BULAT sudah tekad Siti Rafiah untuk menuntut bela sekaligus mengembalikan kemerdekaan negerinya, Kerajaan Barbari, dari belenggu penjajahan Kerajaan Hindustan. Akan tetapi, tak mudah bagi istri Sultan Barbari itu untuk menunaikan niat sucinya, mentelah lagi kini dia dalam pelarian. Perempuan jelita yang berpenampilan laki-laki itu harus mengembara dari satu ke lain negeri untuk membangun koalisi dan menghimpun kekuatan.

            Setelah sekian lama mengembara dan mengubah tampilan diri dengan menggunakan nama Duri dan berprofesi sebagai hulubalang, sampailah dia ke Negeri Barham. Malangnya, negeri yang dikunjunginya itu sedang dirundung nestapa. Penguasa sahnya, Sultan Jamaluddin, baru saja digulingkan oleh pamannya sendiri (adik almarhumah ibunya), Bahsan, yang dimabuk kuasa.

Kekurangan pengalaman keponakannya, yang baru ditinggal mangkat oleh ayahandanya, dimanfaatkan oleh Bahsan untuk menghasut dan menekan rakyat dan tentara sehingga sebagian besar dari mereka berpihak kepadanya. Kebetulan, kala itu sebagian rakyat dan prajurit memang sedang terjangkiti penyakit menular “gila harta”. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Bahsan dengan menyediakan obat mujarabnya, yang diberikan dalam amplop bermerek “Duita”. Gayung bersambut, syahwat kekuasaan paman Sultan Jamaluddin itu pun terpuaskan. Tanpa belas kasih sedikit pun, disingkirkannya keponakannya dari singgasana kekuasaan, termasuk diancamnya rakyat dan tentara yang masih setia kepada penguasa sah itu dengan pelbagai cara.

Tak memerlukan waktu lama bagi hulubalang Duri (Siti Rafiah) untuk mengetahui selok-belok pertikaian kelas atas Kerajaan Barham. Dia pun menaruh simpati kepada Sultan Jamaluddin karena raja yang berusia muda itulah seharusnya pemimpin yang sah. Dengan bantuan menteri berida (senior), akhirnya dia dapat menghadap Sultan Jamaluddin seraya menyatakan sokongannya kepada pemimpin Negeri Barham yang tersandera itu.

Disingkatkan kisahnya, setelah bertanya langsung kepada Sultan Jamaluddin alasannya tak mau melawan Bahsan diperolehlah jawaban yang pasti. Jamaluddin menganggap semua yang menimpa diri dan keluarganya itu memang telah ditakdirkan oleh Allah. Oleh sebab itu, dia harus tabah dan sabar menghadapinya. Selanjutnya, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.002—1.003, meneruskan kisahnya.

Duri berdatang sembah suatu
Sebenarnya titah Tuanku itu
Tetapi ikhtiar boleh di situ
Adat laki-laki tiadalah begitu

Manusia nin sekurang-kurang akalnya
Mengambil muslihat akan dirinya
Jikalau tiada begitu adanya
Jadilah sia-sia juga hidupnya

Syair Abdul Muluk ~Raja Ali Haji

Duri bersetuju akan keyakinan Sultan Jamaluddin. Dalam hal ini, tabah dan sabar dalam menghadapi masalah memang mustahak, lebih-lebih bagi pemimpin. Pemimpin tak boleh gopoh atau terburu-buru dalam bertindak. Akan tetapi, setiap masalah harus diselesaikan atau dipecahkan dengan berusaha, tak boleh dengan berdiam diri saja, apatah lagi dalam konteks Jamaluddin. Dialah pihak yang benar, pemimpin sah Negeri Barham.

Menurut hulubalang Duri, “Adat laki-laki tak boleh begitu.” Dalam hal ini, ketika malapetaka datang menerpa, pemimpin harus bertindak atau sekuat dapat berikhtiar, jangan berdiam diri saja. Bukankah Bahsan merebut kuasa yang bukan haknya, yang tak dibenarkan oleh bangsa-bangsa beradab di mana sahaja di seluruh dunia? Bahkan, Tuhan pun mungkin akan murka kalau perbuatan onar seperti itu dibiarkan tanpa perlawanan yang semestinya.

Dengan keyakinan itu, Duri berjanji akan menolong Sultan Jamaluddin. Pasalnya, di samping bertawakal kepada Allah, manusia sekuatdapatnya mesti menggunakan akal anugerah-Nya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak boleh semata-mata berserah diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa seraya duduk bermuram durja.  

