TANPA maklumat perang walau sepatah kata pun, Kerajaan Hindustan menyerang Negeri Barbari. Dari berita yang diketahui kemudian, matlamat penceroboh yang datang tiada lain untuk merebut negeri yang makmur itu dengan dalih pembalasan dendam yang terpendam lama sekali. Masalahnya, nafsu dan dendam itu tak berlandaskan pemikiran yang bestari. Takkanlah boleh penjahat kehidupan dan kemanusiaan hendak dilindungi. Adat dan hukum mana pun tak membenarkan orang seperti itu dipuja-puji hanya karena dia dekat dengan pemimpin negeri. Tempat terbaiknya sememangnyalah bui.

Gemparlah seisi Kerajaan Barbari. Pasalnya, selain tiba-tiba, jumlah pasukan musuh yang datang tiada terperi. Dalam suasana kacau-bilau dan kalang-kabut, untunglah, kepemimpinan Sultan Abdul Muluk yang karismatik ternyata mampu menenangkan rakyat seisi negeri. Hulubalang dan laskar tak sedikit pun berasa takut dan gundah di hati.

            Tak hanya terbatas pada pemimpin utamanya. Dalam suasana yang amat genting,  berdatanganlah para pemimpin rakyat dari segala ceruk dan rantau menghadap Sultan Barbari. Mereka minta izin kepada pemimpin utama itu untuk ikut berperang demi mempertahankan tanah tumpah darah mereka agar tak dikuasai musuh yang angkuh dan sangat bernafsu menaklukkan negeri nan elok itu. Untuk itu, mereka rela dan ikhlas walaupun harus mati demi membela marwah bangsa dan negara, pun demi kebanggaan anak-cucu kelak sebagai bangsa yang merdeka. Dengan begitu, mereka dapat hidup setaraf dengan bangsa mana pun di dunia ini. Padahal, kewajiban mempertahankan negara dari serangan musuh, terutama, terletak pada para hulubalang dan tentara, bukan menjadi kewajiban rakyat biasa.

            Alangkah suka-citanya Sultan Abdul Muluk karena seluruh rakyatnya bersatu padu hendak membela negeri. Tak seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat, apatah lagi sampai berkhianat menjadi kaki tangan musuh. Jadilah perang dengan Kerajaan Hindustan itu  melibatkan semua lapisan bangsa Barbari: mulai dari sultan, sebagai panglima perang tertinggi, para menteri, hulubalang, laskar (tentara), sampai kepada rakyat sekaliannya. Kecuali, orang tua-tua yang telah uzur dan kanak-kanak.

Walaupun tak terlibat secara fisik dalam perang itu, para lansia dan kanak-kanak masih melibatkan diri dengan berdoa.  Dalam isak tangisnya, kanak-kanak—generasi penerus Kerajaan Barbari—berdoa kepada Allah agar angkara murka segera dilenyapkan dari negeri mereka. Bersamaan dengan itu, semoga para penjahat, perusuh, dan atau penceroboh yang datang ke negeri mereka segera mendapat hukuman setimpal dari Allah.

            Walaupun begitu, ada permintaan dari seorang bawahannya yang agak merunsingkan pikiran Sultan Barbari. Dalam Syair Abdul Muluk, bait 612 (Haji, 1846), Raja Ali Haji rahimahullah menuturkan permohonan yang mengundang perdebatan antara Sang Sultan dan si pemohon.

Berdatang sembah suaranya merdu
Mohonkan ampun di bawah cerpu
Jikalau ada izin duli tuanku
Patik mengeluari musuhnya itu

Permohonan itu berasal dari Wazir Suka, seorang menteri Kerajaan Barbari yang masih muda usianya. Sepatutnya, walaupun berjabatan menteri, karena masih sangat belia, dia tak boleh ikut berperang. Dengan pertimbangan itu, Sultan Abdul Muluk tak mengizinkan Wazir Suka berperang. Akan tetapi, menteri muda itu tetap kokoh dengan pendiriannya. Setelah perdebatan, inilah yang kemudian terjadi.

Terlalu suka wazir yang muda
Sujud di kaki duli baginda
Bersalaman dengan menteri yang ada
Sekalian mendoakan di dalam dada

Akhirnya, Sultan Barbari tak mampu membendung azam dan tekad Wazir Suka yang telah mewakafkan dirinya untuk mempertahankan bangsa dan negaranya. Menteri belia itu tetap pada pendiriannya untuk berjuang bersama Sang Sultan, para pembesar lain, dan rakyat sekaliannya. Rasa haru dan bangga Sultan Abdul Muluk tak dapat disembunyikannya karena mendapati pengorbanan yang tulus semua bawahan dan seluruh rakyat pada detik-detik yang menentukan kelangsungan tanah air mereka.

