Salinan surat Sumpah Setia antara Yang Dipertua Muda Raja Abdulrahman (1832-1844) dengan Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar al-Sultan Muhammad ibni al-Marhum Sultan Abdulrahman Syah (832-1841), yang dicantumkan dalam manuskripSejarah Raja-Raja Riau koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (foto: aswandi syahri)

SULTAN Sulaiman Badrul Alam Syah I, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1722-1760), sejak kali pertama ditabalkan sampai akhir masa jabatan Baginda didampingi oleh tiga orang Yang Dipertuan Muda (Raja Muda). Yang pertama Yang Dipertuan Muda Daeng Marewah (1722-1728), yang kedua Yang Dipertuan Muda Daeng Celak (1728-1745), dan yang ketiga Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja (1745-1777). Jabatan Yang Dipertuan Muda, yakni setingkat di bawah sultan, sejak 1722 memang dianugerahkan kepada putra-putra Raja Bugis melalui perjanjian yang dikenal dengan Sumpah Setia Bugis-Melayu. Penganugerahan jabatan itu dilakukan karena Daeng Parani, saudara tertua Opu Lima Bersaudara dari Bugis, dan saudara-saudaranya membantu Sultan Sulaiman mengalahkan musuh Baginda pada 1722.

Masa pemerintahan Sultan Sulaiman I dan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja tercatat paling sering terjadi “pergesekan” antara keturunan Melayu dan keturunan Bugis di Kerajaan Melayu itu. Pemimpin pihak Melayu dalam pertikaian itu adalah Yang Dipertuan Terengganu Raja Kecik, Tun Dalam, yang juga adalah menantu Sultan Sulaiman. Di pihak Bugis tentulah Daeng Kamboja pemimpinnya.

Dalam hal ini, setelah lebih kurang 23 tahun diikrarkannya Sumpah Setia, mulai dijumpai ketakserasian di antara kedua belah pihak, kecuali Sultan Sulaiman yang senantiasa menjaga dan menampilkan kebijaksanaan Baginda sebagai sosok sultan yang arif. Oleh sebab itu, Baginda Sultan tak berpihak kepada salah satu di antara kedua kelompok itu, bahkan Baginda senantiasa berupaya untuk mendamaikannya.

Berhubung dengan ketakharmonisan perhubungan antarpihak itu, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis mencatatnya sebagai berikut.

“… Maka waktu ini pula baharu hendak ditolong kita semua Bugis, serta hendak dibatalkan sumpah setia serta serta hendak diberi malu kita dengan dibatalkan pula jabatan kita [huruf miring oleh HAM] selama-lamanya.

Maka di dalam pada itupun (sic) jikalau Sultan Sulaiman hendak menyertai pekerjaan sebelah suku-suku Melayu itu, iaitu kita lawan juga dahulu dengan jalan yang patut, atau undur dahulu kita. Adapun yang lain daripada Sultan Sulaiman, boleh juga dicuba laki-lakinya…. Syahadan inilah ambilan anak raja-raja Bugis,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 127).

Catatan di atas memerikan kekesalan Yang Dipertuan Muda III Daeng Kamboja kepada Tun Dalam dan kelompoknya. Pasalnya, Tun Dalam berupaya hendak membatalkan Sumpah-Setia Bugis-Melayu yang telah diikrarkan oleh pendahulu mereka dan selanjutnya menghapus jabatan Yang Dipertuan Muda (Raja Muda). Tentulah Daeng Kamboja dan keturunan Bugis tak dapat menerima perlakuan itu karena pantang nenek-moyang mereka, baik pihak Melayu maupun pihak Bugis, untuk ingkar janji. Sikap dan perilaku berpaling tadah itu tak terpuji atau tercela.

Dalam menghadapi suasana yang genting itu, Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan pengikut Baginda mengambil dua sikap. Pertama, kepada Seri Paduka Baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I: jika Sultan berpihak kepada menantu Baginda, Daeng Kamboja akan melawannya secara bermartabat (patut) atau berundur sementara dari Riau-Lingga untuk memulihkan perhubungan di antara mereka. 