Sultan Jamaluddin yang muda usia berasa tercerahkan oleh nasihat dari hulubalang yang perkasa itu. Karena Duri memang ikhlas seikhlas-ikhlasnya hendak membantunya, diserahkannya hulubalang dan prajurit yang masih setia kepadanya di bawah pimpinan Duri, hulubalang tangguh dari Negeri Barbari. Tak banyak memang sisa tentara yang masih setia kepada pemimpin sah itu, tetapi mereka adalah para prajurit pemberani yang sangat setia kepada negara sehingga tak mempan dibujuk, digertak, disogok, apatah lagi ditipu oleh Bahsan dan kroni-kroninya. Bagi mereka, keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya. Dalam taksiran Duri, tanpa strategi yang jitu, dengan jumlah tentara dan persenjataan yang serbakurang, mereka akan kalah menghadapi Bahsan dan pasukannya hanya dalam satu malam peperangan. Akan tetapi, kesemuanya itu bukanlah menjadi alangan bagi mereka untuk berjuang.

Atas pertimbangan itu dan berdasarkan kepercayaan Sultan Jamaluddin, Duri akan menyamar menjadi tukang kecapi yang miskin. Eh, mengapa pulakah dia harus menjadi pemain musik? Rupanya, itulah strateginya. Pasalnya, Bahsan sangat gemar menyaksikan pertunjukan dan mendengarkan musik kecapi.

Ternyata benarlah adanya. Setelah mengetahui dari menterinya ada pemain kecapi hebat datang ke negerinya, Bahsan memanggil pemain musik miskin itu ke istananya. Jadilah Duri bermain kecapi setiap malam di istana Bahsan sehingga dia dapat lebih mengenal watak penjahat itu dan tentu lengkap dengan kelemahannya juga. Ringkasnya, bermodalkan kemahiran bermain kecapilah, Duri dapat mengalahkan Bahsan—tentu dengan menggunakan senjata, bukan kecapi—dan mengembalikan Sultan Jamaluddin ke singgasana kekuasaannya. Dalam hal ini, Duri menggunakan kecerdikannya untuk mengalahkan dan menewaskan si angkara murka.

            Raja Ali Haji rahimahullah menegaskan bahwa kecerdikan merupakan karakter yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin. Dalam Tsamarat al-Muhimmah perkara itu diungkapkan beliau sebagai berikut.

“Bermula adalah pekerjaan menurunkan qadi ditanggalkan dari jabatannya itu, yaitu dengan sebab hilang daripadanya ahlil qada, seperti gila dan pitam dan lalai dan tuli dan pelupa yang menghilangkan khabit dan cerdik (huruf miring oleh HAM) dan fikir,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan di atas memang menyuratkan qadi. Akan tetapi, siratannya boleh meliputi semua pemimpin. Dengan demikian, syarat pemimpin, antara lain, haruslah cerdik. Jika seseorang tak memiliki kecerdikan, dia tak layak menjadi pemimpin. Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan karakter itu? Pemimpin yang cerdik bermakna dia cepat memahami keadaan atau masalah dan pada gilirannya mahir pula mencari pemecahannya. Dia tak pernah “mati akal” ketika menghadapi masalah kepemimpinan, apatah lagi sampai menyalahkan, bahkan memusuhi orang lain dan sering rakyat pula yang dibabitkan.

Jika pemimpin tak cerdik, dia akan mengundang masalah. Jangankan menyelesaikan persoalan, malah dialah yang menjadi punca masalah. Akibatnya, negeri merana bagai tak sudah dan rakyat yang seharusnya berbahagia, justeru hari demi hari didera gundah. Pemimpinnya, malah, dimanfaatkan orang-orang yang bermaksud jahat dan berperangai berdebah.

Dalam keadaan seperti itu, pemimpin yang “mati akal” karena ketakcerdikannya mulailah berbuat pelbagai karenah. Jika ada rakyat yang berani mengeritiknya, dia pun mengancam dengan hukuman yang konon berasal dari negeri suci antah-berantah. Itulah yang dilakukan oleh Bahsan kepada rakyat dan tentara Kerajaan Barham untuk membungkam dan menipu mereka sampai tak seorang pun sanggup membantah.

Padahal, bukankah pemimpin sesungguhnya pengemban amanat penderitaan rakyat? Gagasan itu tak berarti rakyat harus dibuat menderita dan atau dijadikan musuh dengan pelbagai taktik yang menjerat. Sebaliknya, pemimpin harus berjuang, tentu bersama dan dengan sokongan penuh seluruh rakyat, untuk melenyapkan segala bentuk penindasan terhadap bangsanya, mewujudkan kemakmuran negeri, dan membahagiakan rakyat. Dia seyogianya tak rela menyaksikan rakyat melarat, apatah lagi kalau penyebab kemelaratan itu adalah praktik kepemimpinan yang dia buat.

