PENULIS ini bernama Haji Ibrahim, yang dilahirkan di Negeri Riau, Tanjungpinang. Ditambah dengan gelar yang melekat di belakang namanya, jadilah beliau bernama lengkap Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau dikenal orang. Beliau adalah penulis ternama abad ke-19 di Kesultanan Riau-Lingga, seangkatan dengan Raja Ali Haji, penulis terbilang yang menghasilkan karya-karya cemerlang.

Haji Ibrahim tercatat sebagai penulis pertama yang mengubah pantun dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis. Antologi pantunnya terhimpun dalam karya beliau Perhimpunan Pantun Melayu (1877), tergolong karya yang mendapat perhatian banyak peneliti dan penulis. Pada masa kini, pantun-pantun yang terhimpun itu tergolong pantun pusaka, pantun lama, dan atau pantun klasik, tetapi tetap menarik karena mengandungi pedoman etis dan didaktis. Di antara pantun karya beliau itu ternyata banyak mengetengahkan masalah kepemimpinan, yang diungkapkan secara estetis.

            Pemimpin wajib melaksanakan tugas kepemimpinannya berdasarkan ajaran agama. Bagi pemimpin Melayu, misalnya, sumber rujukan utama kepemimpinan seyogianya nilai-nilai agama Islam, di samping tentu syarat-syarat yang termaktub dalam ketentuan perundang-undangan di setiap negara mereka.

Memanjat galah kepada pohon
Kayu bersandar berapit dua
Kepada Allah tempat bermohon
Kalaukan kita sadarkan nyawa

Pantun-pantun di atas menegaskan pedoman utama kepemimpinan Melayu adalah ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pesuruh Allah. Dengan kata lain, nilai-nilai Islam harus menjadi rujukan utama kepemimpinan Melayu agar pemimpin beroleh rahmat dan hidayah.

            Kepemimpinan yang ideal juga ditunjukkan dengan keteguhan iman. Hanya pemimpin yang beriman teguhlah yang mampu melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya dengan baik dan berkesan. Dengan iman yang teguh seseorang pemimpin tak mudah terombang-ambing dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kepemimpinan.

Kapal anjiman dari Cina
Singgah bermuat papan jati
Amal dan iman biar sempurna
Tidaklah jadi sesal di hati

Iman yang teguh merupakan jaminan keberhasilan kepemimpinan. Pemimpin yang beriman teguh akan senantiasa berjaya mengatasi semua jenis cabaran. Dengan demikian, dia akan terhindar dari perkara-perkara yang memalukan. Pada gilirannya, sampai mati pun dia akan meninggalkan nama yang baik dan menjadi pemimpin tauladan zaman-berzaman. 

Seterusnya, pemimpin yang baik ditandai oleh ketaatannya beribadah. Dengan beribadah,  segala dosa kemungkinan besar diampuni oleh Allah. Tak sesiapa pun tak berbuat salah dan atau dosa di dunia yang memang banyak karenah. Namun, orang yang taat beribadah akan mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah sehingga akan terhindar dari perbuatan dosa dan tak berfaedah.

Baik berburu ke seberang
Rusa banyak di dalam rimba
Baik berguru kita sembahyang
Dosa banyak di dalam dunia

Setiap pemimpin harus memiliki ilmu yang memadai. Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang pemimpin boleh menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik, berkesan, dan teliti. Selain itu, pemimpin yang berilmu akan dipercayai oleh orang-orang yang dipimpinnya, tanpa harus dicurigai. Pasalnya, dia diyakini memang layak dan mampu memimpin sesuai dengan kualitas ilmu yang dimiliki. 

Sarang penyengat di atas kota
Kait-kait di batang temu
Hendaklah ingat semuanya kita
Baik bertandang kepada ilmu

Dengan pantunnya, Haji Ibrahim menegaskan bahwa tanpa ilmu perbuatan pemimpin hanyalah mengada-ada. Hal itu bermakna kepemimpinan hanyalah berdasarkan naluri yang tak tentu arahnya. Bahkan, dia dapat diombang-ambingkan oleh orang lain untuk kepentingan dan keuntungan mereka. Sebagai akibatnya, rakyat akan menderita. Oleh sebab itu, adalah wajib seseorang pemimpin memiliki ilmu yang memadai, sama ada bersumber dari akal (ilmu dunia) ataupun ilmu yang bersumber dari Alquran (ilmu agama) sehingga implementasi kepemimpinan tak terkesan mengada-ada.

Belah buluh ditaruhkan temu
Batang cempedak batang pedada
Olehnya tidak menaruh ilmu
Duduklah hendak mengada-ngada

Menjaga nama supaya tetap baik, tanpa cela, adalah wajib bagi setiap pemimpin. Pemimpin yang namanya tercemar akan mengecewakan orang-orang yang dipimpin. Sebaliknya pula, pemimpin yang namanya harum akan menjadi tauladan sepanjang masa sehingga hati rakyat akan sukar berpindah kepada yang lain.

Dibantu oleh Maharaja Dewa
Dipa Negara Jawa yang sakti
Nama pun tidak boleh kecewa
Masyhurlah nama sampai ke mati

Pemimpin yang mampu menjaga namanya agar tetap terbilang menyebabkan kepemimpinannya bernilai sempurna. Dia tak hanya menjadi tauladan semasa hidupnya, tetapi setelah wafat pun nama baiknya akan dikenang orang sepanjang masa. Nama baik memang menjadi salah satu taruhan utama kepemimpinan yang berniat suci memajukan bangsa dan negara. Akan tetapi, pemimpin yang berpaling tadah dari nilai-nilai agung kepemimpinan akan dimusuhi oleh rakyat, baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi karena mereka tak berani bersuara. 

