TERSEBUTLAH anak-anak raja berempat beradik. Raja Bayang, Raja Hijau, Raja Mastika, dan Raja Lais masing-masing nama mereka yang berempat itu. Suatu hari mereka berkunjung ke negeri tetangganya, Kerajaan Inderagiri.

            Sesampainya di Negeri Inderagiri, orang berempat beradik itu pun menghadap Sultan Inderagiri kala itu, Sultan Hasan nama Baginda. Dalam kunjungan ke istana Inderagiri, anak-anak raja berempat itu secara tak sengaja melihat putri Sultan Inderagiri, Raja Halimah namanya. Konon, Putri Inderagiri itu jelita bangat sehingga salah seorang dari anak-anak raja yang berempat itu, Raja Bayang, langsung terpikat, bahkan tergila-gila, kepada Tuan Putri yang kulitnya kuning langsat. Sebagai laki-laki sejati, putra raja pula, Raja Bayang langsung melamar Raja Halimah untuk dijadikan istrinya, entah keberapa. Setelah berbasa-basi kepada Baginda Sultan, Raja Bayang pun menyampaikan hasratnya yang tak dapat lagi dipendamnya walaupun hanya untuk beberapa ketika.

            “Ampun Tuanku Duli Syah Alam, sembah patik harap diampun. Jika ada perkenan Tuanku, maksud utama kedatangan patik ke Negeri Inderagiri ini adalah untuk melamar putri Tuanku untuk patik jadikan istri patik. Ampun, Tuanku!” sembah Raja Bayang dengan takzimnya.

            Begitu mendengar lamaran langsung Raja Bayang, Sultan Hasan agak terkejut juga. Hatinya langsung berbisik bahwa ada sesuatu yang agak ganjil, tak biasa. Pasalnya, baru saja anak raja itu melihat putrinya sudah berasa jatuh cinta, bahkan langsung meminangnya. Ada apakah gerangan di sebalik siasat pinangannya yang tergesa-gesa?

            “Anakanda Raja Bayang,” titah Sultan Hasan dengan suara berat dan berwibawa, “bersabit dengan pinangan anakanda itu, beta meminta waktu agak seketika. Hendak beta bicarakan perkara ini kepada Tuanku Permaisuri (istri Sultan, HAM) dan anakanda Raja Halimah karena dia yang akan menjalani hidup berumah tangga.” Sultan Hasan memandang lekat ke mata Raja Bayang dengan sorot mata yang tajam.

            “Kalau demikian titah Tuanku, patik adik-beradik menanti dengan penuh harap hasil musyawarah Tuanku bersama Tuanku Permaisuri dan adinda Halimah,” jawab Raja Bayang seraya mengelak dari tatapan tajam Sultan Hasan.

            Sultan Hasan pun beredar dari balairung seri untuk berunding dengan Tuanku Permaisuri dan menanyakan kesediaan anakanda mereka. Setelah ditanyakan langsung kepada Tuan Putri, diperolehlah jawabannya yang pasti. Mendengarkan jawaban Putri Halimah, Sultan Inderagiri yang sangat berwibawa itu pun kembali ke balairung seri dan duduk kembali ke singgasana Baginda. Sekejap kemudian, Baginda pun bertitah.

            “Anakanda Raja Bayang adik-beradik. Beta anak-beranak sangat berbahagia karena anakanda Raja Bayang hendak mempersunting putri beta. Inilah jawaban beta sekeluarga setelah beta dan Tengku Permaisuri bertanya langsung kepada anakanda Halimah,” jawab Sultan Hasan dengan suara berat, tetapi tegas.

            Kisah selanjutnya diperikan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya penulis berdua beranak itu, Tuhfat al-Nafis. Berikut ini nukilannya.   

“Syahadan apabila Raja Haji Pangeran Suta Wijaya mendengar Indera Giri sudah rosak dan Retih sudah diperintah oleh Raja Bayang, maka ia pun sangatlah marahnya. Maka lalulah ia pergi melanggar Retih. Maka berperanglah Engku Kelana itu dengan Raja Bayang. Maka tewaslah [kalah, HAM] Raja Bayang itu, lalu ia berundur ke Indera Giri. Maka diperikut oleh Engku Kelana ke Indera Giri, maka lalu berperang pula. Maka bantu dari Jambi datang pula, maka jadi besarlah perang itu, beramuk-amukan dan berbunuh-bunuhan sebelah menyebelah. Maka tiada berapa lamanya larilah raja yang berempat tiada berketahuan membawa dirinya. Maka Indera Giri pun dapatlah oleh Engku Kelana. Kemudian pergilah Engku Kelana ke Gaong mengambil Sultan Indera Giri itu lalu dibawanya balik diserahkannya Indera Giri itu kepada Sultan Indera Giri semula dan termasuk Batin Enam Suku diambil oleh Kelana Pangeran Suta Wijaya, kerana Raja Bayang mengambil Indera Giri itu selalu diambilnya Tapukan itu sekali,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 154-155).

