Cara Adil Mengalirkan Air ke Istana dan Warga

Jejak sistem irigasi bekas Kesultanan Lingga masih terus digali. Beberapa waktu lalu, Kasi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan BPCB Sumatera Barat, Agoes Tri Mulyono bersama dinas terkait melakukan penyusuran jaringan Parit Kuno yang diduga sebagai peninggalan dari abad ke-17 di Daik, Lingga.

Oleh Dinas Kebudayaan, parit purba ini juga telah didaftarkan sebagai salah satu Struktur Cagar Budaya sebagai kekayaan intelektual dan sistem teknologi tradisional yang telah diterapkan sejak zaman kesultanan. Pengusulan ini agar keberadaan Parit Kuno terselamatkan di tengah pembangunan. Terlebih, akan ada wacana Kota Pusaka di kawasan perkampungan Damnah.

Menelusuri jejak Parit Kuno, boleh dikatakan, sangat sedikit referensi mengenai titimangsa awal mula pembangunannya. Pada musim kemarau tahun 2015 di Lingga, saya pernah mendapatkan informasi dari (alm.) Ismail Ahmad. Tokoh masyarakat Daik yang sudah berpulang ini sempat menceritakan perihal keberadaan Lubuk Bendung dari aliran Sungai Tande. Sebagai salah seorang mantan lurah, Ismail cukup mengenal seluk-beluk kelurahan Daik dan juga mengetahui informasi-informasi dari tetua di Lingga.

Lubuk Bendung, kata Ismail, adalah aliran Sungai Tande yang memanfaatkan tebing di bibir sungai untuk dibendung dan airnya kemudian dialirkan melalui parit. Lokasinya persis di belakang Istana Damnah sebelah selatan, Istana Sultan Sulaiman. Dari aliran parit inilah, Sultan mengaliri Sawah (lokasinya Kampong Sawah dan Sawah Indah saat ini), juga untuk mengairi kolam wudu di Masjid Jami’ Sultan Lingga.

Bagi Ismail, ini jelas bukan sembarang teknologi irigasi. Teknologi ini, kata dia, sangat hebat dan jika dibandingkan dengan pengelolaan air dan sungai saat sekarang ini, sangatlah jauh ketinggalan. Terlebih seringnya terjadi kekeringan di tempat pengelolaan air untuk masyarakat yang hanya mengelola distribusi air di kelurahan Daik.

Sementara itu pada pertengahan 2019 lalu, BPCB Sumatra Barat bersama pemerintah setempat mulai memberi perhatian lebih kepada Parit Kuno ini. Dari hasil studi lapangan sementara, panjang aliran parit diperkirakan lebih dari 1 kilometer. Lebarnya hampir 2 meter dengan kedalaman yang semakin mendangkal dan hanya tersisia 1,5 meter. Kondisinya sudah tertutup semak belukar namun masih dapat ditelusuri.

Dari Sungai Tande, aliran parit menuju sebelah utara persis melewati belakang Istana Damnah. Di sini aliran parit juga dialirkan untuk kebutuhan istana. Masih terdapat kolam dan tempat mandi sultan dengan sistem tuas yang didinding menggunakan bata merah dengan lebar lebih kurang 2 x 3 meter.

Selain itu, juga terdapat kanal di sebelah utara bekas bangunan Istana Damnah. Dari belakang istana, Parit Kuno melewati struktur Bilik 44, galeri Sultan Muhammad, kemudian parit menuju ke arah timur (sebagian telah ditutupi pembangunan jalan) menuju Istana Kota Batu/Baru, istana Sultan Mahmud IV.

Di sini parit berada di sebelah selatan Istana dan dalam kondisi masih utuh. Aliran parit kemudian menuju bekas Istana Robat (menurut informasi adalah lapangan Kantor Bupati Lingga saat ini). Jaringan Parit di sini dibagi kedua arah. Satu ke utara menuju kolam Sultan dan tempat pabrik sagu Sultan dan berakhir ke Sungai Daik. Sedangkan cabang yang kedua menuju ke timur, melewati Kampung Sawah Indah menuju bekas Sawah Sultan Sulaiman yang digagas dan gagal karena padi tidak cocok di tanah Lingga. Parit Kuno kemudian menuju Masjid Jami’ Sultan Lingga.

