Pemandangan salah satu sudut di Kampung Cina Senggara di Tanjungpinang sekitar tahun 1900. (dok: aswandi syahri)

Meskipun tak seperti kisah terbakarnya Kampung Gelam di Singapura yang diabadikan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam Syair Kampung Gelam Terbakar (1847), peristiwa kebakaran besar yang melanda Kampung Cina Senggarang, di seberang Tanjungpinang, pada tahun 1904 tercatat dalam beberapa bahan sumber sejarah tempatan dan tersiar dalam surat kabar sezaman yang terbit di Singapura.

Agaknya, inilah peristiwa kebakaran besar di Tanjungpinang yang mendapat perhatian cukup besar pula oleh sejumlah surat kabar di Singapura ketika itu, dan dicatat oleh pencatat sejarah tempatan dengan cukup detil. Tidak hanya karena menimbulkan korban jiwa, dan membakar gudang-gudang gambir serta lada yang sangat mahal ketika itu, tapi juga kerena kebakaran tersebut telah menghanguskan 450 rumah dari 500 bangunan yang ada di kampung itu.

Kebakaran besar tersebut terjadi pada pukul 10.30 pagi, hari Senin tanggal 21 Maret 1904. Sehari kemudian, berita tentang peristiwa itu sampai ke Singapura. Pada hari itu juga, Selasa 22 Maret 1904, surat kabar The Straits Timesyang terbit di Singapura melansir berita kebakaran tersebut dalam ruang korespondensinya dengan judul, Great Fire at Rhio (Kebakaran Besar di Riau).

Esok harinya, 23 Maret 1904,  masih dalam judul berita yang sama dramatisnya, The Great Fire at Rhio, detil peristiwa kebakaran besar di Pulau Senggarang yang dibawa oleh awak kapal uap Emilymilik pemerintah Belenda di Tanjungpinang (sebuah kapal uap yang melayari rute Tanjungpinang-Singapura pulang pergi) muncul pula dalam surat kabar The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser.

Many Burned to Death”, “Banyak Yang Terbakar Hingga Mati”, tulis surat kabar Singapore Free Press di awal laporannya tentang kebakaran besar itu. Ketika peristiwa tersebut terjadi, Kampung CinaSenggarang, Tanjungpinang, dihuni oleh nalayan, serta para petani gambir dan lada dari kalangan suku Tio-chiu. Menurut kabar yang diterima oleh The Singapore Free Presss & Mercantile Advertiser dari pihak kapal uap “Emily”, sumber api dalam kebakaran besar itu berpunca dari pondok  milik seorang nelayan.

“…The fire started in a fisherman’s hut through his carelessness while cooking his morning meal, and the hut was quickly ablaze and soon set the adjoining houses on fire. Fanned by a strong sea breeze the fire spreat through the whole village with incredible rapidity and the flying sparks set huts in all direction on fire, and the village was soon burning in five or six place at once…”, tulis surat kabar The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser.

Bila dterjemahkan, sebab-musabab kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang yang dilansir The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser dalamlaporan berjudul The Great Fire at Rhio itu, adalah sebagai berikut: “…Kobaran api itu bermula di sebuah pondok seorang nelayan, karena kecerobohan ketika mamasak sarapan paginya, dan gubuknya dengan cepat terbakar dan segera menjalar ke rumah-rumah yang bersebelahannya dengannya. Ditiup pula oleh angin yang kuat sehingga menyebabkan api menyebar ke seluruh kampung dengan luar biasa cepatnya, dan percikan api yang berterbangan telah menyebabkan pondok-pondok di segala penjuru terbakar, dan lima atau enam tempat di kampung itu terbakar sekaligus…”

Kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang telah menyebabkan sejumlah korban korban jiwa. Pada hari Selasa pagi, tanggal 22 Maret 1904, jasad tiga laki-laki dan dua perempuan ditemukan hangus terbakar diantara reruntuhan bangunan yang masih membara.

Ketika peristiwa itu terjadi, Resident Riouw William Albert de Kanter, tidak berada di tempat, karena berkunjung ke Karimun, Lingga, dan Singkep. Ia baru kembali ke Tanjungpinang pada pukul 3 petang, tanggal 24 Maret 1904. Sementara itu Sultan Riau, Abdulraman Mu’azamsyah, juga sedang berada di Lingga.

Tak banyak yang bisa dibuat oleh pemerintah Belanda di Tanjungpinang dan pembesar Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Mesin pemadam api manual (manual-fire-engine) dan pompa manual menggunakan tangan (hand-pums) yang dibawa dari Tanjungpinang tak mampu melawan kobaran api. “…and the greater part of the village was soon a crackling, roaring furnace, giving off intense heatMany of unfortunate fisherman, whose huts projected over the water leaped into the sea, but faoud the the heat of the water almost unbearable…”,  “…dan sebagian besar dari kampung itu segera berderak, menderu bagaikan tungku, dan menghasilkan panas yang hebat…Banyak nelayan malang yang pondoknya berada di atas air, melompat ke laut, namun panasnya air laut tak tertahankan…” tulis The Singapore Free Press & Mercantile Advertiser.