Mengapakah Raja Haji, yang kala itu menjabat Kelana (Wakil sekaligus calon Yang Dipertuan Muda) Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang sampai berperang dengan pasukan Raja Bayang? Inilah puncanya. Rupanya, pinangan Raja Bayang ditolak oleh Sultan Hasan. Alasan penolakan itu, yang empunya diri, Putri Halimah Inderagiri belum mau menikah kala itu karena dia berasa usianya belum cukup untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Mungkin itu alasan penolakan pinangan secara halus karena Putri Inderagiri yang jelita itu sesungguhnya tak sudi bersuamikan Raja Bayang. Akibatnya, Raja Bayang seperti orang mabuk kepayang dan angannya pun jadi melayang-layang. Dia bagai orang yang tak mengukur badan dengan bayang-bayang.

Karena tak menerima lamarannya ditolak, tak berapa lama kemudian, Raja Bayang adik-beradik bersama pasukan besarnya menyerang Kesultanan Inderagiri. Dalam peperangan itu Inderagiri dapat mereka rebut. Untunglah, Sultan Inderagiri dan keluarga Baginda dapat melarikan diri ke Gaong (masih bagian Kesultanan Inderagiri, sekarang Kecamatan Gaung Anak Serka, Kabupaten Inderagiri Hilir, Provinsi Riau).

Raja Haji mendengar kabar bahwa Kesultanan Inderagiri diserang dan dikalahkan, bahkan dluluhlantakkan, oleh Raja Bayang adik-beradik. Tak lengah lagi, Baginda yang juga bergelar Kelana Pangeran Suta Wijaya bertolak ke Inderagiri untuk memerangi Raja Bayang adik-beradik dan pasukannya. Dalam perang itu, Raja Haji mendapat bantuan pasukan perang dari Kesultanan Jambi. Tak lama berperang, akhirnya Raja Haji dan pasukannya dapat mengalahkan Raja Bayang adik-beradik dan pasukannya. Karena kalah dalam perang itu, Raja Bayang adik-beradik melarikan diri dari Inderagiri, tak jelas ke mana rimbanya.

Setelah berjaya merebut kembali Inderagiri, Raja Haji Kelana Pangeran Suta Wijaya membawa kembali Sultan Hasan sekeluarga ke Istana Inderagiri dari Gaong (Gaung), tempat persembunyian Baginda. Raja Hasan pun, kemudian, kembali menerajui Kesultanan Inderagiri dalam keadaan aman, damai, dan sejahtera seperti sedia kala. Badai yang dibawa oleh pihak penceroboh dan atau  perusuh telah berlalu walau sempat membuat luka. Negeri Inderagiri kembali berseri, yang dipaduserasikan oleh cahaya kejelitaan Putri Halimah ibni Raja Hasan Inderagiri yang tiada duanya.

Mirip dengan tindakan yang dilakukan oleh Raja Haji Fisabilillah. Sultan Duri (nama samaran laki-laki Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, penguasa sah Kerajaan Barbari) pada ketika yang tepat menyerang Kerajaan Hindustan. Peristiwanya dikisahkan dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.298.

Setelah sudah memberi titah
Menggertaklah kuda duli khalifah
Serta sepuluh hulubalang yang gagah
Ke dalam laskar ia menyerbulah

Syair Abdul Muluk, Raja Ali Haji

Bait syair di atas memerikan suasana ketika Sultan Duri (Siti Rafiah) memerangi Kerajaan Hindustan. Pasalnya, Kerajaan Hindustan menjajah Kerajaan Barbari, yakni negeri suami Siti Rafiah, Sultan Abdul Muluk. Untuk mengembalikan kemerdekaan negerinya, Siti Rafiah menggunakan pelbagai taktik dan strategi, termasuk menyamar sebagai laki-laki, dan mengembara dari satu ke lain negeri, berbilang tahun dia jalani untuk menghimpun kekuatan diri. Setelah kekuatan yang terhimpun dianggapnya memadai, Siti Rafiah (Sultan Duri) menyerang Kerajaan Hindustan. Dengan persiapan yang matang, strategi yang jitu, dan kekuatan yang memadai, Siti Rafiah dan pasukannya dapat mengalahkan Kerajaan Hindustan. Bersamaan dengan itu, Raja Hindustan dapat ditawan,  kemudian diberi hukuman, tentu setimpal dengan perbuatan dan atau kejahatan yang dilakukan.