Kedua, kepada Tun Dalam dan pengikutnya: Daeng Kamboja dan pengikutnya siap beruji “kejantanan”, suatu keadaan yang sebetulnya tak menguntungkan kedua belah pihak jika sampai terjadi karena akan menguntungkan pihak ketiga. “Kalah jadi abu, menang jadi arang!” Padahal, kedua belah pihak sejak diikrarkan Sumpah Setia—yang mengibaratkan diri seperti mata putih dan mata hitam yang tak dapat dipisahkan, saling menjaga dan melindungi—telah berbaur dalam perhubungan darah dan zuriat melalui pernikahan. Artinya, keturunan Melayu adalah juga keturunan Bugis, begitu pula sebaliknya, dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar ungkapan pemanis janji. Pahit dan maung kehidupan telah dijalani dan dirasakan bersama-sama selama ini.

Mengapakah Daeng Kamboja mengambil sikap yang ekstrem seperti itu? Jawabnya, pantang pemimpin dipermalukan! Pertikaian yang hendak memisahkan mereka merupakan upaya mempermalukan. Pertama, mempermalukan Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Pasalnya, janji setia itu dibuat bersama antara Sultan dan para ayahanda mereka, Opu-Opu Lima Bersaudara, dalam upaya yang sangat sakral. Untuk itu, tak ada tekanan dari kedua belah pihak, kecuali didasari oleh keikhlasan semata-mata. 

Kedua, Yang Dipertuan Muda menganggap pertikaian itu hendak mempermalukan keturunan Bugis sehingga jabatan mereka akan dihapus. Bukan soal jabatannya yang mustahak, melainkan jika tindakan itu dilaksanakan, seolah-olah pihak Bugis telah melakukan kesalahan besar terhadap Sultan Melayu. Itulah sebetulnya yang paling ditentang oleh Baginda Daeng Kamboja.

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah memang ditegaskan bahwa pemimpin tak boleh mempermalukan dan dipermalukan. Itulah sebabnya, sikap terpuji itu harus diikrarkan ketika seseorang akan dilantik menjadi pemimpin.   

“Pertama, bahwa kami [baca: raja dan atau pemimpin, HAM] tiada memperbuat pekerjaan zalim di atas kamu [baca: bawahan, HAM], sama ada pada nyawa kamu atau badan kamu atau harta kamu, Insyaa Allah Ta’ala, intaha. Kedua, bersungguh-sungguh kami memeliharakan nama kamu dan memeliharakan marwah kamu dan memeliharakan kemaluan [‘rasa malu’, HAM] kamu, sama ada pada diri kamu atau pada ahli [‘anggota keluarga’, HAM] kamu, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Pantang dipermalukan, sama ada secara tersembunyi ataupun terang. Jika ada gelagat buruk hendak mencabarnya, tak ada jawaban lain, kecuali perang! Pasalnya, marwah diri tak boleh diperjualbelikan, apatah lagi diperlakukan bagai barang dagangan di pasar lelang. Murah bangat … sehingga tak sesiapa pun bersedia memandang, jangankan membilang. Intinya, jangan pernah mau dipermalukan. Itulah karakter pemimpin yang sadar akan marwah dirinya lagi terbilang.

Bersabit dengan karakter hebat itu pulalah, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 21, menuturkan hikmahnya.

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Malunya orang anakanda pikirkan

Tak ada pemimpin yang boleh mempermalukan orang lain, apatah lagi bawahan dan rakyatnya, seperti halnya tak ada pemimpin yang boleh dipermalukan. Untuk itu, pemimpin harus arif dan bijaksana dalam bertutur, bersikap, dan berperilaku. Itu bermakna dia tahu mengukur marwah dirinya. Jika tidak, bukan orang lain yang melakukannya, melainkan dialah yang mempermalukan dirinya sendiri. Kalau sampai yang disebutkan terakhir itu terjadi, maka sebuah tragedi kepemimpinan, bahkan kemanusiaan, telah berlaku sehingga akan diperkatakan orang tak cukup sewindu. Matlamat perbincangannya tentulah agar malapetaka serupa tak menimpa anak-cucu. Puah sisih, petuah penangkalnya diucapkan begitu.

Atas dasar kearifan itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima (Haji, 1847), bait 2, menitipkan amanat. Tujuannya tiada lain untuk ditimbang dan diingat-ingat, terutama bagi pemimpin yang memahami nilai-nilai mulia sebuah martabat.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Perangai mempermalukan merupakan perbuatan yang sia-sia. Itu bukanlah sifat, sikap, dan perilaku orang beradab dalam sebuah tamadun yang terala. Pelakunya mengindikasikan dirinya, tak hanya tercela, tetapi juga tak berbahagia. Orang yang berbahagia tak pernah mau melakukan sesuatu yang sia-sia, apatah lagi perangai itu memang diharamkan oleh Allah SWT.  

“Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah sekumpulan laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan, jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik lagi. Dan, janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandungi (makna) ejekan. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan, barang siapa yang tak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (Q.S. Al-Hujuraat, 11).

Itulah larangan Tuhan Yang Mahamulia. Tak sepatutnya perilaku mempermalukan dan atau mencela manusia menjadi bagian dari kehidupan sesiapa pun, apatah lagi pemimpin. Demikian pula sebaliknya, tak sesiapa pemimpin pun boleh menerima dirinya dipermalukan oleh pihak lain, sesiapa pun dia dan dengan latar apa pun alasannya. Jika ada juga sebarang pihak hendaknya mencobanya, sikap yang harus diambil seyogia dan semulia-mulianya seperti yang dilakukan oleh Baginda Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja, “Boleh juga dicuba (ke-)laki-laki(-an)nya!” Itu dia dan itu yang seharusnya.Begitulah para pemimpin bermarwah menampilkan aura kepribadiannya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Sultan Abdul Muluk, penguasa Kerajaan Barbari, dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846). Setelah memasuki wilayah Kerajaan Barbari secara sembunyi-sembunyi dan mengepung ibukotanya, barulah Raja Hindustan berkirim surat kepada penguasa Negeri Barbari. Isi suratnya termaktub dalam syair  bait 569. Di dalam surat itu disebutkan tujuannya menyerang Kerajaan Barbari, yakni hendak menguasai negeri yang kaya dan makmur itu

Inilah surat Sultan Hindi
Datang kepada Sultan Barbari
Adapun aku datang ke mari
Hendak memiliki seisi negeri

Gentar dan kecutkah Sultan Abdul Muluk, karena negerinya telah terkepung, terhadap gertakan Sultan Hindustan terhadap dirinya? Dayus hukumnya seseorang pemimpin berasa takut dan gentar ketika musuh telah menggertak. Kepada hulubalang musuh yang mengantarkan surat itu, dengan lantang dia bertitah.

“Hei, hulubalang! Sampaikan kepada raja kalian yang biadab itu. Pantang Raja dan rakyat Barbari dihina dan dipermalukan oleh sesiapa saja di dunia ini. Apatah lagi, sekadar pemimpin kalian bangsa Hindustan!” merona durja Sultan Abdul Muluk menahan geram dan amarah yang teramat sangat.

Bait 574 Syair Abdul Muluk meneruskan kisahnya. Di situlah ditampilkan karakter Sultan Barbari itu sebagai pemimpin besar walaupun masih muda usianya. Hendak bersahabat, bekerja sama dalam bidang apa pun berdasarkan prinsip sebagai bangsa yang setara, bahkan berniaga dengan memperhatikan adab, adat, dan hukum bangsa yang mulia, kesemuanya itu akan disambutnya dengan tangan terbuka. Akan tetapi, begitu marwah dirinya dan lebih-lebih bangsanya dicabar, jiwa dan raganyalah yang dipertaruhkannya. Tak rela dia sekadar duduk manis di singgasana istana, tetapi menanggung malu selama-lamanya, bahkan memalukan bangsanya juga.

Lalu bertitah sultan bestari
Hai hulubalang katakan kembali
Jikalau sekadar Sultan Hindi
Tiadalah aku takut dan ngeri

Begitulah karakter pemimpin sejati yang berjiwa cemerlang. Tak pernah dibiarkannya dirinya dipermalukan orang. Kalau angkara itu tetap juga datang meski tak diundang, tak akan dirinya membuang belakang. Lebih-lebih lagi, karakter buruk mempermalukan orang, memang harus dibalas tanpa harus berasa bimbang. Bukankah pedomannya memang telah diberikan oleh pemimpin besar lagi terbilang? 

Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim,” (H.R. Muslim).

Tak ada sesiapa pun berhak merendahkan dan mempermalukan sesama manusia. Perilaku itu tergolong kejahatan kemanusiaan yang memang patut diberikan balasan. Jika ada upaya pihak lain hendak mempermalukan dirinya dan bangsanya, setiap pemimpin mesti berani membuat perhitungan terhadap mereka. Pasalnya, pantang dipermalukan merupakan karakter pemimpin yang dibenarkan oleh Tuhan.***

Tinggalkan Balasan