Bawahan dan rakyat begitu pula. Mereka berbahagia dapat berjuang bersama pemimpin yang sangat mereka banggakan lagi berwibawa. Demi marwah bangsa dan negara, manusia yang sadar akan harga dirinya memang tak pernah berhitung soal hidup atau mati, yang pasti akan dihadapi juga.

            Di samping keadaannya cukup mendesak, Sultan Barbari tak dapat melarang rakyatnya ikut berperang. Pasalnya, memang hak mereka untuk mempertahankan negeri yang mereka cintai. Sama halnya dengan hak rakyatnya untuk hidup sejahtera dan bahagia yang selama ini dinikmati sebelum musuh datang dari luar negeri. Sebagai pemimpin, Abdul Muluk menganggap dirinya wajib memperjuangkannya sekuat dapat dan memberikan hak bawahan dan rakyat sekalian. Baginya, itulah alasan dirinya diperlukan sebagai pemimpin negeri. Dia tak rela kepemimpinannya, justeru, menjadi penghambat bawahan dan rakyat untuk memperoleh hak-hak sah mereka dengan alasan yang dibuat-buat dan tiada terpuji.  

Bersabit dengan hak-hak bawahan dan rakyat, Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah menegaskan kewajiban pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Di antara kewajiban itu mesti diungkapkan dalam bentuk janji suci pemimpin yang harus diucapkan di hadapan rakyat dan tak boleh dikhianati.

“Seboleh-bolehnya bahwa kami [baca: pemimpin, HAM] menyampaikan hajat kamu [baca: bawahan dan atau rakyat, HAM] yang diharuskan di dalamnya pada syariat dan pada adat yang boleh sekuasa kami menyampaikannya pada pekerjaan yang layak dan yang patut kepada kamu, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Atas dasar itulah, pemimpin tak dibenarkan menahan hak-hak bawahan dan rakyatnya. Jika tertahannya hak-hak bawahan dan rakyat itu disengaja, dibuat-buat, dan atau terkandung maksud jahat, jelaslah bahwa pemimpinnya tak layak memimpin sesebuah negeri karena keberadaannya, justeru, menghalangi bawahan dan rakyat untuk maju dan berbakti secara optimal kepada bangsa dan negara.

Gagasan dan pemikiran tentang pemenuhan hak-hak bawahan dan rakyat dalam kepemimpinan, sejatinya tak berasal dari pemikiran manusia. Ianya telah termaktub dalam firman Allah, antara lain, dalam salah satu hadits qudsi yang dinukilkan ini.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ada tiga jenis (manusia) yang Aku akan menjadi musuhnya pada Hari Kiamat kelak: laki-laki yang memberi (berjanji) atas nama-Ku, kemudian dia berkhianat; laki-laki yang menjual orang merdeka, lalu dia memakan uang hasil penjualannya; dan laki-laki yang mempekerjakan manusia, yang memenuhi (melaksanakan) pekerjaannya, tetapi dia tak memberikan upahnya,” (H.R. Bukhari).

Kamu menjadi musuh Allah! Itulah ancaman Tuhan terhadap para pemimpin—sesiapa pun dia, pada peringkat apa pun dia memimpin, dan di mana pun dia berada—yang tak memenuhi hak-hak bawahan dan rakyatnya. Oleh sebab itu, di dunia apatah lagi di akhirat dia akan menerima padah (akibat buruk dari perbuatannya). Tak ada satu makhluk pun yang menjadi musuh Allah dapat lepas dari bala dan azab yang akan dibalaskan kepadanya, sama ada dahulu ataupun sekarang.

Bukankah Fir’aun terkenal dalam sejarah? Dia menganggap dirinya sebagai pemimpin paling perkasa di dunia sehingga tak sesiapa pun berani menyanggah. Karena mengingkari Allah, di dunia saja dia telah menerima padah. Dari pedoman yang ada, dapat dipastikan bahwa di akhirat kelak pun bala dan balasan yang lebih dahsyat lagi mengerikan telah disediakan baginya oleh Allah.

Rasanya, Fir’aun hidup dan berkuasa tak berlama-lama bangat. Dalam rentang waktu yang pendek itu pun dia telah menerima hukuman yang pedihnya teramat sangat. Malang lagi baginya, di akhirat kelak, waktu telah distel dan dikunci sedemikian rupa tanpa menunjukkan angka penamat.  

Berdasarkan kenyataan itu, kearifan yang disuratkan oleh syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 23 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), boleh dijadikan bahan pengingat. Lebih-lebih, bagi pemimpin yang berhendakkan namanya dikenang dan diingat karena memberi manfaat kepada rakyat.