Berhubung dengan peristiwa-peristiwa (dari Tuhfat al-Nafis peristiwa nyata dalam sejarah dan dari Syair Abdul Muluk peristiwa fiktif) yang diperikan di atas, pertanyaan yang muncul adalah ini. Mengapakah tokoh seperti Raja Bayang dan Raja Hindustan begitu bernafsu untuk menjajah dan atau menguasai negeri orang dengan pelbagai cara yang tercela? Padahal, baik Raja Bayang maupun Raja Hindustan sama-sama pemimpin yang seyogianya menampilkan karakter pemimpin yang baik, lebih-lebih terhadap negeri jirannya. Jawabnya tiada lain, di samping tak mampu mengendalikan syahwat kekuasaan yang memang sangat keras mengunggis sanubari kedua-duanya, mereka juga tak mampu menahan nafsu amarah, suatu penyakit hati yang memang mematikan kemanusiaan. Oleh sebab itu, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keempat, bait 4 (Haji, 1847), mengingatkan sesiapa saja, lebih-lebih pemimpin, dengan tunjuk ajar ini.

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keempat, bait 4 , Raja Ali Haji

Karena asyik dengan “hewan peliharaan marah”-lah, Raja Bayang dan Raja Hindustan tak mampu mengendalikan kemanusiaan mereka. Sebagai pemimpin, mereka tergolong pemimpin yang berperangai tercela.

            Apakah hubungannya dengan marah? Betapa tidak. Raja Bayang marah kepada Raja Hasan Inderagiri karena pinangannya kepada putri Sultan Inderagiri itu ditolak. Padahal, alasan penolakan itu memang sabit di akal seperti yang dituturkan oleh yang empunya diri, Putri Halimah, bahwa dia berasa belum cukup usia untuk menikah. Raja Hindustan pula marah karena pamannya, pengusaha kain, ditangkap dan dihukum (dipenjarakan) di Kerajaan Barbari. Padahal, hukuman itu memang setimpal karena pengusaha Hindustan itu, walaupun paman Sultan Hindustan, melakukan penipuan di Negeri Barbari. Di Kerajaan Barbari, hukum diterapkan tanpa tebang pilih. Artinya, walaupun kerabat penguasa, jika terbukti melakukan tindak kriminal, dia tetap dihukum secara adil.

Pemimpin yang memperturutkan hawa nafsu seperti Raja Bayang dan Raja Hindustan tak mampu mencerna nilai-nilai kearifan yang dijunjung tinggi oleh pemimpin terbilang. Mereka merelakan diri terbelenggu dan atau terpasung secara kejam oleh nafsu jahat yang memang cenderung merusakkan nilai-nilai agung kepemimpinan. Padahal, dalam setiap tamadun, kearifan seperti yang tersurat dalam syair nasihat yang termaktub dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bukanlah perkara yang asing, tentu bagi pemimpin yang nuraninya tercerahkan dan menerapkan nilai-nilai keadaban.

Inilah nasihat ayahanda tuan
Kepada anakanda muda bangsawan
Nafsu yang jahat hendaklah lawan
Supaya anakanda jangan tertawan

Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 , Raja Ali Haji

Bukankah melawan hawa nafsu, lebih-lebih dalam praktik kepemimpinan, memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Ketika ditanya tentang jihad yang paling afdhal, Rasulullah SAW bersabda, “Engkau ber-mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu) untuk meraih keridaan Allah SWT,” (H.R. Abu Nu’aim). Tauladan yang diberikan oleh pemimpin utama lagi mulia itu seyogianya dapat diterapkan oleh setiap pemimpin dalam praktik kepemimpinan dalam bidang dan peringkat apa pun.

Karakter Raja Bayang dan Raja Hindustan berbeda benar dengan budi pekerti Raja Haji Kelana Suta Wijaya dan Sultan Duri atau Siti Rafiah. Raja Haji menyerang Raja Bayang dan pasukannya karena Baginda menolong kerabat dan atau sahabatnya, Raja Hasan, penguasa sah Kesultanan Inderagiri. Baginda tak rela Raja Hasan dan negerinya dikuasai oleh orang yang tak berhak terhadapnya, secara hukum dan adat apatah lagi secara keturunan. Begitu pulalah halnya Siti Rafiah. Dia menyerang Kerajaan Hindustan karena negerinya dijajah oleh kerajaan jirannya itu. Dalam hal ini, Raja Haji dan Siti Rafiah sama-sama berjuang untuk membela kebenaran. Memang, sikap dan tindakan berani membela kebenaran, apa pun akibatnya, merupakan karakter pemimpin sejati lagi terbilang.

Hanya pemimpin sejati yang memiliki karakter berani membela kebenaran. Mereka tak akan berasa ragu apatah lagi takut walaupun jiwa dan raga menjadi tagan. Pemimpin yang berkarakter mulia tak pernah terbiarkan berjuang sendirian. Di hadapan mereka senantiasa ada inayah Tuhan.***

Tinggalkan Balasan