TENGKU Sulaiman ibni Sultan Abdul Jalil Riayat Syah akhirnya berhasil juga merebut kembali tahta Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Peristiwa penting itu terjadi pada 1722. Baginda dapat mengalahkan orang yang membunuh almarhum ayahandanya. Tentu saja Baginda tak memperolehnya dengan mudah, tetapi melalui perjuangan yang melelahkan dan dengan pelbagai siasat yang bijaksana. Bahkan, dalam perjuangan itu Baginda harus berkoalisi dengan putra-putra Raja Bugis: Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cellak, Opu Daeng Menambun, dan Opu Daeng Kemasi, yang mashur juga disebut Opu-Opu Lima Bersaudara. Kelima opu itu adalah putra Opu Daeng Rilaka, bangsawan Bugis-Luwuk keturunan La Madussalat, yang mulai berhijrah setelah berakhirnya Perang Makassar pada 1669 ke Kesultanan Riau-Johor sebagai tempat tujuannya. 

Pada tahun itu juga Baginda ditabalkan menjadi sultan. Terkenallah Baginda dengan panggilan takzim lengkap dengan gelar kebesaran yang teradat dalam kesultanan Melayu, yakni Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I, Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang (1722-1760). 

Tak lama berselang, satu di antara rekan koalisi Baginda dilantik pula menjadi Yang Dipertuan Muda I, Duli Yang Mulia Opu Daeng Marewah (1722-1729). Penganugerahan jabatan Yang Dipertuan Muda (satu tingkat di bawah sultan) kepada keturunan bangsawan Bugis-Luwuk secara turun-temurun dilaksanakan sesuai dengan perjanjian di antara koalisi Melayu-Bugis itu yang telah diikrarkan sebelum mereka berperang melawan musuh. Bahkan, kedua keturunan bangsawan itu tak hanya bersatu dalam pemerintahan, tetapi juga dalam kekerabatan melalui pernikahan di antara mereka.  

Masa-masa awal duet kepemimpinan itu tak berlangsung mudah. Masalah utama yang mereka hadapi adalah defisit anggaran akibat banyaknya pengeluaran pada masa perang. Oleh sebab itu, mereka berikhtiar untuk mengatasi persoalan finansial tersebut. Untuk itu, dilaksanakanlah suatu musyawarah. Berhubung dengan itu, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis menuturkan ikhtiar dan hasil musyawarah petinggi kerajaan kala itu.

“Syahadan kata yang empunya cetera, apabila Raja Sulaiman mendengar musyawarah opu-opu itu maka benarlah kepada hatinya. Maka ia pun hendak pula ke Pahang mencari-cari belanja dan kelengkapan pada Bendahara Pekuk yang di Pahang itu. Maka apabila sudah putuslah musyawarah itu, maka lalulah keduanya keluar dari negeri Riau dan opu-opu pun berlayarlah ke Selangor dan Raja Sulaiman pun berlayarlah ke Pahang, tinggallah di dalam Riau orang tua-tua saja…,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 74).

Hasil musyawarah telah disepati. Upaya yang mereka laksanakan adalah menjalin kerja sama dengan kerajaan yang pemimpinnya masih berkerabat dengan mereka, baik pihak Melayu dalam hal ini Pahang yang kala itu dipimpin oleh Bendahara Pekuk maupun pihak Bugis di Selangor. Pahang kala itu memang menjadi bagian dari Kesultanan Riau-Johor. Selangor pula sejak lama telah menjadi koalisi utama Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Keduanya saling menolong dalam suka dan duka.

Dengan bantuan kerajaan-kerajaan kerabat dan sahabat itu, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang dipimpin oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I dan Yang Dipertuan Muda I Opu Daeng Marewah secara berangsur-angsur dapat bangkit kembali setelah perang. Bersamaan dengan itu, pemerintahan pulih kembali dan pembangunan pun dilaksanakan, terutama perbaikan fasilitas dan infrastruktur yang hancur dan atau rusak akibat perang.