Hendaklah anakanda jagakan nama
Mendirikan hak dengan seksama
Pekerjaan bid’ah jangan diterima
Walaupun kecil seperti hama

Walaupun kecil dan tak seberapa nilainya bagi orang besar-besar, hak-hak bawahan dan rakyat mestilah mereka terima. Tak ada alasan sekecil apa pun bagi para pemimpin untuk menahannya. Seperti halnya hama, kebiasaan menunda hak-hak bawahan dan rakyat akan menjadi penyakit yang mengunggis hati, yang pada gilirannya akan merusakkan sendi-sendi kepemimpinan. Virus itulah yang akan menyebarkan penyakit syahwat kekuasaan sehingga akhirnya tak dapat lagi dikendalikan. Alhasil, ianya suatu ketika akan menjadi senjata makan tuan. Betapa tidak, petunjuknya memang ada sebagai rujukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Menahan hak orang lain atau (menunda) penunaian kewajiban (terhadap orang lain, bagi yang mampu) termasuk kejahatan,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Amanat Rasulullah SAW itulah seyogianya diperhatikan. Setiap kejahatan ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya, tetapi entah bagaimana kemudian ianya berbelok dan berbalik menikam si pemanah itu sendiri tanpa dapat dihindari. Panah itu tak seperti senjata yang digunakan oleh rakyat Barbari, yang melesat cepat dan tepat ke jantung musuh-musuh yang mengharubirukan negeri. Pasalnya, selain jenis panahnya berbeda, niat, azam, dan perilaku pemanahnya juga bertolak belakang. Yang pertama hendak mematikan peradaban yang luhur dan suci, sedangkan yang kedua hendak membela tamadun yang terala itu dari sebarang angkara murka yang datang menerpa. Punca segala malapetaka manusia.

Kearifan mendirikan hak dengan seksama berasaskan nilai keadilan. Hal itu bermakna orang-orang, terutama pemimpin, yang memberikan hak orang lain—bagi bawahan dan rakyat oleh pemimpin—menunjukkan dirinya menjunjung tinggi nilai keadilan. Orang dengan karakter terpuji itu tak pernah sampai hati melalaikan dan atau menahan hak orang lain yang memang harus diberikan. Dia mampu berlaku arif seperti itu karena mendapat anugerah istimewa dari Tuhan.  

Berhubung dengan perkara itu, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 3 (Haji, 1847), memberikan penjelasan yang tentulah sangat menarik bagi sesipa saja yang berjuang memajukan peradaban.

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Itulah sisi menariknya. Pemimpin yang adil—dengan antara lain memberikan hak bawahan dan rakyat—menandakan (menjadi indeks) bahwa dirinya beroleh inayat atau pertolongan. Yang dimaksudkan tentu dan pasti pertolongan dari Yang Maha Penolong, yakni Allah. Dengan pertolongan Tuhan, kerja-kerja kepemimpinan pasti menuai kejayaan. Oleh sebab itu, karakter memberikan hak bawahan dan rakyat mengindikasikan pemimpinnya berkelas dan terbilang.

            Sebaliknya pula, pemimpin yang enggan dan atau menahan hak bawahan dan atau rakyat menunjukkan jati dirinya yang tak memenuhi syarat kepemimpinan. Jika diserahi tanggung jawab kepemimpinan, orang-orang seperti itu tak hanya mengecewakan orang-orang yang dipimpinnya, tetapi juga mencelakakan dirinya sendiri. Bahkan, sanksi yang dijanjikan kepadanya dari Allah sangat berat dan sungguh mengerikan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada seorang hamba pun yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati (dan) pada hari kematiannya (dia) dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya,” (H.R. Muttafaqun ‘alaihi).

Itulah padah yang akan diterima. Dengan melalaikan hak-hak bawahan dan rakyat, pemimpin telah mengkhianati amanah istimewa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Pasalnya, dengan sikap dan perilaku negatifnya itu, dia telah membuat orang lain menderita dan sengsara. Oleh sebab itu, neraka memang tempat yang cocok dan pas bangat bagi pemimpin yang tak amanah dan berkarakter jelek itu. Karena peringatan itu bersumber dari Rasulullah SAW, tak disangsikan lagi kepastian sanksi yang akan diterimanya. 

Rakyat yang hak-haknya terpenuhi nescaya akan sejahtera dan bahagia. Oleh sebab itu, bangsa mana pun di dunia ini mendambakannya. Tak heranlah mereka senantiasa berharap dan berjuang untuk memiliki pemimpin yang dapat diharap dan sanggup membuat mereka bangga. Pemimpin yang mampu memperjuangkan dan mewujudkannya tak diragukan lagi memiliki karakter mulia. Intaha.*** 

Tinggalkan Balasan