Sejauh ini, belum dapat dipastikan kapan berlangsungnya pembangunan Parit Kuno tersebut. Hanya saja selama lebih kurang 114 tahun, Daik pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Melayu. Sehingga bukan sebuah hal yang mustahil jikalau pembangunan irigasi menjadi salah satu teknologi yang diterapkan oleh Kesultanan Lingga.

Jika ditarik dari awal dipindahkannya pusat Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Daik pada 1787, Sultan Mahmud Riayat Syah dikatakan menata bandar yang baru dengan membangun masjid, pasar, benteng dan Kota Parit.

Kota Parit di sini, menurut sejumlah sumber, merupakan salah satu istana sultan yang berada dekat lokasi Istana Kenanga, wilayah lapangan Hang Tuah di sebelah Barat. Namun di sisi lain, kata Parit juga merujuk kepada benteng pertahanan Kesultanan Lingga. Selain itu, geografis Daik merujuk kepada sebuah lokasi pusat kota yang diapit oleh dua aliran sungai yakni Sungai Daik dan Sungai Tande, yang sampai saat ini masih sering dilanda banjir.

Dalam istilah lokal, orang Daik menyebutnya Kojoh. Dugaan yang muncul, dibuatnya sejumlah parit-parit di Kota Daik juga sebagai penangkal saat curah hujan tinggi begitu juga saat air laut mengalami pasang besar agar kota tidak terendam banjir.

Pantauan di lapangan, terdapat juga paritparit minor lain yang membelah-belah kota Daik. Dari informasi yang didapat, parit-parit minor ini digunakan oleh masyarakat untuk perkebunan. Seperti parit didekat SDN 004 Lingga di Kampung Putus yang menurut cerita kemudian menjadi asal nama kampung tersebut sebab dipisahkan oleh dua parit besar. Satu parit lagi berada tak jauh dari tower provider, dekat Kantor Pos Lingga menuju Sungai Daik. Sebelah selatan aliran Sungai Tande juga terdapat sejumlah parit di Kampung Tanda Hulu. Paritparit ini diduga erat hubungannya dengan keberadaan Parit Kuno Kesultanan Lingga tersebut.

“Kalau menurut saya itu salah satu teknologi irigasi, seperti Trowulan, Majapahit. Ini beda periodisasi. Kalau di Majapahit pada abad ke-13, ini abad ke-17,” papar Pak Tri dari BPCB Sumatera Barat.

“Artinya, teknologi pengairan yang dibuat oleh Sultan sudah bisa digunakan oleh kerajaan saat itu untuk pengairan, juga digunakan oleh masyarakat untuk pertanian dan sebagainya. Jadi Parit Kuno ini adalah sistem teknologi saat itu,” jelas Pak Tri ketika kunjungannya ke Daik Lingga beberapa waktu lalu.

Keberadaan Parit Kuno ini, dalam amatan Pak Tri, boleh menjadi salah satu destinasi sejarah yang cukup kuat untuk memperkenalkan Lingga di sisi teknologi. Pada abad ke-17, Lingga sudah mampu mengelola sumber daya yang ada untuk kebutuhan perekonomian di Kesultanan Melayu yang dipindahkan ibu kotanya dari Hulu Riau tersebut.

“Harapan saya, Parit Kuno itu dimunculkan karena merupakan teknologi masa itu dalam rangka drainase untuk pengairan yang ada di Lingga ini. Abad ke-17, lho. Parit itu tidak bisa dipisahkan dari kerajaan itu sendiri. Pemanfaatannya boleh digunakan sebagai tempat pemandian di hulunya, di hilirnya boleh dibikin tracking, kanan-kiri dibersihkan. Agar orang dapat menjelajah Parit Kuno,” beber Pak Tri.

Selain itu, Pak Tri juga mengatakan telah menyampaikan rekomendasi agar nanti penataan Kota Pusaka oleh PUPR yang dimaksud menggunakan lahan seluas 160 hektare di kawasan Istana Damnah tersebut tidak menghilangkan atau merusak struktur Parit Kuno Kesultanan Lingga.***

Tinggalkan Balasan