Dalam tradisi kepemimpinan Melayu sangat dikenal ucapan sakral kepemimpinan berupa Sumpah-Setia Melayu yang dilakukan oleh Sang Sapurba atau Seri Tri Buana dan Datuk Demang Lebar Daun di Bukit Siguntang Mahameru. Begini sebagian persetiaan itu diucapkan dengan takzimnya.

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik [baca: rakyat, HAM] sedia (men-)jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki [baca: diperlakukan dengan baik, adil, HAM] oleh anak-cucu duli Tuanku [baca: penguasa, HAH]. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar (apa) dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista, dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya (sehingga harus) dibunuh [baca: dikenakan sanksi hukuman mati, HAM], (silalah dihukum sesuai dengan kesalahannya), itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Sumpah-Setia itu ditutup dengan ungkapan yang sangat menggerunkan sesiapa pun yang terbiasa dengan kehidupan yang berperadaban tinggi kalau sampai berani melanggarnya. “Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.” Oleh sebab itu, orang Melayu sangat percaya bahwa sesiapa pun pemimpin yang melanggar persetiaan itu akan tertimpa tulah berupa padah yang amat pedih, apa pun bentuknya. Itulah tandanya bahwa “bumbungan rumahnya telah dijungkirkan ke bawah dan kaki tiangnya telah dibalikan ke atas.” Kearifan lama itu, terutama dahulu, selalu diingatkan kepada para calon pemimpin dan atau pemimpin akan bahayanya kalau Sumpah-Setia itu dilanggar.

Lalu, bagaimanakah kiat memelihara kecerdikan? Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 10, memberikan petuah berkenaan dengan perkara itu.

Jika ilmu tidak diindah
Sebab anakanda buat permudah
Rakyat datang membawa gundah
Anakanda tercengang duduk tengadah

Tsamarat al-Muhimmah ~Raja Ali Haji

Sumber kecerdikan itu tiada lain adalah ilmu. Oleh sebab itu, setiap pemimpin mestilah berilmu, menyukai ilmu yang benar dan bermanfaat, dan suka bermusyawarah dengan orang-orang yang berilmu lagi jujur. Jangan sebaliknya, memusuhi dan atau menganggap orang berilmu sebagai saingan. Setelah berdiskusi dengan Duri yang cerdik-cendekialah, Sultan Jamaluddin menjadi terbuka pikiran dan hatinya sehingga tak salah dalam menginterpretasikan takdir Allah. Pasalnya, Duri yang kaya ilmu itu memahami dan meyakini benar pedoman dari Allah kepada makhluk-Nya.

“Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan, apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka, selain Dia,” (Q.S. Ra’d, 11).

Atas dasar itulah,  Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 (Haji, 1847), mengingatkan pemimpin untuk senantiasa bersinergi dengan orang berilmu dan berperilaku mulia.

Kasihkan orang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 ~Raja Ali Haji

Manusia yang beroleh rahmat ditandai sifatnya yang lemah-lembut, senantiasa berupaya berbuat baik, dan penyayang kepada sesama. Rakyat manakah yang tak berbangga memiliki pemimpin yang berkualitas unggul seperti itu adanya? Pasalnya, dengan sifat mulianya itu, sesiapa pun pemimpinnya pasti tak rela negerinya terdera dan rakyatnya menderita. 

            Hulubalang Duri dengan keelokan perilaku dan ketinggian ilmunya telah membuka jalan kearifan kepada Sultan Jamaluddin, pemimpin sah, tetapi kekuasaannya tersandera. Masalah kepemimpinan tak boleh didiamkan begitu saja, oleh sesiapa saja, tetapi harus diselesaikan secara cerdik-cendekia. Itulah karakter pemimpin yang namanya tak akan pernah tercela. Bahkan, oleh rakyat dia akan senantiasa dibela. Di atas itu akan ada pertolongan dari Allah Ta’ala.

Hulubalang Duri itu sesungguhnya perempuan, yang menyamar menjadi laki-laki karena alasan tertentu. Dengan gagah dan arifnya dia menasihati pemimpin laki-laki, Sultan Jamaluddin, “Adat laki-laki tiadalah begitu,” karena dia prihatin akan kepemimpinan yang tiada bermutu. Itulah sebabnya, ditunjukkannya kiat cantik lagi cerdik mengalahkan penjahat Bahsan yang, oleh sebagian besar rakyat Negeri Barham selama ini, dianggap jauh lebih perkasa daripada hantu. Dengan kecerdasan, kecerdikan, dan keindahan petikan kecapinya, ternyata hantu besar yang menggerunkan itu malah mati kutu.***

Tinggalkan Balasan