PERMUFAKATAN rahasia itu akhirnya terbongkar juga. Ada upaya pihak luar hendak merebut Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Lebih-lebih, niat jahat itu juga berhubung dengan upaya untuk menyingkirkan Yang Dipertuan Muda III (1745-1777), Daeng Kamboja. Maklumat itu langsung diketahui oleh Baginda Yang Dipertuan Muda. Di antara senarai pihak yang terlibat dalam permufakatan jahat itu, bahkan, ada juga pembesar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, yakni Raja Tua. Padahal, beliau juga keturunan Bugis, sama dengan Baginda Yang Dipertuan Muda. 

Kenyataan itulah yang menyebabkan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja sangat sedih bercampur marah yang teramat sangat. Tak tanggung-tanggung, permufakatan itu sampai pada kesepakatan untuk membunuh Baginda Yang Dipertuan Muda. Kisah selanjutnya dicatat oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan anakanda beliau Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis.    

“Syahadan apabila selesai Yang Dipertuan Muda bertitah, maka lalu ia menyuruh sebuah kakap ke Selangor memberitahu (sic) paduka adinda baginda Raja Selangor, dan sebuah kakap pula pergi ke Indera Giri memberitahu (sic) Raja Haji Engku Kelana. Maka suruhan kedua itupun (sic) berlayarlah. Syahadan apabila suruhan itu lepas berlayar, maka Yang Dipertuan Muda pun memanggil Raja Tua. Maka apabila sampai Raja Tua ke hadapan Yang Dipertuan Muda, maka Yang Dipertuan Muda pun bertitah, ‘Cih! Raja Tua, sampai hatinya hendak memperbuat saya hapus dengan nyawa sekali. Pada perasaan hati saya, Raja Tua dengan saya sehabis-habis kita berkelahi dan berbantah, sehingga antara kita berdua sajalah sama-sama anak Bugis ini, sekarang anak Bugis sudah menjadi anak Melayu. Maka sekarang ini, dan pada hari ini, sudah putuslah harap saya kepada Raja Tua dan hilanglah percaya saya kepada Raja Tua. Tiadalah saya menaruh percaya sekali-sekali waktu ini kepada Raja Tua,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 168).

Kemarahan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja kepada Raja Tua bagai tak terbendungkan lagi. Baginda sampai mengajak Raja Tua untuk bertarung satu lawan satu sampai satu di antara mereka tewas. Untunglah, akhirnya Yang Dipertuan Muda mampu meredam kemarahan Baginda. Walaupun begitu, Baginda telah menunjukkan sikap tegas terhadap Raja Tua yang telah berkhianat dengan sanksi yang berat, yakni tak lagi dipercaya dalam urusan pemerintahan. Berhubung dengan konspirasi pihak tertentu yang hendak menyerang Kesultanan itulah, Baginda Yang Dipetuan Muda memanggil Raja Selangor dan Raja Haji yang sedang berada di Inderagiri agar kembali ke Tanjungpinang untuk memperkuat pertahanan kerajaan. 

Sikap dan perilaku Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja terhadap Raja Tua—walaupun pembesar yang berkhianat itu, selain kolega juga masih berhubungan kerabat—menyiratkan satu lagi karakter utama yang wajib dimiliki oleh setiap pemimpin. Dalam hal ini, pemimpin terbilang senantiasa menampilkan karakter tegas dalam bersikap dan bertindak. Ketegasan itu ditunjukkan dengan keberanian memberikan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku kepada sesiapa saja yang melanggarnya dan yang menolak kebenaran. Tanpa karakter tegas, pemimpin akan mudah dipermainkan dan atau diperalat oleh para pihak yang memang mencari keuntungan diri dari kelemahan pemimpinnya. Bahkan, pemimpin yang tak tegas akan sangat mudah dijatuhkan oleh pihak-pihak yang memusuhinya. Sikap dan perilaku tegas yang dimaksudkan itu haruslah memenuhi syarat kebenaran.

Sikap dan perilaku tegas Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja terhadap Raja Tua merupakan contoh ketegasan yang dapat dibenarkan. Pasalnya, Raja Tua merupakan salah seorang pembesar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang seyogianya membantu Baginda Yang Dipertuan Muda dan Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812), Yang Dipertuan Besar (Raja) yang berkuasa kala itu. Apatah lagi, Baginda Sultan waktu itu masih belum dewasa sehingga harus didampingi oleh para pembesar kerajaan yang setia dan ikhlas berbakti. Itulah sebabnya, Baginda Daeng Kamboja sangat murka kepada Raja Tua. Pengkhianatan sampai hendak menghabisi jiwa Baginda Yang Dipertuan Muda juga tergolong perilaku yang tak terpuji alias keji. 

Sikap dan perilaku Raja Tua terhadap kerajaan dan Baginda Yang Dipertuan Muda III sesuai benar dengan yang dibidalkan oleh Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Keempat, bait 2.

