Oleh : Abdul Hadi W.M.

Pembicaraan tentang  pantun selalu menarik  dan kita bisa dibawa kesana kemari sesuati dengan  bidang kajian apa kita mengaitkannya. Pertama-tama oleh karena pantun merupakan bentuk puisi yang unik di dunia dan sampai sekarang masih hidup.di dalam masyarakat pemakainya. Menurut Hollander (1897)  ada tiga bentuk puisi lama dalam sastra Melayu Nusantara yang popular. Salah satu di antaranya ialah pantun, sedang dua yang lain adalah seloka. Seloka berasal dari India dan telah lama tidak dicipta lagi oleh orang  Melayu. Ada pun syair lahir pada zaman Islam dan dipengaruhi olh persajakan Arab Persia. Meskipun syair  ditulis orang sampai sekarang, namun syair tidaklah begitu hidup dan berkembang lagi seperti pantun. Pantun lahir dan berkembang terutama dalam tradisi lisan. Pantun-pantun yang kita kenal sekarang kebanyakannya adalah rekaman  pantun-pantun yang hidup pada awal abadke-20 M. Syair berbeda. Ia lahir dari tradisi tulis dan berkembang terutama setelah pesatnya penyebaran agama Islam. Ini terlihat dari banyak hikayat-hikayat Islam yang ditulis dalam bentuk syair, serta syairsyair bertemakaan keagamaan dan tasawuf.

Sebagai bentuk puisi atau pengucapan puitik, pantun berkembang bukan hanya dalam sastra berbahasa Melayu. Tetapi juga dalam sastra berbahasa Nusantara lian seperti Jawa, Sunda, Aceh, Minangkabau, Bugis, Banjar, Madura, Mandailing,  dan lain-lain.  Menurut para sarjana seperti Hollander, pantun berkembang terutama setelah datangnya Islam. Di dalam hikayat-hikayat lama, jenis pantun yang banyak ditemui ialah pantun-pantun bertema percintaan dan sindiran. Dengan datangnya Islam yang mempengaruhi kehidupan bangsa Melayu, tema pantun menjadi lebih anekaragam lagi. Muncul pantun-pantun nasehat yang  berisikan pengajaran tentang etika, agama, kebudayaan dan lain-lain.

Sampiran dan Isi

Pantun pada umumnya terdiri dari empat atau dua baris. Tetapi . Dalam pantun empat baris dua baris pertama disebut sampran dan dua baris terakhir adalah isi. Pola bunyi akhir biasanya ABAB, dan ada juga yang pola bunyi akhirnya AAAA. Sedangkan jumlah suku kata pada setiap barisnya bervariasi antara 8 hingga 10 suku kata. Sampran berisi gambaran tentang alam dan kehidupan social serta kebudayaan orang Melayu. Sedangkan isi mengandung paparan tentang kearifan hidup bangsa Melayu. Berikut ini adalah contoh pantun-pantun yang bagus menurut hemat saya:

1
Terang bulan di laman tangga
Sarang penyengat dalam padi
Adakah orang semacam saya
Menaruh khianat dalam hati?

2
Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua

3
Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji dalam peti
Hutang emas dapat dibayar
Hutang budi dibawa ,ati

4
Sudah puas kutanam ubi
Nenas juga dipandang orang
Sudah puas kutanam budi
Emas juga dipandang orang

5
Sarung Bugis jadikan selimut
Dibawa orang dari Bintan
Sudah tertulis di Lauhul Mahfud
Di dunia kita berkawan

Pantun 1 adalah contoh terbaik dari pantun yang memenuhi syarat, walapun isinya tidak mendalam. Pantun 2 adalah pantun yang sangat popular. Sampiran dan isi sama-sama bagus dan serasi. Isi adalah kearifan yang diserap dari ajaran agama. Dalam pantun ini kita melihat adanya hubungan arti antara sampiran dan isi.  Lukisan tentang alam berfungsi secagai citraan yang membangkitan cita rasa estetis.  Jika kita renungkan secara mendalam gambaran keindahan alam itu punya kaitan arti atau makna dengan isi, yaitu orang yang berbudi yang telah ditanam dalam tanah. Dalam sampiran dikatakan bahwa di balik pulau Pandan berada di balik pulau Aangsa Dua. Kadang-kadang kita membacanya di balik pulau (ada) angsa dua (yang tidak kelihatan). Begitu pula dengan budi yang baik, sesudah berlalu tidak kelihatan namun selalu dikenang..