Upaya yang dilakukan oleh petinggi Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kala itu sejalan benar dengan kearifan yang terhimpun dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Kedua Belas, bait 1. Dengan menerapkan kearifan itu, secara berangsur-angsur dan pasti, mereka berjaya memulihkan keadaan sehingga dapat memusatkan perhatian dalam pelaksanaan pembangunan sesuai dengan matlamat yang hendak dituju. 

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Itulah di antara kunci keberhasilan kepemimpinan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I pada masa-masa awal pemerintahannya. Semua persoalan yang dihadapi dicari jalan keluarnya melalui musyawarah. Hasil kesepakatan bersama itulah yang dilaksanakan tanpa ada pihak yang berasa lebih hebat dari yang lainnya dan tanpa sebarang pihak pun berpaling tadah dari mufakat yang telah disepati.

Dengan merujuk syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 17, musyawarah dan kerja sama seyogianya memang harus diterapkan oleh pemimpin secara konsisten untuk mencapai keberhasilan kepemimpinan. Dalam menentukan kawan bermusyawarah, disarankan untuk mengutamakan orang-orang yang memang memahami benar persoalan pemerintahan yang sedang dihadapi. Dengan merekalah kerja sama harus dijalin sebaik dan sebanyak mungkin sehingga semua masalah dapat diatasi secara cerdas dan benar.

Jika anakanda jadi menteri
Orang berilmu anakanda hampiri
Lawan musyawarat berperi
Supaya pekerjaan jadi ugahari

Dari nukilan kisah pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I dan Yang Dipertuan Muda I Opu Daeng Marewah, yang masa awalnya cukup sulit lalu secara bertahap kesulitan itu mampu mereka atasi, dapatlah disimpulkan karakter kepemimpinan yang diperlukan. Dalam hal ini, pemimpin dapat dikategorikan berkarakter baik jika dia sanggup menjalin kerja sama dengan pelbagai pihak. Secara internal, kerja sama yang baik harus diterapkan di kalangan pemerintahan sendiri, atasan-bawahan dan bawahan-atasan. Selanjutnya, pemimpin juga harus piawai menjalin kerja sama dengan para pihak di luar pemerintahannya secara eksternal. Kewibawaannya sebagai pemimpin harus menonjol sehingga banyak teman yang bersedia untuk bekerja sama. Untuk itu, pemimpin harus terpercaya.

Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I sesungguhnya telah menjalankan pemerintahan sesuai dengan amanat Allah. Itulah sebabnya, pemerintahan Baginda beroleh berkah. Dalam keadaan seperti itu, masalah-masalah kepemimpinan dan pemerintahan yang sulit pun dapat diatasi dengan mudah. Betapa tidak, pemimpinnya mendapat inayah langsung dari Allah.  

“… Dan, tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, tetapi janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan, bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya,” (Q.S. Al-Maidah, 2).

Saling menolong dengan matlamat kebajikan di antara para pemimpin kerajaan semasa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I memerintah membuktikan bahwa mereka mengutamakan kerja sama, yang tak hanya saling menguntungkan, tetapi lebih-lebih saling memuliakan. Pihak penolong menjadi mulia karena pertolongannya kepada pihak yang memerlukannya. Begitu pula, pihak yang tertolong menyerlah kemuliaannya karena menggunakan pertolongan itu untuk kebajikan: memakmurkan negeri dan menyejahterakan rakyat. Di hadapan manusia dan Tuhan, kedua belah pihak terjamin kedudukannya sebagai pemimpin yang bermartabat.

Dengan meyakini keunggulan kerja sama jugalah, Sultan Duri yakin seyakin-yakinnya bahwa dia mampu membebaskan negeri dan rakyatnya dari belenggu penjajahan bangsa lain, Kerajaan Hindustan. Berdasarkan keyakinan itu, dia menjalin kerja sama dengan Kerajaan Barham. Para pemimpin, tentara, dan rakyat Negeri Barham memang sangat percaya terhadap karakter kepemimpinan Sultan Duri. Oleh sebab itu, mereka secara suka rela bersedia membantu pemimpin yang sedang berjuang dalam pelariannya itu untuk membebaskan kembali bangsa dan negaranya. 

Kepiawaian Sultan Duri itu terekam dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.252 dan bait 1.254. Walaupun tergolong muda, pemimpin yang berpenampilan laki-laki, tetapi sesungguhnya perempuan sejati itu, menunjukkan karakternya sebagai pemimpin kelas atas, yang jaminan keterbilangannya tentulah kualitas.

