Kawasan Sungai Muka Kuning (S. Moekakoening) dan Sungai Doeriangkang sekitarnya dalam peta Pulau Batam yang dibuat oleh Topografische Dienst (Dinas Topografi) Hindia Belanda di Batavia, tahun 1929: Di kawsan inilah Orang Muka Kuning bermukim di Pulau Batam pada masa lalu.

Disamping George Samuel Windsor Earlyang menulis buku The Eastern Seas or Voyages and Adventures in the Indian Archipelago yang sangat terkenal, ada juga James Richardson Logan (1819-1869) sebagai sosok lain yang berjasa memperkenalkan nama Indunesia-Indonesia (pada tahun 1859) sempena menggantikan istilah Indian Archipelago yang dipergunakan oleh penulis-penulis Inggris untuk menyebut Kepulauan terbesar di Nusantara ini pada abad ke-19.

Namun demikian, lebih dari George Samuel Windsor Earl, maka Logan yang ethnolog itu juga mewariskan kepada kita pengetahuan antropologi dan ethnografi tentang suku bangsa asli (Loga menyebutnya tribes) yang mendiami Kepulauan Riau-Lingga pada abad ke-19  melalui serangkaian tulisan-tulisan ethnografinya.

Rangkaian tulisan Logan tentang suku bangsa asli Kepaualaun Riau-Lingga yang ketika itu disebutnya sebagai The Johore Archipelago, dipublikasikan dalam The Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia: edisi perdana jurnal ilmiah ini terbit dan dicetak oleh The Mission Press, Singapura tahun 1847.

Dalam edisi perdana jurnal ilmiah itu, yang antara lain memuat artikelnya yang berjudul “The Ethnology of The Johore Archipelago”,  Logan menulis: “This Archipelago, embracing several hundreds island, besides the considerable islands of Battam, Bintang, Krimun, Gampang, Gallat, Lingga, and Singkep, is thinly inhabited by several intresting tribes…” (“Kepualauan ini, yang mencakupi beberapa ratus pulau-pulau kecil, selain pulau besar seperti Batam, Bintan, Karimun, Rempang, Galang, Lingga, dan Singkep yang cukup besar, pulau-pulau kecil lainnya dihuni oleh sejumlah suku-suku bangsa yang menarik…”)

Beberapa suku bangsa asli tersebut memang telah diamati secara sepintas oleh penulis-penulis Belanda sebelumnya. Namu demikian, sebagian besarnya masih tetap belum dideskripsikan hingga tahun 1847. Beberapa diantaranya juga telah pernah diulas sepintas kilas oleh penulis-penulis Belanda pada ketika itu, namun bagian terbesarnya masih tetap tak tergambarkan. Menurut Logan, suku bangsa asli yang penting adalah mereka yang secara kolektif disebut Orang Pe-Suku-an, yang secara harfiah artinya adalah penduduk yang terbagi atas beberapa suku, yang kesemuanya merupakan budak atau pengikut (vassals) raja (Kerejaaan Lingga-Riau).

Menutut Logan, kelompok yang menempati peringkat tertinggi, yang menjawat berbagai tugas ketika raja pergi ke laut atau ketika sedang berperang,  adalah Orang Bentan yang berada dibawah pimpinan seorang Ulubalang, Orang Singgera dibawah pimpinan seorang Batin, Orang Kopet yang pimpin oleh seorang Jenang, Orang Bulo dan Orang Lingga yang dipimpin oleh Orang Kaya Mepar.

Dalam kaitan dengan penelusuran lebih jauh hal ikhwal suku bangsa asli ini, Pulau Batam adalah salah satu dari pulau-pulau dalam kawsan The Johor Archipelago ketika itu,  dan membentuk bagian Selatan dari Selat Singapura, yang dikunjungi Logan pada tahun 1847. Menurut Logan, Anak-anak sungai di Pulau Batam selalu dikunjungi oleh perahu-perahu sejumlah suku bangsa asli penghuni laut terbuka  (pelagian tribes). Selain itu, di dalam hutannya ditemukan tiga suku bangsa yang masih primitif  (wild tribes).

Di kawasan  Barat Laut Pulau Btam ketika itu, bermukim Orang Sabimba (Sebimba atau Senimba). Pada kawasan hutan di sebalah Timur Laut Pulau Batam,  terdapat suku bangsa asli yang masih mengembara berpindah-pindah. Orang-orang Melayu di Singapura menyebut mereka sebagai Orang Treng Bumban (Orang Tering Bemban).

 Informasi tentang keberadaan suku bangsa asli di Pulau Batam  ini untuk pertamakali didengar Logan dari Mr. Simonides beberapa tahun sebelumnya. Mula-mula ia mengirim seorang Melayu untuk membuat sebuah daftar kosa-kata dalam bahasa suku bangsa asli tersebut, namun “asisten Melayunya” tak berhasil menemukan salah satu dari mereka.

Akhirnya Logan turun langsung ke Pulau Batam pada 1847. Ia menyusuri Sungai Seraya dan anak sungainya yang bernama Sungai Mukakuning (S. Moekakoening) untuk mencapai pemukiman suku bangsa asli penduduk Pulau Batam, yang kemudian disebutnya sebagai Orang Muka Kuning.  Apabila merujuk kepada peta-peta lama Pulau Batam, maka kawasan pemukiman Orang Muka Kuning tersebut adalah disekitar kawasan industri Muka Kuning, Pulau Batam yang sangat terkenal itu.

Dibawah ini beberapa catatan penting dalam laporan James Richardson Logan tentang Orang Muka Kuning diPulau Batam. Dirangkum dari artikel James Richardson Logan yang berjudul  “The Orang Muka Kuning”  dalam “The Ethnology of The Johore Archipelago”, yang dimuat dalam edisi perdana The Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia tahun 1847.

***

Pemukiman dan Mata Pecarian

Orang Muka Kuning mendiami hutan-hutan di sungai Sa Raya (Seraya), atau tepatnya pada anak sungainya, yakni Sungai Muka Kuning. Letaknya sekitar empat jam berdayung dari muara sungai itu. Setelah sekitar empat jam berdayu di Sungai Muka Kuning, maka kita akan sampailah di Pankallan Sungai Raya, dan dari sini empat jam berjalan kaki akan membawa kita ke Kampong Orang Utan (man of the woods).

Suku banga asli Pulau Batam ini terdiri dari sekitar lima puluh keluarga, yang hidup tersebar di hutan dan tinggal di pondok-pondok yang terletak di bawah pohon, berupa sebidang lantai kasar yang ditopang oleh empat tonggak kayu sekitar tiga kaki tingginya,  tempat dimana atap dari daun sirdang menjulang tanpa ditutupi sebarang dinding. Ianya adalah bangunan yang terbuka di kedua unjungnya, dan tanpa tangga atau pintu.

Kaum laki-lakinya kebanyakannya mengenakan chawat dari kulit kayu tirap, dan kaum perempuannya mengenakan sejenis kain sarung pendek.

Mereka tidak menanam sebarang tanam-tanaman, atau berternak, namun memelihara anjing. Dengan bantuan anjing, sumpitan, seligi atau tombak nibong, kapak, beliung, dan pisau, mereka memperoleh makanan sehari-hari di hutan, begitu juga dengan rotan, dammar, dan kayu agala, yang kemudian mereka barter untuk mendapatkan beras, kain, perkakas-perkakas, tembakau, dan garam.

Bahan-bahan makanan yang diperoleh dari hutan adalah sama seperti, binatang-binatang dan sayur-sayuran, yang dikumpulkan oleh Orang Sambimba (di Teluk Senimba). Akan tetapi, bagi Orang Muka Kuning, unggas adalah makanan yang terlarang.

Seorang Batin Melayu bernama Pajar, yang bermastautin di Pulo Loban (Pulau Lobam), adalah orang yang diserahi tugas dan tanggung jawab mengurus Orang Muka Kuning ini  oleh Iam Tuan Muda of Rhio (Yamtuan Muda Riau VIII, Raja Ali Marhum Kantor, d Pulau Penyengat). Ia mengunjungi mereka dari waktu ke waktu. Membawakan mereka beras dan bahan-bahan kebutuhan lainnya, dan menerima imbalan berupa hasil hutan yang dikumpulkan oleh Orang Muka Kuning. Mereka dilarang berdagang dengan orang lain dengan ganjaran hukuman dengan cara dibenamkan.