Dalam pantun ketiga, tertulis pada sampiran “Masak sebiji dalam peti” memberi gambaran sesuatu yang tersembunyi dari pandangan mata seperti halnya budi. Sedangkan baris, “Pisang emas dibawa berlayar” menunjukkan hal yang kelihatan seperti berhtang emas. Dalam pantun 4 digambarkan bahwa tentang kegemaran orang pada umumnya yaitu memandang pada kekayaan dunia. Demikianlah dalma sajak yang telah disebutkan itu, bahwa sekalipun syarat sebuah pantun ialah adanya persamaan bunyi antara sampiran dan isi, tidak menutup kemungkinan adanya hubungan arti antara sampiran dan isi.

Dua sajak yang dipadukan

Sesungguhnya apabila kita teliti secara mendalam, sebuah pantun adalah dua sajak yang dipadukan jadi satu. Sajak pertama adalah sampiran dan sajak kedua adalah isi. Dalam kenyataan pula ada pantun yang kelahirannya didahului sampiran dan kemudian baru isi dibentuk. Atau sebaliknya isi dulu dicipta kemudian sampiran dibentuk. Misalnya seperti dalam acara pantun bersambut. Waktu saya masih SD dan SMP saya lihat bagaimana orang menuturkan atau membuat antun. Isi disiapkan, baru kemudian sampiran dibuat. Marilah kita perhatikan pantun seperti berikut ini:

            Kemumu dalam semak

            Terbang Melayang selaranya

Dua baris dari sebuah pantun yang berfungsi sebagaisampiran ini telah cukup syaratnya untuk disebut sebuah puisi yang utuh. Bandingkan dengan haiku terjemahan mir Hamzah dalam Setanggi Timur ini:

            Dua bamboo muda usia

            Bulan tertawa di celah-celahnya

Bandingkan dengan sampiran pada pantun dua baris ini : “Tua-tua keladi”.  Ini contoh sampiran yang bias dikatakan sebagai sebuah sajak utuh.  Begitu pula denga nisi pada pantun “Kemumu dalam semak,  ta kurang merupakan sebuah sajak yang utuh:

            Meski ilmu setinggi tegak

            Tidak sembahyang apa gunanya

Beberapa kali dalam tulisan saya tentang sastra Melayu dan Indonesia,  saya ,menyinggung teori Abdul Qahir al-Jurjani, teoritikus sastra Arab Persia abad ke-12 M.  Braginsky (1991) pernah mengatakan bahwa teori sastranya cukupberpengaruh dalam sejarah sastra Melayu. Dalam bukunya Asrar al-Balaghah Jurjani mengatakan bahwa puisi adalah penuturanmenggunakan Bahasa kias (majaz) dalam intensitas yang tinggi. Bahasa kias secara umum dapat dibagi tiga : isti`ara) (metafora), tamsil (symbol), dan tasybih (citraan). Puisi yang baik adalah bangunan mental yang susunan citraan yang hidup dan penuh makna. Ia adalah makna yang menurunkan makna-makna. (Abdul Hadi W.M. (2004: 244-260)

Ucapan Jurjani itu benar. Marilah saya beri contoh salah satu puisi Melayu yang baik yaitu syair Hamzah Fansuri :

            Hamzah Fansuri dalam Mekkah

            Mencari Tuhan diBaitil Ka`bah

            Di Barus ke Quds terlalu payah

            Akhirnya jumpa dalam rumah

Bangunan syair Hamzah Fansuri ini terdiri dari rangkaian citraan yang hidup.  Untuk contoh lain saya nukilkan bait pertama sajak Chairil Anwar “Derai Cemara”:

            Cemara menderai sampai jauh

            Terasa hari akan jadi malam

            Di tingkap ada dahan merapuh

            Dipukul angina yang terpendam

Begitu pula dengan sajak-sajak Amir Hamzah. Kekuatan sajak Raja Penyair Pujangga Baru ialah adalah pemilihan citraannya. Misalnya dalam “Padamu Jua”:

            Kalaulah kandil kemerlap

            Pelita jendela di malam gelap

            Melambai pulang perlahan

            Sabar setia selalu

Kata ‘sabar’ yang bukan kata kerja berubah menjadi menjadi kata terja, sebur Bersama citraan kandil kemerlap, pelita jendela dan lambaian.

Tinggalkan Balasan