Sultan Duri remaja putera
Berkata dengan manis suara
Beta kemari menghadap saudara
Minta ikhtiarkan suatu bicara
………………………………………….
Sultan Jamaluddin menjawab sabda
Hai saudaraku bangsawan muda
Apakah juga perintah adinda
Melainkan itu menurutlah kakanda

Bait syair 1.252 (lihat bait syair yang ditampilkan pertama dalam kutipan di atas) memerikan Sultan Duri menghadap Sultan Jamaluddin untuk menyampaikan maksudnya sekaligus minta pertimbangan Sultan yang lebih senior dari dirinya itu. Dalam hal ini, dia mengharapkan pertimbangan dan masukan dari Sultan Jamaluddin tentang rencananya hendak menyerang Kerajaan Hindustan yang menjajah negerinya, Kerajaan Barbari. Tentu, untuk maksud itu dia pun memerlukan bantuan pasukan Kerajaan Barham.

Ternyata, rencana Sultan Duri, dalam syair bait 1.254 (lihat bait syair yang ditampilkan kedua dalam nukilan di atas), disetujui oleh Sultan Jamaluddin. Pasalnya, pemimpin Kerajaan Barham itu sangat anti-penjajahan dalam bentuk apa pun, sama ada secara ekspilisit ataupun implisit. Gayung bersambut, kata pun berjawab. Bahkan, Sultan Jamaluddin bersedia pasukan Kerajaan Barham digunakan oleh Sultan Duri untuk melaksanakan perjuangan mulianya itu. Dengan bantuan pasukan Kerajaan Barhamlah, akhirnya, Sultan Duri mampu mengalahkan Kerajaan Hindustan. Alhasil, dia pun berjaya memerdekakan bangsa dan negaranya kembali.

Sebagai pemimpin, Sultan Duri berhasil tak hanya karena dia memang cerdas dan kaya strategi. Akan tetapi, dia juga piawai dalam menjalin kerja sama. Dalam menentukan mitra untuk bekerja sama, dia pun sangat teliti. 

Tak sebarang pihak dipilihnya untuk bekerja sama. Hanya mitra terbaik bagi kelangsungan negara dan bangsanyalah yang ditetapkannya sebagai teman sejati. Dalam hal ini, kerajaan yang menjadi mitranya tak memanfaatkan kekurangan bangsa dan negaranya—yang kala itu sedang terjajah—untuk sebesar-besarnya kemakmuran negaranya melalui program bantuan yang diberikan. Begitu pulalah sebaliknya. Dengan kata lain, mereka bekerja sama untuk mencapai kemajuan bersama sebagai bangsa yang bermartabat. Bukan yang satu memakan yang lain untuk kepentingan sepihak, dengan kemasan indah di luar, dengan cap “program bantuan”.

Sememangnyalah, pemimpin berkarakter mahir, tetapi juga teliti, membangun kerja sama dengan pelbagai pihak. Selain petunjuk langsung dari Tuhan, perkara itu pun ditekankan oleh Baginda Rasulullah agar pemimpin bijak dalam bertindak. Matlamatnya tentulah agar manusia, khasnya pemimpin, tak berbuat telajak.      

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Dia tak menzaliminya dan tak pula membiarkannya berbuat zalim. Barang siapa memenuhi keperluan saudaranya, nescaya Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa melapangkan satu kesusahan saudaranya, nescaya Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Minta ikhtiar suatu bicara merupakan penanda pemimpin yang pokta. Kepiawaiannya dalam bekerja sama memungkinkan bangsanya terbebas dari beban duka dan lara. Bangsanya merdeka dalam makna yang sebenar-benarnya. Itulah petandanya. Jika kerja sama yang dimaksudkannya membuat bangsanya semakin sengsara, dia bukanlah pemimpin, melainkan sekadar badut yang lihai berpura-pura. Oleh sebab itu, semua bangsa tak mengharapkan dipimpin oleh seseorang dan atau sekelompok orang dari golongan yang tak berguna.***



Tinggalkan Balasan