JANUARI hari yang ke-6, 1784, pasukan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menang telak dalam Perang Riau I melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dan sekitarnya. Walaupun begitu, Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah tak puas hanya sampai di situ. Belanda harus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Demikianlah azam kuat lagi hebat kedua pemimpin besar Melayu itu. Lalu, dikejar merekalah Belanda sampai ke markas penceroboh itu di Melaka (bagian Malaysia sekarang).

            Pertempuran di Melaka pun berlangsung berbulan-bulan. Sebagian besar wilayah Melaka telah dikuasai oleh pasukan koalisi Melayu yang terus berdatangan. Sampailah pada hari itu, Juni 1784, 18 hari bulan. Pertempuran besar terjadi di Teluk Ketapang setelah Belanda berhasil mendatangkan bala bantuan. Mereka menyerbu kubu Baginda Raja Haji Fisabilillah, yang dikisahkan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam Tuhfat al-Nafis dengan narasi yang sungguh berkesan.     

“… Maka Yang Dipertuan Muda pun bertitah menyuruh amuk. Maka Arung Lenga pun memacu kudanya padahal ia tengah sakit pak ipa. Maka keluarlah ia menempuh baris Holanda itu maka lalulah ia mengamuk. Maka matilah ia dan kudanya pun mati juga dan Holanda banyak juga mati dibunuhnya. Maka dimasukkannyalah kubu Yang Dipertuan Muda oleh segala orang besar-besar Holanda itu serta dengan serdadunya. Maka mengamuklah Dahing Saliking dan Panglima To Lesang serta Haji Ahmad maka ketiganya menyerbukan diri kepada baris Holanda yang berlapis-lapis itu. Maka seketika ia mengamuk maka matilah ia pun syahid fi sabil Allah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan beberapa lagi orang yang baik syahid itu dengan tiada membuang belakang…,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

Dengan takdir Allah, beberapa prajurit dan panglima perang Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang syahid dalam peperangan besar itu. Tersebutlah Arung Lenga, Dahing Saliking, Panglima To Lesang, dan Haji Ahmad yang gugur dalam perang melawan Belanda di Teluk Ketapang itu. Dan, pemimpin besar perang itu, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, Raja Haji Fisanilillah, pun menjadi salah satu syuhada dalam pertempuran yang hampir dimenanginya itu. Mereka gugur sebagai patriot sejati tanpa sedikit pun membuang belakang, tentu tanpa cacat dan cela sebagai pembela bangsa dan negara.

Mengapakah tokoh-tokoh yang dicacat oleh Tuhfat al-Nafis itu rela berkorban jiwa dan raga mereka? Padahal, kalau mereka menyerahkan diri, dan selanjutnya negeri, kepada penjajah Belanda, tentulah mereka tak sampai dihukum mati. Jawabnya tiada lain, pantang bagi patriot dan pemimpin sejati untuk bertekuk lutut kepada penjajah. Di dalam diri mereka telah tertanam begitu kuat dan kokoh sikap dan perilaku setia kepada bangsa dan negara.

Dengan sikap dan perilaku mulia itulah, mereka berperang membela bangsa dan negara walau harus gugur di medan juang. Bagi mereka, lebih baik mati mulia daripada hidup menderita dan menanggung aib di bawah cengkeraman penjajah. Pasalnya, tanggung jawab membela dan mempertahankan bangsa dan negara memang telah diamanahkan kepada mereka dan mereka pun  dengan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, setia membela bangsa dan negara memang menjadi karakter pemimpin terbilang. Dengan karakter itu, mereka tak rela negeri dan rakyat terjejas karena lemahnya karakter pemimpinnya.    

Dalam Tsamarat al-Muhimmah ditegaskan juga tentang mustahaknya sikap setia kepada bangsa dan negara, terutama bagi para pemimpin. Pasalnya, pemimpinlah seyogianya berada di posisi paling depan dalam tugas suci membela negara dan bangsa. Jika pemimpin telah menunaikan kewajiban itu dengan benar, rakyat pasti akan mengikutinya.

Kalau roboh kota Melaka
Papan di Jawa kami dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Nyawa dan badan kami serahkan

“Maka barang siapa yang masuk di dalam pekerjaan kerajaan …, hendaklah ia satu jalan dan satu pekerjaan pada yang sama-sama di dalam pekerjaan itu, pada segala hukuman yang sudah sah pada syariat yang mulia, yang sudah disebutkan hikmat oleh raja atau haibnya, maka jangan siapa keluar dan ingkar daripada yang demikian itu adanya, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan di atas menegaskan bahwa para pemimpin tak boleh ingkar dan atau berkhianat kepada bangsa dan negeranya. Sekali tugas kepemimpinan diterima, ianya harus dilaksanakan dengan kesetiaan yang sesungguhnya. Amanat itu ditekankan lagi dalam syair nasihat yang termaktub dalam karya yang sama, Tsamarat al-Muhimmah, bait 18 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013). Kenyataan itu membuktikan bahwa karakter setia kepada bangsa dan negara sangat mustahak adanya dalam diri setiap pemimpin sehingga negara dan bangsa menjadi kuat.

Hendaklah periksa adabnya wazir
Di dalam kitab sudah terukir
Hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir
Supaya jangan jadi gelincir

Berdasarkan bait syair di atas, dapatlah disimpulkan bahwa sikap dan perilaku pemimpin yang berkhianat kepada bangsa dan negaranya tergolong tercela. Karakter negatif itu, apa pun alasannya, menunjukkan bahwa seseorang pemimpin telah menyimpang dari nilai-nilai mulia kepemimpinan. Jika tanda-tanda pengkhiatan telah terlihat pada sikap dan perilaku pemimpin, tindakan pencegahannya sudah sepatutnya segera dilakukan. Jika tidak, bangsa dan negara akan tergadai sehingga cita-cita mulia kehidupan berbangsa dan bernegara tak akan tercapai.   

Sesungguhnya, pedoman sekaligus peringatan bagi pemimpin untuk senantiasa terus meningkatkan kesetiaan kepada bangsa dan negara memang telah diberikan oleh Allah. Oleh sebab itu, dapat dipastikan sesiapa pun yang mengingkarinya akan mendapatkan padah, yang berat dan ringannya terpulanglah kepada Allah sebagai Sang Pemberi Amanah.

“Dan, (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu, (yaitu) kamu tak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan kamu tak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya), sedangkan kamu mempersaksikannya,” (Q.S. Al-Baqarah, 84).

Atas dasar itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedelapan, bait 1 (Haji, 1847), mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam memilih pemimpin. Dalam hal ini, carilah yang setia, bukan yang khianat.

Barang siapa khianat akan dirinya
Apa lagi kepada lainnya

Berdasarkan kearifan yang dikemukakan dalam bait Gurindam Dua Belas di atas, tak terlalu sulit untuk mengesan orang yang berpotensi berkhianat jika telah menjadi pemimpin. Dalam hal ini, dia pun cenderung berkhianat kepada dirinya sendiri dalam takaran manusia yang bersikap dan berperilaku terpuji. Jika orang-orang dengan ciri-ciri tak terpuji itu dijadikan pemimpin, padahal mengurusi diri sendiri saja dia tak beres, akan terjadilah apa yang dibidalkan oleh orang tua-tua, “Sudah retak mencari belah.” 

Dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 800 dan 802, dikemukakan juga tauladan pemimpin yang sangat setia kepada bangsa dan negaranya. Dengan keunggulan sikap dan perilakunya itu, dia rela melakukan apa saja demi kembalinya marwah bangsa dan negaranya dari upaya pihak tertentu yang mencabarnya.