Tanjungpinang tempatnya elok
Tempat Belanda dengannya Keling
Di manakan senang di hati makhluk
Mulut berkata hati berpaling

Nilai-nilai mulia kepimpinan juga mensyaratkan seseorang pemimpin harus mampu berlaku adil. Adil kepada diri sendiri, adil kepada keluarga, dan lebih-lebih adil kepada rakyat kecil. Pemimpin yang adil akan disukai dan diikuti orang kepemimpinannya sehingga tiada yang berupaya berlaku jahil. Sebaliknya pula, pemimpin yang zalim akan dimusuhi oleh orang banyak karena perkataan dan perbuatannya cenderung membuat jengkel.

Tempat Belanda dengannya Keling
Cina Melayu ada di situ
Mulut berkata hati berpaling
Di manakan boleh mendapat tentu

Ketakadilan di dalam kepemimpinan akan mengundang malapetaka. Tak ada orang yang berakal sehat akan mengikuti pemimpin yang tak mampu berlaku adil dalam kepemimpinannya. Jadi, sanggup berlaku adil menjadi syarat mustahak kepemimpinan berkualitas yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. 

Pemimpin yang baik berjiwa bersih. Dia tak rela kepemimpinannya dinodai oleh sifat-sifat yang tak terpuji seperti dengki, khianat, hasad, dan sebagainya sehingga rakyatnya menjadi letih. Hanya dengan jiwa yang bersihlah, matlamat kepemimpinan boleh tercapai secara gemilang sehingga rakyatnya menjunjung kasih. Jika tidak, bersiap-siap sajalah bahwa akan tiba ketikanya rakyat melakukan gerakan sapu bersih. Ketika saat itu tiba, jiwa melara hati pun merintih.  

Lada dipetuk burung kedidi
Anak pelanduk di dalam perigi

Tanda kerjanya tidak menjadi
Duduk dengan berhati dengki

Kepemimpinan berkualitas hebat mengidealkan seseorang pemimpin berjiwa bersih. Kebersihan jiwa itu merupakan roh yang mampu mengantarkan pemimpin menuju kejayaan kepemimpinan dalam bimbingan Tuhan Yang Maha Pengasih. Tak ada keraguan orang dan atau rakyat terhadap pemimpin berjiwa bersih, yang mengandalkan kepemimpinannya berdasarkan cinta-kasih.

Kepemimpinan yang baik juga ditandai dengan keikhlasan mengabdi bagi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang ikhlas akan mendarmabaktikan seluruh kemampuannya untuk kemajuan negeri dan rakyat yang dipimpinnya. Begitu dia bersedia menerima tanggung jawab kepemimpinannya, pemimpin yang baik akan melakukan apa pun kewajiban kepemimpinannya itu dengan ikhlas, tanpa niat tercela yang terselubung di sebalik itu permainan kata-kata.

Galang rakit batang buluh
Kunang-kunang di dalam padi
Hilang penyakit di dalam tubuh
Baharulah senang di dalam hati

Ikhlas berbakti merupakan ciri pemimpin yang terbilang. Kepemimpinan yang berlandaskan keikhlasan akan menuai hasil yang sesuai dengan harapan semua orang. Keikhlasan akan menyinari kepemimpinan sehingga pemimpin akan dihormati sepanjang masa karena dia memang patut dikenang.

Agar tak terbelok ke jalan yang salah, pemimpin dituntut untuk teliti. Kurang selidik dalam kepemimpinan sangat berbahaya, bahkan dapat menjatuhkan pemimpin ke jurang kehancuran yang tiada bertepi. Oleh sebab itu, pemimpin harus memiliki ilmu yang cukup sehingga dia dapat meniliti segala sesuatu sesuai dengan kadar ilmunya untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diingini.

Baik-baik belayar malam
Arus deras karangnya tajam
Cari-cari malim yang paham
Di situ banyak kapal tenggelam

Kerja kepemimpinan bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak persoalan yang akan dihadapi oleh pemimpin seperti yang terbukti dalam sejarah. Akan tetapi, kesemuanya itu dapat dilaksanakan dengan sempurna dan berkesan jika pemimpin sanggup bertindak teliti dalam bekerja dan tak berniat untuk berpaling tadah. Ketelitian menjadi syarat kepemimpinan agar matlamatnya tercapai dan memberi faedah, bukan padah.

Pantun penuntun dari Haji Ibrahim jelas bersumberkan ajaran agama Islam. Memang, Islam telah menjadi roh yang menjulangkan tamadun kita berbilang abad, terutama pada masa silam. Persebatian nilai-nilai kenusantaraan dan keislaman tak dapat dipisahkan sehingga harus menjelma dalam kepemimpinan yang anggun dan membawa tenteram. Hanya dengan melaksanakan nilai-nilai yang berbancuh serasi itu secara konsisten dan konsekuenlah pemimpin akan menuai kejayaan kepemimpinan di seluruh alam. Alhasil, kepemimpinan dan tamadun kita tetap bermartabat sehingga terhindar dari tipu-daya dunia yang kian canggih dan makin beragam. Wallahu a’lam.*** 




Tinggalkan Balasan