buku Puisi Pilihan, Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019. Kenyataan itu membuktikan bahwa puisi modern nusantara yang menyiratkan pola pantun tetap mempertahankan daya tariknya yang khas. Dengan demikian, pantun masih setia memberikan seri gemilangnya kepada puisi modern nusantara. Sebetulnya, memang ada pantun yang sampirannya sangat berkaitan makna dengan isinya. Pantun jenis itu biasa disebut pantun mulia. Itulah hakikat pantun yang sesungguhnya. Pantun berikutnya ini sebagai salah satu contohnya

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di telapak tangan
Walau jauh beribu batu
Hilang di mata di hati jangan

Sampiran pantun Pucuk Pauh di atas terdiri atas (1) pucuk pauh yang dikontraskan dengan delima batu dan (2) anak sembilang yang terletak di telapak tangan. Pucuk pauh letaknya tinggi karena pohon pauh itu umumnya tinggi, sedangkan delima batu rendah sehingga jarak antara pucuk pohon delima dan pucuk pohon pauh itu jauh. Dengan demikian, perbandingan pucuk pauh dan delima batu melambangkan jarak yang jauh. Sampiran ini membayangkan orang (mungkin sepasang kekasih yang saling mencintai) yang sedang berjauhan, yang sudah tentu saling merindui. 

Ikan sembilang pula memiliki sengat yang sangat berbisa. Jika manusia tertusuk sengat sembilang, sakitnya tak terperikan. Kenyataan itu membayangkan bahwa perpisahan (apatah lagi jauh jaraknya) antara dua orang kekasih yang saling mencintai membuat kedua-duanya saling merindui sehingga terasa sakit bukan kepalang. Untuk meredakan “sakit rindu” itu, dihiburlah diri dengan isi pantun, “Walau jauh beribu batu, hilang di mata di hati jangan.”

Pantun-pantun yang setara dengan pantun Pucuk Pauh telah dikemukakan di atas. Di antaranya pantun Nyiur Gading, pantun Kota Melaka, dan pantun-pantun dalam antologi pantun karya Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda. Sebagai pantun mulia, sampiran pantun-pantun itu benar-benar membayangkan makna isinya, tak sekadar permainan sajak akhirnya belaka.

Berdasarkan uraian di atas, jenis pantun mulia itulah yang dikembangkan oleh penyair modern nusantara dalam puisi-puisi mereka. Dalam hal ini, puisi-puisi modern itu memang tak lagi kelihatan menggunakan sampiran walaupun pola baris, persajakan, dan iramanya masih berakar pada tradisi pantun.

Puisi-puisi modern periode berikutnya memang tak memperlihatkan kesamaan lagi dengan pantun dari segi bentuknya. Pasalnya, pola puisi modern telah sangat beragam. Akan tetapi, puisi-puisi modern itu tetap meneruskan tradisi pantun dalam maknanya. Maknanya, puisi-puisi modern nusantara tetap menyuarakan persoalan diri sendiri dan perihal diri manusia yang dihubungkan dengan manusia lain, makhluk lain, dan Tuhan. Dengan kata lain, dari segi seri pantai, pantainya telah bergeser dari pantai pantun yang indah lagi menawan menuju pantai indah yang lain. Akan tetapi, dari sudut seri gunung, pancaran sinar pantun masih terang-benderang menerangi puisi modern nusantara.

Pantun merupakan salah satu warisan puncak tamadun Melayu. Sampiran dan isinya tak lain dari perpaduan yang serasi akal-budi yang menjadikan bahasa Melayu bernilai tinggi. Daya magisnya mampu mengirimkan amanat tak hanya sampai ke otak, tetapi menembus jauh ke lubuk hati-sanubari. Daya ungkapnya yang istimewa itulah yang menjadi penyimpul sehingga pantun tetap cemerlang dan gemilang sampai setakat ini. Kesempurnaannya sebagai karya sastra disebabkan oleh keserasian antara bentuk dan isinya sehingga mewujudkan persebatian antara seri pantai dan seri gunung sebagai syarat kualitas karya kelas utama yang dapat diberi tujuh bintang.

Perkembangan puisi modern nusantara tak serta-merta dapat dipisahkan dengan pantun. Dalam hal ini, pantun yang sampiran dan isinya berkelindan sangat eratlah yang dikembangkan menjadi puisi modern. Dalam perkembangan selanjutnya, dari segi bentuk atau seri pantai, puisi modern nusantara memang agak mengambil jarak dengan pantun, antara lain, karena tuntutan pengungkapan pikiran dan perasaan yang lebih rumit sesuai dengan perkembangan zaman. Akan tetapi, makna atau seri gunung puisi modern nusantara masih mengikuti tradisi pantun. Pasalnya, pantun memang  menjadi akar puisi modern Indonesia.***  

Tinggalkan Balasan