Ia pun mengambil pedang suaminya
Yang tinggal di tempat peraduannya
Keluarlah ia dari jendelanya
Berjalan tu dengan air matanya
………………………………………
Menyamarlah ia sambil berjalan
Seorang pun tiada yang menegurkan
Sudahlah yang demikian
Lepaslah ia ke dalam hutan

Tokoh pemimpin yang boleh dibanggakan itu bernama Siti Rafiah, seorang perempuan. Dia adalah istri Sultan Abdul Muluk dari Negeri Barbari. Ketika negerinya diserang oleh Kerajaan Hindustan dan suaminya ditawan oleh musuh, Siti Rafiah melarikan diri dari istana. Tekadnya sudah bulat bahwa dia tak akan pernah bertuankan penjajah, apa pun tantangan yang harus dihadapinya. Pelariannya berhasil dengan masuk hutan keluar hutan untuk menghindari kejaran musuh.

 Dalam pelarian itulah dia mengatur strategi. Pertama, dari seorang putri yang berparas jelita, diubahnya diri dengan penampilan laki-laki. Kedua, dihimpunnya kekuatan dengan membentuk koalisi bersama pemimpin negeri-negeri yang dijumpai dalam pelarian dan pengembaraannya seraya menolong kerajaan-kerajaan itu sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Ketiga, dalam perjuangan itu tak dipedulikannya segala penderitaan yang dialami, berat dan ringan semuanya dihadapi. Keempat, setelah kekuatan yang diperlukan diperkirakannya memadai, diserangnyalah Kerajaan Hindustan yang menjajah negerinya sehingga musuh itu pun menjadi jera dan ngeri. Alhasil, sebagai pemimpin yang setia, Siti Rafiah menampilkan keunggulan dirinya karena dia sangat yakin akan pedoman dan ajaran yang diberikan oleh Baginda Nabi.

Dari Arfajah, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika ada orang yang datang kepada kalian, ketika kalian telah bersepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin merusak atau memecah persatuan kalian, maka perangilah dia,” (H.R. Muslim).

Bangsa sesuatu negara sesungguhnya himpunan dari manusia yang bersepakat untuk bersatu padu dalam suka dan duka untuk mencapai cita-cita mulia menjadi bangsa yang mulia, sejahtera, dan bahagia. Mereka berniat, berazam, dan berjuang dengan upaya-upaya yang bermartabat untuk dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam kedudukan yang setara. Tak ada hak pihak mana pun untuk membubarkan persatuan mereka dengan alasan apa pun apatah lagi sampai menimbulkan angkara murka.

Jika cabaran atau tantangan datang juga untuk memecah belah persatuan mereka, adalah kewajiban mereka memerangi pihak mana pun yang hendak melenyapkan mereka sebagai bangsa. Oleh sebab itu, setiap negeri memerlukan pemimpin yang patriotik lagi setia kepada bangsa dan negara. Dengan begitu, generasi demi generasi boleh berbangga menjadi bangsa yang keberadaannya diperhitungkan di peringkat dunia.

Bangsa dan generasi manakah yang tak akan berbangga jika pernah dipimpin oleh pemimpin, bahkan perempuan, sehebat Siti Rafiah? Siasat dan strateginya yang luar biasa telah mengembalikan martabat bangsanya yang sebelumnya sempat dirampas oleh kaum penjajah. Semangat yang digelorakannya membuat musuh berhati gundah sehingga akhirnya menyerah kalah dengan tampilan mati darah.

Rasanya, tak ada anak bangsa yang tak bahagia pernah memiliki pemimpin berkelas karena kesetiaannya kepada rakyat dan tanah air seperti Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji Fisabilillah. Berkat perjuangan mereka, tentu dengan inayah Allah, negeri ini masih boleh dan dengan hikmatnya dapat menggunakan ikon “Negeri Bermarwah”. Maka, tetaplah setia dan hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir karena itu bermakna berpaling tadah. (Dirgahayu Kota Tanjungpinang: 6 Januari 1784—6 Januari 2020).***

Tinggalkan Balasan