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Dengki itulah yang memunculkan sikap dan perilaku khianat dalam diri Raja Tua. Sebagai sesama pembesar dan atau pemimpin kerajaan, tak sepatutnya Raja Tua menyemai sifat dan sikap negatif itu. Pasalnya, perilaku itu tak hanya tercela dan membahayakan Yang Dipertuan Muda, tetapi juga kerajaan. Bukankah di sebalik upaya pembunuhan terhadap Baginda Yang Dipertuan Muda itu, ada pihak yang berupaya merebut kekuasaan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang? Bahkan, sikap yang diambil oleh Raja Tua itu juga dapat membahayakan dirinya sendiri. 

Kalaulah jadi “pembuktian” satu lawan satu dalam beruji “kejantanan” yang semula ditawarkan oleh Baginda Yang Dipertuan Muda, dapat dipastikan Raja Tua akan mengalami celaka. Hal itu karena Baginda Daeng Kamboja dikenal sebagai pemimpin sekaligus pendekar yang sangat mahir bermain senjata. Karena mengetahui kehandalan Baginda bertarung itulah, pihak musuh yang berupaya hendak menghabisi Baginda menggunakan cara yang memalukan dalam perspektif laki-laki sejati, secara sembunyi-sembunyi, tak berani berhadapan langsung. Sifat iri Raja Tua tak semata-mata mendatangkan panah yang mungkin menancap jantung lawan, tetapi silap-silap hari bulan lebih-lebih dapat berbelok membinasakan dirinya sendiri.

Sebagai salah satu pemimpin utama Kerajaan—walaupun bukan Sultan atau Yang Dipertuan Muda—Raja Tua sebetulnya menyandang jabatan yang cukup berprestise. Seyogianya beliau menyadari kemuliaan diri yang muncul karena jabatan tingginya itu. Sayangnya, dari gelagat politiknya beliau berahikan jabatan yang lebih tinggi daripada sekadar setingkat menteri. Bukan tak mungkin beliau mengangankan jabatan Yang Dipertuan Muda, bahkan Sultan, karena kala itu Sultan Mahmud Riayat Syah masih kecil sehingga dapat diperlakukan apa pun oleh orang-orang di sekeliling Baginda, yang tak amanah dan tak ikhlas. Memang, mabuk kuasa boleh membuat manusia lupa akan kemuliaan dirinya.    

Bersabit dengan gejala syahwat kekuasaan seperti itulah Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Kelima, bait 3, menitipkan amanat. Seyogianya, kearifan itu yang diterapkan oleh sesiapa pun pemimpin yang bermartabat.

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah pada kelakuan dia

Perilaku, perangai, atau kelakuanlah yang menjadi indikator dan atau petunjuk utama kemuliaan setiap pemimpin, sama ada dahulu atau pun sekarang. Berperilaku khianat bukanlah karakter pemimpin terbilang. Takkan pernah ada pengkhianatan yang menghasilkan kerja-kerja kepemimpinan yang berprestasi gemilang. Pengkhiatan sesungguhnya sikap dan perilaku para kecundang atau pecundang. Betapa tidak, sudah diberi kepercayaan, malah, menikam dari belakang.

Wajarlah jadinya Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja sangat murka kepada Raja Tua. Diperingatkannya bawahannya itu dengan keras dan tegas agar yang bersangkutan berasa jera. Memang, karakter tegas pemimpinlah yang diperlukan dalam menghadapi para pengkhianat yang mabuk kuasa. Bahkan, petunjuknya memang telah diberikan oleh Allah Yang Mahakuasa.    

“Pergilah kamu (wahai Musa) beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut. Mudah-mudahan, dia ingat atau takut,” (Q.S. Thahaa, 42-44).

Ketika perbuatan Fir’aun sebagai pemimpin dinilai oleh Allah telah melampaui batas kewajaran, Nabi Musa A.S. dan saudaranya Nabi Harun A.S. diperintahkan oleh Allah untuk memperingatkan penguasa itu secara tegas. Fir’aun kala itu memang sangat besar kuasanya untuk ukuran manusia. Kebesaran itulah yang menyebabkannya mabuk kuasa sampai melupakan, bahkan, hendak mengatasi Allah. Walaupun diperintahkan untuk memberikan peringatan secara tegas, Nabi Musa A.S. diajarkan juga oleh Allah untuk menyampaikannya secara lemah-lembut. Dengan demikian, dalam hubungannya dengan perkara benar dan salah, pemimpin harus tegas kepada sesiapa pun. Yang benar harus diperlakukan benar dan yang salah harus tetap dikatakan dan dihukumkan salah. Akan tetapi, dalam berhubungan dengan manusia, setiap pemimpin harus menunjukkan sikap mulianya yang lemah-lembut sehingga orang tak berasa benci kepadanya.

Pengkhianatan memang tak mendapat pembenaran dalam praktik kepemimpinan yang beradab. Oleh sebab itu, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 25, mengingatkan pemimpin agar menjauhi perilaku tercela itu. Bahkan, jika dirasakan tugas-tugas kepemimpinan sangat melelahkan sekalipun, terutama pada masa-masa yang genting, pemimpin wajib menjalankan tanggung jawabnya dengan amanah. Tak ada kejayaan kepemimpinan dengan sikap dan perilaku berkhianat.

Hendaklah sabar lelah dan penat
Mengerjakan raja walaupun penat
Jangan bersifat menteri khianat
Mungkir setia kurang amanat

Atas dasar itulah, pemimpin harus menghadapi pengkhianatan dengan sikap tegas. Jika tidak, virus berbahaya itu akan menyerang pemimpin tanpa rasa belas. Tentulah yang dimaksudkan pemimpin telah melaksanakan amanah kepemimpinan secara benar tanpa sedikit pun berbuat culas. Contohnya disajikan dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 943 dan 945, secara terang dan jelas.

Duduklah Bahsan dengan dengkinya
Kepada Jamaluddin sakit hatinya
Negeri Barham diharu-birunya
Dagang santeri habis dimufakatinya

…………………………………………..
Beberapa lamanya yang demikian
Banyaklah orang ke sebelah Bahsan
Yang ada pada Jamaluddin sultan
Duduklah dengan sukar kesakitan

Syair bait 943 memerikan sifat dengki Bahsan kepada Jamaluddin, Sultan Negeri Barham. Padahal, Sultan Jamaluddin adalah keponakannya sendiri. Karena benar-benar telah mabuk kuasa, Bahsan tak menghiraukan kesemuanya itu. Difitnahnya Sultan Jamaluddin dan dihasutnya rakyat untuk melawan pemimpin yang sah itu. Negeri yang sebelumnya dipimpin oleh abang iparnya diporak-porandakannya dan pada kesempatan yang sama dia pun merebut kuasa dari keponakannya. 

Memang, daya tarik kekuasaan membuat manusia tak hanya lupa daratan, tetapi siap membunuh keluarga kalau dianggapnya sebagai lawan. Apatah lagi, terhadap kawan yang, bahkan, baru disebut “teman” ketika hendak mendapatkan kekuasaan. Tak ada kawan dan musuh yang abadi dalam kekuasaan (politik) oleh sebagian manusia pragmatis-sekuler telah dianggap sebagai firman. Padahal, sikap seperti itu jelas-jelas dilarang oleh Tuhan.

Syair bait 945 pula mengisahkan penderitaan yang dialami oleh Sultan Jamaluddin Adamani karena perbuatan mamandanya sendiri. Lara itu harus ditanggungnya karena dia tak tegas kepada Bahsan. Bahkan, pamannya itu hendak melenyapkan jiwanya demi kekuasaan. Karena penceroboh kerabatnya sendiri, pemimpin sah Negeri Barham itu tak sampai hati untuk melawannya.  Sultan muda itu beruntung mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Datanglah kemudian Hulubalang Duri yang rela berkorban demi menegakkan kebenaran walaupun Jamaluddin sama sekali tak berhubung kerabat dengan dirinya.  

Rasulullah SAW bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar,” (H.R. Tirmidzi).

Sabda Rasulullah SAW di atas dengan tegas menyebutkan, di samping penyayang, karakter tegas memang diperlukan oleh setiap pemimpin. Lalu, apakah yang diperoleh Syaiyidina Umar r.a. dari Allah SWT sebagai hadiah dari sikap tegas beliau sebagai pemimpin?

Rasulullah SAW bersabda, “Aku memasuki jannah (surga) dan aku mendapati ada istana dari emas. Lalu, aku bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Dijawab, ‘Ini milik seorang pemuda dari Quraisy’. Aku mengira itu adalah istana untukku, lalu aku bertanya lagi, ‘Siapakah pemuda itu?’ Dijawab, “Umar bin Khattab,” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Anugerah istana emas di surga kepada Syaiyidina Umar bin Khattab r.a. membuktikan bahwa perjuangan beliau memang dianjurkan dan dibenarkan oleh Allah. Tak boleh ada toleransi kepada pengkhianat dan orang-orang yang dengan sengaja berbuat salah. Bukankah sebagai pemimpin Syaiyidina Umar berkarakter sangat tegas seperti diakui oleh Baginda Rasulullah? Memang, pemimpin terbilang memaduserasikan ketegasan dan lemah-lembut sebagai mahakarya kepemimpinan dunia yang sangat indah. Jadi, sangat wajarlah pemimpin terbilang beroleh hadiah Istana Emas Mahakarya Allah di dalam jannah.***

Tinggalkan Balasan