Untuk 1000 batang rotan, mereka menerima 4 gantang beras; untuk 100 dammar suluh, 6 gantang beras; dan untuk satu keranjang (1 ½ dalam dan lebarnya) kayu agila, 4 gantang beras.

Adat Pernikahan

Segera setelah payudara seorang anak perempuan mereka seukuran buah pinang, maka telah dianggap layak untuk menikah. Apabila satu pernikahan telah disepakati, orang tua mempelai laki-laki mengirimkan mempelai perempuan 3000 batang rotan, sepotong kain, baju dan dua cincin perak. Pernikahan berlangsung di kediaman mempelai perempuan, dengan dihadiri Batin dan sejumlah tamu. Kedua mempelai didudukkan bersebelahan, bergandengan tangan, dan kedua orang tuanya manasehati agar bersikap baik satu sam lain dan menghindari peselisihan.

Setelah itu, sebuah pesta menyusul. Di pesta ini kedua pengantin baru itu makan pada piring atau daun yang sama. Lantas menyanyi dan menari dengan rabana. Sementara itu, (Tok)  Batin menerima persembahan sebanyak 2000 batang rotan.

Bila seorang suami tak berkenan dengan istrinya, ia dapat mengembalikannya kepada orang tuanya, dan setelah berselang sebulan kemudian, para pihak dapat melakukan pernikan dengan orang lain. Poligami tak dikenal dalam komunitas Orang Muka Kuning. Anak-anak yang bersaudara tidak dapat saling menikahi.

Kelahiran dan Kematian

Seorang Bidan atau dukun beranak membantu ketika melahirkan, dan menerima upah 4000 batang rotan pada kesempatan pertama membantu kelahiran dalam sebuah keluarga; selanjutnya 3000 batang rotan pada kelahiran yang kedua;  2000 rotan pada kehilan yang ketiga; dan 1000 rotan untuk sebarang kelahiran selanjutnya. Satu-satunya obat yang diberikan Bidan untuk ibu si bayi adalah rebusan  kulit kayu pangar, dan rebusan akar untuk si bayi.

Orang yang wafat ditanam pada kuburan berhampiran pondok atau rumah mereka, 1 ½ kaki dalam kuburnya. Sebatang sumpitan diletakkan pada jenazah laki-laki, dan sebilah pisau pada jenazah perempuan. Sekitar sebulan setelah pemakaman, keluarga meninggalkan pondok mereka, dan membuat pondok lainnya di tempat yang jauh.

Anatomi Wajah

Satu-satunya wajah laki-laki dari kalangan Orang Muka Kuning yang dilihat Logan, bentuknya bulat seperti permen (Logan menulis bentuknya seperti lazenge: mungkin yang dimaksud adalah berbentuk bulat telur).

Panjang dan lekukan rahang bawahnya serta konsekwensi dari bentuk bagian bawah wajahnya, banyak mendekati bentuk wajah orang Biduanda Kallang, dan Orang Naneng. Namun dari sosok laki-laki itu dan semua individu lainnya dari kalangan Orang Muka Kuning yang telah  dilihatnya, maka ianya dapat dibedakan oleh bagian bawah muka yang maju mulai dari bagian hidung ke bawah, yang disebabkan oleh proyeksi rahang atas. Dalam hal ini, bentuk umumnya mirip dengan orang Binua dan Bermun.

Ciri-ciri yang membedakan Orang Muka Kuning dengan Orang Mintira, dalam hal ini bentuk wajahnya memanjang vertikal hingga ke bagian bawah wajah, adalah penanda yang mencolok. Jarak dari tulang zygomatic (tulang pipi, tulang malar) mengarah ke bagian atas dahi adalah 4 inchi, dan kearah dagu hanya 4 inchi, bila diukur pada satu garis lurus.

Bibirnya besar, namun agak sedikit tebal dibanding bibir orang Mintira. Alisnya tipis dan cenderung naik ke atas. Bola matanya lebar, lembut, namun kurang berkilau dibanding bola mata orang suku Binua dan Bermun. Daun telinganya cukup besar. Dahinya sangat sempit namun lebih tinggi dibanding dahi pada orang Biduanda Kallang. Rambutnya sangat lebat. Bahu dan dadanya kurang luas dibandingkan dada orang suku Biduanda Kallang.

Tinggalkan Balasan