Halaman judul Pohon Perhimpunan karya Raja Ali Kelana yang dirumikankan oleh Hasan Junus Tahun 1983. (foto: aswandi)

Pada Menyatakan Peri Perjalanan ketika Komisi ke Pulau Tujuh 1896

BERITA, adalah sejarah yang ditulis pada hari ini. Ungkapan ini sangat tepat untuk untuk menyebut esensi lain dari hasil kerja seorang jurnalis. Sebuah ungkapan lain yang sangat terkenal dan mengena, menyebutkan pula bahwa seorang jurnalis adalah pencatat sejarah di garis depan.

Di Kepulauan Riau Lingga, esensi kerja seorang jurnalis ini telah dimulai oleh Raja Ali Kelana melalui karyanya yang berjudul Pohon Perhimpunan. Mengapa?

Raja Ali Kelana

Siapa Raja Ali Kelana? Beliau adalah seorang tokoh politik, tokoh intelektual anti kolonial, dan pembesar Kerajaan Riau-Lingga. Dalam struktur pemerintahan kerajaan Riau-Lingga pada akhir abad ke-19, jabatannya adalah Kelana atau calon Yang Dipertuan Muda Riau, yang diposisikan untuk mengganti ayahandanya Raja Muhammad Yusuf,Yang Dipertuan Muda Riau X.

Sebagai seorang Kelana pembesar kerajaan yang menjalankan kerja-kerja Yang Dipertuan Muda Riau, kedudukan Raja Ali Kelana istimewa. Beliau adalah satu-satunya calon Yang Dipertuan Muda Riau yang menghasilkan karya tulis. Salah seorang peneraju perkumpulan Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat yang luas pengetahuannya: baik dalam bidang agama, bahasa, siasah, dan lain sebagainya.

Sejauh yang dapat diketahui, sebagai seorang penulis dan cendekiawan, Raja Ali Kelana telah menghasilkan sedikitnya delapan buah karya dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah Pohon Perhimpunan.

Raja Ali kelana juga salah seorang aktor intelektual di balik perlawanan pasif  (lidelijk verzet) cendekiawan Riau-Lingga yang telah menggoyang parlemen Hindia Belanda di Batavia, yang berujung pada pemakzulan Sultan Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1911 serta penghapusan kerajaan bersejarah itu pada 1913.

Demi marwah, Kelana Riau-Lingga yang akhirnya memengundurkan diri ini hijrah ke Johor Baharu setelah Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga pada 1911. Beliau mangkat di Jl. Tebrau, Johor Baharu, pada hari Ahad, pukul 8 pagi tanggal 10 Jumadil Akhir 1346 Hijriah bersamaan dengan 4 Desember 1927.Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman diraja Johor di Bukit Mahmudiah, Johor Baharu.

Pohon Perhimpunan

Judul lengkapnya adalah Pohon Perhimpunan Bahwa Inilah Cetera Yang Bernama Pohon Perhimpunan Pada Menyatakan Peri Perjalanandengan tambahan keterangan, Yang Telah Dikarang Oleh Raja Ali Kelana bin Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi Ketika Komisi ke Pulau Tujuh pada tahun 1313 (1896). Dalam katalogus perpustakaan, karya Raja Ali Kelena yang dicetak oleh Mathba’ah al-Riauwiyah Pulau Penyengat pada 1897 ini, dan edisi alih aksara dalam huruf rumi atau huruf latin yang diselenggarakan oleh Hasan Junus pada tahun 1983, dikenal sebagai Pohon Perhimpunan saja.

Ian Proudfoot telah mencantumkan Pohon Perhimpunan dalam katalog buku-buku Melayu cetakan awal yang diterbitkan hingga tahun 1920-an, yang menghimpukannya dalam sebuah buku setebal 859 halaman yang berjudul Early Malay Printed Books (1993).

Karya Raja Ali Kelana Pohon Perhimpunanini tergolong kepustakaan sangat langka yang dalam dunia perpustakaan diklasifikasikan sebagai buku langka, buku nadir, ataurare books. Sangat sedikit eksemplar yang masih tersisa. Berdasarkan data dan informasi katalogus sejumlah perpustakaan dan koleksi pribadi, satu satunya eksemplar Pohon Perhimpunan yang diketahui, dan telah dikonservasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, adalah eksemplar berada dalam simpanan Balai Maklumat Kebudayaan Melayu Riau di Pulau Penyengat.

 Berdasarkan informasi dalam Notulen Bataviaasch Genootschap (sekarang Museum Nasional) tahun 1903, Pohon Perhimpunan pernah menjadi salah satu koleksi perpustakaan museum yang dibangun oleh Thomas Stamford Raffles itu. Namun sayang, karya Raja Ali Kelana tersebut kini tak ditemukan lagi dalam koleksi perpustakaan peninggalan Belanda itu yang sekarang berada dalam simpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

“Laporan Jurnalis”

Pohon Perhimpunan adalah sebuah buku yang berisikan catatan dan laporan perjalanan Raja Ali Kelana selama 15 hari mengunjungi Pulau Tujuh (Pulau Jemaja, Pulau Siantan, Pulau Bunguran, Pulau Serasan, dan Pulau Tambelan) dari tanggal 9 Februari 1896 hingga 6 Maret 1896, dan dilengkapi dengan sejumlah foto yang ditempelkan.

Laporan perjalanan ini merupakan saripati dari sebuah komisi (perjalanan inspeksi atau memeriksa) hal-ihwal kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Lingga-Riau dan daerah takluknya.

DalamPohon Perhimpunan terdapat empat belas kisah perjalanan. Diawali dengan perjalanan pertama dari labuhan(pelabuhan)Tanjungpinang pada hari Arba’a (Rabu) tanggal 6 Ramadhan 1313 H yang bersamaan dengan tanggal 19 Februari 1896 M. Seluruh rangkaian perjalanan ini juga berakhir di pelabuhan Tanjungpinang pada tanggal 23 Ramadan yang bersamaan dengan hari Sabtu pukul 5 petang, tanggal 6 Maret tahun 1896 M.

Melalui Pohon Perhimpunan sejumlah pakar telah mentasbihkan Raja Ali Kelana sebagai seorang peletak dasar dunia jurnalistik di kerajaan Riau-Lingga dan Alam Melayu. Mengapa?

Menurut Hasan Junus, jarak antara peristiwa atau kejadian yang dilihat dan didengar oleh Raja Ali Kelana dengan penyiarannya dalam Pohon Perhimpunan kurang dari dua tahun. Satu ukuran yang cukup dekat dan cepat untuk ukuran zamannya. Kenyataan inimenjadi sebuah syarat yang lebih dari cukup untuk menyebutnya sebagai sebuah karya jurnalis untuk ukuran zaman itu;mengingat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi zaman itu.

Di lain pihak, Jan van der Putten menyebut Pohon Perhimpunan sebagai sebuah karya yang cukup syarat untuk disebut sebagai hasil kerja seorang jurnalis ‘pencatat’ sejarah di garis depan, karena benyaknya tempelan foto yang berkaitan dengan apa yang tertulis dalam Pohon Perhimpunan. Jan van der Putten menyimpulkan bahwa, teks yang disertai dengan ilustrasi berupa foto ini menjadi penanda bahwa Pohon Perhimpunanadalah sebuah publikasi yang ditujukan untuk dilihat dan dibaca oleh orang banyak dan bukan lagi bagian dari sebuah tradisi lisan.

Pohon Perhimpunanjuga sebuah contoh sempurna yang memperlihatkan peralihan dari tradisi manuskrip kepada teknik cetak tipografi menggunakan huruf timah: sebuah kecenderungan baru yang sedikit banyak dipicu oleh perkembangan teknologi percetakan di Kerajaan Riau-Lingga dan Singapura pada akhir abad ke-19.***

Tinggalkan Balasan