Pada pukul 3 petang hari itu juga, akhirnya kobaran api padam sendiri. Tercatat dari 500 buah rumah yang ada kampung itu, hanya 50 buah yang tersisa. Sebagian besar gambirdanlada yang siap dikirim ke Singapura musnah. Malangnya, pada hari itu juga, sekelompok orang Melayu dari Pulau Pemangkat tiba. Semula mereka dikira akan membantu, namun alih-alih menjarah harta benda korban.

***

Peristiwa kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang ini juga dicatat oleh Encik Abdullah anak Datuk Syahbandar Ismail di Pulau Penyengat. Ia adalah salah seorang penduduk Pulau Penyengat yang pertamakali melihat kobaran api itu ketika ia berada Kampung Cina di Pulau Penyengat, dan sekaligus menjadi saksi yang menuliskan laporan padangan matanya tentang peristiwa itu.

 Pada pagi hari ketika kebakaran itu terjadi, Encik Abdullah sedang berada di Kampung Cina Pulau Penyengat. Ia dikejutkan oleh teriakan budak-budak (anak-anak) mengatakan Kampung Cina Senggarang terbakar.

“Maka, betul, pukul 10 setengah kami hendak berjalan ke kantor (Mahkamah Besar) dan singgah di rumah Saleh, Bapa si Yusuf, dekat Kampung Cina.  Maka kami turun di rumah itu, budak2 berteriak mengatakan Kampung Cina Senggarang terbakar. Dan kami lihat permulaan yang dimakan api rumah dekat pasar ikan hingga ke ujung dimana tangga tempat sampan2 tambang berikat. Kemudian dimakan api rumah2 pasar kiri kanan jalan sebelah laut dan sebelah darat habis…” tulis Encik Abdullah dalam baris-baris catatan hariannya untuk tarikh 21 Maret 1904.

Tentang kerugian dan bangunan-bangunan yang dilalap api dalam peristiwa kebaran besar ini  ini, Encik Abdullah mencatat dengan cukup detil dalam catatan hariannya. Selain gudang gambir dan lada, api juga meluh-lantakkan sejumlah rumah milik tiga Letnan Cina dan kedai-kedai di Senggarang:

Api membakar rumah Letnan Tan Cin Siang dan rumah Letnan Tean Teng Kiung, dan berhenti api di sebelah laut dekat rumah Letnan Gu Kam Pau terus ke darat. Dan rumah-rumah batu yang di sebelah darat ada satu yang terbakar hingga gambir lada yang terjemur di pelantar-pelantar habis dimakan api. Dan yang kami ketahui, beras Letnan Tan Cin Siang yang terbakar dua ratus lima puluh goni, gambir 1000 pikul, dan lada 400 pikul, dan babi empat kandang kira2 100 ekor. Lain rumah-rumah toke2 cina lain…”

Pada ketika itu Encik Abdullah  bersama beberapa orang pembesar Kerajaan Riau-Lingga dan penduduk Pulau Penyengat datang membantu ke Senggarang. Mereka bahu-membahu memamadamkan api bersama pembesar Belanda yang datang dari Tanjungpinang:

“…Maka yang datang bersama-sama kami dari Penyengat: orang Pulau Jemaja nama si Pang dan si Mamat anak Merojol, dan Raja Khalid (Bentara Kiri Kerajaan Riau-Lingga). Kemudian Raha Zailnal (Bentara Kanan Kerejaan Riau-Lingga) datang dengan bot seperti opas, naik menolong bersama opas gubernemen menggoyang pompa yang datang bersama sekretaris Boer (Boer de Vil Boer, sekretaris Residen Riouw) dan Komis nama Hoeboer dan lain-lain orang putih juru tulis kantor (Resident di) Tanjungpinang sampai pukul dua lebihMaka adalah rumah-rumah kedai kedai kecil yang terbakar 200 pintu dan rumah kedai gambir dan lada lebih kurang tiga ratus pintu…”

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Riau-Lingga dan Resident Riouw, disimpulkan bahwa peristiwa kebakaran besar di Kampung CinaSenggarang yang sangat dramatis dan menggerunkan itu telah memusnahkan ribuan dolar harta benda!

Untuk mencegah agar peristiwa serupa tak terjadi kembali, Resident Riouw (William Albert de Kanter) yang mengunjungi lokasi kebaran itu pada 26 Maret 1904 membuat beberapa kesimpulan dan keputusan. Salah satu diantaranya,  “…tidak diberinya (izin) membuat rumah (berbahan) atap (rumbia di Senggarang) melainkan rumah batu…” tulis Encik Abdullah dalam catatan hariannya.***

Artikel SebelumTiadalah Aku Takut dan Ngeri
Artikel BerikutJika Tergelincir Pekerjaan Salah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan